Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Surat Peunutoh Teungku Mahyiddin Tiro


A letter written by Teungku Mahidin, alias Teungku Chik Mayet, secon son of Teungku Syeh Saman di Tiro who met his sacred death on September 5, 1910. It is addressed to Tuanku Raja Keumala, Panglima Polem’s brother-in-law, and to all Moslem in Samalanga. The letter described the war situation in Pidie and the death of Teungku di Tungkop. (top)

Begitulah keterangan dalam buku Belanda tentang sebuah sarakata (surat) dari Panglima Perang Aceh di Pidie saat perang Aceh-Belanda berkecamuk. Catatan di atas dapat diartikan sebagai berikut:
"Sepucuk surat Teungku Mahidin alias Teungku Chik Mayet, putra kedua Teungku Syeh Saman di Tiro, syahid pada tanggal 5 September 1910 yang ditujukan kepada Tuanku Raja Keumala, ipar Panglima Polem dan kaum muslimin di Samalanga, antara lain mengenai berkecamuknya peperangan di Pidie dan syahidnya Teungku di Tungkob". Wilayah Tungkop yang dimaksud adalah Tungkop di Pidie.

Informasi tambahan sebenarnya juga terdapat dalam surat tersebut, yaitu saat Teungku di Tungkop syahid, lalu penggantinya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin. Dalam kondisi perang, "struktur panglima perang" sebagai pemegang komando perang sangat penting sebagai pemberi komando (peunutoh), saat satu pimpinan tertinggi syahid dalam perang, maka secara mufakat atau struktural akan digantikan oleh yang lain sesuai dengan kesepakatan. Sepertinya, inilah yang dimaksud dalam surat tersebut "negeri empunya peunutoh meualon-alon" secara struktural dan terorganisir.


Berikut transkripsi teks perbaris:

1. Hadharat Seri Paduka yang mulia Tuanku Raja Keumala serta segala yang
2. ikutannya daripada saudara Muslimin dalam negeri  Samarlanga [Samalanga] ada semuanya.
3. Wa ba’du. As-salamu’alaikum wa-rahmatullah wa barakutuhu. Maka ahwal Pedir [Pidie] semua
4. dalam gaduh perang tiap-tiap ketika tiada khāli sekali-kali melainkan setengah tempat
5. ada yang terima surat kafir, serta tiada apa-apa atas kami sekali-kali melainkan
6. syahid Teungku di Tungkob  dengan garis takdir dalam Nisfu awal Sya’ban ini
7. serta sudah dijadi ada tandanya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin
8. akan gantinya dengan izin Tuhan Rabb al-‘Alamin, melainkan harap
9. kami bahwa berbanyak-banyak doa tuanku serta doa tuan-tuan akan keduanya
10. dan akan kami yang tinggal dalam negeri empunyai peunutoh meualon-alon seperti
11. di-ék trön u binéh pasie adanya. Was-salam ‘alà man ittaba’a al-hudà.
12. Daripada perhamba [poe hamba] faqir Mahyiddin Tiro.

11 Sya’ban 1318 H

Kedengaran Teuku Dua Ploh Dua 
sudah sampai dalam Gloeng [Galöng] Tiro.




Manuskrip Isra Mikraj: Abu Bakar vs Abu Lahab

Pasca kepulangan Rasulullah dari Isra dan Mi’raj tersebut, ia menceritakan peristiwa Isra dan Mi’raj di hadapan kaum Qurays Mekkah. Di antara yang hadir adalah Abu Bakar dan Abu Lahab, dua tokoh penting saling berseberangan keyakinan hadir ditengah jamaah pagi tersebut.

Rasulullah mengungkap segala bukti yang terjadi pada dirinya dan kejadian yang sedang berlangsung di pagi hari, Abu Bakar yang telah masuk Islam merupakan salah seorang yang pertama percaya terhadap peristiwa di luar nalar manusia, ia pun kemudian digelar as-shiddiq.

Sebaliknya, Abu Lahab menangkal semua peristiwa tersebut dan dianggap sebagai cerita dongeng Muhammad. Maka Allah melaknat Abu Lahab dengan surat al-Lahab. Bahkan ia mengajak orang-orang Qurays untuk ingkar kepada peristiwa Isra Mi’raj tersebut, perselisihan antara pro vs anti Islam semakin membara, boikot ekonomi, kekerasan terhadap muslim, hingga pembunuhan terhadap orang-orang yang baru masuk Islam.

Kini, di era modern, dua kubu ini terus mengalir pengikunya dengan beragam argumentasi, satu kubu berada di pihak Abu Bakar yang meyakini peristiwa itu terjadi secara nyata, dan di kubu lainnya pengikut Abu Lahab yang mengingkarinya.

source: http://aceh.tribunnews.com/2016/05/05/manuskrip-isra-miraj-tour-teristimewa-rasulullah?page=3

Baca juga: Manuskrip Isra Mikraj: Tour Teristimewa Rasulullah

Jumat di Turki

Hamburg merupakan kota kedua terbesar di Jerman, jumlah populasi penduduk beragam dan multi etnis. Orang-orang Turki merupakan imigran Muslim terbesar di wilayah ini. Mayoritas mereka bekerja sebagai pedagang toko dan restoran. Warung-warung makan (restoran) didominasi oleh mereka dengan makanan khas ala Turki. Maka tidak salah, mesjid Turki (disebut demikian karena khutbah Jumat disampaikan dalam bahasa Turki) merupakan salah satu mesjid terbesar di kota perdagangan ini selain mesjid Iran.

Kriteria mesjid besar di sini adalah memiliki kubah dan menara. Dan, untuk ukuran mesjid Turki ini memiliki empat lantai. Lantai ke dua dan ke tiga digunakan shalat berjamaah, dan lantai ke empat difungsikan untuk kaum hawa. Kemungkinan juga untuk anak-anak. Sedangkan lantai dasar untuk kantor mesjid, toko buku/kitab, serta disudut terdapat warung teh alias warung kopi (warkop)

Menjelang waktu Jum'at (musim dingin dimulai jam 12.15 pm), setiap jamaah yang hadir akan melakukan shalat sunnah tahiyat mesjid 4 rakaat. Kemudian menunggu hingga tiba waktunya azan. Disini, azan dikumandang dua kali; pertama saat masuknya waktu Jumat, dan kedua saat khatib telah di atas mimbar.

