Tampilkan postingan dengan label Mushaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mushaf. Tampilkan semua postingan

Pocut Meurah Intan: Pejuang Aceh di Tanah Blora

Kabupaten Blora menorehkan catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam perlawanannya melawan penjajahan. Banyak pahlawan bangsa yang dilahirkan dari kota ini, banyak pula yang menghembuskan nafas terakhir di kota ini. Salah satu pejuang tanah air yang wafat di kota Mustika ini adalah Putjut Meurah Intan, Sang Singa Betina Perang Aceh.

Putjut Meurah Intan merupakan bangsawan–pejuang dari kesultanan Aceh. Pejuang wanita yang wafat dalam usia hampir seratus empat puluh tahun ini merupakan pemimpin gerilya Perang Aceh di kawasan Laweung dan Batee (sekarang termasuk kabupaten Pidie, Provinsi Aceh).

Didampingi panglima perangnya, Pang Mahmud dan tiga putranya, Putjut Meurah Intan mengobarkan pertempuran satu abad yang harus dihadapi oleh Kolonial Belanda dalam rangka menguasai kesultanan di ujung barat nusantara ini.

Pada 26 Maret 1875 bertepatan dengan 26 Muharram 1290 H, Kolonial Belanda mengeluarkan pernyataan perang kepada Kesultanan Aceh. Sepuluh hari kemudian secara serentak para bangsawan Aceh yang menolak kolonialisasi melancarkan serangan perang gerilya di seluruh wilayah kekuasaan kesultanan.

Sayangnya, tidak semua bangsawan aceh menolak Kolonialisasi. Suami Putjut Meurah Intan, Tuanku Abdul Majid bin Tuanku Abbas bin Sultan Alaiddin Jauhar Alamsyah menyerah sebelum Kolonial Belanda mengumumkan perang. Kenyataan ini tidak membuat ciut nyali Srikandi Aceh ini.

Putjut Meurah Intan dibuang ke Blora pada tahun 1901, bersama dengan panglima perangnya, Pang Mahmud dan dua puteranya, Tuanku Nurdin dan Tuanku Budiman. Seorang puteranya, Tuanku Muhammad dibuang ke Menado Sulawesi Utara.

Putjut Meurah Intan meninggal di Blora pada tanggal 20 September 1937 dalam usia yang mendekati seratus empat puluh tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman umum dukuh Punggur Tegalan desa Temurejo Kecamatan Blora Kota.

Keberadaan makam pejuang Aceh ini bermula dari sepucuk surat dari salah satu anggota DPRD Blora tahun 1956 yang bernama M. Achmad kepada pimpinan umum surat kabar “Pemandangan“, Tamar Djaya. Dalam suratnya yang bertanggal 16 November 1956 itu, M. Achmad menulis bahwa di desa Tegalan kecamatan Kota Blora terdapat makam “Mbah Tjut“. Mbah Tjut merupakan nama yang digunakan oleh masyarakat Tegalan saat itu untuk menyebut Putjut Meurah Intan.

Pada 18 April 1985, Bupati Blora H. Sumarno SH bersama dengan rombongan dari masyarakat Aceh melakukan ziarah ke Makam Putjut Meurah Intan. Ziarah bupati Blora tersebut merupakan titik tolak pemuliaan makam sang pejuang wanita Aceh ini.

Dewasa ini, perhatian dan perawatan makam ini tampaknya sangat diperlukan mengingat jasa Putjut Meurah Intan dalam perjuangan mempertahankan tanah air.

Sumber    : Kliping Artikel Surat Kabar sepanjang tahun 1985 oleh H. Amran Zamzany S.E (Ketua Umum Persatuan Ex- Tentara Pelajar Resimen II Aceh, Divisi Sumatera) Jakarta 19 Desember 1985.

http://www.bloranews.com/ada-apa/putjut-meurah-intan-singa-betina-yang-terbaring-di-kota-mustika

Surat Peunutoh Teungku Mahyiddin Tiro


A letter written by Teungku Mahidin, alias Teungku Chik Mayet, secon son of Teungku Syeh Saman di Tiro who met his sacred death on September 5, 1910. It is addressed to Tuanku Raja Keumala, Panglima Polem’s brother-in-law, and to all Moslem in Samalanga. The letter described the war situation in Pidie and the death of Teungku di Tungkop. (top)

Begitulah keterangan dalam buku Belanda tentang sebuah sarakata (surat) dari Panglima Perang Aceh di Pidie saat perang Aceh-Belanda berkecamuk. Catatan di atas dapat diartikan sebagai berikut:
"Sepucuk surat Teungku Mahidin alias Teungku Chik Mayet, putra kedua Teungku Syeh Saman di Tiro, syahid pada tanggal 5 September 1910 yang ditujukan kepada Tuanku Raja Keumala, ipar Panglima Polem dan kaum muslimin di Samalanga, antara lain mengenai berkecamuknya peperangan di Pidie dan syahidnya Teungku di Tungkob". Wilayah Tungkop yang dimaksud adalah Tungkop di Pidie.

Informasi tambahan sebenarnya juga terdapat dalam surat tersebut, yaitu saat Teungku di Tungkop syahid, lalu penggantinya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin. Dalam kondisi perang, "struktur panglima perang" sebagai pemegang komando perang sangat penting sebagai pemberi komando (peunutoh), saat satu pimpinan tertinggi syahid dalam perang, maka secara mufakat atau struktural akan digantikan oleh yang lain sesuai dengan kesepakatan. Sepertinya, inilah yang dimaksud dalam surat tersebut "negeri empunya peunutoh meualon-alon" secara struktural dan terorganisir.


Berikut transkripsi teks perbaris:

1. Hadharat Seri Paduka yang mulia Tuanku Raja Keumala serta segala yang
2. ikutannya daripada saudara Muslimin dalam negeri  Samarlanga [Samalanga] ada semuanya.
3. Wa ba’du. As-salamu’alaikum wa-rahmatullah wa barakutuhu. Maka ahwal Pedir [Pidie] semua
4. dalam gaduh perang tiap-tiap ketika tiada khāli sekali-kali melainkan setengah tempat
5. ada yang terima surat kafir, serta tiada apa-apa atas kami sekali-kali melainkan
6. syahid Teungku di Tungkob  dengan garis takdir dalam Nisfu awal Sya’ban ini
7. serta sudah dijadi ada tandanya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin
8. akan gantinya dengan izin Tuhan Rabb al-‘Alamin, melainkan harap
9. kami bahwa berbanyak-banyak doa tuanku serta doa tuan-tuan akan keduanya
10. dan akan kami yang tinggal dalam negeri empunyai peunutoh meualon-alon seperti
11. di-ék trön u binéh pasie adanya. Was-salam ‘alà man ittaba’a al-hudà.
12. Daripada perhamba [poe hamba] faqir Mahyiddin Tiro.

