Tampilkan postingan dengan label Cagee. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cagee. Tampilkan semua postingan

Rekam Jejak Heroik Cagee : Mantan Panglima Penyandang Empat Jabatan

Bergabung dengan GAM

Tahun 1998, seiring dengan reformasi yang digulirkan di Indonesia, Amiruddin pun telah memasuki babak baru kehidupannya. Dia mencatatkan diri sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tahun itu merupakan tahun yang penuh dengan catatan penting sejarah, selain reformasi yang diperjuangkan oleh mahasiswa mencapai klimaks, di Aceh sendiri pada 7 Juli Panglima ABRI Jenderal Wiranto mencabut status Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) setelah 10 tahun diterapkan.

Amiruddin alias Saiful alias Cage merupakan salah seorang pelaku sekaligus saksi sejarah pergolakan Aceh melawan dominasi Jakarta. banyak kisah yang telah ditorehkan oleh lelaki kelahiran 42 tahun yang lalu di Gampong Pulo Panyang dusun Cot Kala Peusangan Selatan. Lalu bagaimanakah lika-liku kehidupannya sampai ajal menjemput? The Globe Journal mencatat kembali beberapa nukilan kisah yang dituturkan oleh Yusnaidi alias Mirik pada hari Senin (25/7), orang kepercayaan almarhum sampai ajal menjemput.

Awal perkenalan dengan Mirik, Saiful alias Cage masih sebagai prajurit biasa di kamp 09 (kosong sikureung) Palu Beueh Awee Geutah. Saat itu yang menjadi pembesar dikawasan itu masih para desertir polisi seperti Husaini Franco, Razali dan beberapa orang lainnya. Saat masih sebagai tentara kecil di gerakan yang dia bela, Cage sudah dikenal berani dan nekat.

Tahun 2001 GAM Daerah III wilayah Batee Iliek membentuk pasukan operasi khusus. Pasukan ini dibentuk oleh Teungku Batee yang bernama asli Husaini. Setelah pasukan itu dibentuk, eskalasi konflik semakin meningkat. Saat menjadi komandan pasukan operasi pada tahun 2002, kiprah Cage semakin dikenal karena kesukaannya bertempur. Ibarat kata, dia menyukai pertempuran melebihi kesukaan pada dirinya sendiri. Pada tahun yang sama dia membentuk kamp Gurkha di Gampong Darul Aman Peusangan Selatan.

Kondisi semakin genting. Dimana-mana aparat keamanan Indonesia sudah tersebar. Untuk mengefektifkan pergerakan dan memperkuat pertahanan pasukan, Cage kemudian memecah anggotanya menjadi tujuh regu. Dua diantaranya bernama regu Singa Bate yang dikomandoi oleh Mirik dan regu Geubina yang dipimpin oleh Obeng (almarhum). "Saat kondisi semakin genting, Cage memecah kami dalam tujuh regu. saya sudah lupa nama-nama regu tersebut selain Singa Bate yang saya pimpin dan Geubina yang dikomandoi oleh Obeng. DIa sudah alrmarhum,"kata Mirik mengenang masa lalu.

Regu-regu tersebut terus bertempur melawan tentara pemerintah Republik dengan cara mandiri. Hidup semakin sulit. Logistik masih tersedia, namun terkadang makan beras mentah menjadi pilihan, karena tempat persembunyian tidak boleh berasap.

Tahun 2003 Zona Damai hadir di Aceh. Perwakilan GAM dan RI yang difasilitasi oleh Hendry Dunant Centre (HDC) meresmikan Zona Damai pertama di Indrapuri Aceh Besar. Kejadian itu terjadi pada tanggal 13 Januari 2003. Pasukan Cage yang sempat terpecah disatukan kembali. Mereka kembali dikumpulkan di Kamp Gurkha. Ada persyaratan bahwa pasukan GAM tidak ada yang boleh berserak.

Masa Darurat Militer

Menjelang penerapan Darurat Militer di Aceh, kondisi keamanan dan perpolitikan semakin memburuk. Para petinggi GAM dilapangan sudah tidak bisa lagi mengendalikan keadaan. Saat itulah Cage kembali tampil kedepan dengan menyandang empat jabatan sekaligus yaitu sebagai Panglima Daerah, Panglima Muda, Panglima Sagoe serta Komandan Operasi GAM.

Satu hari menjelang Darurat Militer (DM) disahkan (17/10/03) pasukan TNI bergerak ke Ule Jalan Peusangan Selatan. Mengetahui informasi pasukan pemerintah semakin mendekat, Cage memanggil semua pasukannnya. Dalam rapat, mereka memutuskan untuk menghadang tentara yang datang dari seberang laut itu. Mereka kemudian menunggu kedatangan Tentara Nasional Indonesia di ujung jembatan Ule Jalan (seberang sungai).

Tak lama kemudian pecahlah perang yang maha dahsyat. Pertempuran kedua belah pihak anak manusia yang berbeda ideologi itu memakan waktu 8 hari 8 malam. Jumlah pasukan GAM bersenjata dalam pertempuran itu sekitar 80 orang. Hari kedelapan penerapan DM pasukan GAM mundur dan bergerak ke Blang Mane Kecamatan Peusangan Selatan. Hari ke 9 DM, Cage kembali memecah pasukannya menjadi 2 kelompok yaitu Gurkha dan Singa Batee.