Azan pertama di kumandang dengan lantang dan tegas, tidak terlalu panjang iramanya. Usai azan, maka muazzin pun membaca doa dan menyeru untuk Shalat Sunnah Qabliyah. Shalat sunnah tersebut dilakukan mayoritas jamaah (didominasi jamaah Turki dan sekitarnya) sebanyak 4 rakaat juga. Pelaksanaan shalat sunnah empat rakaat diutamakan pada siang hari merujuk kepada beberapa hadist Nabi tentang pelaksanaan Shalat Sunnah di siang hari.

Saat khatib naik ke atas mimbar yang memiliki 4 anak tangga, ia membaca do'a di atas membar menghadap kiblat (membelakangi jamaah). Usai membaca doa, ia balikkan badan dan duduk. Sang muazzin pun mengumandangkan azan ke dua yang lebih lembut dan syahdu. Sebelum mengumandangkan azan, maka muazzin membaca "Inna Allah wa malaikatahu yashallu 'ala an-Nabi... dst".

Mimba Jumat mengikuti mesjid Madinah dan Turki, anak tangga terbuka menghadap jamaah, sehingga saat berdiri Khatib di atas mimbar terlihat seutuhnya tubuh Khatib dari kaki hingga kepalanya. Ini mengikuti anjuran Nabi saat naik mimbar menghadap kiblat dan membaca doa di atasnya menghadap kiblat, sebelum berbalik menghadap ke Jamaah. Tidak ada tongkat yang disediakan di atas mimbar.

Khatib Jumat menyampaikan ceramah (maw'izah) dalam bahasa Turki, tidak terlalu lama waktu yang digunakan untuk memberikan nasehat dalam khutbah tersebut, hanya berkisar selama 5-10 menit. Kemudian masuk rukun dua khutbah dan dilaksanakan shalat Jum'at. Usai Jum'at, tidak ada shalat i'adah Jumat atau shalat Zuhur. Di mesjid ini, waktu shalat Jumat termasuk dipercepat jika dibandingkan dengan mesjid-mesjid sekitarnya di Hamburg.

Mimbar Jumat yang digunakan sama seperti mimbar di Madinah atau di mayoritas tempat muslim lainnya, yaitu mimbar terbuka menghadap jamaah, sang khatib akan menaiki mimbar dari arah jamaah, menghadap kiblat. Biasanya akan membaca doa sebelum menaiki mimbar. Itulah fungsi mimbar menghadap kiblat, supaya sang khatib dapat membaca doa sebelum memaling ke jamaah untuk khutbah Jumat. Sang khatib tidak menggunakan tongkat, dan tidak disediakan tongkat di atas mimbar. Mesjid besar di Hamburg ini tergolong indah ornamen dan hiasan di dalamnya, bunga-bunga hiasan di dinding mencerminkan kemegahan Ottoman Turki.

~ Hamburg, 16 Oktober 2015


Projek PL 5- Bahagian 2


            Sebenarnya saya sangat teruja dan sangat bersemangat untuk berkongsi episode seterusnya dengan anda kerna isi didalam buku ini sangat-sangat penting dan patut difikirkan oleh setiap kita sebagai seorang muslim. Walaupun buku ini sekadar novel fiksi yang setebal 200 muka surat tapi isinya sangat bertepatan dan sangat menekan jiwa saya selaku pembaca. Saya fikir anda yang belum memilikinya harus dengan cara apa sekalipun membaca bukunya sehingga habis. Saya tidak boleh dan tidak haruslah menghurai habis buku ini hingga ke penamatnya kerana menghormati dan menyanjungi penulis yang sangat berdedikasi dalam menyiapkan buku ini. Maka saya Cuma dapat kongsikan kepada anda 3 bahagian sahaja bagi kupasan buku ini. Hatta isinya sangat bagus dan meruntun jiwa Islam kita namun apakan daya saya harus menghormati hak cipta penulis. Ok. Kita sambung bahagian selanjutnya…     

Cara yang digunakan untuk melemahkan orang-orang Islam ialah


1.     Agama Islam itu sendiri
2.      Politik Antarabangsa

Perkhidmatan Rahsia Israel mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang Islam. Tugas utama mereka ialah berpura-pura mengamalkan Islam bila perlu, bercampur gaul dengan ulama dan member syarahan tentang agama dan syarahan itu mestilah membawa kepada kemunduran dan pemikiran kolot umat Islam. Selain dari itu ada juga dari mereka yang merupakan pakar propaganda yang telah masuk ke dalam pelbagai pertubuhan dengan tujuan untuk memecah belahkan umat Islam didalam setiap Negara, seterusnya menimbulkan permusuhan diantara penduduk Islam dan Negara Islam yang bersempadan, dengan cara ini kedua buah Negara akan berperang diantara satu sama lain.

Negara pembuat senjata pula akan menggunakan peluang ini untuk menguji senjata ciptaan mereka dan ini akan memberikan faedah yang sangat besar kepada Israel kerana wang tersebut akan mengalir kepada mereka dan cukup untuk menanggung kos projek selanjutnya. Ejen Israel tidak dapat menyusup masuk ke Malaysia dan Indonesia kerana rupa paras mereka yang berbeza dengan penduduk tempatan, maka 3 cara telah direncakan mereka iaitu:

1.     Percetakan – Menambah buku-buku dan risalah-risalah agama yang berasaskan tafsiran yang boleh memundurkan pemikiran umat Islam
2.     Kursus agama yang dikelolakan oleh alim ulama upahan Israel dengan kursus tersebut diadakan di India dan Pakistan dan mereka dibayar untuk tujuan tersebut.
3.     Pelajar di luar Negara yang belajar di Amerika,Britain, Australia dan New Zealand, mereka ini sangat senang dipengaruhi kerana umur mereka dan apabila pulang ke tanah air mereka akan dipandang tinggi oleh masyarakat. Oleh itu doktrin pemikiran yang tertanam di minda mereka akan disebarkan di tanah air mereka dengan lebih cepat.