11 Sya’ban 1318 H

Kedengaran Teuku Dua Ploh Dua 
sudah sampai dalam Gloeng [Galöng] Tiro.




Indahnya Manuskrip Maulid Nabi di Aceh


Naskah-naskah yang berkaitan dengan selawat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad saw yang terdapat di Aceh mayoritasnya akan dihiasi dengan iluminasi dan ilustrasi yang indah. Kecantikan seni tersebut menghias teks-teks yang memuji keagungan seorang Nabi terakhir. Biasanya, hiasan tersebut ditempatkan pada awal-awal halaman dan di akhir sebagai penghormatan dan kemuliaan kepada Nabi Muhammad saw yang paling mulia. Hal senada juga banyak (lebih konsisten) dijumpai pada mushaf-mushaf Aceh dan Nusantara.


Nabi lahir pada malam Senin, atau Senin pagi sebelum Subuh tanggal 12 Rabiul Awal bertepatan pada Tahun Gajah (570 Masehi). Ini adalah pendapat paling sahih yang merujuk pada pendapat Ibn Ishaq dan jumhur yang lainnya. Nabi mulia dilahirkan di Mekkah, di rumah kakeknya, Abdul Muthallib, pada saat itu Siti Aminah sejak meninggal suaminya Abdullah (ayah tercinta nabi Muhammad) dan selama ia mengandung dirawat di rumah kakeknya.

  


Dikenal tahun Gajah sebab pada tahun tersebut, Pimpinan besar Abrahah al-Asyram berasal dari Bani Gassan telah membangun satu peribadatan yang indah dan cantik di Hirah Yaman untuk dapat menarik simpati luar melaksanakan ibadah tahunan di sana. Namun sayang, hal itu tidak membuat masyarakat luar tertarik ke sana, dan  tetap berkunjung ke Mekkah dalam melaksanakan haji sebagai peribadatan tahunan. Abrahah berang, dan ingin menghancurkan Ka'bah di Mekkah. Sebagian riwayat menyebut ini terjadi 2 bulan sebelum kelahiran Nabi, sebagian menyebut hanya beberapa minggu, dan lainnya berpendapat ini terjadi pada waktu-waktu Siti Aminah akan melahirkan.


Pada hari ketujuh kelahiran Nabi, sang kakek Abdul Muthallib menyembelih unta dan mengundang masyarakat Mekkah sebagai acara syukuran (aqiqah) makan bersama. Dan memberitakan kepada masyarakat Mekkah bahwa cucunya diberi nama Muhammad, sedangkan ibunya menamainya Ahmad, yang keduanya berarti terpuji. Masyarakat Mekkah pun bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyangnya yang sudah mentradisi di bangsa Arab saat itu. "Aku ingin dia (Muhammad) menjadi orang yang terpuji (Ahmad) bagi Tuhan yang di langit, dan (Muhammad) bagi makhluk-Nya di bumi". jawab Abdul Muthallib.



Hadirnya naskah-naskah kuno (manuskrip) yang dihiasi indah beragam hiasan menunjukkan kecintaan para orang-orang terduhulu dan menjunjung kelahiran dan kehidupan Nabi dengan teks-teks selawat kepada Nabi, biasanya teks-teks seperti Dalail al-Khairat, Selawat Nabi dan Barzanji lainnya akan menghiasi indahnya tulisan-tulisan pujian tersebut.

        


Allah telah menujukkan bukti Nabi terakhir, Rasul paling mulia, pemberi syafaat kepada mukmin di akhirat, dan telah diakui oleh Nabi-nabi sebelumnya akan keberadaannya, serta telah diungkapkan dalam kitab-kitab Taurat, Zabur dan Inzil. Di atas semuanya, terpenting mengikuti seluruh sunnah Nabi, berpedoman pada sirahnya, dan selalu bersalawat dan memujinya setiap saat tanpa terbatas oleh dinding perayaan maulid.


Tamma.

Birmingham Qur'an manuscript dated among the oldest in the world

Radiocarbon analysis has dated the parchment on which the text is written to the period between 568Ce and 645CE
A Qur’an manuscript held by the University of Birmingham has been placed among the oldest in the world thanks to modern scientific methods.

The Qur’an manuscript will be on public display at The Barber Institute of Fine Arts, University of Birmingham, from Friday 2 October until Sunday 25 October.

Radiocarbon analysis has dated the parchment on which the text is written to the period between AD 568 and 645 with 95.4% accuracy. The test was carried out in a laboratory at the University of Oxford. The result places the leaves close to the time of the Prophet Muhammad, who is generally thought to have lived between AD 570 and 632.

Quran 7th century 1 Cadbury Research LibraryResearchers conclude that the Qur’an manuscript is among the earliest written textual evidence of the Islamic holy book known to survive. This gives the Qur’an manuscript in Birmingham global significance to Muslim heritage and the study of Islam.

Susan Worrall, Director of Special Collections (Cadbury Research Library), at the University of Birmingham, said: ‘The radiocarbon dating has delivered an exciting result, which contributes significantly to our understanding of the earliest written copies of the Qur’an. We are thrilled that such an important historical document is here in Birmingham, the most culturally diverse city in the UK.’

The Qur’an manuscript is part of the University’s Mingana Collection of Middle Eastern manuscripts, held in the Cadbury Research Library. Funded by Quaker philanthropist Edward Cadbury, the collection was acquired to raise the status of Birmingham as an intellectual centre for religious studies and attract prominent theological scholars.

Consisting of two parchment leaves, the Qur’an manuscript contains parts of Suras (chapters) 18 to 20, written with ink in an early form of Arabic script known as Hijazi. For many years, the manuscript had been misbound with leaves of a similar Qur’an manuscript, which is datable to the late seventh century.

Susan Worrall said: ‘By separating the two leaves and analysing the parchment, we have brought to light an amazing find within the Mingana Collection.’



Dr Alba Fedeli, who studied the leaves as part of her PhD research, said: ‘The two leaves, which were radiocarbon dated to the early part of the seventh century, come from the same codex as a manuscript kept in the Bibliothèque Nationale de France in Paris.’

MS1572A folio 1 verso and folio 2 rectoExplaining the context and significance of the discovery, Professor David Thomas, Professor of Christianity and Islam and Nadir Dinshaw Professor of Interreligious Relations at the University of Birmingham, said: ‘The radiocarbon dating of the Birmingham Qur’an folios has yielded a startling result and reveals one of the most surprising secrets of the University’s collections. They could well take us back to within a few years of the actual founding of Islam.