Sejak awal DM, pasukan Cage sudah terisolir dan kehilangan kontak dengan GAM yang berada di bawah. Satu bulan DM, Cage kembali memecah pasukan menjadi tujuh regu. Kembali dipecahnya pasukan tersebut untuk terus memaksimalkan kekuatan dan meratakan pertahanan. Menurut analisa Cage waktu itu, taktik gerilya yang dimainkan tidak memungkinkan pasukan seluruhnya dikonsentrasikan pada satu titik pertahanan.

"Sejak awal penerapan Darurat Militer, pasukan Kamp Gurkha sudah terputus hubungan dengan GAM yang berada di bawah. Sebab pasukan keamanan Pemerintah sudah berhasil mengisolasi kami dari hubungan luar. Sejak saat itu informasi tentang kami semakin tidak banyak yang tahu," Kata Mirik sambil menghisap asap rokok dalam-dalam. Kemudian dengan berat asap perusak kesehatan itu dihembuskan kembali ke udara.

Setahun darurat, Mualim (Muzakkir Manaf) beserta Sofyan Daud, Nek Tu Peureulak, Cut Manyak dan petinggi GAM lainnya tiba di daerah basis pertahanan Saiful Cage. Mereka dengan susah payah melalui jalan-jalan hutan menuju ke basis Kamp Gurkha untuk mencari perlindungan. Saat itu kondisi para petinggi itu rata-rata kurus dan kurang sehat. Bukan saja para petinggi GAM yang mencari selamat ke wilayah Cage, GAM lain seperti pasukan dari Linge Aceh Tengah dan Pase juga merapat ke wilayah pegunungan tersebut.

Sejak kedatangan para petinggi GAM, perjuangan Cage untuk mempertahankan wilayahnya dari serbuan TNI semakin berat. Untuk memperkuat perlindungan, Cage membuat dua tim lagi. Saat melakukan upaya perlindungan terhadap Mualim, Cage tidak memberitahukan kepada khalayak. Bahkan banyak diantara pasukan GAM sendiri yang tidak tahu bahwa sang pimpinan berada didalam garis pertahanan mereka.

Setelah tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 menerjang dan meluluhlantakkan Aceh, kehidupan gerilyawan Aceh Merdeka semakin sulit. Sebab hampir semua wilayah pertahanan sudah diduduki oleh tentara pemerintah. Hampir setiap gampong yang ada di Aceh sudah didirikan pos-pos pertahanan satuan non organik baik dari unsur TNI maupun Polisi.

Tanggal 27 Desember 2004 GAM secara sepihak menyatakan gencatan senjata dengan alasan demi kemanusiaan. Sebab hampir semua elemen baik sipil maupun militer sedang memfokuskan perhatiannya pada tindakan emergensi untuk menolong korban bencana.

Menjelang MoU Helsinki

Ketika dialog antara GAM dan RI yang difasilitasi oleh Crisist Management initiative (CMI) semakin menunjukkan hasil positif, pertempuran sengit pecah antara pemerintah dengan pasukan Cage di daerah Gampong Darul Aman Peusangan Selatan. Pertempuran itu terjadi mulai jam 05.00 WIB (subuh) sampai menjelang magrib. Saat maghrib tiba, pasukan TNI mundur setelah seharian bertempur.

Pasukan GAM sendiri saat itu sudah berserak-serak karena bertempur. Cage sendiri terpisah dengan pasukannya. Saat itu 19 butir peluru sukses menembus tubuh sang panglima. Peluru-peluru itu menembus pantat, bahu, paha, tangan dan tempat-tempat lain. Melihat tubuhnya telah dipenuhi lubang bekas bersarangnya peluru, Cage dengan pengalaman bertempur gerilya yang matang, mengikat dan menutup lukanya dengan tumbuhan hutan yang menjalar. Darah yang sempat keluar dipaksakan berhenti dengan ditutupi lubang tubuh yang penuh luka itu.

Dengan tubuh penuh luka, kemudian Cage merangkak ke rumah warga yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi pertempuran. Saat sedang merangkak, seorang gadis melihat dan kemudian membawa pulang kerumahnya untuk diobati. Tiga hari bersama si gadis, TNI datang lagi dan melakukan penggerebekan. namun beruntung, Cage berhasil diselamatkan dengan didandani seperti perempuan dan dibonceng dengan sepeda. Saat itu pasukan pemerintah tidak mengenalinya lagi.

Setelah disembunyikan ditempat yang lebih aman, disitulah Cage diobati sampai sembuh. Pasukan GAM sendiri saat itu tidak mengetahui kabar tentang sang panglima. Tidak ada yang bisa memastikan apakah dia hidup atau mati. Apakah terkena tembakan atau tidak.

Setelah sembuh, Cage kembali ke pasukannya. Saat itu isu akan terjadinya perdamaian semakin gencar. Cage sempat membangun komunikasi dengan Bakhtiar Abdullah yang saat itu masih berada di luar negeri. Disaat itu dia baru tahu bahwa lobi-lobi perdamaian semakin instensif dilakukan oleh para pihak. Cage merasa bahagia mendengar berita itu. Tak menunggu lama dia langsung mengumpulkan kembali pasukan Gurkha untuk memberitahukan berita gembira itu sekaligus mempersiapkan hal-hal yang diperlukan.