Melalui kaedah agama ia boleh ditafsirkan melalui 2 cara iaitu
1.     Betul bendul
2.     Berasaskan pemikiran

Tumpuan ejen Israel ialah melalui kaedah betul bendul, dengan demikian ia akan menjauhkan serta menutup akal fikiran umat Islam terhadap pemikiran yang berasaskan syariat Islam dan lama kelamaan mereka akan terus melupakannya. Kaedah ini akan tetap memundurkan umat Islam tetapi dalam masa yang sama cara ini tetap akan membawa kepada ketenteraman dan kemajuan umat Islam. Agama Islam dianggap kolot apabila mengejar modenisasi. Secara tidak lansung mereka akan selamanya akan terdorong kearah kekolotan. Apabila orang Islam mula riak dengan serban,jubah,tudung dan kafir mengkafir diantara satu sama lain itulah tanda kejayaan besar bagi Israel!.


       Ikuti sambungan terakhir pada episod akan datang...


Dipetik dan diolah dari buku PL 5; Cetakan tahun 1988; Shaari Isa; ms 26- 50.

Naskah Ramadhan dan Toleransi Perbedaan Itsbat

Naskah Puasa Ramadhan

Naskah puasa Ramadhan "Syahdan, Apabila kelihatanlah bulan pada suatu negeri, maka lazimlah puasa isi negeri itu dan isi negeri yang muwafaqah [=mufakat] tempat terbit matahari mereka itu, dengan terbit matahari dari karena melihat bulan itu berlainan, sebab berlain-lainan tempat yang melihat dan kedudukan negeri. Dan jika tiada muwafakat tempat terbit matahari dua negeri itu maka tiadalah wajib isi negeri yang kedua"
Semenanjung Arab adalah bentang daratan beralam kejam di siang hari. Tandus dan kering. Namun di malam hari. Arab adalah "surga" bagi para astronom. Langit Arab di malam hari, selalu indah.
Seperti China, sebagai bangsa dan peradaban tua, sastrawan Arab banyak menyanjung langit di malam hari. Malam adalah inspirasi keindahan, sedangkan siang diibaratkan "kekerasan."
Tak mengherankan jika khasanah intelektual dunia soal astronomi banyak lahir di tanah Arab. Gugusan bintang-bintang banyak lahir dari istilah Arab awal. Rasi bintang Orion awalnya dikenal dengan Al-Jabbar, Taurus (Ath-Thawr), Canis Major (Al-Kalb Al-Akbar), Canis Minor (Al-Kalb Al-Asghar), Leo (Al-Asad), Gemini (At-Tawa'man), Scorpius (Al-'Aqrab), dan beberapa lainnya.
Inilah yang menjelaskan, kenapa di banyak negara-negara Islam di Semenanjung Arab, seperti Mesir, Syira, atau Yaman dalam memutuskan 1 Ramadan, selalu merujuk ke Arab. Ke Tanah Haram, Mekkah.
Bahkan Malaysia dan Jepang, yang jauh di tenggara Asia, pun senantiasa berkiblat pada penentuan 1 Ramadan atau Syawal di Mekkah. Langit Mekkah dan Jeddah, selalu lebih terang. Rasi bintang di malam hari selalu terlihat lebih jelas.

Dan, memang perbedaan 1 Syawal dan 1 Ramadan hanya soal cara sistem penghitungan belaka, dan kondisi langit atau ufuk saat rukyah hilal.
Ingatkah kita, di Indonesia, hampir 3 dekade di masa pemerintah Soeharto begitu kuat perbedaan "cara" itu nyaris tak pernah ada. Itu karena pemerintah kuat, dan masih punya otoritas dan kepercayaan.
Sementara Indonesia umumnya menentukan sendiri, melalui pertemuan antara pemeritah dan ormas-ormas Islam.
Dalam perhitungan 1 Ramadan dan 1 Syawal, ada yang memakai Hisab dengan perhitungan astronomi yang rumit, ada pula yang memakai Ru'yah atau melihat bulan/hilal.
Ada pun yang memakai sistem Hisab berpendapat mereka melihat bulan dengan memakai ilmu kalendering. Inilah yang selama ini jadi rujukan ormas Muhammadiyah.
Dengan rujukan ini, 1 Ramadan 1455, atau di 22 tahun akan datang (tahun 2034) mendatang, sudah bisa diketahui, atau disesuaikan dengan kalender masehi.
Yang kedua, dengan rukyah, jika bulan terlihat, itulah saat mulai berpuasa atau berbuka puasa (Idulfitri). Inilah yang dipakai oleh pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemenag dan Ormas Nahdlatul Ulama (NU).
Pada Ru'yah lokal, tiap penduduk melihat bulan sendiri-sendiri, sehingga tiap kota atau tiap negara merayakan hari Idulfitri sendiri-sendiri bisa berbeda satu negara dengan negara yang lain bahkan satu kota dengan kota yang lain.
Ada pun yang memakai Ru'yah Global begitu ada minimal 2 orang saksi yang dipercaya melihat bulan, maka itulah awal Ramadan atau awal Syawal. Rujukan yang terakhir ini biasanya http://moonsighting.com/
Umumnya Tim Ru'yah di Indonesia gagal melihat hilal (bulan muda) bukan karena mereka "bodoh" atau minimnya peralatan. Ini lebih disebabkan karena memang langit lagi berawan, atau banyak partikel cahaya dari bumi. Inilah yang menyebabkan bulan muda sering tertutup awan.
Selain itu, Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia begitu terang oleh cahaya lampu-lampu gedung dan rumah-rumah sehingga langit juga terlihat lebih terang termasuk di Boscha.
Akibatnya sinar-sinar bintang dan bulan terganggu dan terlihat kecil dan redup. Di Arab sebaliknya. Langit tidak berawan. Dengan luas darat yang lebih besar daripada Indonesia (2,4 juta km2) sementara jumlah penduduk cuma 1/5 pulau Jawa, banyak daerah tak bertuan yang tidak berlampu.
Galap gulita. Itulah, kenapa langit dan rasi bintang di Arab pada malam hari selalu lebih indah.
Sehingga langit begitu hitam kelam, sementara bintang-bintang dan bulan jadi tampak lebih besar (sekitar 4-6x lipat daripada di Indonesia) dan lebih terang. Oleh karena itu, Hilal lebih mudah terlihat di sana.
Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengungkapkan setelah mengamati posisi bulan menyimpulkan jika nantinya akan ada potensi perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan.
Dari perjalanan bulan, diketahui bahwa pada maghrib akhir Sya'ban atau 19 Juli 2012 nanti bulan telah wujud atau tampak di Indonesia. Akan tetapi ketinggiannya kurang dari imkan rukyat. Ketentuan Imkan rukyat menggunakan kriteria yang disepakati ketinggian bulan minimal 2 derajat.
Nah, karena pada 19 Juli 2012 bulan sudah wujud tetapi kurang dari 2 derajat, maka pengguna hisab wujudul hilal akan menetapkan awal Ramadan jatuh pada 20 Juli. Pengguna hisab wujudul hilal ini di antaranya adalah Muhammadiyah.
Sedangkan ormas yang menggunakan hisab imkan rukyat akan menetapkan 1 Ramadan pada 21 Juli. Sementara itu, posisi hilal yang rendah tadi (antara 0-2 derajat) tidak mungkin akan berhasil di-rukyat pada 19 Juli.
Maka pengguna rukyat kemungkinan besar menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 21 Juli. Pengguna rukyat ini di antaranya adalah pemerintah dan ormas-ormas umumnya lainnya.