‘According to Muslim tradition, the Prophet Muhammad received the revelations that form the Qur’an, the scripture of Islam, between the years AD 610 and 632, the year of his death. At this time, the divine message was not compiled into the book form in which it appears today. Instead, the revelations were preserved in “the memories of men”. Parts of it had also been written down on parchment, stone, palm leaves and the shoulder blades of camels. Caliph Abu Bakr, the first leader of the Muslim community after Muhammad, ordered the collection of all Qur’anic material in the form of a book. The final, authoritative written form was completed and fixed under the direction of the third leader, Caliph Uthman, in about AD 650.

‘Muslims believe that the Qur’an they read today is the same text that was standardised under Uthman and regard it as the exact record of the revelations that were delivered to Muhammad.

‘The tests carried out on the parchment of the Birmingham folios yield the strong probability that the animal from which it was taken was alive during the lifetime of the Prophet Muhammad or shortly afterwards. This means that the parts of the Qur’an that are written on this parchment can, with a degree of confidence, be dated to less than two decades after Muhammad’s death. These portions must have been in a form that is very close to the form of the Qur’an read today, supporting the view that the text has undergone little or no alteration and that it can be dated to a point very close to the time it was believed to be revealed.’
The manuscripts are written with ink in Hijazi - an early form of Arabic [Birmingham University]

Dr Muhammad Isa Waley, Lead Curator for Persian and Turkish Manuscripts at the British Library, said: ‘This is indeed an exciting discovery. We know now that these two folios, in a beautiful and surprisingly legible Hijazi hand, almost certainly date from the time of the first three Caliphs. According to the classic accounts, it was under the third Caliph, Uthman ibn Affan, that the Qur’anic text was compiled and edited in the order of Suras familiar today, chiefly on the basis of the text as compiled by Zayd ibn Thabit under the first Caliph, Abu Bakr. Copies of the definitive edition were then distributed to the main cities under Muslim rule.

‘The Muslim community was not wealthy enough to stockpile animal skins for decades, and to produce a complete Mushaf, or copy, of the Holy Qur’an required a great many of them. The carbon dating evidence, then, indicates that Birmingham’s Cadbury Research Library is home to some precious survivors that – in view of the Suras included – would once have been at the centre of a Mushaf from that period. And it seems to leave open the possibility that the Uthmanic redaction took place earlier than had been thought – or even, conceivably, that these folios predate that process. In any case, this – along with the sheer beauty of the content and the surprisingly clear Hijazi script – is news to rejoice Muslim hearts.’

http://www.birmingham.ac.uk/news/latest/2015/07/quran-manuscript-22-07-15.aspx

Mushaf Al-Qur'an Milik Mesjid Raya Baiturrahman Aceh Ada di Leiden Belanda

Setiap orang Aceh pasti tahu jenderal Belanda yang tewas ditembak di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh saat memimpin perang ke Aceh 1873.
Hampir semua buku merekamnya dan juga terdapat monumen mencatatnya yang terletak di sebelah Masjid Raya di bawah pohon Geulumpang besar. Orang mengenalnya “pohon kohler”.
Namun, jika sebaliknya ditanyai, siapa imam Masjid Raya Baiturrahman yang syahid saat agresi Belanda ke Aceh? Tentu banyak orang tidak tahu jawabannya, dan banyak buku tidak merekamnya.
Cukup sulit mencari sumber informasi tentang “pahlawan syahid Aceh” saat perang itu terjadi. Padahal semua orang tahu awal kisah bencana perang Aceh dengan Belanda pada tahun 1873.
Mushaf Alquran milik Masjid Raya Baiturrahman adalah bagian dari barang-barang pusaka dalam Masjid yang diambil dan terbang ke Belanda pasca meletusnya perang tersebut. (baca : Museum Mushaf Alquran Aceh)
Syukurnya, saya dapat mengakses Alquran resmi yang digunakan Imam Mesjid Raya yang didigital oleh Erlangen dari Jerman atas izin Leiden University sebagai pihak pengoleksi.

Kini warisan berharga tersebut disimpan di perpustakaan terbesar di Belanda dalam kategori “koleksi spesial”.
Dapat diartikan bahwa:  “Sampul kulit warna merah, memiliki dekorasi terjilid bundle, terikat dan dibordir. Ini hadiah Prof Michael Jan de Goeje (1836-1909), yang telah menerima MS [manuskrip] dari Kapten JHA IJssel de Schepper, yang menemukannya pada pada tubuh 'imam Aceh' yang syahid setelah penyerbuan Masjid Agung (Missigit) dari Kotaradja [Banda Aceh] dalam perang Aceh pertama. MS ini telah dikirim dari “Bivouac Zeestrand” Aceh ke Belanda pada 27 April 1874”.
Akhirnya kita tahu, bahwa Alquran tersebut ditemukan dalam dekapan sang imam Masjid Raya yang syahid pada perang pertama.
Ada beberapa sumber menyebutkan nama imam masjid raya pada periode awal perang tersebut, sebagian menyebut Tgk Imum Lam Krak, pendapat lainnya Teuku Rama. Namun demikian, kedua pendapat tersebut belum sahih seutuhnya.
Mushaf ini dimulai tulisannya dengan doa membaca Alquran, kemudian seuntai syair “syarat membaca Quran itu empat perkara, sekalian hokum tajwid engkau pelihara” disertai gambar muluklt dan kerongkongan tempat dalam keluarnya huruf hijaiyyah.
Halaman selanjutnya nama-nama Nabi dan Rasul, dan terakhir tatanan pembelajaran tajwid.
Penemuan mushaf Alaqran resmi Masjid Raya Baiturrahman tahun 1873 menjadi modal untuk mengembangkan kembali mushaf Alquran Masjid Raya Baiturrahman pada zaman sekarang.
Ini juga sekaligus modal untuk menghadirkan museum Mushaf Masjid Raya Baiturrahman yang memuat beragam informasi sejarah dan perkembangan masjid sebagai dambaan hati masyarakat Aceh dan mengenang peran masjid tersebut.