Kemudian, tanggal 15 Agustus 2005 ditandatanganilah perjanjian damai di Helsinki Finlandia antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka.

"Saat itu wajah bang Saiful memancarkan rona kegembiraan. Padahal saya tahu dia sangat menikmati peperangan ini, namun karena kecintaannya pada perdamaian lebih besar, maka dia gembira luar biasa," kata Mirik mengenang.

Beberapa hari setelah MoU Helsinki, Cage diangkat menjadi Panglima Wilayah Bate Ilik yang membawahi empat daerah, mulai D-I sampai D-IV. Dua bulan sesudah damai, Cage baru turun ke kota. Saat itu Muzakkir Manaf selaku mualim menghadiahkan satu unit sepeda motor Ninja untuk Cage sebagai bentuk apresiasi terhadap konsistensinya dalam berperang dan bertahan dengan ideologinya.

Masalah Keuangan Kombatan

Lima bulan kemudian, Cage mendapatkan proyek yang diberikan oleh pasangan Bupati Bireuen saat itu Mustafa Geulanggang-Amiruddin Idris. Proyek yang diberikan itu berupa pembangunan jalan Pulo Panyang Kecamatan Peusangan Selatan. Kemudian olehnya, proyek itu dijual kepada kontraktor lain. Uang hasil penjualan proyek itu dibelinya mobil Estrada Double Cabin warna merah.

Perpecahan di tubuh GAM mulai terjadi saat cairnya dana reintegrasi yang diluncurkan oleh Badan Reintegrasi Aceh (BRA), tahun 2006. Cage selaku panglima membagikan uang tersebut kepada seluruh jajarannya. Namun dalam pembagian uang tersebut, dia membedakan antara GAM yang bertahan dipusaran konflik dengan GAM yang melarikan diri keluar daerah. Untuk yang bertahan, jatah yang diberikan lebih besar. Sedangkan yang lari ke luar daerah diberikan lebih sedikit. Sehingga GAM yang mendapatkan jatah sedikit marah dan memberontak pada barisan Cage.

Ekses dari kejadian tersebut, Amiruddin Husen dicopot jabatannya sebagai panglima wilayah. Sebagai penggantinya diangkatlah Dedi bin Hamzah. Setahun setelah itu, GAM pecah kembali. Mereka sudah tidak lagi sefaham. Melihat situasi ini, kalangan cerdik pandai agama dan petinggi GAM meminta Cage kembali naik sebagai Panglima. Namun Cage menolak tawaran itu.

Tak hilang akal, cerdik pandai agama dan Irwandi kemudian kembali membujuk Saiful untuk menerima tawaran itu. Akhirnya Cage luluh juga. Namun Cage membuat persyaratan yaitu dia akan bersedia jadi Panglima kembali, dengan dibantu oleh cerdik pandai agama sebagai penasehat. Setelah mendapatkan kata setuju, diapun kembali ke "tahta" yang sempat dicopot paksa. Diantara cerdik pandai agama yang bersedia menjadi penasehat Cage adalah Abu Kuta Krueng, Waled Mudawali dan Tumin Blang Blahdeh.

Saat Cage kembali ke puncak wilayah, semua lapisan pasukan mendukungnya. Setelah GAM bersatu kembali, mereka pun semakin mantap mendirikan partai politik tersendiri sebagai wadah perjuangan mantan kombatan. Setelah berproses dari Partai GAM, Partai Aceh Mandiri yang kesemuanya ditolak oleh Kemenkumham, akhirnya dengan nama Partai Aceh (PA) mereka bisa merajai dunia "persilatan" politik ditataran Aceh.

Selain sangat tegas dalam bertindak dan menahkodai wilayah Batee Iliek, Cage tidak pernah melupakan janda dan anak yatim korban konflik. Setiap meugang, dia selalu membagikan daging gratis untuk anak yatim korban konflik diseluruh wilayah Batee Iliek. Bahkan ada yang disekolahkan olehnya sampai perguruan tinggi.

Menolak Zikir dan Dukung Irwandi

Cage menolak perintah komando saat pencalonan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf (Zikir) sebagai sebagai Cagub dan Cawagub Aceh. Dia dengan lantang menolak pencalonan itu karena dianggap tidak demokratis dan petinggi dikomando pusat telah berbuat sesuka hati dengan asal tunjuk. Cage beserta KPA di 13 wilayah secara bersama-sama menolak pencalonan duet "Zikir" yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai keterbukaan dan putusan bersama. Hanya empat wilayah yang mengakui dan mendukung putusan komando, dua diantaranya adalah Sigli dan Pase.

Setelah berdiskusi dengan beberapa kalangan, akhirnya Cage memutuskan untuk mendukung Irwandi sebagai calon gubernur. Jabatan panglima Wilayah Bate Iliek dikembalikan ke komando beserta dengan stempel. Pasca mendukung Irwandi, hubungan Cage dengan pihak komando semakin memanas.

Akhirnya pada Jumat (22/7) sekitar pukul 23.00 WIB, Cage menghembuskan nafas yang terakhir setelah timah panas dari senjata api jenis AK menembus bahu dan kepalanya. Dia menghembuskan nafas yang terakhir di depan warung kopi miliknya yang diberi nama sama seperti kamp-nya dulu: GURKHA.

