Tampilkan postingan dengan label Naskah Kuno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Kuno. Tampilkan semua postingan

Pentingnya Digitalisasi Naskah: Dari Kisah Nyata

Siapa sangka, manuskrip tulisan tangan karya leluhur tempo doeloe yang berumur ratusan tahun tidak dapat dibaca lagi saat ini. Bukan karena hilang, bukan rusak fisiknya dan bukan juga dilarang baca, akan tetapi karena isi kandungannya tidak dapat terbaca lagi.

Ini salah satu kondisi riil yang banyak orang -termasuk pemerintah- mengabaikannya. Naskah yang dianggap tampak dari luar bagus, tetapi tidak dapat dibaca lagi isinya. Teks-teks tulisan di dalamnya rusak akibat zat asam tinta, dimakan rayap, ataupun rusak secara alami, yang berakibat pada musnahnya kitab-kitab tersebut, tepat di era yang modern nan serba canggih.

Parahnya kerusakan tersebut digerogoti dari dalam lembaran naskah aus akibat tinta yang merambah ke halaman-halaman lainnya. Banyak yang menyangka, fisik naskah yang masih utuh, dibungkus rapi dan  sampulnya baik-baik saja, ternyata di dalamnya telah hancur melebur kehitaman dengan tinta. Hal inilah yang tidak banyak diketahui oleh para kolektor di masyarakat, bahkan termasuk koleksi-koleksi di lembaga pemerintahan sekalipun.

Walhasil, sang kolektor -personal atau lembaga- hanya menyimpan lembaran kosong nan rusak, tetapi isinya tidak dapat dibaca lagi sebagian atau bahkan seluruhnya.

Rusaknya manuskrip-manuskrip akibat tinta, suhu cuaca, ataupun tempat penyimpanan yang tidak baik (stabil) adalah faktor umum di Aceh. Namun demikian, dapat juga kadaluarsa zat-zat campuran dalam tinta tersebut sehingga berefek pada lembar-lembar naskah yang telah tergores oleh zat kimia tidak dapat menetralisir dan bertahan sebagaimana layaknya kertas di era modern.

Dalam kasus di atas, saya banyak temui naskah-naskah tersebut di Aceh, baik di koleksi perpustakaan pribadi masyarakat, ataupun koleksi Museum Aceh dan lembaga swasta seperti Yayasan Ali Hasjmy dan Zawiyah Tanoh Abee. Seluruh lembaga yang sebutkan di atas mengoleksi ratusan naskah yang sebagian besar belum banyak dibaca, belum pernah dikaji apalagi didigitalisasi.

Salah satu kasus yang saya temui- dan sangat terkejut-  pada saat saya publikasi foto naskah Maulid Nabi koleksi Yayasan Ali Hasjmy dalam blog saya "Indahnya Manuskrip Maulid Nabi di Aceh" Desember  2015, yang ternyata halaman yang sama pernah difoto oleh bu Annabel Teh Gallop tahun 1993.

Foto yang saya upload diambil sekitar tahun  2011, atau mungkin lebih awal sedikit, maka tampak naskah sebagaimana di bawah ini yang hangus akibat zat tinta.

Naskah Koleksi Yayasan Museum Ali Hasjmy, dokumen foto sekitar tahun 2011
Naskah Koleksi Yayasan Museum Ali Hasjmy, dokumen foto sekitar tahun 1993

Ternyata, naskah yang sama pernah difoto oleh Dr. Annabel Teh Gallop yang ternyata naskah sebelumnya sangat mengejutkan indahnya. Ia memotret naskah tersebut saat Ali Hasjmy (alm) masih hidup sekitar tahun 1993. Beliau juga terkejut dengan kondisi foto naskah di atas, kemudian Bu Annabel mengirim foto naskah di bawah (tahun 1993) ke saya dan beliau bersedia untuk dipublis di sini.

Tentunya lebih jauh untuk berdiskusi dan memikirkan langkah-langkah apa yang baik untuk penyelamatan naskah yang sangat menyedihkan dan prihatin  dengan kondisi naskah yang saya publis sebelumnya.

Naskah di atas yang difoto pada tahun 1993 masih tampak sangat indah dan lengkap dengan ukiran bunga, warna hijau yang dominan lebih menonjol dari warna merah, biru dan kuning. Naskah yang berisikan tentang bait-bait pujian kepada Nabi Muhammad semakin indah dan lengkap dengan hiasan bunga tersebut.

Tetapi, kondisinya sekarang ini sangat prihatin. Walaupun sampul masih bagus dan terlihat sempurna, tetapi kandungan teks (tulisan) telah rusak akibat katajaman tinta. Apabila kondisi naskah di bawah ini terjadi pada tahun 2011, maka sudah barang tentu kondisinya sekarang (tahun 2017) semakin parah.

Kerusakan manuskrip akibat ketajaman tinta ini belum dapat solusi ampuh, bahkan dalam beberapa kasus teks  sama sekali tidak dapat dibaca isinya dalam waktu relatif singkat,  hal itu diakibatkan faktor-faktor lain yang mendukung percepatan kerusakannya. Jika itu terjadi, maka satu-satunya sikap yang harus disegerakan adalah digitalisasi naskah, atau proses pemotretan isi naskah segera mungkin.

Contoh lainnya dengan kasus yang sama juga saya temui pada saat saya menginventarisir dan mendeksripsi naskah koleksi Bapak Tarmizi A Hamid (sekitar tahun 2012). Salah satu naskah fikih yang tampak baik-baik saja di luar, ternyata di dalamnya hancur akibat zat tinta.

Bahkan lembaran-lembarannya tidak dapat dibuka perlembar secara sempurna akibat kerusakan tersebut. Naskah di atas koleksi Bapak Tarmizi A Hamid dapat dilihat dua perbedaan. Matan teks (teks utama) di tengah masih untuk sempurna. Akan tetapi, teks disekelilingnya rusak total (hangus) dan sama sekali tidak dapat dibaca lagi.

Pada tahun 2017, entah bagaimana nasib naskah tersebut, kemungkinan besar bertambah hancur. Karena dari laporan empunya koleksi menuturkan tidak ada program-program restorasi dan preservasi naskah dari pemerintah ataupun lembaga lain hingga saat ini.

Kepedulian dan Keseriusan Pemerintah

Jika dipersentasekan jumlah naskah yang didigitalkan untuk penyelamatan dari keseluruhan naskah di Aceh, dapat saya katakan hanya 30%.  Contoh misalnya untuk program digital naskah koleksi Museum Aceh pasca rehab-rekon, hanya sekitar 600-800 naskah yang baru didigitalkan dari 1900 naskah koleksinya. Tapi bila dibandingkan dengan naskah-naskah lainnya, seperti Yayasan Museum Ali Hasjmy, Zawiyah Tanoh Abee, koleksi pribadi seluruh Aceh yang hampir 4 ribu naskah, hampir seluruhnya belum didigitalkan atau difoto.

Pada dasarnya ini menjadi dilema bagi seseorang kolektor ataupun pecinta manuskrip, mendigital naskah tentu akan mengurangi "sentuhan tangan" langsung dengan naskah, yang dalam ilmu filologi dianggap belum masuk ke ranah "kodikologi. Namun demikian, penyelamatan kandungan isi (teks) naskah juga lebih penting karena bagian utama kajian filologi pada masa sekarang dan masa mendatang.

Singkatnya, pemerintah setempat (Aceh) punya kewajiban untuk program penyelamatan naskah ini. Di tangan Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota program ini akan cepat dan tepat, bekerjasama dengan para  kolektor di masyarakat. Cepat karena bertaruh dengan waktu dan kerusakan manuskrip itu, dan "tepat" sebab pemerintah-lah yang memiliki sumber daya manusia, dana dan fasilitas pendukung yang melebihi cukup. Sekarang, tinggal hanya "political will" alias kemauan dan kepedulian atau tidak.