Museum Mushaf Al-Qur'an Aceh

Halaman awal Mushaf al-Qur'an dengan hiasan iluminasi khas Aceh
Koleksi Tarmizi A Hamid, Banda Aceh
Dalam lintas sejarah mushaf Al-Qur’an, Aceh telah menuai ekor tersendiri. Bahkan dalam bidang mushaf al-Qur’an ini, Aceh telah mewakili seluruh bidang, mulai dari kandungan al-Qur’an kalam Ilahi tersebut, hingga pada sisi-sisi kesenian lainnya.
Namun sayang, khazanah tersebut hampir –bahkan sudah- terlupakan oleh generasinya, salah satunya masyarakat tidak pernah tahu ciri-ciri mushaf Aceh.
Padahal Al-Quran merupakan pondasi negeri bersyariat dan masyarakat Aceh. Tulisan singkat ini akan mengungkap rekor Mushaf Aceh, dan semoga menambah pengetahuan akan Mushaf Aceh serta melahirkan sebuah rekomendasi bersama untuk dapat diaplikasikan.
Selama ini, kita merujuk kepada mushaf Ustmani, atau setidaknya pada standar Mushaf Al-Quran yang disusun oleh Kementerian Agama RI yang juga mengikuti rasm Ustmani.
Di Aceh, saya meyakini sudah ada mushaf Al-Quran yang ditulis oleh orang Aceh dengan karakter ke-Aceh-an, dimulai sejak Kesultanan Samudera Pasee (Pasai), berlanjut hingga Kesultanan Aceh dan berakhir pada periode kemerdekaan.
Karakter yang dimaksud adalah tanda baca, sistem penulisan, iluminasi dan ilustrasi yang mengacu kepada konteks Aceh, sesuai dengan pengetahuan Aceh tanpa menanggalkan aturan Mushaf Ustmani. Inilah rekor yang pertama bahwa Aceh yang dinobatkan masuknya Islam pertama, tentu memiliki al-Quran yang pertama ditulis di Nusantara.
Sampai detik ini, keberadaan Mushaf Aceh yang tertulis tangan diketahui kurang lebih 400 (empat ratus) buah dengan ciri dan corak yang berbeda, baik dalam bentuk utuh atau tidak. Semuanya tulisan tangan, dengan ukuran rata-rata besar dan tebal mayoritas menggunakan media kertas Eropa.
Penulis telah menginventarisir ratusan mushaf manuskrip yang memiliki pola dan hiasan yang berbeda-beda di Aceh, seperti koleksi Museum Aceh, Ali Hasjmy, Tarmizi A Hamid, atau di luar Aceh, PNRI Jakarta, Malaysia, Belanda, Brunai, Inggris dan Denmark.
Inilah rekor Mushaf Aceh paling banyak varian di Nusantara dengan ragam dan ciri yang berbeda-beda jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah Islam lainnya di Asia Tenggara.
Rekor Mushaf Aceh lainnya adalah Tafsir Mushaf al-Qur’an pertama berbahasa Melayu (Indonesia) karya Syekh Abdurrauf al-Fansuri berjudul Tarjuman al-Mustafid.

Karya fenomenal tersebut pernah dicetak di Mesir, India, dan Singapura sebelum Negara ini lahir. Semestinya, modal ini menjadi momen untuk mengembangkan ilmu-ilmu Al-Quran dan Tafsir di Aceh.
Keunggulan khazanah lainnya adalah corak dan ragam hias mushaf Al-Quran berbentuk persegi dikelilingi talo meuputa, taloe dua (dua tali), hiasan bunga, ujong tameh puntong dan pola kulahkama (mahkota).
Lazimnya, semua seni hias tersebut dapat menjadi pedoman bagi tenun (batik) Aceh.
Pemberian iluminasi pada mushaf keduanya menyatu secara simetris di dua halaman pada bagian awal, tengah dan akhir adalah ciri khas Aceh yang tidak terdapat dalam mushaf Ustmani.
Semestinya, dengan khazanah Mushaf al-Qur’an yang sangat kaya dan berlimpah di Aceh, sudah semestinya Pemerintah Aceh membangun Museum Mushaf Al-Qur’an Aceh sebagai media edukasi dan sebagai sentral informasi perkembangan mushaf-mushaf Al-Qur’an di Aceh, serta pelestarian khazanah Islam warisan indatu sekaligus wisata islami atas proklamasi salah satu negeri yang telah mengikrarkan penerapan syariat Islam. []

http://aceh.tribunnews.com/2015/06/29/museum-mushaf-al-quran-aceh

Hikayat Aceh Dalam Ranah Kesusasteraan Melayu-Indonesia (1)

Dalam masyarakat Aceh kita akan menjumpai sejumlah karya sastra dari zaman lampau. Diantara karya sastra itu ialah hikayat. Hikayat ditulis hampir seluruhnya berbentuk puisi dengan menggunakan huruf Arab-Melayu tetapi tetap dalam teks berbahasa Aceh. Ditinjau dari segi masyarakat Aceh, hikayat tidaklah dipandang sebagai karya fiksi yang utuh. Hikayat dan cerita rakyat semacam itu lebih berat dipandang sebagai suatu peristiwa kehidupan yang benar-benar ada daripada sebagai buah pikiran pengarangnya. Juga, isi kandungan hikayat dianggap mewakili sekelumit peristiwa kehidupan sosial Aceh sehingga amat mempengaruhi tingkah laku, norma atau nilai-nilai sosial, kehidupan bermasyarakat dan berbudaya pada umumnya.
Hikayat adalah salah satu jenis sastra Aceh, pada umumnya dalam bentuk puisi diucapkan atau ditulis dalam bahasa Aceh. Hikayat Aceh pada awalnya dikembangkan hanya melalui lisan, disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Periode ini mengutamakan hafalan dan komunikasi lisan dari satu orang ke orang lain. Seiring perkembangan zaman maka beralihlah ke era tulisan yang dituangkan dalam naskah-naskah atau tulisan tangan. Kini jenis sastra ini menjadi khazanah budaya dan warisan leluhur yang didalamnya mengandung kekayaan, nilai-nilai moral, pemikiran, pengetahuan, adat istiadat, hukum, sejarah dan perilaku masyarakat pada masa lalu.  Warisan khazanah budaya Aceh dalam bentuk naskah informasinya jauh lebih luas dan lebih jelas jika dibandingkan dengan peninggalan budaya yang berbentuk material seperti istana, mesjid, batu nisan, mata uang, dan sebagainya.
Istilah Hikayat berasal dari bahasa Arab “hikāyah” artinya cerita, dongeng, kisah, bentuk masdar dari kata kerja “hakā” yaitu; menceritakan, mengatakan sesuatu kepada orang lain.  Di Aceh hikayat dikenal sebagai sebuah karya sastra umumnya berbentuk syair sajak, sebagian kecil saja yang berbentuk prosa, isinya meliputi segala aspek bidang ilmu dan berbagai corak seperti dongeng, cerita, sejarah, nasehat, kisah, surat, nazam, dan sebagainya.
Berbeda dengan istilah hikayat dalam bahasa Melayu yaitu merupakan narrative story yaitu dalam bentuk prosa beralur cerita (narasi) atau dikenal novel dalam sastra modern. Para ulama-ulama Aceh lebih mengarahkan ciptaan karya mereka (hikayat) pada karya keagamaan dan nasehat yang berisi amar makruf nahi mungkar serta ajaran-ajaran lainnya sesuai dengan tuntunan agama Islam, walaupun sisi ilmu pengetahuan umum tak diabaikan.
Hal tersebut selaras dengan pendapat C. Snouck Hurgronje bahwa sastra Hikayat Aceh berbeda dengan sastra Hikayat Melayu, Hikayat Melayu berbentuk prosa, sedangkan Hikayat Aceh berbentuk puisi di luar jenis pantun, nasib, dan kisah. Hikayat bagi orang Aceh tidak hanya berisi cerita fiksi belaka, tetapi berisi pula butir-butir yang menyangkut pengajaran moral; ke dalam kelompok ini termasuk kitab-kitab pelajaran sederhana, asalkan ditulis dalam bentuk sanjak.
Sastra melayu sebagai salah satu karya sastra lama yang memiliki nilai-nilai budaya luhur, dibedakan menjadi dua jenis (genre) sastra, yaitu jenis sastra lisan dan sastra tulis. Sastra lisan melayu tumbuh dan berkembang melalui tuturan cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari orang tua kepada anak, dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Jenis lisan ini ada yang didengarkan dan dihayati secara bersama-sama pada peristiwa tertentu, dengan maksud untuk mencapai tujuan tertentu.