source: http://id.berita.yahoo.com

Harta Karun Aceh di Perpustakaan Nasional Indonesia

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Indonesia atau PNRI yang berada di Salemba Jakarta menyimpan sepuluh ribuan naskah tulisan tangan (manuskrip) dari berbagai daerah, sebagiannya berasal dari Aceh, baik yang berbahasa Melayu (Jawi) dan berbahasa Aceh. Harta karun Aceh ini masih bersemanyam di lantai 5 Perpusnas Jakarta, bersama dengan naskah-naskah lainnya. Koleksi PNRI ini terdiri dari dua bagian besar, ialah koleksi berupa buku terjilid yang disimpan dalam bebarisan rak besi, diurut sesuai nama subkoleski, dan koleksi "non-buku" yang tersimpan dalam peti yang dulu disebut trommel, tapi sekarang dalam kota karton atau laci kabinet.

Mayoritas naskah Melayu pada koleksi Bataviaasch Genootschap terdapat dalam tiga koleksi tertutup (Br, Cs, W) dan satu koleksi terbuka. Naskah Melayu diberi kode ML dalam katalo T.E Behrend, dan awalnya berjumlah 594 buah, yang dinomori 1 s/d 542. Apabila ada naskah berbahasa Melayu dan aksara Arab-Jawi yang diperoleh PNRI, akan didolongkan dalam kategori NB (Naskah Baru). Lagi-lagi Bataviaasch Genootschap menggolongkan naskah tersebut menjadi dua kelompok, yakni open collecties (koleksi terbuka) dan gesloten collecties (koleksi tertutup). Koleksi terbuka masih ditambahkan naskah perolehan baru, sedangkan yang tertutup sudah dianggap genap, biasanya karena kekhasan identitas koleksi tersebut.

Sedangkan naskah Aceh tergabung dalam koleksi Aneka Bahasa  Nusantara, yaitu subkoleksi Verschillende Talen  (VT). Ada sekitar 448 buah naskah dalam 47 bahasa. Sedangkan bahasa Aceh sekitar 73 naskah, dan bahasa Belanda yang membahas Aceh sekitar 15 naskah. Puluhan naskah yang berbahasa Aceh tersebut meliputi berbagai bidang ilmu, dan mengandung berbagai pengetahuan dan informasi, misalnya naskah Hikayat balukia, Hikayat Cahya Manikam, Hikayat Malem Diwa, Hikayat Bakawali, Malem Dagang, Moesang Meujanggot, Hikayat Mekah-Madinah, Hikayat Prang Sabi, Hikayat Prang Coempani, dan sebagainya.


Sedangkan dalam bahasa Jawi yang menceritakan tentang Aceh sangat banyak sekali dan bahkan sangat penting, sebut saja Bustan as-Salatin fi al-Awwalin wal Akhirin, Hill al-Zill, Sirat al-Mustaqim, Syifa' al-Qulub karya Nuruddin ar-Raniry, Hikayat Hang Tuah, Khutbah fi al-Jihad, Undang-undang Aceh dan Nasehat, Surat-surat dari Aceh, tarekat dan tasawuf, dan maih banyak pembahasan lainnya. 
Semua naskah di atas belum dijumlahkan dengan sumbangan naskah Aceh pasca gempa dan tsunami dari program rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh, khususnya penyelamatan naskah-naskah kuno.

Kini, harta karun manuskrip Aceh di Perpusnas (PNRI) Jakarta sudah lama terpendam, tidak ada generasinya yang mengkajinya, bahkan tidak ada kepedulian pemerintah daerah Aceh untuk menjenguknya. Padahal, manuskrip-manuskrip (manuscripts) tersebut sudah dapat dipetik hasilnya. Sudah bukan saatnya menunggu uluran tangan orang asing untuk mengemis mengharap perhatian dan bantuan mereka, toh kita sudah baligh dan mandiri. Wallahu a'lam []

Buku "Aliran Sesat di Aceh; Dulu dan Sekarang"


Syukur Alhamdulillah kepada Allah Yang Maha Esa, dengan berkah dan karunia-Nya, buku ini hadir di tangan masyarakat. Penerbitan buku-buku bersumber agama memang harus terus digalakkan di Aceh, terutama dalam penguatan syariat Islam dan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pengetahuan, keyakinan dan pengamalannya.

Syari’at Islam sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh bersosial dan berbudaya. Ini terkait dengan sejarah Islamisasi dan tradisi (adat istiadat) yang meresap ke dalam masyarakat Aceh. Walaupun sejarah dan kebudayaan Aceh berlandaskan Islam, pasang surut dalam implementasi menerapkan nilai-nilali Islam dalam kesehariannya, ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh ekonomi, politik dan kenegaraan.