Program digitalisasi naskah dapat dibarengi dengan program lainnya, misalnya pelatihan dan pengetahuan restorasi naskah kepada para kolektor. Selain itu, juga dapat dilakukan beragam program baik oleh pemerintah secara langsung ataupun masyarakat, misalnya pengelolaan data IT, sebab digitalisasi tidak mesti selamanya harus dipublikasi online. Misalnya, cukup disimpan di pemilik naskah, Data Center Manuscript Aceh (semoga ini terwujud) dan pihak yang terpercaya.

Apabila Pemerintah Aceh masih mengabaikan penyelamatan manuskrip di Aceh, fisik atau isinya, maka saya jamin banyak manuskrip, karya, ulama, peradaban, khazanah dan lainnya di Aceh akan dianggap hanya dongeng belaka. Wallahu a'lam.

Hikayat Deteksi Lokasi Gempa Aceh 1964

Hikayat salah satu literatur dan "tradisi populer" di masayarkat Aceh. Sebagaimana diketahui kata "hikayat" diambil dari kata Arab yang konotasinya cerita, dongeng, atau cerita panjang. Kata kerjanya "haka" yaitu menceritakan kepada orang lain. Dalam pengertian sastra Indonesia dan Melayu, hikayat dimaksud dalam bentuk prosa.

Berbeda dengan terminologi Aceh, hikayat bukan hanya sebuah cerita pemanis tidur. Hikayat dalam sastra Aceh juga bukan dalam bentuk prosa, akan tetapi hikayat di Aceh dalam bentuk puisi atau sanjak. Hikayat Aceh diciptakan dalam bentuk puisi, awalnya masyhur dalam tradisi lisan yang didendangkan atau dilantunkan di depan publik, termasuk dalam kesultanan. Sejauh ini, belum banyak penelitian dalam bidang "eksistensi dan tradisi hikayat di Aceh", bahkan belum ada pakar hikayat Aceh dan perguruan tinggi di Aceh yang membuka jurusan "sastra Aceh". Akan tetapi, hikayat-hikayat dalam sastra Aceh sangat terkenal yang memiliki beragam kandungan, pesan, multiguna, multigender, mulai dari kisah masa lalu hingga kejadian realita.

Salah satu hikayat dalam bentuk real adalah "Hikayat Geumpa di Atjeh" karya Syekh Rih Krueng Raja (sekarang disebut Krueng Raya) yang disusun tahun 1964, atau pada saat gempa terjadi di Aceh, epicenternya di Aceh Besar. Buku ini dalam bahasa Aceh beraksara Latin dengan ejaan belum disempurnakan. Syukurnya buku ini dapat didownload gratis di website Acehbook.

Syair ini menceritakan kisah nyata terjadi gempa pada Kamis 2 April 1964 di Aceh, tepatnya terjadi di kaki gunung Seulawah, beberapa daerah yang berada di pesisir pantai Aceh Besar hingga perbatasan Pidie. Dalam syair karya Syehk Rih berasal dari Krueng Raya tidak disebut kekuatan gempa, akan tetapi melalui beberapa catatan sejarah gempa diketahui magnitude-nya 6.5 SR. Sama kekuatannya dengan gempa yang baru terjadi di Pidie Jaya (07 Desember 2016) dengan magnitude 6,5 SR (BMKG).

Dalam hikayat Geumpa di Atjeh, Syekh Rih membuka syairnya (transliterasi dalam EYD):


Cémpala meusu ditjöng u dara
Aneuk nggang dama yang panyang gatéh
Bacut lön suson gampoeng Krueng Raya
Bak uroe geumpa bak beungôh Haméh
        
 Nibak buleun peuet bak tanggai duwa
Poh lapan kira bak lön disidéh
Bak thon nam ploeh peuet ka jeut takira
Uroe nyan geumpa é dum na waréh (h. 4)
Artinya:
Burung Cempala bersuara di atas
Burung Flaminggo panjang tungkai kakinya
Kususun sedikit (syair) di gampong Krueng Raya
Di hari gempa di pagi hari Kamis

          Bulan empat, tanggal dua
Sekitar jam delapan, saya disana
Pada tahun Enam Puluh Empat sudah diketahui
Hari itu terjadi gempa wahai saudara

Hikayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa jam 8 pagi hari Kamis, 2 April 1964 gempa terjadi. Secara umum, sejauh ini gempa-gempa besar yang pernah terjadi di Aceh pada waktu pagi hari, akan tetapi bukan berarti tidak terjadi pada malam atau siang hari seperti gempa di Gayo 12 Juli 2013 dengan magnatude 6,1 SR.

Selanjutnya ia menyebutkan lokasi-lokasi gempa yang terjadi di seputaran gampong di wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh.


Bah teuduek dilèe gampoeng Krueng Raya
Jino Lamteuba lön cuba kisah
Sidéh bak kawom keu lön troh haba
Sidéh syeedara pih lëe museunah (h. 13)
Artinya:
Saat dulu tinggal di gampong Krueng Raya
Sekarang saya ceritakan kisah di Lamteuba
Dari saudaraku kabar ini kuterima
Disana mereka pun jadi korban

Tutue Lamtamot pih get that rupa
Meunurot haba kiwing dum patah
Sampee geuritan han jeut jilata
Meunan keuh rupa haba gob peugah (h. 15)
Artinya:
Jembatan Lamtamot juga rusak parah
Menurut informasi bengkok dan patah
Sehingga kereta api tidak bisa berjalan
Begitulah kabarnya dari cerita orang

Di Padang Tiji wahee syeedara
Asrama teuntra dum habeh reubah
Reubah meupunjoot habeh roet rungka
Bukeuti nyata loen kalon leumah (h. 15)
Artinya:
Di Padang Tiji wahai saudara
Asrama tentara juga semua roboh
Roboh terjungkal semua kerangkanya
Itu bukti nyata saya lihat langsung

Di Darussalam kuta peulaja
Aneuk sikula bak jigrop patah
Patah bak jigrop tëuot ka rungga
Nyan dumkeuh bahla neubri lèe Allah (h. 16)
Artinya:
Di Darussalam kota pelajar
Anak sekolah patah saat lompat
Patah lututnya saat lompat
Begitulah bala yang Allah beri

Jalur atau daerah gempa yang disebut dalam Hikayat Geumpa di Atjeh, 1964

Setidaknya, dalam syair Syekh Rih diketahui beberapa daerah koordinat gempa atau wilayah yang berdampak gempa, mulai dari wilayah Darussalam (Banda Aceh), Lamteuba, Lamtamot hingga ke Padang Tiji (Pidie). Jalur ini yang kemudian disebut oleh BMKG "Sileumeum Fault" dan peneliti Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) dan beberapa penelitian lainnya terhadap gempa di Aceh. Dengan temuan ini juga dapat digunakan untuk penelitian arkeologis dan paleoklimatologi di masa mendatang.


Maka tulisan ringan ini hanya menginformasi sedikit perihal gempa yang telah menghancurkan rumah, sekolah, asrama TNI dan membuat masyarakat mengungsi. Merujuk dan mengutip dari Hikayat Geumpa di Atjeh Syekh Rih Krueng Raya menyebut beberapa lokasi dampak terjadinya gempa dan menyertakan laporan bantuan Pemerintah kepada para korban. 

Lebih dari itu, saya menyimpulkan ini adalah sebuah tradisi (cara) kearifan lokal "mitigasi bencana" di Aceh melalui oral tradition (tradisi lisan) sebagaimana diwariskan tradisi smong (gempa tsunami) di Simeulue dan beberapa daerah lainnya dalam bentuk tutur atau hikayat. Hikayat merupakan satu-satunya media menyebarkan informasi kepada publik secara massif, atraktif dan produktif untuk pendengar. Semoga tradisi ini tumbuh kembali di masyarakat Aceh dengan media terkini dalam menangani dan menimalisir korban bencana. 