Sumber : The Globe Journal

Dicurigai Komplotan Penembak Cagee, Warga Paya Bakong Diamankan

Seorang warga asal Paya Bakong, Aceh Utara, diamankan polisi karena dicurigai bagian dari komplotan penembak Saiful Husen alias Pon Cagee. Namun, sejauh ini polisi belum menemui titik terang terkait insiden yang menewaskan mantan Ketua KPA Wilayah Bate Iliek itu.

Informasi yang diperoleh Harian Aceh, warga Gampong Tanjong Beuridi, Kecamatan Peusangan Selatan, pada Senin (25/7) malam sekitar pukul 23.00 WIB, menangkap seorang lelaki mencurigakan. Lelaki yang diketahui warga Paya Bakong, Aceh Utara, ditangkap masyarakat setelah melompat dari sebuah mobil Kijang Kapsul. Setelah ditangkap, orang yang dicurigai itu langsung diserahkan ke pihak keamanan terdekat.

“Memang ada orang yang ditangkap warga dan telah diamamkan karena dicurigai. Tapi sejauh ini belum ada laporan secara resmi dari lapangan,” kata Kapolres Bireuen AKBP HR Dadik Junaedi SH kepada Harian Aceh usai menghadiri lepas sambut Dandim Bireuen, Rabu (27/8) malam.

Menurut Dadik, sejauh ini pihaknya masih mengumpulkan sejumlah barang bukti. “Handphone milik korban yang hilang saat kejadian juga belum ditemukan. Sedangkan handphone yang ada di keluarganya, sejauh ini masih pada kami guna penyelidikan,” katanya.

Dari sejumlah saksi yang dimintai keterangan terkait penembakan Pon Cagee, lanjut dia, sejauh ini belum ada yang mengaku mengenali pelaku termasuk saat diperlihatkan sketsa wajah yang dicurigai. “Seksa wajah sudah didapatkan, namun para saksi yang dipanggil belum berani mengatakan. Mereka masih bimbang dan trauma, sehingga butuh waktu,” katanya.

Untuk itu, Kapolres meminta masyarakat dapat berperan memberikan informasi bila ditemukan orang-orang mencurigakan. “Kami tetap akan merahasiakan setiap informasi warga,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Saiful Husen alias Pon Cagee tewas ditembak, Jumat (22/7) sekitar pukul 22.30 WIB. Mantan Ketua KPA Wilayah Batee Iliek itu ditembak di depan warung kopi Gurkha miliknya di Jalan Medan-Banda Aceh, Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan, Bireuen.(job)

Sumber : Harian Aceh

Pengakuan Istri Cagee Sesaat Sebelum Penembakan Pon Cagee

"Abang Sempat Telpon Saya"

Kabut tebal terus menyelimuti kasus almarhum Saiful alias Cage (42), yang tewas ditembak OTK. Polisi pun seakan tak berdaya, untuk menyibak tabir gelap tersebut. Sementara istri korban menyatakan, Eks Ketua KPA Batee Iliek itu sempat menelpon dirinya, sebelum peristiwa berlangsung. Apa gerangan?

Saat ditemui Metro Aceh di kediamannya, Selasa (26/7) siang di Desa Lueng Danun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Nurmasyitah (35) mengaku masih diliputi kesedihan teramat dalam. Apalagi istri mendiang Cage ini harus mengurus anak-anaknya seorang diri, tanpa kehadiran suami tercinta di sisinya. Ia berharap agar pembantai orang yang dicintai keluarga, harus segera ditangkap dan dihukum berat.

"Supaya tidak terus-menerus jadi tanda tanya kami. Keluarga mengharapkan polisi dapat mengusut tuntas. Apabila pelakunya sudah ditemukan, kami juga berharap dapat diproses sesuai hukum,” ungkap Nurmasyitah didampinggi Nurjannah (50) orang tuanya dan Muhajir (27) berserta anggota keluarga lainnya.Nurjannah menambahkan, selama dua tahun terakhir mereka menempati rumah sendiri di kawasan Lueng Danun, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Atas kesepakatan pihak keluarga, jenazah almarhum suaminya dikebumikan dipemakaman Desa Ule Jalan, Kecamatan Peusangan Selatan tak jauh dari rumah orang tua dari suami.

Dikatakan juga, buah perkawinannya dengan almarhum telah dikaruniai empat orang anak. Diantaranya Nur Safitri (10) masih duduk dikelas III Madrasah Ibtidayah Negeri setempat. Anak keduanya, Hayutullah Khamaini (5), ketiga Soraya Nuzula (3.5) dan terakhir Nazila Sahira sudah menjelang berusia 10 bulan.
Dikisahkan sebelum musibah terjadi, Amiruddin alias Saiful alias Cage Kamis malam (21/7) sekira pukul 20.00 WIB, tiba di rumah sepulang dari Banda Aceh.

Kondisi suaminya saat itu biasa-biasa saja, tidak ada menyampaikan keluh kesah berkaitan hal apapun. Bahkan Nur pun tak merasakan firasat apa-apa. Sedangkan kejadian di Jumat malam (22/7), dari rumah Cage pergi ke doorsmer mencuci mobil.Masih sebagaimana kebiasaannya, almarhum setiap pergi dan sebelum kembali ke rumah sering membeli makanan seperti nasi dan buah-buahan, untuk isteri dan anak-anaknya.