Termasuk di antaranya paham, ajaran dan aliran sesat yang mewabah di Aceh. Bahkan terjadi berulang-ulang pada saat penegakan syariat Islam digalakkan, terutama pasca reintegrasi dan rekonstruksi gempa tsunami. Hal tersebut memunculkan berbagai pertanyaan, apakah tradisi keilmuan dan pengetahuan Islam di Aceh mengalami stagnasi, bagaimana paham atau aliran merasuk dalam segelintir masyarakat Aceh, bagaimana perkembangan kelompok-kelompok sesat bertahan di negeri Syari’at.


Buku yang ditampilkan ini merangkum semua golongan paham agama di Aceh, baik klasik maupun modern, dari sudut pandang obyektif-komprehensif. Untuk itu, buku ini berusaha memaparkan pemikiran sekterian tersebut sebagaimana disebutkan dalam beberapa referensi utama, baik teks maupun konteks sesuai dengan pemahaman secara ilmiah. Akan tetapi, jika ada sebagian ajaran kelompok lain terkadang hanya dikemukakan terbatas, ini disebabkan sedikitnya tulisan tentang hal tersebut dan jarang dilakukan pengkajian. Oleh karena itu, perlu digaris bawahi, buku ini bukan untuk menfatwa suatu golongan, sekte, aliran ataupun tarekat.

Buku ini juga bukan hanya tentang sejarah, melainkan tentang pemikiran (ideologi) yang merangkum berbagai pemikiran seseorang atau kelompok, golongan, sekte, aliran maupun tarekat tertentu. Karenanya, buku ini mencoba memilah hitam dan putih, mengutamakan intropeksi dalam sebuah bingkai kehidupan keragaman etnis, ras dan keyakinan (akidah). Dimana bingkai tersebut dibungkus dalam sebuah euforia sejarah Kesultanan dan kini mendaulat dirinya sebagai negeri yang menerapkan syariat Islam.

Semoga bermanfaat untuk semuanya. Amin.

Sekilas Tentang Kerajaan Samudera Pasai

Serba Sejarah - Kerajaan Samudera Pasai terletak di Aceh, dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Bukti-bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya makam raja-raja Pasai di kampung Geudong, Aceh Utara. Makam ini terletak di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di desa Beuringin, kecamatan Samudera, sekitar 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Di antara makam raja-raja tersebut, terdapat nama Sultan Malik al-Saleh, Raja Pasai pertama. Malik al-Saleh adalah nama baru Meurah Silu setelah ia masuk Islam, dan merupakan sultan Islam pertama di Indonesia. Berkuasa lebih kurang 29 tahun (1297-1326 M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak, dengan raja pertama Malik al-Saleh.

Kapan sebenarnya Kerajaan Islam Samudera Pasai berdiri tidak ada suatu kepastian tahun yang didapat. Para peminat dan ahli sejarah masih belum bisa memperoleh suatu kesepakatan mengenai hal ini. Menurut tradisi dan berdasarkan penyelidikan atas beberapa sumber sementara , terutama yang dilakukan oleh sarjana-sarjana Barat khususnya para sarjana Belanda sebelum perang seperti Snouck Hurgronye, J.P. Moquette, J.L. Moens, J. Hushoff Poll, G.P. Rouffaer, H.K.J. Cowan, dan lain-lain, menyebutkan, bahwa Kerajaan Islam Samudera Pasai baru berdiri pada pertengahan abad ke XIII. Dan sebagai pendiri kerajaan ini adalah Sultan Malik As Salih yang meninggal pada tahun 1297.

Selain pendapat yang dikemukakan oleh para sarjana Belanda itu, baik dalam seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung di Medan sejak tanggal 17 s/d 20 Maret 1963, maupun dalam seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Daerah Istimewa Aceh yang berlangsung di Banda Aceh pada tanggal 10 s/d 16 Juli 1978, oleh beberapa sejarawan dan cendikiawan Indonesia (diantaranya Prof. Hamka, Prof. A.Hasjmy, Prof. H.Aboe Bakar Atjeh, H. Mohammad Said dan M.D. Mansoer) yang ikut serta dalam kedua seminar tersebut telah pula melontarkan beberapa pendapat dan dalil-dalil baru yang berbeda dengan yang lazim dikemukakan oleh para sarjana Belanda seperti tersebut di atas.

Berdasarkan beberapa petunjuk dan sumber-sumber baru yang mereka kemukakan diantaranya keterangan-keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara dan dua buah naskah lokal yang diketemukan di Aceh yaitu, “Idhahul Hak Fi Mamlakatil Peureula” karya Abu Ishak Al Makarany dan Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh ,mereka berkesimpulan bahwa Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah berdiri sejak abad ke XI M, atau tepatnya pada tahun 433 H (1042 M). Dan sebagai pendiri serta sultan yang pertama dari kerajaan ini adalah Maharaja Mahmud Syah, yang memerintah pada tahun 433-470 H atau bertepatan dengan tahun 1042-1078 M.

Atas dasar peninggalan-peninggalan dan penemuan-penemuan dari hasil penggalian dan yang dilakukan oleh Dinas Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dapat diketahui bahwa lokasi kerajaan ini di daerah yang dewasa ini dikenal dengan nama Pasai. Yaitu suatu daerah di pantai Timur Laut Pulau Sumatera yang terletak antara dearah Peusangan dengan Sungai Jambo Aye di kabupaten Aceh Utara, Propinsi Daerah Istimewa Aceh. G.P. Rouffaer, salah seorang sarjana Belanda yang menyelidiki tentang kerajaan ini menyatakan bahwa Pasai mula-mula terletak di sebelah kanan Sungai Pasai, sedangkan Samudera berada di sebelah kirinya, tetapi lama kelamaan Samudera dan Pasai ini menjadi satu dan disebut Kerajaan Samudera Pasai

Menurut berita-berita luar yang juga diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai kerajaan ini letaknya di kawasan Selat Melaka pada jalur hubungan laut yang ramai antara dunia Arab, India dan Cina. Disebutkan pula bahwa kerajaan ini pada abad ke XIII sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di kawasan itu.