Dan, atas dasar itulah menjadi bukti bahwa gempa tahun 1964 merupakan jalur “Sileumeum fault” (Bukan Seumeulum Fault sebagaimana beberapa tulisan). Dari data sejarah gempa diperoleh besar magnatude 6.5 SR, hikayat menyebutkan bahwa gempa tersebut dirasakan dan terjadi kepanikan, walaupun dampak gempa ini belum diketahui lebih jauh, baik kerugian ril materil yang terjadi, ataupun korban jiwa dan pengungsian. 

Namun demikian, gempa yang kembali terjadi baru-baru ini (7 Desember 2016) meninggalkan banyak duka dan "tanda tanya" bagi para peneliti gempa dan Badan Kebencanaan di Aceh dan Indonesia untuk selalu siap menginput data, mengulas informasi, dan memberikan informasi sekaligus pengertian lebih banyak kepada masyarakat, sebab bagian-bagian Aceh berada di atas patahan "ring of fire" gempa. Dan gempa 7 Desember 2016, sampai saat ini belum terungkap jelas jalurnya, apakah ini jalur "Sileumeun Fault" atau "Samalanga-Sipopok Fault" oleh para pakar.


Sumber:
-  Syekh Rih Krueng Raya, Hikayat Geumpa di Atjeh. Banda Aceh. Anzib Lamnyong, 1964
- Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
- Media online (Serambi Indonesia, Republika, Kompas, Harian Aceh, dll)

Surat "Nafkah" untuk Adinda

Bagaimana masyarakat tempo dulu mengirim uang sebelum ada kantor pos? belum ada wesel, ATM, Money changer, atau transaksi canggih lainnya yang dinikmati di era modern seperti sekarang ini.

Secarik kertas kecil datang dari seberang, tanpa alamat. Surat rindu dan tanggung jawab seorang suami di pengasingan kepada istrinya di kampung halaman, Aceh. Dalam keadaan perang, ia berada di seberang pulau Sumatra. Tidak ada keterangan sebab musabab, akan tetapi kumpulan surat-surat di Bandung dalam peti rampasan Belanda dibawa sebrang Eropa untuk disimpan di Belanda. Kini, berada di perpustakaan Leiden. 

Surat ini menunjukkan seorang suami yang sedang berpisah dengan istri dan keluarganya akibat perang. Ia masih bertanggung jawab nafkah untuk keluarganya. Maka sepucuk surat yang dititip melalui Teuku Wahhab untuk disampaikan kepada "adinda" sang istri yang dicintai dengan beberapa amanah.

Selembar kertas tersebut dititip kepada melalui Teuku Wahhab disertai uang 10 riyal. Penggunaan riyal di Aceh sepatutnya dikaji ulang, sebab selain dinar, dirham, oeang Belanda, dan Rupiah Indonesia, Aceh juga pernah menggunakan riyal. Sebab, tidak tertutup kemungkinan pada masa sultan-sultan dari Arab berkuasa ingin menggunakan uang riyal. Akan tetapi ini masih asumsi kasar yang perlu dilakukan kajian secara komprehensif. 





Ini riyal ditangan Teuku Wahhab
sepuluh boh. Maka yang [de]lapan
riyal adinda unjuk pada Teuku Wahhab
suruh unjuk akan Teungku Syekh 
akan harga padi dua gunca. Dan
yang dua riyal akan belanja adinda.
Itulah hal adanya berbanyak-2 doa
akan kaya tip-2 ketika, jangan putus 
sekali-2.

Uang 10 riyal tidak seluruhnya diberikan kepada istrinya, tetapi 8 riyal untuk dibelanjakan padi, sisanya untuk keperluan sang adinda. Uang 8 riyal untuk membeli 2 gunca padi pada Teungku Syekh. Tentu sang suami sudah mengenal siapa saja yang menjual beras padi dengan harga yang baik dan terjangkau. Dengan demikian harga padi 1 gunca sama dengan 4 riyal. 

Gunca merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat Aceh dulu (sekarang kemungkinan hanya di perkampungan) sebagai ukuran untuk benda-benda kering, tidak ada bentuk fisiknya, tetapi disetarakan dengan 10 naléh atau 1/10 kunyan.  1 naléh sama dengan 16 arè atau 8 gantang.

Sebagai penutup, sang suami memohon untuk tidak pernah putus asa memohon doa semoga tercapai cita-cita menjadi kaya pada suatu hari nanti. 

Namun sayangnya, kemungkinan surat ini tidak sampai di tangan adinda (istri) karena surat-surat di Aceh dan sejenis ini sudah "diborgol" oleh tentara kolonial Belanda, dikumpulkan bersama surat-surat lainnya dan dikirim ke Belanda sejak tahun 1908.

Hewan Beristighfar untuk Manusia?


Ashabul Kahfi atau dikenal The Seven Sleepers atau cerita penghuni guha selama ratusan tahun, yang perna mati dan hidup kembali. Cerita ini mendunia, memiliki beberapa versi dan beragam aspek. Tidak hanya dalam Islam, sebelumnya agama damai ini datang, cerita penghuni guha tersebut juga telah disebut dalam Bible (Injil) yang asli. Kisah Ashabul Kahfi dengan seekor anjingnya dari Efesus in digolongkan ke dalam legenda mitologi Kristen. Versi yang paling terkenal dari cerita ini muncul dalam karya Jacobus de Voragine, Legenda Emas.

Pasca Nabi Isa diangkat ke langit ratusan tahun silam sebelum Islam, pengikut-pengikut Isa yang setia pada cerita AShabul Kahfi semakin berkembang, hingga datangnya nabi Muhammad membawa risalah Islam. Untuk menguji pengetahuan Umar (saat itu menjadi pemimpin), para pendeta kristen  menanyakan beberapa perihal histori masa lampau yang sangat terkenal di kalangan mereka, apabila bisa dijawab mereka akan masuk Islam. Umar dibantu Saydina Ali, mereka bertanya akan tentang perihal kebiasaan binatang dan cerita Ashabul Kahfi. Di sinilah perdebatan (tanya-jawab) terjadi yang membuat pendeta Yahudi tersebut mengakui kebenaran Islam.

Asal usul kronologi di atas berawal dari Hikayat Ashabul Kahfi (The Seven Sleepers), saat seorang pendeta bertemu dengan Ali dan menanyakan tentang sesuatu yang susah dijawab oleh masyarakat umumnya. Dalam sastra Aceh dikenal sebagai Hikayat Aulia Tujoh. Disebut demikian, karena mereka tujuh orang yang melarikan diri Raja zalim dan tinggal di guha. Dari tujuh orang tersebut; 6 orang adalah menteri kerajaan dulu, dan 1 orang adalah pengembala kambing. Si pengembala kambing akhirnya juga mengajak anjingnya ikut serta dalam pelarian tersebut. Hikayat Aulia Tujoh ini telah ditransliterasi untuk kesekian kalinya dan terakhir kali oleh Ramli Haron (1981).

Pada baris sebelumnya sang pendeta bertanya tentang suara kokok ayam dan suara kuda menyebut apa. Dalam Hikayat Ashabul Kahfi:
     Manok kuku' u' peu jipeugah?
     Meuhik-hik purih peukheun kuda?