Cage juga sempat menelpon dirinya untuk menanyakan makanan, yang akan dibawa pulang ke kediaman mereka. Namun selang 15 menit kemudian, malah sudah menerima kabar penembakan. Terkait kejadian ini, Kapolres Bireuen AKBP H.R Dadik Junaedi S.H melalui Kasat Reskrim Iptu Novi Edyanto dikonfiormasi metro aceh mengatakan, pihaknya masih terus melakukan pengembangan di lapangan dan pengejaran terhadap pelaku.

“Saya berharap kepada masyarakat untuk melaksanakan aktifitas sebagaimana biasa. Jangan merasa khawatir dan takut, karena situasi keamanan di Bireuen masih kondusif. Untuk mengungkap kasus penembakan ini, kami juga mengharapkan adanya dukungan dan peran serta masyarakat untuk dapat memberikan informasi sekecil apapun yang bisa disampaikan,” ujar Kasat Reskrim.(rah)

Sumber :Rakyat Aceh Online

Kapolda Aceh : Penembakan Pon Cagee tak Terkait Politik

Kepala Kepolisian Daerah Aceh Inspektur Jenderal Iskandar Hasan menyebutkan penembakan Saiful Husein alias Cagee di Matang Geulumpang Dua beberapa waktu lalu, tidak terkait dengan kasus politik menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah.

“Tidak ada kaitan dengan politik. Kami belum melihat ke situ (politik),” kata Iskandar Hasan usai rapat bersama Gubernur dan Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Djohermansyah Djohan di Kantor Gubernur Aceh, Rabu (27/7).

Menurut Iskandar Hasan, berdasarkan pemeriksaan di lokasi kejadian, penembakan Saiful Cagee diduga dilakukan kelompok kriminal. “Ada informasi juga pelaku terkait dengan kelompok narkoba. Ada kaitan seperti itu,” ujar Kapolda.

Namun, ia belum bisa memastikan motif penembakan itu. “Kita belum tahu persis, apakah ada background dengan narkoba atau persaingan bisnis. Kita masih mendalami,” lanjut Iskandar Hasan.

Saiful Cagee tewas ditembak orang yang belum diketahui identitasnya di depan warung Gurkha di Matang Geuleumpang Dua, Bireuen, Jumat (22/7) sekitar pukul 23.15 WIB. Ia ditembak tiga kali di bagian kepala dan kaki. Pelaku diduga menggunakan senjata laras panjang jenis AK-56. Di lokasi kejadian, polisi menemukan dua proyektil peluru dan dua butir amunisi yang tidak sempat meledak. Usai menembak Cagee, pelaku melarikan diri ke arah Lhokseumawe menggunakan mobil Avanza bernomor polisi BK.

Polisi membentuk tim khusus untuk memburu pelaku penembakan Saiful Cagee. “Beberapa informasi yang kita kembangkan di TKP, terhadap ciri-ciri pelaku. Ini sedang kita kembangkan, mudah-mudahan ada perkembangan positif,” kata Kapolda Iskandar Hasan. []

Sumber : Aceh Kita

Buru Penembak Pon Cagee, Polda Aceh-Poldasu Berkoordinasi

Polda Aceh berkoordinasi dengan Polda Sumatera Utara (Poldasu) dalam memburu komplotan penembak mantan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Batee Iliek Saiful Husen alias Pon Cagee.

Kapolda Aceh Irjen Pol Iskandar Hasan mengatakan berdasarkan hasil olah TKP, penembak Cagee diperkirakan berjumlah dua atau tiga orang. Mereka lari ke arah timur yang bisa saja ke luar Aceh atau ke Medan, Sumut. “Jadi kami sudah berkoordinasi dengan pihak Poldasu untuk menangkapnya. Ini dikuatkan lagi dengan informasi bahwa pelaku menggunakan mobil bernomor polisi BK (plat Sumut),” kata Iskandar.

Namun, kata dia, sejauh ini polisi belum tahu pasti apakah plat mobil tersebut palsu atau asli. Untuk mengungkapkan hal itu, polisi masih terus menggali informasi di lapangan, termasuk terus-terusan berkoordinasi dengan jajaran kepolisian di luar Aceh.

Sementara pihak Mapolres Bireuen telah memintai keterangan beberapa saksi. Dari keterangan orang-orang di sekitar lokasi kejadian itu, polisi mencoba membuat sketsa wajah pelaku. Namun sketsa tersebut belum menggambarkan wajah pelaku dengan tepat.

Sebagaimana diketahui, Pon Cagee, 45, yang juga disebut-sebut timses Cagub Irwandi Yusuf ditembak hingga tewas oleh pria tak dikenal, Jumat (22/7) sekitar pukul 22.45WIB di depan Warkop Gurkha miliknya di Matangglumpangdua, Peusangan, Bireuen. “Almarhum ditembaki dengan AK. Tetapi belum dapat dipastikan apakah AK 56 atau AK 47,” kata Kapolres Bireuen AKBP HR Dadik Junaedi SH, Sabtu (23/7).

Kapolres menyebutkan, dari penyisiran yang dilakukan anggotanya di lokasi kejadian, polisi menemukan dua peluru AK aktif dan dua selongsong peluru. “Satu yang masih aktif itu sudah digunakan tetapi tidak meledak,” terang Kapolres Bireuen.