Nama Samudera dan Pasai sudah populer disebut-sebut baik oleh sumber-sumber Cina, Arab dan Barat maupun oleh sumber-sumber dalam negeri seperti Negara Kertagama (karya Mpu Prapanca, 1365) pada abad ke XIII dan ke XIV M. Dan tentang asal usul nama kerajaan ini ada berbagai pendapat. Menurut J.L. Moens, kata Pasai berasal dari istilah Parsi yang diucapkan menurut logat setempat sebagai Pa’Se. Dengan catatan bahwa sudah semenjak abad ke VII M, saudagar-saudagar bangsa Arab dan Parsi sudah datang berdagang dan berkediaman di daerah yang kemudian terkenal sebagai Kerajaan Islam Samudera Pasai . Pendapat ini adalah sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh Prof. Gabriel Ferrand dalam karyanya (L’Empire, 1922, hal.52-162), dan pendapat Prof. Paul Wheatley dalam (The Golden Khersonese, 1961, hal.216), yang didasarkan pada keterangan para musafir Arab tentang Asia Tenggara. Kedua sarjana ini menyebutkan bahwa sudah sejak abad ke VII M, pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa itu, telah ramai dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab. Bahkan pada setiap kota-kota dagang itu telah terdapat fondachi-fondachi atau permukiman-permukiman dari pedagang-pedagang yang beragama Islam. Mohammad Said, salah seorang wartawan dan cendikiawan Indonesia yang berkecimpung dengan penelitiannya tentang kerajaan ini dan kerajaan Aceh, dalam prasarannya yang berjudul “Mentjari Kepastian Tentang Daerah Mula dan Cara Masuknya Agama Islam ke Indonesia, berkesimpulan bahwa istilah PO SE yang populer digunakan pada pertengahan abad ke VIII M seperti terdapat dalam laporan-laporan Cina, adalah identik atau mirip sekali dengan Pase atau Pasai.

Sehubungan dengan asal nama kerajaan Samudera Pasai ini, Hikayat Raja-raja Pasai salah sebuah Historiografi Melayu yang banyak mengandung unsur-unsur Mythe, Legende, Geneologi dan Sejarah di dalamnya , memberi suatu keterangan yang berkaitan dengan totemisme, yaitu disebutkan antara lain:
“…pada suatu hari merah Silu pergi berburu. Maka ada seekor anjing dibawanya akan perburuan Merah Silu itu bernama si Pasai. Maka dilepaskannya anjing itu lalu menjalak di atas tanah tinggi itu. Maka dilihatnya ada seekor semut besarnya seperti kucing maka ditangkapnya oleh erah Silu itu lalu dimakannya. Maka tanah tinggi itupun disuruh Merah Silu tebas pada segala orang yang sertanya itu. Maka setelah itu diperbuatnya akan istananya. Setelah sudah maka Merah Silupun duduklah ia di sana dengan segala hulubalangnya dan segala rakyatnya diam ia di sana maka dinamai oleh Merah Silu negeri Samudera, artinya semut yang amat besar.

Selanjutnya tentang asal nama Pasai, baik Hikayat Melayu maupun Hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan sebagai berikut:
“…setelah sudah jadi negeri itu maka anjing perburuan yang bernama si Pasai itupun matilah pada tempat itu. Maka disuruh sultan tanamkan dia di sana juga. Maka dinamai baginda akan nama anjing nama negeri itu”.
Kalau kita berpegang dari keterangan kedua hikayat yang mithologis tersebut, maka nama Samudera berasal dari nama seekor semut besar dan nama Pasai berasal dari nama anjingpiaraan Raja merah Silu, yaitu si Pasai. Hal ini sangat menarik untuk diselidiki lebih lanjut, sejauh mana terdapat hubungan antara totemisme dengan usaha pemberian keterangan tentang asal dan arti kerajaan Islam Samudera Pasai itu. Karena lazimnya untuk nama kerajaan-kerajaan di Nusantara ini sebelum tahun 1500, diambil dari nama pohon, buah-buahan dan lain sebagainya.

Seperti juga disebutkan dalam kedua hikayat tersebut di atas, bahwa raja Samudera Pasai yang pertama sekali menganut agama Islam adalah Malik As Salih. Pada nisan sultan ini yang dibuat dari batu graniet dapat diketahui bahwa ia mangkat pada bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M.Tentang bagaimana dan siapa yang mengembangkan agama Islam buat pertama kali di kerajaan ini, Hikayat Raja-raja Pasai antara lain meyebutkan sebagai berikut:
“…pada zaman Nabi Muhammad Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat jang maha mulja itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda: “Bahwa ada sepeninggalku itu ada sebuah negeri di atas angin samudera namanja. Apabila ada didengar kabar negeri itu maka kami suruh kamu sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa ia orang dalam negeri masuk agama Islam serta mengutjapkan dua kalimah sjahadat. Sjahdan lagi akan didjadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanjak daripada segala wali Allah djadi dalam negeri itu”.

Dan tentang pengislaman serta penggantian nama Raja Merah Silu dengan nama yang baru Malikul Salih, hikayat itu juga memberi keterangan:
“Sebermula maka bermimpi Merah Silu dilihatnja dalam mimpinja itu ada seorang-orang menumpang dagunya dengan segala djarinja dan matanja ditutupnja dengan empat djarinja, demikian katanja: “Hai Merah Silu, udjar olehmu dua kalimah Sjahadat”.

Maka sahut Merah Silu “Tiada hamba tahu mengutjap akan dia”.

Maka Udjarnya: “Bukakan mulutmu”. Maka dibukanja mulut Merah Silu, maka diludahinja mulut merah silu itu rasanya lemak manis. Maka udjarnja akan merah silu “Hai Merah Silu engkaulah Sultan Malikul’-Saleh namamu sekarang Islamlah engkau dengan mengutjap dua kalimah itu…”

Hikayat itu juga menyebutkan bahwa orang yang menyebarkan/mengislamkan Sultan Samudera Pasai itu adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad Rasul Allah Salla’llahu’alaihi wasallam, yaitu seorang Syarif berasal dari Mekah yang bernama Syarif Syaih Ismail .