Jawaban Saydina Ali  membuat pendeta tersebut masuk Islam:
         Manok kuku' u' teungoh malam
         Peu jikheun nyan hai maulana
         Udhkurullāh yā Ghāfilin
         Peuingat insan soe yang lupa

(Ayam berkokok tengah malam 
Apa yang disebutnya hai maulana
Berzikirlah wahai para pelupa
Pengingat bagi manusia yang lupa)

           Hik-hik kuda peu jikheun nyan 
           Jaweub janjongan neu calitra 
           Allahumma unshur ibādaka al-mu’minīn ‘alā
           al-Kāfirīn Doa keu mukmin barangjan masa

(Hik-hik kuda apa disebutnya
Jawab janjungan dengan cerita
Ya Allah bantulah hamba para Mukminin dari 
orang-orang kafir ∴ Doa ke mukmin sepanjang masa)

Dalam Hikayat Ashabul Kahfi, kisah penghuni gua selama 309 tahun bukan hanya sebuah cerita, tetapi juga pembelajaran dan manfaat dari hikayat tersebut yang disampaikan oleh penyair kepada pendengar. Cerita-cerita bermanfaat seperti ini, apalagi berdasarkan sumber al-Quran, yang kini jarang didengar dari oleh anak-anak kecil. [] 

            




Surat Peunutoh Teungku Mahyiddin Tiro


A letter written by Teungku Mahidin, alias Teungku Chik Mayet, secon son of Teungku Syeh Saman di Tiro who met his sacred death on September 5, 1910. It is addressed to Tuanku Raja Keumala, Panglima Polem’s brother-in-law, and to all Moslem in Samalanga. The letter described the war situation in Pidie and the death of Teungku di Tungkop. (top)

Begitulah keterangan dalam buku Belanda tentang sebuah sarakata (surat) dari Panglima Perang Aceh di Pidie saat perang Aceh-Belanda berkecamuk. Catatan di atas dapat diartikan sebagai berikut:
"Sepucuk surat Teungku Mahidin alias Teungku Chik Mayet, putra kedua Teungku Syeh Saman di Tiro, syahid pada tanggal 5 September 1910 yang ditujukan kepada Tuanku Raja Keumala, ipar Panglima Polem dan kaum muslimin di Samalanga, antara lain mengenai berkecamuknya peperangan di Pidie dan syahidnya Teungku di Tungkob". Wilayah Tungkop yang dimaksud adalah Tungkop di Pidie.

Informasi tambahan sebenarnya juga terdapat dalam surat tersebut, yaitu saat Teungku di Tungkop syahid, lalu penggantinya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin. Dalam kondisi perang, "struktur panglima perang" sebagai pemegang komando perang sangat penting sebagai pemberi komando (peunutoh), saat satu pimpinan tertinggi syahid dalam perang, maka secara mufakat atau struktural akan digantikan oleh yang lain sesuai dengan kesepakatan. Sepertinya, inilah yang dimaksud dalam surat tersebut "negeri empunya peunutoh meualon-alon" secara struktural dan terorganisir.


Berikut transkripsi teks perbaris:

1. Hadharat Seri Paduka yang mulia Tuanku Raja Keumala serta segala yang
2. ikutannya daripada saudara Muslimin dalam negeri  Samarlanga [Samalanga] ada semuanya.
3. Wa ba’du. As-salamu’alaikum wa-rahmatullah wa barakutuhu. Maka ahwal Pedir [Pidie] semua
4. dalam gaduh perang tiap-tiap ketika tiada khāli sekali-kali melainkan setengah tempat
5. ada yang terima surat kafir, serta tiada apa-apa atas kami sekali-kali melainkan
6. syahid Teungku di Tungkob  dengan garis takdir dalam Nisfu awal Sya’ban ini
7. serta sudah dijadi ada tandanya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin
8. akan gantinya dengan izin Tuhan Rabb al-‘Alamin, melainkan harap
9. kami bahwa berbanyak-banyak doa tuanku serta doa tuan-tuan akan keduanya
10. dan akan kami yang tinggal dalam negeri empunyai peunutoh meualon-alon seperti
11. di-ék trön u binéh pasie adanya. Was-salam ‘alà man ittaba’a al-hudà.
12. Daripada perhamba [poe hamba] faqir Mahyiddin Tiro.

11 Sya’ban 1318 H

Kedengaran Teuku Dua Ploh Dua 
sudah sampai dalam Gloeng [Galöng] Tiro.




Manuskrip Aceh di Sala Anak Ayam Thailand

Sekolah itu bernama Madrasah Ahmadiyah Islamiah. Tak perlu khawatir dengan kata “Ahmadiyah” yang tersemat pada nama sekolah ini. Sekolah tingkat rendah ini digagas oleh seorang ulama Melayu masa lalu, Ahmad bin Haji Usman. Itu sebab, sekolah ini diberi nama Ahmadiyah, yang diambil dari nama penggagasnya.

Oleh karena itu, kata “Ahmadiyah” pada sekolah ini sama sekali tak ada sangkut paut dengan kelompok Mirza Ghulam Ahmad. Letak sekolah ini di sebuah kampung bernama Yingo—ada juga yang menyebutnya Jeringo–Provinsi Narathiwat, selatan Thailand. Orang-orang selatan Thailand mengenal sekolah ini dengan nama Sala Anak Ayam.

Tidak ada ciri khusus yang membedakan sekolah ini dengan sekolah-sekolah umumnya di Indonesia. Ruang belajar hanya berupa bilik-bilik sederhana dari papan. Hanya saja, di sini ada asrama bagi murid-murid sekolah. Kesannya, seperti pondok pesantren. Mungkin karena itu, mereka menyebutnya dengan madrasah.

“Sekolah ini dulunya memang pondok (bahasa Aceh: dayah). Baru resmi menjadi sekolah dan mendapat pengakuan kerajaan Thailand sekitar 60 tahun lalu,” ujar Ustaz Lutfee H. Samae, pimpinan Madrasah Ahmadiyah Islamiah Salam Anak Ayam.

Hal yang sangat menarik, di sekolah ini tersimpan ratusan manuskrip kuno peninggalan masa lalu. Manuskrip-manuskrip itu sebagian besar masih berupa tulisan tangan. Naskah tempoe doeloe ini berasal dari berbagai negara. Ada dari Yaman, Arab Saudi, Turky, Mesir, Mindanao (Filipina), dan sebagian besar dari Indonesia.

Usia naskah-naskah itu berkisar 250-470 tahun. Pengakuan Lutfee, dari semua manuskrip yang ada, tiga puluh persen berasal dari Aceh. Selebihnya dari berbagai daerah lain.

Sontak saja saya terkejut sekaligus takjub. Pena di tangan kanan yang saya gunakan untuk mencatat hasil interview bersama Ustaz Lutfee sempat jatuh, begitu mendengar 30 persen naskah kuno di sekolah ini berasal dari Aceh. Selama ini, saya hanya mengetahui bahwa manuskrip tentang Aceh hanyak banyak terdapat di perpustakaan Belanda.

Nyatanya, “sejarah Aceh” juga banyak tersimpan di selatan Thailand ini. Tentu saja pikiran saya langsung melayang pada sejarah masa silam, tentang sesosok ulama dari Pasai. Syeh Said, begitu orang-orang Patani menyebut namanya. Syeh asal Pasai, Aceh, itu dianggap sebagai pembawa Islam ke selatan Thailand. Hal ini termaktub dalam buku sejarah Patani.

Kembali pada manuskrip kuno di Sala Anak Ayam. Bukan hanya naskah dari Aceh, beberapa manuskrip Jawa juga masih tersimpan di sekolah ini. Naskah-naskah itu masih ditulis dalam bahasa Melayu Jawi langgam lama. Beberapa di antaranya ada yang dilengkapi corak wayang golek. Ada juga kesan motif pinto Aceh.

Lutfee sendiri mengaku tidak semua isi naskah ia pahami. Apalagi, kata dia, ada yang masih aksara palawi, ada yang kentara dialek Jawa, dialek Aceh, dan mungkin dialek bahasa lain di Nusantara. Sebagai orang yang dipercaya memimpin sekolah tersebut, Lutfee hanya berusaha menjaga semua manuskrip itu dengan rapi dan aman.