Kapolres mengatakan korban meninggal di lokasi kejadian setelah mengalami luka tembak di bahu kiri dan di bagian kepala. “Korban ditembak dari jarak dekat sehingga ada peluru yang menembus kepalanya,” ujar Dadik. Polisi masih melakukan penyelidikan motif penembakan dan identitas pelaku.(bay)

Sumber : Harian Aceh

Orang Kepercayaan Saiful Cagee Dikejar OTK

Yusnaidi alias Mirik mantan komandan pasukan GAM regu Singa Bate yang juga merupakan orang kepercayaan Saiful Husen alias Cage, Senin (25/7) sekitar pukul 10.00 WIB sempat diburu oleh Orang Tak Dikenal (OTK) dikawasan Uteun Gathom Peusangan Selatan.

Menurut pengakuan Mirik kepada The Globe Journal, saat itu dia hendak keluar menuju rumah orang tua Cage yang menggelar acara peringatan meninggalnya Cage di gampong Ule Jalan. Saat keluar dari simpang Geulanggang Labu, sekitar 15 meter, Mirik melihat sebuah mobil Avanza hitam dengan warna kaca yang hitam pula parkir mengarah ke selatan tepat di seberang jalan. Mirik berhenti untuk memastikan. Namun tiba-tiba kaca pintu belakang Avanza itu diturunkan, sesosok orang mengintip dari balik kaca.

Melihat gelagat tidak menguntungkan, Mirik kemudian menggeber Suzuki Trail yang dia kendarai kearah timur. Dengan cepat Avanza tersebut berbalik dan tidak lama sudah berada dibelakang Mirik. Mirik berusaha menggeber sepeda motor sekuatnya dengan niat hendak mencari perlindungan ke Pos Polisi yang berada di Geulanggang Labu. Namun belum sempat dia tiba kesana, mobil itu semakin dekat, melihat ada lorong gampong, Yusnaidi kemudian berbelok dengan cepat dia melewati lorong-lorong kecil.

"Mereka dengan cepat memutar mobil di simpang itu. Karena power mobil lebih kuat, dalam waktu singkat mereka langsung berhasil membututi saya. untung ada lorong kecil, saya langsung berbelok," kata Mirik dengan wajah serius. Melihat Mirik berhasil lolos, Avanza misterius itu kembali balik arah dan mengejar melalui jalan kecamatan dengan tujuan menunggu Mirik di simpang yang lain, namun beruntung bagi Mirik, dia berhasil lolos dan langsung menuju kerumah orang tua almarhum Cage.

Setelah memastikan keadaan aman, dia langsung melapor ke Pospol Geulanggang Labu Kecamatan Peusangan Selatan. Menurut saksi mata yang enggan namanya disebutkan, dia sempat melihat sebuah Avanza berlari kencang dan berhenti di depan Simpang Ule Jalan sebelah barat yang merupakan arah rumah orang tua Cage. Kemudian dengan cepat kembali berangkat kearah selatan. Namun diseberang sungai mereka kembali berbalik dan menuju ke timur.

"Saya sempat melihat sebuah Avanza warna hitam yang sedang melaju kencang berhenti mendadak di depan simpang Ule Jalan. Tak lama kemudian mobil itu menuju ke arah selatan, namun di seberang sungai mereka berbalik arah dan kembali ke timur," kata saksi mata.

Kapolres Bireuen AKBP. HR. Dadik Junaidi melalui Kepala Bagian Operasi Polres Bireuen AKP. Mulyadi yang dihubungi The Globe Journal sekitar pukul 17.00 WIB membenarkan pihaknya melalui Kapospol Peusangan Selatan telah menerima laporan dari Yusnaidi. Namun saat dilakukan pengejaran, mobil tersebut sudah tidak ada lagi.

"Benar sekali bahwa Yusnaidi sudah membuat laporan terkait kejadian itu, pihak polisi melalui Kapospol Peusangan Selatan sudah menyisir ke lokasi. Namun tidak menemukan pelakunya karena sudah duluan kabur," terang AKP. Mulyadi.

Sumber :The Globe Journal

Kepala Almarhum Pon Cagee Dihargai 1 Milyar

Sebelum menghembuskan nafas terakhir setelah ditembak oleh OTK sekitar jam 23.00 WIB di depan warung kopi Gurkha Matangglumpangdua, Saiful Husen alias Pn Cage sempat menelepon orang kepercayaannya yang bernama Yusnaidi alias Mirik. Kepada Mirik melalui hubungan telepon pada hari Jumat sekitar pukul 16.00 WIB (22/7) Cage mengatakan bahwa kepalanya sudah dihargai Rp 1 milyar. Hal ini dikatakan oleh Mirik kepada The Globe Journal, Senin siang (25/7).

Menurutnya menjelang Ashar Saiful menelpon dirinya dan mengatakan bahwa kepalanya sudah dibeli seharga 1 milyar. Selain itu dia juga mengingatkan Mirik agar tidak keluar sendiri, kalaupun keluar harus ajak kawan, sebab keadaan semakin tidak kondusif bagi Cage dan rekan-rekan.

"Bang Saiful sempat telepon dan mengatakan bahwa kalau kepalanya itu sudah dibeli seharga 1 milyar, selain itu abang juga mengingatkan saya agar jangan keluar kalau lagi sendiri. kalau mau keluar ajak teman," kata Mirik mengulang kalimat terakhir Cage yang ditujukan padanya.

Menurut Mirik, Saiful sudah menjadi incaran bagi lawan politik. Namun dia beserta kawan-kawannya yang lain tidak mau berspekulasi tentang pembunuh yang telah merenggut hak hidup Cage dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Dia berharap kepada aparat keamanan dapat menguak tabir misteri tersebut.

Sumber : The Globe Journal

WAA Turut Berduka Meninggalnya Saiful “Cagee”

World Achehnese Association (WAA) yang merupakan sebuah organisasi perkumpulan masyarakat Aceh di luar negeri, Denmark turut menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya saudara Saiful (Cage) 42 tahun yang pernah menjadi panglima GAM di Wilayah Batee Iliek, Bireuen.

WAA menerima kabar terbunuh Cage karena di tembak oleh orang yang belum diketahui identitasnya, penembakan yang terjadi di depan Warung Kopi (Warkop) Gurkha Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, pada Jum’at (22/7) malam yang lalu.

Selain itu WAA, juga meminta kepada seluruh anggota GAM baik yang pernah aktif sebagai sipil GAM maupun tentara GAM, diharapkan untuk tidak mudah terpengaruh dan terprovokasi dengan ulah pembunuh yang di sebut masih dalam pengejaran pihak kepolisian tersebut, seperti tulis WAA dalam lansirannya kepada publik.

WAA melihat bahwa pembunuhan Saiful atau sering disapa dengan Cage ini merupakan proses transisi dan reintegrasi yang mengalami kemunduran dalam perdamaian Aceh, bahkan pembunuhan Cage lebih kepada upaya memperkeruh kondisi politik di Aceh.

Sebelumnya, menjelang Pemilu pada tahun 2009 yang lalu, Dedi Novandi alias Abu Karim (33), anggota KPA Bireuen (Wilayah Batee Iliek) juga ditembak mati oleh orang yang tidak di ketahui. “Kami mengimbau kepada seluruh rakyat Aceh untuk mempertahankan diri dari tindakan dan sikap yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan kita, perdamaian yang telah di raih dengan susah payah perlu kita pertahankan bersama,” tegas WAA dalam rilis yang kami terima.(*/af).

Sumber : Seputar Aceh

Kata Irwandi Tentang Penembakan Pon Cagee

Meninggalnya mantan Ketua Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Batee Iliek Saiful Husein alias Cage yang ditembak orang yang belum terindentifikasi, pada Jumat (22/7) malam, menyebabkan duka besar bagi Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Inilah reaksi Irwandi terhadap penembakan Cage.



Menurut Irwandi, Cage adalah sahabat sejatinya. Di matanya, Cage adalah tentara GAM yang sangat mendukung proses perdamaian di Aceh. Dan di masa peperangan dulu, kata Irwandi, dia adalah prajurit tangguh, yang setia kepada atasan dan yang disegani oleh kawan maupun lawan. "Dia adalah sahabat sejati saya," ungkap Irwandi dalam acara peresmian kantor Pusat Jalur Partisipasi Masyarakat (JPM), Minggu (24/7) di Lampeuneurut, Aceh Besar.

Kata Irwandi, selain taat kepada atasan ketika konflik, Cage yang bernama asli Amiruddin Husen, juga tunduk kepada aturan yang berlaku dalam penandatanganan MOU di Helsinki. "Beliau adalah pendukung demokrasi sejati. Ketika ada upaya pembungkaman terhadap aspirasi dan demokrasi, yang bersangkutan tampil di muka menentang," kata Irwandi. "Ketika Aceh masih dilanda konflik, Cage-lah yang mempertahankan tempat persembunyian panglima tertinggi GAM Muzakir Manaf. " Sekarang Muzakir Manaf adalah ketua Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh.

Terkait pilkada ke depan, Irwandi menyerukan kepada seluruh masyarakat Aceh dan kepada pasangan-pasangan yang terancam dengan kehadirannya, ia meminta rakyat agar memilih pemimpin yang terbaik. "Siapapun dia," kata Irwandi.

Kepada pasangan lain, Irwandi meminta jangan pernah merasa minder untuk ikut pilkada dan tidak menghalalkan segala cara supaya dirinya tidak bisa ikut ke dalam pesta demokrasi. "Jangan terpengaruh dengan hasil survei. Tahun 2006 saya mendapat rangking terbawah. Tapi jangan takut, karena hasil survei bukanlah kenyataan yang terjadi. Walaupun sekarang saya mendapatkan hasil survei teratas, tapi belum tentu juga saya akan terpilih lagi sebagai gubernur," ujarnya.

Pembunuhan Mantan Panglima GAM Wilayak Batee Iliek Sebuah Kemunduran

World Achehnese Association (WAA) sebuah organisasi perkumpulan Masyarakat Aceh di luar negeri, menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya Saiful (Pon Cage) yang juga merupakan mantan panglima GAM di Wilayah Batee Iliek, Bireuen.

Lokasi ceceran darah mantan Panglima III wilayah Batee Ilik Komite Peralihan Aceh (KPA) Pon Cage, ditutup dengan surat kabar bekas. Menurut informasi, Cage menghembuskan nafas terakhir di TKP dan jenazahnya sekarang sudah dikembalikan ke rumah duka di Peusangan Selatan. Foto direkam Jumat (22/7) sekitar pukul 23.48 WIB.(GRA)

Tarmizi Age yang akrab dipanggil Mukarram, Koordinator World Achehnese Association Kepada The Globe Jornal, Minggu (24/7) meminta kepada seluruh anggota GAM supaya tidak terpengaruh dengan ulah pembunuh,"Seluruh anggota GAM baik yang pernah aktif sebagai sipil GAM maupun tentara GAM, Kami meminta untuk tidak terpengaruh dan terprofokasi dengan ulah pembunuh yang di sebut masih dalam pengejaran pihak polisi,"pintanya.