Selain menurut hikayat tersebut, tradisi setempat juga menyebutkan bahwa raja pertama yang memeluk agama Islam di wilayah itu adalah Sultan Malik Al Salih. Tetapi menurut catatan atau suatu sumber yang dimiliki oleh M. Junus Jamil, menyebutkan bahwa pada awal bulan Zulkaidah 610 Hijrah (1213 M), telah meninggal di kerajaan itu (Samudera Pasai) seorang Wazir Sultan Al Kamil yang bernama Maulana Quthubulma’ali Abdurrahman Al Pasi. Kalau sumber ini benar maka keterangan tersebut bermakna bahwa jauh sebelum Malik As Salih sudah terdapat sultan yang memeluk agama Islam di kerajaan itu. Seperti telah disebutkan bahwa raja Samudera Pasai yang pertama berdasarkan sumber sejarah yang konkrit ialah Malik As Salih yang meninggal tahun 1297. Kalau dalam tahun 1297, kita kenal sebagai tahun kematian raja itu, tentunya masyarakat Islam di kerajaan itu telah terdapat jauh sebelumnya. Karena pertumbuhan sesuatu biasanya menghendaki suatu proses, suatu tempo yang lama. Demikian juga dari keterangan yang diberikan Hikayat Raja-raja PasaiI seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa Nabi Muhammad telah menyebutkan nama kerajaan Samudera dan juga agar penduduk kerajaan itu diislamkan oleh salah seorang sahabat beliau, maka bukan tidak mungkin Islam sudah masuk ke kerajaan itu tidak lama sesudah Nabi Muhammad wafat. Jadi pada sekitar abad pertama Hijrah atau bertepatan dengan abad ketujuh/kedelapan tahun Masehi. Dan dapat pula diperkirakan bahwa Islam yang masuk itu langsung datang dari Mekah.

Bukanlah maksud penulis di sini untuk membuat suatu uraian panjang lebar tentang masalah proses masuknya Islam ke Kerajaan Samudera Pasai. Sebagaimana telah penulis singgung pada awal tulisan ini, adalah masih sangat sukar untuk merekonstruksikan sejarah kerajaan-kerajaan di wilayah Indonesia pada periode sebelum tahun 1500, oleh karena bukti sejarah tentang hal itu masih belum memadai. Di sini penulis hanya mencoba merangkaikan suatu gambaran sejarah berdasarkan tulisan-tulisan yang telah ada tentang kerajaan itu. Maka untuk mendapat suatu gambaran historis dari perkembangan Kerajaan Islam Samudera Pasai, berikut ini akan ditinjau beberapa aspek, terutama tentang sistem sosio kulturil yang penulis perkirakan berlaku di kerajan itu.

Seperti diketahui, Samudera Pasai adalah sebuah kerajaan yang bercorak Islam dan sebagai pimpinan tertinggi kerajaan berada di tangan sultan yang biasanya memerintah secara turun temurun. Lazimnya kerajaan-kerajaan pantai atau kerajaan yang berdasarkan pada kehidupan/kejayaan maritim yang termasuk dalam struktur kerajaan tradisionil kerajaan-kerajaan Melayu, seperti kerajaan Islam Samudera Pasai, disamping terdapat seorang sultan sebagai pimpinan kerajaan, terdapat pula beberapa jabatan lain, seperti Menteri Besar (Perdana Menteri atau Orang Kaya Besar), seorang Bendahara, seorang Komandan Militer atau Panglima Angkatan laut yang lebih dikenal dengan gelar Laksamana, seorang Sekretaris Kerajaan, seorang Kepala Mahkamah Agama yang dinamakan Qadi, dan beberapa orang Syahbandar yang mengepalai dan mengawasi pedagang-pedagang asing di kota-kota pelabuhan yang berada di bawah pengaruh kerajaan itu. Biasanya para Syahbandar ini juga menjabat sebagai penghubung antara sultan dan pedagang-pedagang asing.

Sebagaimana lazimnya sebuah kerajaan maritim, Kerajaan Islam Samudera Pasai dapat berkembang karena mempunyai suatu kekuatan angkatan laut yang cukup besar menurut ukuran masa itu dan mutlak diperlukan untuk mengawasi perdagangan di wilayah kekuasaannya. Dan karena sebagai kerajaan maritim, kerajaan ini sedikit sekali mempunyai basis agraris yang hanya diperkirakan berada sekitar sebelah –menyebelah sungai Pasai dan sungai Peusangan saja, dimana terdapat sejumlah kampung-kampung (meunasah-meunasah) yang merupakan unit daripada bentuk masyarakat terkecil di wilayah Samudera Pasai pada waktu itu. Dan selain itu meunasah-meunasah ini merupakan lembaga-lembaga pemerintahan terkecil pula dari Kerajaan Samudera Pasai pada waktu itu.

Pengawasan terhadap perdagangan dan pelayaran di kota-kota pantai yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Samudera Pasai merupakan sendi-sendi kerajaan yang memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan dan pajak yang besar selain upeti-upeti yang dipersembahkan oleh kerajaan-kerajaan di bawah pengaruhnya. Perdagangan yang menjadi basis hubungan-hubungan yang tetap dengan kerajaan-kerajaan luar seperti dengan Malaka, Cina, India dan sebagainya, telah menjadikan Kerajaan Islam Samudera Pasai sebagai sebuah Kerajaan Islam yang sangat terkenal dan berpengaruh di kawasan Asia Tenggara terutama pada abd ke XIV dan XV. Karena kebesarannya itu, maka Kerajaan Islam Samudera Pasai telah pula dapat mengembangkan penyiaran agama Islam ke wilayah-wilayah lainnya di Nusantara pada waktu itu.

Diantaranya ke Minangkabau, Palembang, Jambi, Patani, Malaka, Jawa dan beberapa kerajaan pantai di sekitarnya. Pada abad ke XIV Kerajaan Islam Samudera Pasai menjadi pusat studi agama Islam dan juga tempat berkumpul ulama-ulama dari berbagai negara Islam untuk berdiskusi tentang masalah-masalah keduniawian dan keagamaan. Berdasarkan berita dari Ibn.Batutah, seorang pengembara asal Maroko yang mengunjungi Samudera Pasai pada tahun 1345/6, kerajaan ini berada pada puncak kejayaannya. Ibn-Batutah berada dikerajaan ini selama dua minggu dan telah melihat banyak tempat ini(kraton Samudera Pasai), mempunyai benteng di sekelilingnya. Dia telah diterima oleh wakil laksamana di Balairung dan telah diberi persalinan menurut adat setempat. Pada hari ketiga di sana Ibn Batutah mendapat kesempatan untuk menghadap sultan yang memerintah pada ketika itu yaitu Sultan Malikul Zahir yang dianggapnya sebagai sultan yang termasyur dan peramah. Selama di Samudera Pasai Ibn Batutah telah berjumpa dengan tiga orang ulama terkenal, yang masing-masing bernama Amir Dawlasa berasal dari Delhi (India), Kadi Amir Said berasal dari Shiraz dan Tajuddin berasal dari Ispahan. Dan disebutkan bahwa sultan Samudera Pasai sangat suka berdiskusi masalah-masalah agama dengan ulama-ulama itu.