“Sudah lama naskah ini tersimpan di gudang tanpa disentuh. Alhamdulilah Januari 2014 sekolah kami dapat membuat Pameran Kesenian Islam (PKI). Untuk pertama kalinya, naskah-naskah ini kami keluarkan dalam pameran,” tuturnya.

Sejak pameran sederhana Januari 2014 itu, rencananya, sekolah ini akan melakukan kegiatan yang sama setiap tahun. Tujuannya, agar naskah tempoe doeloe ini dikenal oleh setiap generasi. Lutfee merasa tidak berkepentingan apa pun terhadap naskah itu, kecuali menjaganya sebagai bentuk warisan terdahulu.


“Ini Pameran Kesenian Islam I (pertama) kami adakan. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini akan berlanjut tiap tahun sehingga generasi penerus tahu bahwa naskah-naskah ini punya nilai sejarah yang tinggi,” ujar Lutfee


Melusuri naskah-naskah yang diletakkan di lemari kaca itu. Beberapa kitab tertulis dalam aksara Jawi dengan ejaan Melayu. Namun, ada juga kitab-kitab yang saya tak kuasa membacanya, karena aksara “Arab-Jawi” yang belum dibubuhi baris dan mungkin saja bukan ejaan Melayu.

Di antara naskah-naskah yang dipamerankan oleh Madrasah Ahmadiyah itu, terdapat kitab al-shirat al-mustaqim (shirathalmustaqim). Menurut sebagian ulama, ini adalah kitab fiqh berbahasa Melayu yang pertama sekali dikarang di Nusantara. Kitab ini merupakan hasil goresan tangan Nuruddin ar-Raniry, ulama asal India yang lama menetap di Aceh.

Selain shirathalmustaqim, terdapat pula manuskrip tentang sejarah penulisan Alquran, yang juga karangan Nuruddin. Selain itu, di sekolah ini juga tersimpan sejumlah karangan Hamzah Fansuri, sastrawan Aceh yang menjadi ikon sastra tulis Melayu.

Seperti saya jelaskan sebelumnya, kitab-kitab yang terdapat di sekolah ini sebagian besar memang dari Aceh. “30 persen manuskrip di sini berasal dari Aceh, selebihnya dari berbagai daerah lain di dunia,” kata pimpinan Madrasah Ahmadiyah Islamiah, Ustaz Lutfee H. Samae.

Selain dalam bahasa Jawi (Jawoe), naskah-naskah kuno di sana juga ditulis dalam bahasa Arab. Ejaan yang digunakan masih ejaan lama. Terkait kertas dan alat tulis, kebanyakan kertas dari Eropa. Alat tulis yang digunakan untuk menulis Alquran dan manuskrip kuno itu masih memanfaatkan alam sekitar. Tintanya diambil dari campuran teras kayu leban, haram kayu, getah damar (tusam) dan getah terea, lalu dicampur sedikit dengan dawat India atau Cina. Adapun penanya diambil dari pohon kabung, buluh (bambu), bulu burung merak, dan lidi landak. Warna hiasan tintanya dari buah-buahan dan bunga-bunga, itu sebab beberapa isi dalam naskah kuno ini ada yang berwarna cerah.

Lutfee kemudian mengajak saya keliling arena pameran sederhana itu. Didamingi beberapa mahasiswa Fatoni University, saya mengamati kitab-kitab lama itu. Saya sempat tertegun dan terkesima pada mushaf Surat al-Kahfi yang mempunyai lima cahaya lukisan air emas. Sampul Alquran ini dari kulit hewan. Berdasarkan keterangan tertulis di bawahnya, usianya mushaf ini sekitar 300 tahun lebih.

Saya pindah ke sebuah kitab yang terdapat dalam lemari kaca. Manuskrip itu diletakkan di atas kulit kayu, dibalut dengan kain putih. Di sana tertera keterangan, “Alquran tulis tangan asal Aceh,” yang usianya hampir 300 tahun silam.

“Zaman dulu, banyak orang Aceh yang sampai ke Patani. Ada yang datang belajar, ada juga yang datang mengajar. Boleh jadi, kitab-kitab ini hasil peninggalan mereka yang dulu datang kemari,” tutur Lutfee.

Lebih lanjut, Lutfee mengatakan ada orang Aceh yang bukan sekadar mengajar dan mendirikan pondok pesantren di sini, tapi juga mendirikan masjid yang kemudian dianggap sebagai masjid bersejarah.

“Saya pernah dengar ada Wan Husen Sadawi yang pernah ke Aceh lalu sampai ke sini. Ia mendirikan sebuah masjid yang seluruh bahannya dari kayu. Masjid itu dinamakan Masjid Teluk Manok. Itu salah satu masjid bersejarah di selatan Thailand ini, selain Masjid Kersik,” paparnya.

Upaya Penyelamatan

Menindaklanjuti penyelematan manuskrip kuno itu yang perlahan tampak usang, pihak Madrasah Ahmadiyah Islamiah sudah berencana akan menyalin seluruh naskah tersebut dalam bentuk digital. Kata pimpinan sekolah itu, niat seperti ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun lalu, tapi terkendala dana.

“Sekarang sudah ada pihak yang membantu sekolah kami. InsyaAllah kami akan bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Thailand dan Negara Turky untuk menyalin naskah-naskah ini ke dalam bentuk digital,” ucapnya.

Jika sudah ada dalam bentuk digital, Lutfee mengatakan, semua orang di penjuru dunia tidak perlu repot-repot sampai ke Thailand untuk mencari naskah-naskah lama ini. Menurutnya, hal ini mereka lakukan demi menjaga keberlangsungan keselamatan manuskrip-manuskrip tersebut.

Lutfee kemudian memperlihatkan deluwang, salah satu kertas yang digunakan oleh ulama Melayu masa lalu untuk menulis manuskrip dan mushaf Alquran. Menurut sejarah, deluwang muncul sekitar tahun 1400 Masehi. Di Indonesia, deluwang diolah dari kulit pohon waru yang memiliki serat kuat pada kulitnya. Ulama tempoe doeloe menulis di atas deluwang karena kerta tersebut dianggap awet.

Sesaat langkah kaki saya terhenti pada sebuah almari kecil. Dalam almari itu terdapat sebuah mushaf mungil ukuran 17 x 12 sentimeter. Tebalnya 2 sentimeter. Diberi keterangan bahwa mushaf ini ditulis pada tahun 987 Hijriyah oleh Al-Marfu Maula Muhamamd al-Bassari. Artinya, usia mushaf ini nyaris empat setengah abad. Namun, mushaf tersebut masih tampak awet.

Jika ditilik dari usia naskah-naskah di sini, agaknya benar yang diutarakan Lutfee, madrasah ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, sejak sekolah ini masih berupa pondok pesantren tradisional. Pondok ini berubah menjadi sebuah sekolah yang diakui oleh Kerjaan Thailand sekitar 60-an tahun lalu.

Di sekolah inilah banyak disimpan berbagai manuskrip kuno yang sebagian besar dari Aceh. Kiranya, Pemerintah Indonesia penting mengambil peranan di sekolah ini, menyelamatkan sebagian naskah dari Indonesia. Demikian halnya pihak Pemerintah Aceh, harus ada itikad penelusuran dan penyelamatan naskah-naskah asal Aceh.

Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Aceh yang memiliki bidang pengarsipan mestinya sampai ke sekolah ini, di Jeringa, Provinsi Narathiwat, selatan Thailand. Bukankah Badan Arsip punya bidang yang khusus ganti rugi naskah? Ini kesempatan, sebelum didigitalkan oleh Pemerintah Turki.


Tulisan ini dari Herman. RN (pernah mengajar di Fatoni University)
dipublis di
- http://pikiranmerdeka.co/2015/10/09/menelusuri-manuskrip-kuno-aceh-di-thailand-bag-1-2/
- http://pikiranmerdeka.co/2015/10/10/menelusuri-manuskrip-kuno-aceh-di-thailand-bag-2tamat/



Lihat, Bulan Sudah Terbelah


Tanggal 20 Juli 1969 bertepatan pada 5 Jumadil Awal 1389 H, pertama kalinya NASA terbang ke bulan dan berhasil menginjak kakinya di sana yang masyhur dengan tokoh Neil Amstrong dan timnya.
Salah satu laporan yang mengejutkan bahwa lapisan luar bulan terdapat garis lurus besar yang mengitari bulan menunjukkan bahwa bulan yang berbentuk bulat seperti bola seakan-akan dilem dua sisinya. NASA-pun mengkonfirmasi bahwa bulan pernah terbelah dengan melihat permukaan kedua sisinya.

Adalah Tom Watters peneliti dan pakar dari Smithsonian National Air and Space Museum NASA mengakui bahwa ada tanda lekatan hasil tabrakan keras material kedua sisi bulan sehingga meninggal bekas dengan permukaan yang berbeda.

Hasil wawancaranya kemudian dipublikasi di media online dan dapat diakses di Youtube. Pasca hasil penemuan sensasional tersebut, banyak para ilmuwan mengkaji lebih jauh fenomena langka yang pernah terjadi dan tidak banyak diketahui orang.

Memang, empat belas ribu abad silam, bulan yang menghiasi malam kita pernah terbelah dua, bagaikan belahan dua sisi bola.

Demikian fakta tersebut disinggung dalam manuskrip Hikayat Nur Muhammad dan Hikayat Nabi Meucukoe dalam bahasa Aceh, dan di naskah Nur Yaqin berbahasa Jawi (Malay), sebuah karya ulama Aceh-Nusantara yang begitu melekat pada masyarakat Aceh tempo dulu, yang kini beralih pada bacaan dongeng fiktif produk luar.

Peristiwa bulan terbelah terjadi pada masa Rasulullah masih di Makkah, saat para kaum Quraysh Mekkah meminta Nabi membuktikan kerasulannya dan utusan terakhir.

maka mereka akan masuk Islam dan mereka percaya atas kenabiannya.
Sebaliknya, jika tidak mampu maka Nabi Muhammad dianggap pembohong dan siap menerima hukuman. Permintaan tersebut tentu tidak masuk akal manusia pada zaman tersebut dan zaman sekarang, akan tetapi Nabi menyanggupinya walaupun para sahabat yang sudah Islam resah atas peristiwa tersebut.

Dalam Hikayat Nur Muhammad menyebutkan;
Lom talakee bak Muhammad bulen musyahadah dengo suara
Teuma neuyu bak Muhammad tayu ek u langet pinta sigra
Troeh u langet lom tahilah tayu neuplah bulen purnama
Siblah u masyriq siblah u magrib dumna rakyat leumah nyata.

(Lagi-lagi kamu pinta pada Muhammad untuk memanggil bulan.
Kamu pinta Muhammad naik ke langit untuk memintanya segera.
Sampai di langit kamu minta belah bulan purnama
sebelah ke barat, sebelahnya ke timur, dan semua orang melihatnya nyata)

Allah menunjukkan kekuasaannya melalui Rasul akhir zaman untuk membelah bulan. Dalam surat al-Qamar : 1-2 terekam "Telah dekat datangnya kiamat itu, dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka melihat sesuatu tanda (ayat/mukjizat), mereka berpaling dan berkata ini adalah sihir yang terus-menerus".

Bulan pun terbelah dua, jarak bulan antar kedua sisi sejauh renggangan tangan Rasulullah. Maka dalam riwayat literatur Islam terkenal dengan bulan keluar dari kedua tangan Rasulullah.

Sebutan tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah bukan sihir yang mengelabui sekejap mata manusia, tetapi ia benar-benar melakukannya secara nyata sebagai tanda mukjizat diberikan Allah kepadanya.
Sedangkan sebagian para ulama menafsirkan bahwa ayat tersebut menjelaskan bahwa kejadian bulan terbelah sudah disebutkan dalam kitab-kitab agama Samawi sebelum Islam, bahwa salah satu mukjizat nabi terakhir (Muhammad) dapat membelah bulan.

Ketika itu, dari Hadist Atsar para sahabat-sahabat Nabi yang masuk Islam pertama menjadi saksi dan membenarkan kejadian tersebut. Alhasil, sebagian kaum Mekkah beriman, tetapi tidak sedikit yang mengingkarinya.

Pasca wafatnya Rasulullah banyak orang-orang mendeklarasi dirinya nabi, baik pada masa sahabat hingga zaman sekarang.

Tetapi semua orang dan agama tidak ada yang percaya, sebab salah satu mukjizat nabi terakhir yang disebut dalam kitab adalah membelah bulan, lalu nabi palsu manakah yang mampu melakukannya?
Di era modern nan serba canggih, hasil penelitian dan pengakuan NASA tahun 1969 selaras dengan Hikayat Aceh dua ratus tahun lalu, bahwa 14 abad silam bulan terbelah sebagai bukti kenabian Muhammad dan rasul terakhir.

Maka kini, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.


Dipublish di Serambi Indonesia http://aceh.tribunnews.com/2016/05/29/lihat-bulan-sudah-terbelah

Ini Dia Manuskrip Maulid Nabi


Memasuki bulan Rabiul Awal tahun hijriyah selalu diperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal) di seluruh negara muslim.

Peringatan tersebut diadakan dalam beragam bentuk, mayoritasnya membaca selawat dan barzanji. Demikian di Aceh (termasuk Melayu Nusantara) sejak dulunya melakukan yang sama yang dapat dilihat dari beragam manuskrip tentang Maulot (Maulid) Nabi Muhammad.

Naskah-naskah tersebut cukup banyak sekali varian dan jumlahnya, yang kini menjadi bacaan “wajib” dalam perayaan maulid Nabi.

Salah satunya manuskrip paling banyak beredar yang digunakan adalah kitab Dala’il al-Khairat karya Abu Abdillah Muhammad ibn Sulaiman Al-Jazuli, ulama terkenal berasal dari Maghrib (Maroko) (m. 870 H 1465 M).

Menjelang dewasa, ia berangkat dan belajar ke daerah Fas yang tidak jauh dari kota Mesir. Di sinilah ia mengarang kitab “Dala'il al-Khairat” yang ditujukan kepada baginda Nabi Muhammad. Di Aceh disebut “meudalae'e” yaitu membaca dalail.

Sebelumnya, Abu 'Abdallah Muhammad ibn Sa'id al-Busiri Ash-Syadhili (1211-1294) di Mesir mengarang puji-pujian selawat kepada Nabi berjudul “Qasidah al-Burdah” yang juga cukup terkenal di masyarakat muslim Nusantara.

Selain dari itu, masih banyak puji-pujian Hizb an-Nasr dan Hizb al-Bahr karya Imam Abu Hasan Syazili, juga terdapat Hizb karya Imam Nawawi, Hizb karya Mulla ‘Ali al-Qari, dan puji-pujian Hizb lainnya sebagai persembahan kepada sisi mulia tersebut.


Khusus di Aceh, membaca “dalaee” ataupun syair-syair pujian dalam bahasa Arab (Hizb) sejenisnya yang terkenal dilakukan sejak bulan Rabiul Awal dan seterusnya.

Selain itu, masih ada tradisi nalam (Arab: nazham) juga dalam bentuk syair yang berisikan tentang pujian dan selawat kepada Rasulullah dalam bahasa Aceh.

Dalam tradisi sastra Aceh, masih digolongkan hikayat, maka dikenal dengan Nazam (Hikayat) Maulot Nabi, salah satunya karya Tgk Syeh Ya’kub atau dikenal juga Tgk Pante Ceureumen dari Padang Tiji.

Salah satu teks Nazham Maulot Nabi bahasa Aceh:
Ya Ilahi poe ku Rabbi lon ek saksi gata Tuhan
Lon ek saksi Nabi Muhammad Rasulullah gata bagi jin insan
Tabri Islam dengoen Iman ngon makrifat tauhid sajan
Tapeuteutap lam kalimah hudep matee bangket meunan
Berkat Rasul yang troen kitab Nabi lengkap sekalian
Berkat mukjizat Taha Yasin Sayyidil Mursalin Muhammadan

Para penceramah Aceh sering menyebut nama selain “Muhammad” dan “Ahmad”, juga dijuluki Sayyidil Mursalin, Yasin, dan Taha.

Salah seorang staff Belanda era kolonial, Damste, termasuk yang banyak mengumpulkan manuskrip Aceh dan membawa ke Belanda menamai bahwa teks-teks “Seulaweuet keu Nabi” sebagaimana kolofon teks menyebut “tamat seulaweuet maulot Nabi” sangat banyak di masyarakat dan menjadi tradisi bulan-bulan perayaan kelahiran Nabi.

Selain itu, menurut inventarisasi (alm) Teuku Iskandar, sarjana Aceh di Belanda menemukan juga naskah-naskah Likee Maulot, atau disebut juga Maulid Barzanji yang sebagian berbahasa Arab dan sebagian lagi berbahasa Aceh.

Dalam edisi cetaknya kemudian dikenal “Maulid Syaraful Anam”.

Bahkan di Perpustakaan Nasional Jakarta mengoleksi kitab Maulot Nabi yang berstempel Tgk. Chik Saman Tiro dan Tgk M. Sa’id Krueng Kalee tahun 1315 H (1898 M), lebih tua naskahnya yang dikoleksi Snouck yang ditemukan tentara Belanda di Rumoh Aceh di Pasar Aceh Samalanga tahun 1916.

Kecintaan mereka (orang terdahulu) mengarang nazam (seulaweut), menyalin dan membacanya sebagai salah satu bentuk kecintaannya kepada baginda Rasulullah.

Kini, karya-karya mereka sudah dicetak dan dapat diakses dengan mudah untuk dibaca, semoga kita dan generasi seterusnya dapat menghidupkan sinar kemuliaan Nabi dan menghayatinya di kehidupan sehari-hari.

Telah dipublikasi di Serambi Indonesia: Ini Dia Manuskrip Maulid (21 Des 2015 M /9 Rabiul Awal 1437 H)

Indahnya Manuskrip Maulid Nabi di Aceh


Naskah-naskah yang berkaitan dengan selawat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad saw yang terdapat di Aceh mayoritasnya akan dihiasi dengan iluminasi dan ilustrasi yang indah. Kecantikan seni tersebut menghias teks-teks yang memuji keagungan seorang Nabi terakhir. Biasanya, hiasan tersebut ditempatkan pada awal-awal halaman dan di akhir sebagai penghormatan dan kemuliaan kepada Nabi Muhammad saw yang paling mulia. Hal senada juga banyak (lebih konsisten) dijumpai pada mushaf-mushaf Aceh dan Nusantara.


Nabi lahir pada malam Senin, atau Senin pagi sebelum Subuh tanggal 12 Rabiul Awal bertepatan pada Tahun Gajah (570 Masehi). Ini adalah pendapat paling sahih yang merujuk pada pendapat Ibn Ishaq dan jumhur yang lainnya. Nabi mulia dilahirkan di Mekkah, di rumah kakeknya, Abdul Muthallib, pada saat itu Siti Aminah sejak meninggal suaminya Abdullah (ayah tercinta nabi Muhammad) dan selama ia mengandung dirawat di rumah kakeknya.

  


Dikenal tahun Gajah sebab pada tahun tersebut, Pimpinan besar Abrahah al-Asyram berasal dari Bani Gassan telah membangun satu peribadatan yang indah dan cantik di Hirah Yaman untuk dapat menarik simpati luar melaksanakan ibadah tahunan di sana. Namun sayang, hal itu tidak membuat masyarakat luar tertarik ke sana, dan  tetap berkunjung ke Mekkah dalam melaksanakan haji sebagai peribadatan tahunan. Abrahah berang, dan ingin menghancurkan Ka'bah di Mekkah. Sebagian riwayat menyebut ini terjadi 2 bulan sebelum kelahiran Nabi, sebagian menyebut hanya beberapa minggu, dan lainnya berpendapat ini terjadi pada waktu-waktu Siti Aminah akan melahirkan.


Pada hari ketujuh kelahiran Nabi, sang kakek Abdul Muthallib menyembelih unta dan mengundang masyarakat Mekkah sebagai acara syukuran (aqiqah) makan bersama. Dan memberitakan kepada masyarakat Mekkah bahwa cucunya diberi nama Muhammad, sedangkan ibunya menamainya Ahmad, yang keduanya berarti terpuji. Masyarakat Mekkah pun bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyangnya yang sudah mentradisi di bangsa Arab saat itu. "Aku ingin dia (Muhammad) menjadi orang yang terpuji (Ahmad) bagi Tuhan yang di langit, dan (Muhammad) bagi makhluk-Nya di bumi". jawab Abdul Muthallib.



Hadirnya naskah-naskah kuno (manuskrip) yang dihiasi indah beragam hiasan menunjukkan kecintaan para orang-orang terduhulu dan menjunjung kelahiran dan kehidupan Nabi dengan teks-teks selawat kepada Nabi, biasanya teks-teks seperti Dalail al-Khairat, Selawat Nabi dan Barzanji lainnya akan menghiasi indahnya tulisan-tulisan pujian tersebut.

        


Allah telah menujukkan bukti Nabi terakhir, Rasul paling mulia, pemberi syafaat kepada mukmin di akhirat, dan telah diakui oleh Nabi-nabi sebelumnya akan keberadaannya, serta telah diungkapkan dalam kitab-kitab Taurat, Zabur dan Inzil. Di atas semuanya, terpenting mengikuti seluruh sunnah Nabi, berpedoman pada sirahnya, dan selalu bersalawat dan memujinya setiap saat tanpa terbatas oleh dinding perayaan maulid.


Tamma.

Fungsi Bendera Aceh (1)


Bendera-bendera Aceh tersebut memiliki fungsi masing-masing dan digunakan pada saat-saat tertentu. Hal ini dapat dipahami bahwa komunikasi dan informasi tanda-tanda tersebut harus digunakan semaksimal mungkin dan sejelas-jelasnya untuk tidak terjadi salah paham. Maka bendera menjadi salah satu "simbol" untuk memudahkan dalam komunikasi dalam jangka jarak jauh.

Bendera Kesultanan Aceh (Gambar Sketsa Belanda)

Maka, jika melihat bendera-bendera tersebut, dapat dipahami setidaknya ada tiga situasi yang dialami Aceh saat itu. Bendera Aceh pada situasi aman, bendera Aceh pada kondisi genting atau perang, dan bendera perdagangan (Handel) Aceh yang digunakan di kapal-kapal Aceh.
Menurut dokumen, bendera ini digunakan secara kontinyu oleh Kerajaaan Aceh sebelum Belanda merebut keraton Aceh. Bendera Aceh mirip (duplikat) dari bendera Kerajaan Turki (Ottoman), selain warnanya merah juga memakai simbol bulan bintang. Bintang lima yang digunakan Turki tidak begitu kental dengan gambar disini. Tentu ini merupakan "sketsa" dari penggambar dari Belanda, atau sebaliknya bentuk bintang enam sebagaimana demikian untuk sedikit membedakan dari bendera Turki.

Bendera Perang Aceh (Gambar Sketsa Belanda)

Bendera di atas itu merupakan bendera Aceh yang dikibarkan saat perang (Atjeh Oorlog) oleh kerajaan Aceh. Bendera ini digunakan di kapal-kapal perang Aceh atau diperbukitan yang menghadap langsung ke laut yang dapat dilihat dari jarak jauh.

Bendera Perdagangan Aceh (Gambar Sketsa Belanda)

 Bendera di atas digunakan Aceh (kerajaan Aceh) untuk kapal-kapal perdagangan (Handel), atau dikibarkan di pelabuhan-pelabuhan persinggahan yang digunakan kapal-kapal luar berlabuh di Aceh. Bendera itu menjadi simbol kapal perdagangan, bukan kapal perang. Bendera tersebut juga menunjukkan pelabuhan-pelabuhan yang dapat disinggahi untuk perdagangan secara resmi, tentu dengan "pajak" yang telah ditentukan setiap kapal.

Baca lainnya:


Malam Lailatul Qadar Dalam Naskah Kuno Aceh

Teks "Lailatul Qadar" 
SEPULUH terakhir bulan Ramadhan menjadi puncak seorang hamba mengabdi kepada sang Khaliq, sebab pada momen ini merupakan hari-hari perpisahan dengan bulan berkah dan terdapat malam paling mulia disebut Lailatul Qadar.
Tidak ada kepastian malam itu datang, dan tidak ada yang dijamin orang-orang akan mendapatkan, kecuali mereka bersungguh-sungguh ingin menggapainya, dan tentunya tidak ada tanda (bekas) bagi mereka yang mendapat nikmat di malam turunnya para Malaikat ke bumi.
Dalam beberapa catatan, terdapat yang “unik” bahwa ada kiat-kiat untuk mengenal malam tersebut. Saya pun penasaran, dalam sebuah naskah yang cukup singkat dan padat, hanya satu halaman tertulis tentang mengenal Lailatul Qadar dimulai dengan
“Bismillahi. Bab ini alamat pada mengenal malam lailatul qadar, telah menyebut barang yang diberi rahmat kiranya Allah Ta’ala akan dia apabila adalah awal bulan Ramadhan itu pada hari Jumat adalah malam lailatul qadar dua puluh Sembilan”.
Demikian dilanjutkan lagi
Dan apabila awalnya pada hari sabtu adalah malam lailatul qadar pada malam dua puluh satu. Dan apabila awalnya pada hari Ahad adalah malam lailatul qadar pada malam dua puluh tujuh...” dan seterusnya menurut hari permulaan puasa.
Tentunya, sang penulis kitab menutup dengan “Bermula qaul [perkataan] Nabi ini terlebih asahh (terlebih benar] daripada segala qaul yang lainnya ini. Wallahu a’lam bis-shawab”.
Manuskrip ini tidak ditemui penanggalannya, namun dilihat dari ciri-ciri kertas ditulis pertengahan abad ke-18 Masehi.

Lailatul Qadar memang manjadi rahasia dan tidak terjadi pada malam yang sama setiap tahunnya. Tentang waktu Lailatul qadar para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadr tidak terjadi pada malam tertentu secara khusus dalam setiap tahunnya, namun berubah-ubah dan berpindah-pindah.
Apabila merujuk penentuan hari di awal Ramadhan, tentu juga akan ada perbedaan terjadinya Lailatul qadar pada setiap daerah ataupun kelompok, apabila awal Ramadhan dimulai tidak sama. Namun terlepas dari itu, yang pasti Lailatul Qadar selalu ada di sepuluh akhir Ramadhan, dan itu menjadi rahasia Ilahi.
Umat Islam dianjurkan hanya untuk menggapainya sebagaimana Hadist Nabi saw bersabda, “Carilah Lailatul Qadar pada sembilan terakhir, atau tujuh terakhir, atau lima terakhir.” (HR. al-Bukhari).
Malam Lailatul Qadar dijanjikan Allah sebagai malam paling mulia, yaitu lebih baik seribu bulan, dan malamnya turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril hingga menjelang Fajar (Dijelaskan dalam QS al-Qadar 3-5), semoga kita dapat menggapai kesempatan tersebut.

Mushaf Al-Qur'an Milik Mesjid Raya Baiturrahman Aceh Ada di Leiden Belanda

Setiap orang Aceh pasti tahu jenderal Belanda yang tewas ditembak di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh saat memimpin perang ke Aceh 1873.
Hampir semua buku merekamnya dan juga terdapat monumen mencatatnya yang terletak di sebelah Masjid Raya di bawah pohon Geulumpang besar. Orang mengenalnya “pohon kohler”.
Namun, jika sebaliknya ditanyai, siapa imam Masjid Raya Baiturrahman yang syahid saat agresi Belanda ke Aceh? Tentu banyak orang tidak tahu jawabannya, dan banyak buku tidak merekamnya.
Cukup sulit mencari sumber informasi tentang “pahlawan syahid Aceh” saat perang itu terjadi. Padahal semua orang tahu awal kisah bencana perang Aceh dengan Belanda pada tahun 1873.
Mushaf Alquran milik Masjid Raya Baiturrahman adalah bagian dari barang-barang pusaka dalam Masjid yang diambil dan terbang ke Belanda pasca meletusnya perang tersebut. (baca : Museum Mushaf Alquran Aceh)
Syukurnya, saya dapat mengakses Alquran resmi yang digunakan Imam Mesjid Raya yang didigital oleh Erlangen dari Jerman atas izin Leiden University sebagai pihak pengoleksi.

Kini warisan berharga tersebut disimpan di perpustakaan terbesar di Belanda dalam kategori “koleksi spesial”.
Dapat diartikan bahwa:  “Sampul kulit warna merah, memiliki dekorasi terjilid bundle, terikat dan dibordir. Ini hadiah Prof Michael Jan de Goeje (1836-1909), yang telah menerima MS [manuskrip] dari Kapten JHA IJssel de Schepper, yang menemukannya pada pada tubuh 'imam Aceh' yang syahid setelah penyerbuan Masjid Agung (Missigit) dari Kotaradja [Banda Aceh] dalam perang Aceh pertama. MS ini telah dikirim dari “Bivouac Zeestrand” Aceh ke Belanda pada 27 April 1874”.
Akhirnya kita tahu, bahwa Alquran tersebut ditemukan dalam dekapan sang imam Masjid Raya yang syahid pada perang pertama.
Ada beberapa sumber menyebutkan nama imam masjid raya pada periode awal perang tersebut, sebagian menyebut Tgk Imum Lam Krak, pendapat lainnya Teuku Rama. Namun demikian, kedua pendapat tersebut belum sahih seutuhnya.
Mushaf ini dimulai tulisannya dengan doa membaca Alquran, kemudian seuntai syair “syarat membaca Quran itu empat perkara, sekalian hokum tajwid engkau pelihara” disertai gambar muluklt dan kerongkongan tempat dalam keluarnya huruf hijaiyyah.
Halaman selanjutnya nama-nama Nabi dan Rasul, dan terakhir tatanan pembelajaran tajwid.
Penemuan mushaf Alaqran resmi Masjid Raya Baiturrahman tahun 1873 menjadi modal untuk mengembangkan kembali mushaf Alquran Masjid Raya Baiturrahman pada zaman sekarang.
Ini juga sekaligus modal untuk menghadirkan museum Mushaf Masjid Raya Baiturrahman yang memuat beragam informasi sejarah dan perkembangan masjid sebagai dambaan hati masyarakat Aceh dan mengenang peran masjid tersebut.