Tradisi Penyalinan al-Qur'an di Aceh


Ciri Khas Iluminasi Mushaf Aceh
Penulisan mushaf Al-Qur’an telah dimulai sejak abad ke-7 M (abad pertama Hijri). Empat atau lima salinan pertama Al-Qur’an pada masa Khalifah Usmān bin ‘Affān yang dikirim ke beberapa wilayah Islam, pada tahun 651, selanjutnya menjadi naskah baku bagi penyalinan Al-Qur’an—disebut Rasm Usmānī. Dari naskah itulah kemudian, pada abad-abad selanjutnya, semua salinan Al-Qur’an dibuat.
Di Nusantara, penyalinan Al-Qur'an diperkirakan dimulai dari Aceh, sejak sekitar abad ke-13, ketika Pasai, di pesisir ujung timur laut Sumatra, menjadi kerajaan pertama di Nusantara yang memeluk Islam secara resmi melalui pengislaman sang raja, yaitu Sultan Malik as-Saleh. Kemunculannya sebagai kerajaan Islam sejak awal atau pertengahan abad ke-13 merupakan hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi para pedagang Muslim sejak abad ke-7, dan seterusnya. Meskipun demikian, kita tidak menemukan Al-Qur’an dari abad ke-13 itu, dan Al-Qur’an tertua dari kawasan Nusantara yang diketahui sampai saat ini berasal dari akhir abad ke-16. Penyalinan Al-Qur’an secara tradisional berlangsung sampai akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 yang berlangsung di berbagai kota atau wilayah penting masyarakat Islam masa lalu, seperti Aceh, Riau, Padang, Palembang, Banten, Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, Madura, Lombok, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Makassar, Ternate, dan lain-lain. Warisan penting masa lampau tersebut kini tersimpan di berbagai perpustakaan, museum, kolektor, pesantren, masjid, serta ahli waris, dan paling banyak berasal dari abad ke-19.

Berbagai sisi penting mushaf kuno Nusantara sampai saat ini belum banyak diteliti,[Lihat Ornamen Nusantara: Studi tentang Ornamen Mushaf Istiqlal yang ditulis oleh M. Gazali untuk disertasi di IAIN Jakarta, 1998; dan Ketika Mushaf Menjadi Indah, ditulis oleh M. Ibnan Syarif,  (Semarang: Aini, 2003) sebuah buku yang berasal dari tesisnya di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB)] baik oleh penulis Barat maupun lokal. Aspek-aspek mushaf, baik menyangkut sejarah penulisannya, rasm, qiraat, terjemahan bahasa Melayu atau bahasa daerah lainnya, maupun sisi visualnya, yaitu iluminasi dan kaligrafi, masih belum banyak yang diungkap. Beberapa buku dan katalog pameran Al-Qur’an atau seni Islam hanya sedikit menyinggung mushaf-mushaf dari Asia Tenggara. Istilah “seni Islam” seakan-akan hanyalah warisan seni dari kawasan Afrika Utara, Turki, Asia Tengah, Iran, dan India. Dalam perbincangan seni Islam, wilayah Nusantara masih cenderung diabaikan, dan tampaknya belum dianggap sebagai bagian yang penting dari Dunia Islam.

Khazanah Al-Qur’an Nusantara
Penyalinan Al-Qur’an dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat Islam, baik para penyalin profesional, santri, maupun para ulama. Pada awal abad ke-19 Abdullah bin Abdul Kadir al-Munsyi memperoleh uang dari menyalin Al-Qur’an. Para santri di berbagai pesantren menyalin Al-Qur'an terutama untuk kepentingan pengajaran. Sementara, beberapa ulama terkenal juga dikatakan pernah menyalin Al-Qur'an. Penyalinan juga dilakukan oleh para ulama atau pelajar yang tengah memperdalam ilmu agama di Mekah. Pada abad ke-16 sampai 19 M, Mekah selain berfungsi sebagai tempat menunaikan haji, juga merupakan pusat studi Islam.
Dewasa ini, naskah-naskah Al-Qur'an Nusantara banyak disimpan di lembaga-lembaga pemerintah di Malaysia, Indonesia, Belanda, serta beberapa tempat lain. Namun, di antara kekayaan Al-Qur’an Nusantara itu, naskah-naskah di Indonesia diperkirakan tetap merupakan yang terbanyak, dimiliki baik oleh pribadi, museum, masjid, maupun pesantren. Inventarisasi dan penelitian mengenai Al-Qur’an yang dilakukan di berbagai daerah oleh Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, sejak tahun 2003 hingga 2005, serta data lainnya, memperlihatkan bahwa naskah Al-Qur’an di Indonesia dapat dikatakan masih cukup banyak, yaitu sekitar 455 naskah. Keberadaan Al-Qur’an di berbagai wilayah dan lapisan masyarakat itu menunjukkan bahwa penyalinanan Al-Qur’an pada masa lampau cukup merata di Nusantara.

Al-Qur’an Aceh dalam Bingkai Koleksi Dunia
Al-Qur'an dari Aceh—yang mudah dikenali dari bentuk, motif dan warna hiasannya—kini telah menjadi koleksi berbagai lembaga di dalam dan luar negeri. Inventarisasi semua koleksi mushaf Aceh sementara ini berjumlah 152 mushaf.


Di Aceh, Lima lembaga penting yang mengoleksi sejumlah naskah Al-Qur'an, yaitu Museum Negeri, Jl. Sultan Alauddin Syah, Banda Aceh, mengoleksi sekitar 70-an naskah Al-Qur'an, 32 di antaranya Al-Qur'an 30 juz; Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, Jl. Sudirman no.20 Banda Aceh, mengoleksi 20 Al-Qur'an; dan Dayah Tanoh Abee, Seulimum, Aceh Besar, menurut informasi mengoleksi 23 buah. Zawiyah Awee Geutah di wilayah Aceh Utara, dan Yayasan Rumoh Manuskrip di Banda Aceh, yang menyimpan beberapa mushaf Aceh. Selain lima lembaga tersebut, di Aceh, sejumlah Al-Qur'an juga dimiliki oleh perorangan yang merupakan ahli waris keluarga.
Di luar Aceh, di Jakarta misalnya terdapat di Perpustakaan Nasional RI mengoleksi 7 buah Al-Qur'an Aceh. Di Masjid Agung Singaraja, Bali, terdapat sebuah mushaf Aceh.
Di luar negeri, Perpustakaan Nasional Malaysia, Kuala Lumpur, mengoleksi 4 buah Al-Qur'an Aceh; Islamic Arts Museum Malaysia, Kuala Lumpur, mengoleksi satu buah; Yayasan Restu 2 buah; dan Museum Seni Asia, 1 buah. Sementara di negeri Belanda, karena perjalanan sejarah, Universitas Leiden mengoleksi 7 buah Al-Qur'an Aceh; Koninklijk Instituut voor de Tropen, Amsterdam, mengoleksi 7 buah; Rijkmuseum voor Volkenkunde, Leiden, mengoleksi 6 buah; dan Nijmeegs Volkenkundig Museum, Universiteitsbibliotheek van Amsterdam, Universiteitsbibliotheek, Utrecht, serta Wereldmuseum, Rotterdam, masing-masing mengoleksi satu buah Al-Qur'an dengan hiasan khas Aceh. Di luar data ini, baik di dalam mapun di luar negeri, diperkirakan masih banyak terdapat Al-Qur'an dari Aceh yang tidak tercatat.

Gaya iluminasi khas Aceh
Ciri khas Iluminasi Mushaf Aceh yang jarang ditemui
Iluminasi (illumination)—dari akar kata illuminate, berarti to light up, to make bright, to decorate—yaitu hiasan naskah yang bersifat abstrak, tidak fungsional menjelaskan teks seperti ilustrasi, dan berfungsi semata “memperterang”, atau sebagai “penerang” bagi teks yang disajikan. Di dalam Al-Qur'an, iluminasi biasanya menghiasi bagian awal, tengah, dan akhir Al-Qur'an. Hiasan di ketiga tempat ini merupakan bagian yang sangat penting dalam seni naskah Al-Qur'an, dan terdapat di hampir seluruh Al-Qur'an Nusantara. Ragam hias yang digunakan terutama adalah ragam hias floral (tetumbuhan) dan geometris. Namun, berbeda dengan Al-Qur'an dari negeri-negeri Islam di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, dan Persia yang banyak menggunakan ragam hias geometris, di samping floral, Al-Qur'an Nusantara kebanyakan menggunakan ragam hias floral, dan tidak terlalu banyak ragam geometris.
Al-Qur’an dari Aceh memiliki gaya khas, dan biasanya mudah diidentifikasi dengan jelas melalui pola dasar, motif hiasan, dan pewarnaannya. Iluminasi khas itu biasanya terdapat di bagian awal, tengah, dan akhir Al-Qur’an. Iluminasi dua halaman simetris di awal Al-Qur'an berisi Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah. Tradisi pemberian iluminasi di bagian ini terdapat di dalam Al-Qur'an dari berbagai daerah Nusantara, dan merupakan tradisi penting penyalinan Al-Qur'an di dunia Islam pada umumnya.
Iluminasi di bagian tengah Al-Qur'an, khususnya dalam tradisi penyalinan Al-Qur'an di Aceh, hampir bisa dipastikan berisi permulaan juz ke-16. Hal ini berbeda dari tradisi penyalinan Al-Qur'an di Nusantara lainnya, karena iluminasi tengah Al-Qur'an, selain berisi permulaan juz ke-16 itu, kadang-kadang juga berisi permulaan Surah al-Isra’ atau permulaan Surah al-Kahf. Namun, sebagaimana tradisi iluminasi Al-Qur'an di dunia Islam, demikian juga dan Nusantara, tidak semua naskah Al-Qur'an Aceh beriluminasi di bagian tengah. Ada sebagian Al-Qur'an yang hanya beriluminasi di awal dan akhir naskah.
Dalam tradisi Aceh, naskah-naskah Al-Qur'an yang beriluminasi di awal juz ke-16 banyak yang mengesankan seakan-akan Al-Qur'an itu dibagi menjadi dua bagian, juz 1-15 dan juz 16-30, meskipun kedua bagian itu selalu dalam satu jilid. Pembagian itu kadang-kadang tampak cukup tegas, karena di akhir juz 15 banyak yang ditandai dengan semacam garis khusus dalam bentuk segi tiga, bahkan kadang-kadang dibubuhi kata tamm (selesai, tamat). Adapun iluminasi di akhir Al-Qur'an, sama dengan tradisi lain di Nusantara dan dunia Islam, berisi Surah al-Falaq dan Surah an-Nas, kedua surah terakhir Al-Qur'an.
Beberapa gaya iluminasi terpenting seni mushaf Nusantara yang saat ini sudah teridentifikasi—berdasarkan kajian dan observasi—di antaranya adalah gaya Aceh, Bugis, Jawa, Lombok, Banten, serta Patani dan Terengganu di Pantai Timur Semenanjung Malaysia.
Pola dasar iluminasi Al-Qur'an khas Aceh biasanya dicirikan dengan (1) bentuk persegi, dengan garis vertikal di sisi kanan dan kiri, yang menonjol ke atas dan ke bawah, biasanya dalam bentuk lancip atau lengkungan; (2) bentuk semacam kubah atau mahkota di bagian atas, bawah, dan sisi luar; (3) hiasan semacam kuncup di ujung masing-masing kubah tersebut; dan (4) hiasan sepasang “sayap” kecil di sebelah kiri dan kanan halaman iluminasi (lihat gambar pada lampiran).
Iluminasi khas tersebut tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an, namun juga dalam naskah-naskah keagamaan selain Al-Qur'an, dan ada pula dalam naskah hikayat, namun dengan struktur pola yang berbeda. Pola dan motif sulur dalam iluminasi Aceh bervariasi, namun secara umum memperlihatkan standar pola tertentu, dan dalam pewarnaan dapat dikatakan selalu seragam, sehingga mudah dikenali.
Warna yang dipakai terutama adalah merah, kuning, hitam, dan putih, namun tidak menggunakan tinta atau cat putih, tetapi warna kertasnya itu sendiri. Warna lain yang digunakan pula, meskipun jarang, adalah biru. Warna ini khususnya digunakan dalam pola iluminasi mushaf Aceh yang berbeda.