Dengan melihat Samudera Pasai sebagai pusat studi dan pertemuan para ulama seperti tersebut di atas dan sesuai dengan yang telah diutarakan oleh Prof.A.Hasjmy, bahwa banyak sekali tokoh dan para ahli dari berbagai disiplin pengetahuan yang datang dari luar seperti dari Persia (bagian dari Daulah Abbasiyah) untuk membantu kerajaan Islam Samudera Pasai, maka dapat dipastikan bahwa sistem dan organisasi pemerintahan di kerajaan itu, tentunya seirama dengan sistem yang dianut oleh pemerintahan daulah Abbasiyah. Dan menurut catatan Ibn Batutah, diantara pejabat tinggi Kerajaan Islam Samudera Pasai yang ikut melepaskan sultan meninggalkan mesjid di hari Jum’at yaitu Al Wuzara (para menteri) dan Ak Kuttab (para sekretaris) dan para pembesar lainnya . Selain itu menurut catatan M.Yunus Jamil, bahwa pejabat-pejabat Kerajaan Islam Samudera Pasai terdiri dari orang-orang alim dan bijaksana. Adapun nama-nama dan jabatan-jabatan mereka adalah sebagai berikut:
1. Seri Kaya Saiyid Ghiyasyuddin, sebagai Perdana Menteri.
2. Saiyid Ali bin Ali Al Makaarani, sebagai Syaikhul Islam.
3. Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari, sebagai Menteri Luar Negeri.

Dari catatan-catatan, nama-nama dan lembaga-lembaga seperti tersebut di atas, Prof.A.Hasjmy berkesimpulan bahwa, sistem pemerintahan dalam Kerajaan Islam Samudera Pasai sudah teratur baik, dan berpola sama dengan sistem pemerintahan Daulah Abbasiyah di bawah Sultan Jalaluddin Daulah (416-435 H).

Untuk lebih mempererat hubungan antar kerajaan-kerajaan yang berada di bawah pengaruh Samudera Pasai ditempuh pula lewat jalan perkawinan. Dapat disebutkan di sini misalnya, perkawinan antara putri-putri dari Kerajaan Perlak dengan sulthan-sulthan Kerajaan Samudera Pasai. Selain itu juga Raja Malaka yang pertama Parameswara setelah memeluk agama Islam telah mempersunting puteri Kerajaan Pasai sebagai isterinya. Dan dengan adanya perkawinan ini telah meningkatkan pula hubungan perdagangan antara Malaka dengan Kerajaan Samudera Pasai. Juga pada masa kejayaan kerajaan ini seorang ulama Pasai yang bernama Fatahillah, telah melakukan dakwah Islam sampai ke Pulau Jawa. Dan setelah mengislamkan Banten serta memperisteri putri dari kerajaan tersebut, kemudian mendirikan suatu kesultanan di sana.

Berdasarkan beberapa mata uang emas yang disebut deureuham, yang berhasil diketemukan sebagai sebagai salah satu peninggalan dari kerajaan itu, menunjukkan bahwa kerajaan Islam Samudera Pasai cukup makmur pada kurun waktu seperti tersebut di atas. Karena sebuah kerajaan yang dapat menerbitkan mata uang emas sendiri pada masa itu, menandakan bahwa kerajaan itu cukup makmur menurut ukuran masa itu. Mata uang emas Kerajaan Samudera Pasai ini telah diperkenalkan pula oleh orang-orang kerajaan itu ke beberapa bandar perdagangan di Nusantara pada waktu itu, diantaranya ke bandar Malaka.

Atas dasar mata uang emas yang pernah diketemukan itu, dapat diketahui pula beberapa nama-nama raja yang pernah memerintah di Kerajaan Islam Samudera Pasai. Menurut T. Ibrahim Alfian yang mendasarkan atas mata uang emas tersebut, urutan-urutan raja yang memerintah di kerajaan tersebut adalah sebagai berikut: sebagai sulthan yang pertama adalah sulthan Malik As Salih yang memerintah pada tahun 1297. Sulthan ini diganti oleh puteranya yang bernama Sulthan Muhammad Malik Az Zahir (1297-1326); sebagai sulthan yang ketiga yaitu sulthan Mahmud Malik Az-Zahir (1326 ± 1345); sulthan yang keempat adalah Mansur Malik Az-Zahir (?- 1346); sulthan yang kelima adalah Sulthan Ahmad Malik Az-Zahir yang memerintah (ca. 1346-1383); sebagai sulthan yang keenam yaitu Sulthan Zain Al-Abidin Malik Az-Zahir yang memerintah (1383-1405); sulthan yang ketujuh yaitu Sultanah Nahrasiyah, yang memerintah (1405-1412); sebagai sulthan yang kedelapan yaitu Sulthan Sallah Ad-Din yang memerintah (ca.1402-?); sulthan yang kesembilan yaitu Abu Zaid Malik Az-Zahir (?-1455); sebagai sulthan yang kesepuluh yaitu Mahmud Malik Az-Zahir, memerintah (ca.1455-ca. 1477); sulthan yang kesebelas yaitu Zain Al-‘Abidin, memerintah (ca.1477-ca.1500); sebagai sulthan yang sebagai kedua belas yaitu Abdullah Malik Az-Zahir, yang memerintah (ca.1501-1513); dan sebagai sulthan yang terakhir dari Kerajaan Islam samudera Pasai adalah Sulthan Zain Al’Abidin, yang memerintah tahun 1513-1524.

Setelah tahun 1524, Kerajaan Islam Samudera Pasai berada di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam.