Tampilkan postingan dengan label Teuku Iskandar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teuku Iskandar. Tampilkan semua postingan

Ini Dia Manuskrip Maulid Nabi


Memasuki bulan Rabiul Awal tahun hijriyah selalu diperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal) di seluruh negara muslim.

Peringatan tersebut diadakan dalam beragam bentuk, mayoritasnya membaca selawat dan barzanji. Demikian di Aceh (termasuk Melayu Nusantara) sejak dulunya melakukan yang sama yang dapat dilihat dari beragam manuskrip tentang Maulot (Maulid) Nabi Muhammad.

Naskah-naskah tersebut cukup banyak sekali varian dan jumlahnya, yang kini menjadi bacaan “wajib” dalam perayaan maulid Nabi.

Salah satunya manuskrip paling banyak beredar yang digunakan adalah kitab Dala’il al-Khairat karya Abu Abdillah Muhammad ibn Sulaiman Al-Jazuli, ulama terkenal berasal dari Maghrib (Maroko) (m. 870 H 1465 M).

Menjelang dewasa, ia berangkat dan belajar ke daerah Fas yang tidak jauh dari kota Mesir. Di sinilah ia mengarang kitab “Dala'il al-Khairat” yang ditujukan kepada baginda Nabi Muhammad. Di Aceh disebut “meudalae'e” yaitu membaca dalail.

Sebelumnya, Abu 'Abdallah Muhammad ibn Sa'id al-Busiri Ash-Syadhili (1211-1294) di Mesir mengarang puji-pujian selawat kepada Nabi berjudul “Qasidah al-Burdah” yang juga cukup terkenal di masyarakat muslim Nusantara.

Selain dari itu, masih banyak puji-pujian Hizb an-Nasr dan Hizb al-Bahr karya Imam Abu Hasan Syazili, juga terdapat Hizb karya Imam Nawawi, Hizb karya Mulla ‘Ali al-Qari, dan puji-pujian Hizb lainnya sebagai persembahan kepada sisi mulia tersebut.


Khusus di Aceh, membaca “dalaee” ataupun syair-syair pujian dalam bahasa Arab (Hizb) sejenisnya yang terkenal dilakukan sejak bulan Rabiul Awal dan seterusnya.

Selain itu, masih ada tradisi nalam (Arab: nazham) juga dalam bentuk syair yang berisikan tentang pujian dan selawat kepada Rasulullah dalam bahasa Aceh.

Dalam tradisi sastra Aceh, masih digolongkan hikayat, maka dikenal dengan Nazam (Hikayat) Maulot Nabi, salah satunya karya Tgk Syeh Ya’kub atau dikenal juga Tgk Pante Ceureumen dari Padang Tiji.

Salah satu teks Nazham Maulot Nabi bahasa Aceh:
Ya Ilahi poe ku Rabbi lon ek saksi gata Tuhan
Lon ek saksi Nabi Muhammad Rasulullah gata bagi jin insan
Tabri Islam dengoen Iman ngon makrifat tauhid sajan
Tapeuteutap lam kalimah hudep matee bangket meunan
Berkat Rasul yang troen kitab Nabi lengkap sekalian
Berkat mukjizat Taha Yasin Sayyidil Mursalin Muhammadan

Para penceramah Aceh sering menyebut nama selain “Muhammad” dan “Ahmad”, juga dijuluki Sayyidil Mursalin, Yasin, dan Taha.

Salah seorang staff Belanda era kolonial, Damste, termasuk yang banyak mengumpulkan manuskrip Aceh dan membawa ke Belanda menamai bahwa teks-teks “Seulaweuet keu Nabi” sebagaimana kolofon teks menyebut “tamat seulaweuet maulot Nabi” sangat banyak di masyarakat dan menjadi tradisi bulan-bulan perayaan kelahiran Nabi.

Selain itu, menurut inventarisasi (alm) Teuku Iskandar, sarjana Aceh di Belanda menemukan juga naskah-naskah Likee Maulot, atau disebut juga Maulid Barzanji yang sebagian berbahasa Arab dan sebagian lagi berbahasa Aceh.

Dalam edisi cetaknya kemudian dikenal “Maulid Syaraful Anam”.

Bahkan di Perpustakaan Nasional Jakarta mengoleksi kitab Maulot Nabi yang berstempel Tgk. Chik Saman Tiro dan Tgk M. Sa’id Krueng Kalee tahun 1315 H (1898 M), lebih tua naskahnya yang dikoleksi Snouck yang ditemukan tentara Belanda di Rumoh Aceh di Pasar Aceh Samalanga tahun 1916.

Kecintaan mereka (orang terdahulu) mengarang nazam (seulaweut), menyalin dan membacanya sebagai salah satu bentuk kecintaannya kepada baginda Rasulullah.

Kini, karya-karya mereka sudah dicetak dan dapat diakses dengan mudah untuk dibaca, semoga kita dan generasi seterusnya dapat menghidupkan sinar kemuliaan Nabi dan menghayatinya di kehidupan sehari-hari.

Telah dipublikasi di Serambi Indonesia: Ini Dia Manuskrip Maulid (21 Des 2015 M /9 Rabiul Awal 1437 H)

Darinya, Belajar di "Dunia Berbeda"



Teuku Iskandar, itulah nama yang aku kenal sekilas, pria yang lahir di Trienggadeng, Pidie, 86 tahun yang lalu, tertera namanya di beberapa buku yang merujuk  sebagai sumber utama. Dia memainkan perannya dengan mengunjungi dan menemukan kembali sejarah Aceh melalui karya-karyanya yang membumi. Saya tidak begitu tahu mengapa namanya selalu mengingatkan saya dengan sosok agung lainnya, Iskandar Muda. Mungkin secara implisit saya mengira bahwa hasil-hasil tulisannya mencerminkan keagungan seorang Sultan Iskandar Muda.
Nama Teuku Iskandar sudah selalu mengelilingi academia. Wajar jika dia mendapat pengakuan sebagai salah satu pemikir terakhir tidak hanya bagi orang Aceh, tapi juga bagi dunia intelektual Melayu. Dia berada dalam generasi yang menyaksikan peristiwa-peristiwa agung Aceh dimulai dari tahun tahun terakhir penjajahan Belanda, pergerakan kemerdekaan, pembentukan indonesia modern dan peristiwa-peristiwa Darul Islam. Jika kita ingin membandingkan akademik karirnya, barangkali saya bisa menyebutkan bahwa dia berada sejajar dengan Prof. Dr. Syed Naquib al-Attas di Malaysia.
Meskipun tidak hidup di Aceh, dia telah mengkontribusikan kegiatan-kegiatan akademiknya terhadap peradaban dan sejarah Aceh. Beberapa karya hebatnya, Hikayat Aceh, Bustanussalatin, adalah sumber pribumi terkenal yang menarik perhatian pihak-pihak terkait di seluruh dunia. Sebagai tambahan, dia juga mengkompilasikan sumber sumber otentik Melayu dalam katalog seperti, Katalog Manuskrip Melayu, Minangkabau, dan Sumatra Selatan (1999, Leiden). Ini merupakan pekerjaan yang menggunakan waktu lama dan menantang yang telah ia lakukan selama dekade awal ketika belum ada seorang pun yang meminati sejarah Aceh. Satu isu paramon lainnya adalah ia juga mempenakan disertasi PhD-nya dalam bahasa Belanda ”De Hikayat Aceh” (1959, Leiden).

Karyanya telah diterbitkan dalam berbagai jurnal- jurnal penting dan rumah publikasi seperti Journal of Malayan Branch of Royal Asiatic Society (JMBRAS), Dewan Bahasa dan Pustaka (Kuala Lumpur) dan lain-lain.
Pertama kali saya berjumpa dengan beliau saat Konferensi ICAIOS yang sedang mempresentasikan kertasnya berjudul “Aceh as a Muslim-Malay Cultural Centre (14th – 19th Century)” dalam sebuah panel. Setelah itu saya mencoba menjangkau beliau untuk sebuah interview. Dia menerima tawaran saya dengan rendah hati dengan mengundang saya ke rumah salah satu kerabatnya di Darussalam pada sebuah siang. Kami duduk di serambi untuk beberapa jam.
Pembicaraan mengenai Aceh menjadi isu yang begitu menyentuh. Bagaiamanapun, hingga hari ini saya belum berkesempatan untuk mempublikasikan interview tersebut. Kaset tersebut masih tersimpan dengan baik di Aceh.
Sebelum berbicara tentang interview ini saya ingin mengutarakan tentang penampilannya selama konferensi. Dia diundang dari Netherland dan selama sesinya, ia berbicara untuk lima belas menit sebagaimana aturan biasanya. Meskipun begitu, yang saya temukan adalah kenyataan bahwa ia begitu bersemangat untuk mendiseminasikan pengetahuan dan pemahaman sejarah Aceh kepada audiensinya yang kebanyakan adalah orang Aceh. Tampaknya ia sudah lama merindukan pendengar-pendengar Aceh yang telah kehilangan kontak dengannya dalam waktu lama.
Dia memegang segenggam kertas-kertas yang penuh dengan tulisan dan mencoba untuk tidak melewatkan satu poin penting, dan membaca dengan penuh semangat. Dia tidak hanya membaca dan membincangkan sejarah, tetapi dia muncul dengan menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa masa lalu dalam gedung konferensi. Akan tetapi, uraiannya dipotong oleh ketua panel dengan tidak bijak. Dia sepatutnya diberikan kesempatan untuk berbicara dengan bertatap muka dengan orang Aceh generasi muda dalam bahasa Aceh dan mencerahkan mereka dengan pengetahuannya. 
Sekarang, ia sudah tiada. “Inna lillah wa inna ilaihi rajiun”. Mudah-mudahan Allah memberkatinya. Saya berharap dia akan dikenang oleh generas-generasi muda Aceh sebagai salah satu intelektual sejarah Aceh yang mengagumkan. Buku-buku berskala dunia karya beliau sudah terbit, di antaranya Mapping Acehness Past, Pusat Perdaban Melayu, dan lain-lain. Buku-buku yang dia hasilkan menjadi acuan bagi peneliti baik dari Malaysia maupun di Belanda sendiri. Sekarang pun ia sedang menyelesaikan buku yang mengulas Kitab Bustanussalatin (karya Nuruddin Ar-Raniry).
Hidupnya dan karya-karyanya perlu dipelajari dengan baik sebagai sebuah tanggung jawab dan karyanya patut dimasukkan sebagai kursus materi dalam berbagai departemen bersangkutan di pendidikan tinggi. Dan karya-karyanya, dengan versi yang disederhanakan, dipelajari dalam sekolah-sekolah menengah. Jika Aceh ingin memiliki materi sekolah yang independen, bukankah sangat bermanfaat untuk dimulai dari karya-karya original orang Aceh sendiri? Ini tidak hanya akan membawa Aceh pada sebuah image berbeda, tapi juga mengiring kelanjutan komunikasi ureung tuha kepada generasai muda.
Kini, orang yang mengispirasaku telah tiada, namun semangat dan perjuangannya untuk mengkaji naskah tetap berkobar dalam sanubariku, "meneruskan petuwah indatu, melanjutkan kerja keras pahlawanku, mengapresiasikan karya ulamaku, dan menghadiahkan untuk generasiku". Semoga.[]

Source: terinspirasi dari berbagai sumber