Kaligrafi berhias
Meskipun Aceh telah memiliki tradisi yang panjang dalam penyalinan naskah, dan huruf Arab telah dipakai selama berabad-abad, sejauh ini belum dapat diidentifikasi adanya suatu gaya tulisan khas Aceh yang bisa dianggap baku. Sebenarnya ini merupakan gejala umum di Nusantara, karena di kawasan terjauh dari pusat Islam ini, tulisan Arab tampaknya tidak pernah benar-benar menjadi suatu “disiplin” seni tulis-menulis—berbeda dengan kawasan dunia Islam pada umumnya. Meskipun demikian, di Aceh terdapat suatu gaya tulisan khas yang sangat unik. Dalam naskah selain Al-Qur'an biasanya muncul pada kata kumulai atau al-kalam, yang sering menjadi kata pertama dalam suatu teks. Kata pembuka itu memperoleh perhatian khusus dari penyalin, dan huruf kaf-nya sering dihias sedemikian rupa, dan diberi warna merah.

Kaligrafi floral "sumun" pada sebuah mushaf Aceh.
Gaya kaligrafi khas Aceh?
Dalam naskah Al-Qur'an, kaligrafi unik khas Aceh muncul pada tulisan juz, nisf, rubu’, dan sumun yang terletak di sisi luar halaman teks Al-Qur'an. Dalam sebagian naskah, tulisan yang merupakan “tanda pembacaan Al-Qur'an” itu tampak tidak mengutamakan keterbacaan, namun lebih mengedepankan ekspresi artistik tertentu, sebagai bagian dari dekorasi mushaf. Dilihat dari segi huruf, komposisi tulisan itu tidak mudah dibaca. Namun, tampaknya memang bukan keterbacaan itu yang ingin dicapai penulisnya, melainkan sekadar memberikan tanda bahwa di tempat tersebut terdapat tanda pembacaan, dan itu dilakukan dengan suatu komposisi artistik tertentu, sesuai dengan motif hiasan floral khas Aceh. Komposisi itu sangat mungkin digubah oleh iluminator naskah, bukan oleh penyalin teks Al-Qur'annya.*


Daftar Pustaka
Ambary, Hasan Muarif. 1998. Menemukan Peradaban. Jakarta: Logos.
al-A‘zamī, M.M. 2005. Sejarah Teks Al-Qur'an dari Wahyu sampai Kompilasi: Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jakarta: Gema Insani.
Bafadal, Fadhal AR dan Rosehan Anwar. 2005. Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan.
Behrend, T.E. 1996. “Textual Gateways: The Javanese Manuscript Tradition” dalam Ann Kumar and John H. McGlynn. 1996. Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia. Jakarta: Lontar Foundation - New York and Tokyo: Weatherhill, Inc.
———. 1998. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 4: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia - Ecole française d’Extrême-Orient.
Berg, L.W.C. van den, and R. Friederich. 1873. Codicum Arabicorum in Bibliotheca Societatis Artium et Scientiarum quae Bataviae floret asservatorum catalogum. Batavia: Bruining et Wijt; Hagae Comitis: M. Nijhoff.
Chambert-Loir, Henri dan Oman Fathurrahman. 1999. Khazanah Naskah. Jakarta: Ecole française d’Extrême-Orient dan Yayasan Obor Indonesia.
Derman, M. Ugur. 1998. Letters in Gold: Ottoman Calligraphy from the Sakip Sabanci Collection, Istanbul. New York: The Metropolitan Museum of Art.
Gallop, Annabel Teh. 2002. “Seni Hias Manuskrip Melayu,” dalam Warisan Manuskrip Melayu. Kuala Lumpur: Perpustakaan Negara Malaysia.
———. 2004. “An Acehnese Style of Manuscript Illumination.” Archipel, 68: 193-240.
———. 2004. “Beautifying Jawi: Between Calligraphy and Palaeography.” [Makalah dalam Second International Conference on Malay Civilization: Malay Images, Universiti Pendidikan Sultan Idris, Legend Hotel, Kuala Lumpur, 26-28 Februari 2004].
Gallop, Annabel Teh, and Ali Akbar. 2006. “The Art of the Qur’an in Banten: Calligraphy and Illumination.” Archipel 72.
Lings, Martin, and Yasin Hamid Safadi. 1976. The Qur’an. London: World of Islam Festival Trust.
Porter, Venetia, and Heba Nayel Barakat. 2004. Mightier than the Sword. Arabic Script: Beauty and Meaning. Islamic Art Museum Malaysia.
Ronkel, Ph.S. van. 1913. Supplement to the catalogue of the Arabic manuscripts preserved in the Museum of the Batavia Society of Arts and Sciences. Batavia: Albrecht.
Safadi, Yasin Hamid. 1978. Islamic Calligraphy. London: Thames and Hudson.
Voorhoeve, P. 1980. Handlist of Arabic Manuscript in the Library of the University of Leiden and other Coolections in the Netherlands. (2nd Enlarged Ed.) The Hague: Leiden University Press.
Zain, Dzulhaimi Md. et al. 2007. Ragam Hias al-Qur’an di Alam Melayu. Kuala Lumpur: Utusan Publication.

Source : http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/02/tradisi-penyalinan-al-quran-di-aceh.html#more
(Beberapa bagian artikel telah saya update tanpa mengubah subtansinya)

Mushaf Al-Qur'an Aceh di Dunia

Tak perlu diragukan lagi, bahwa Aceh telah mewariskan berbagai khazanah intelektual untuk bangsa dan dunia ini, termasuk Mushaf al-Qur'an. Dan, kini telah menyebar (tersimpan) di berbagai lembaga di dalam maupun luar negeri. Semoga karakteristik mushaf al-Qur'an dari Aceh dapat terus dipelihara, -juga tentunya- dikembangkan dalam berbagai keilmuan.

Hingga saat ini, ada beberapa lembaga di dalam dan luar negeri yang menyimpan naskah mushaf al-Qur'an Aceh, di antaranya:
  1. Museum Negeri Aceh mengoleksi sebanyak 46 Al-Qur'an Aceh.
  2. Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy mengoleksi 20 Al-Qur'an
  3. Zawiyah Tanoh Abee mengoleksi 27 buah Al-Qur'an, belum termasuk koleksi pribadi Abu.
  4. Tarmizi A Hamid, Banda Aceh 8 naskah Al-Qur'an Aceh.
  5. Syahrial Lingom Indrapuri Aceh Besar, mengoleksi 3 naskah Al-Qur'an 
  6. Saiful Bahri, Lingom Samahani Aceh Besar, menyimpan 5 naskah Al-Qur'an
  7. Jauhari, Lam Alue, Aceh Besar, menyimpan 6 naskah al-Qur'an
  8. Khairani, Simpang, Kec Gulumpang Minyeuk, Pidie, menyimpan 1 naskah
  9. Syik Jah Cot Baroh, Pidie, menyimpan 1 naskah Al-Qur'an
  10. Perpustakaan Nasional RI mengoleksi 7 buah Al-Qur'an Aceh. 
  11. Dayah Awee Geutah, Aceh Utara ?
Naskah al-Qur'an Aceh Koleksi di Luar Negeri

  1. Perpustakaan Nasional Malaysia (PNM), Kuala Lumpur, mengoleksi 4 buah Al-Qur'an Aceh
  2. Islamic Arts Museum Malaysia, Kuala Lumpur, mengoleksi satu buah. 
  3. Universitas Leiden Belanda mengoleksi 7 buah Al-Qur'an Aceh; 
  4. Koninklijk Instituut voor de Tropen, Amsterdam, mengoleksi 7 buah  Al-Qur'an Aceh 
  5. Rijkmuseum voor Volkenkunde, Leiden, mengoleksi 6 buah  Al-Qur'an Aceh 
  6. Nijmeegs Volkenkundig Museum, Universiteitsbibliotheek van Amsterdam, Universiteitsbibliotheek, Utrecht, serta Wereldmuseum, Roterdam, masing-masing mengoleksi satu buah Al-Qur'an.
  7. Belasan naskah Mushaf Aceh di Museum Malaysia.
  8. Belasan naskah Mushaf Aceh di Museum Brunai Darussalam
Di luar data ini, baik di dalam mapun di luar negeri, diperkirakan masih banyak terdapat Al-Qur'an dari Aceh yang tidak tercatat.

Sebagaimana informasi dari Lajnah Pentasihan Mushaf Al-Quran Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, yang memamerkan sejumlah mushaf Al-Quran berumur ratusan tahun, dalam acara expo di Sultan Syarif Abdurrahman, Pontianak. Dari sejumlah mushaf tersebut terdapat salah satu Mushaf tertua berasal dari Aceh. 

Mushaf Al-Quran yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia sudah berumur ratusan tahun, dapat dilihat di arena kegiatan. Umumnya berasal dari pemberian kolektor. Dari sejumlah mushaf yang dipamerkan itu, ada salah satu mushaf tertua berasal dari Aceh.

“Mushaf yang dari aceh itu diperkirakan ditulis tahun 1800-an abad 19. Akan tetapi keterangan ditulis tahun berapa tidak ada, namun kertas yang digunakan bisa membuktikan kalau mushaf tersebut berumur ratusan tahun.







Mushaf beriluminasi 'Gaya Aceh'. Dipamerkan di Muzium Al-Qur'an Melaka. 

Informasi tambahan ini diambil dari beberapa sumber;
http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/04/aceh-mushaf-aceh-koleksi-museum-negeri.html
http://lajnah.kemenag.go.id/berita/39-umum/82-ceramah-dr-annabel-teh-gallop-tentang-mushaf-nusantara.html
http://seputaraceh.com/read/9339/2012/07/05/mushaf-al-quran-tertua-dari-aceh

Nasib 600 Manuskrip Aceh di Brunai Darussalam, Bagaimana?


The Museum of Brunai Darussalam
Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar menyatakan tekadnya untuk memboyong kembali sekitar 600 naskah kuno hasil karya ulama dan cendikiawan Aceh masa lalu, yang saat ini tersimpan di Brunei Darussalam. Wagub menyatakan tekad tersebut sebagai bagian dari usaha menyelamatkan dan melestarian sejarah Aceh.

Rencana pengembalian naskah kuno Aceh dari negara tetangga itu, diutarakan Wagub Muhammad Nazar dalam pertemuan dengan kepala Museum Nasional Dra Retno, SS,. M.Si di Gedung Museum nasional, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (25/8). Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Museum Negeri Aceh (MNA), Drs Nurdin AR.

Selain di Brunei, naskah Aceh juga tersebar di Malaysia dan sejumlah perpustakaan dan arsip sejumlah negara Eropa. "Berbeda dengan Raja Melayu, Kerajaan Aceh banyak menuliskan buku-buku, paling banyak soal hukum dan kemiliteran," ujar Nazar yang mengaku menaruh minat sangat besar dalam bidang sejarah dan kebudayaan.

Disebutkan, nasakah kuno Aceh sebagai bagian dari karya sejarah Aceh harus diselamatkan. "Selama ini kalau mau membaca Aceh terpaksa kita harus berkunjung ke museum dan arsip luar negeri," katanya.
Kepala Museun Aceh Nurdin Ar mengaku prihatin dengan raibnya berbagai nasakah klasik Aceh dan belakangan banyak ditemukan di Malaysia. "Saya pernah dihubungi oleh pihak asing yang mencari naskah kuno Aceh. Tentu saja saya tolak," kata Nurdin AR. Kepala Museum Retno SS juga menyatakan keprihatinan serupa. Menurutnya harus ada usah-usaha untuk menyelamatkan naskah-naskah penting tersebut.

Menulis buku
Wagub juga menyampaikan pihaknya bersama sebuah tim sedang memulai melakukan riset untuk menulis buku yang berisi tentang diaspora (penyebaran) Aceh pra kolonial Belanda. "Karena itu kami ingin melihat silsilah raja dan negarawan Aceh yang tersebar di Jawa. Kami ingin mendapatkan naskah itu dari Museum ini," ujar Nazar, seraya menyebutkan bahwa tim tersebut juga akan berangkat ke Leiden Belanda, London dan lain-lain.

Hanya saja, Kepala Museum Nasional Dra Retno mengatakan lembaga yang dipimpinnya sama sekali tidak memiliki lagi naskah yang diharapkan. "Setelah Museum berpisah dengan Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional, sebagian besar dari naskah tersebut diboyong ke Perpustakaan dan Arsip. Di Museum tidak punya lagi," kata Retno sembari mempersilakan Wagub Nazar melakukan riset di Perpustakaan dan Arsip.(fik) (Serambi Indonesia)

Pertanyaan yang timbul dalam diri saya, bagaimana perkembangan naskah Aceh di Brunei Darussalam, semoga yang disampaikan dulu bukan hanya basa basi pemanis mulut, semoga naskah Aceh dapat kembali ke tanah airnya, setelah sekian lama di negeri orang.
source: http://serambinews.com/news/600-naskah-aceh-kuno-tersimpan-di-brunei-darussalam