WAA melihat bahwa pembunuhan Saiful (Cage) merupakan proses transisi dan reintegrasi yang mundur dalam perdamaian Aceh, bahkan pembunuhan Cage lebih kepada upaya memperkeruh kondisi politik di Aceh.

Sebelumnya menjelang pemilu pada tahun 2009, Dedi Novandi alias Abu Karim (33), anggota KPA Bireuen (Wilayah Batee Iliek) juga ditembak mati oleh orang yang tidak di ketahui.

"Kami mengimbau kepada seluruh rakyat Aceh untuk mempertahankan diri dari tindakan dan sikap yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan kita, perdamaian yang telah di raih dengan susah payah perlu kita pertahankan bersama,"tandasnya.

Sumber : The Globe Journal

Polisi Buat Sketsa Wajah Pelaku Penembakan Pon Cagee

Pihak aparat keamanan dari Polres Bireuen sudah membuat sketsa wajah pelaku penembakan Pon Cage berdasarkan kesaksian dan bukti-bukti yang dikumpulkan. Namun sketsa wajah tersebut belum final, sebab masih dibutuhkan berbagai informasi lain agar menjadi sempurna. Hal ini dikatakan oleh Kapolres Bireuen AKBP. HR. Dadik Junaidi yang dihubungi khusus oleh The Globe Journal, Minggu (24/7) sekitar pukul 16:30 WIB.

Kapolres menyebutkan pihaknya sudah memanggil 3 orang saksi yang berada di TKP saat peristiwa itu terjadi. Berdasarkan informasi dari para saksi itulah, pihak keamanan membuat sketsa wajah pelaku.

"Pihak kepolisian sudah membuat sketsa wajah pelaku sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh para saksi. Namun karena masih terbatasnya informasi maka sketsa tersebut belum bisa menjawab siapa pelaku secara tepat sekali. Kita sekarang masih dalam tahap pendalaman informasi," Kata Kapolres Bireuen.

Dalam kesempatan ini Kapolres juga mengatakan bahwa sampai sekarang pihaknya belum berhasil menangkap pelaku penembakan yang menewaskan mantan Ketua KPA wilayah Bate Ilik Amiruddin Husen alias Saiful Husen alias Pon Cage.

Kapolres membantah isu yang beredar dari mulut ke mulut bahwa pelaku sudah berhasil diidentifikasi dan menangkap pelaku. "Sampai sekarang Polisi terus mengembangkan kasus tersebut. Namun kita belum berhasil mengidentifikasi dan menangkap pelaku. Nanti kalau memang sudah teridentifikasi dengan tepat dan sudah kita tangkap, pasti akan kita umumkan," sebut Kapolres.

Kapolres juga berharap kepada masyarakat yang mengetahui dan mempunyai informasi penting terkait kasus tersebut, agar mau melaporkan kepihak aparat keamanan demi terkuaknya kebenaran dan tegaknya keadilan di Bireuen.

Sumber : The Globe Journal

Jenazah Pon Cagee Tak Sempat Divisum

Jenazah Pon Cage alias Saiful yang ditembak oleh OTK di depan warung Gurkha Matangglumpangdua Sabtu malam (22/7) sekitar pukul 23.00 WIB tidak sempat dilakukan visum oleh pihak Rumah Sakit Umum Dr. Fauziah Bireuen. Hal ini disebabkan ada larangan dari pihak pengantar jenazah sehingga para medis yang berada di bagian unit Gawat Darurat (UGD) tidak berani melakukan visum.

Saiful Husen alias Pon Cagee saat berada di ruang UGD RSUD Fauziah Bireuen. Korban meninggal dunia setelah ditembaki dari jarak dekat. (Harian Aceh/Joniful Bahri)

Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala bagian UGD RSU Dr. Fauziah Bireuen, Dr. Mukhtar kepada The Globe Journal, Sabtu (23/7) melalui hubungan telepon. Menurut Mukhtar saat dibawa ke UGD rumah sakit tersebut, pihak medis sebenarnya langsung hendak melakukan visum, namun para pengantar jenazah dengan nada tegas meminta agar visum tidak dilakukan. Berkisar selama 5 menit dirumah sakit, jenazah kemudian dibawa pulang kerumah duka di Kecamatan Peusangan Selatan.

"Menurut Informasi yang saya terima dari tenaga medis di UGD, jenazah Cage sempat dibawa kerumah sakit, namun saat hendak dilakukan visum oleh pihak medis, ada yang melarang dengan nada tegas. Sehingga diputuskan tidak dilakukan visum. 5 menit kemudian, jenazah dibawa pulang," jelas Dokter Mukhtar dari seberang telepon.

Kapolres Bireuen AKBOP HR. Dadik J kepada The Globe Journal secara terpisah mengatakan bahwa sebenarnya visum dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian seseorang. Namun bila jelas dan nyata penyebab kematian, maka hal tersebut bila tidak dilakukan pun tidak apa-apa.

"Sebenarnya visum kan untuk mengetahui penyebab kematian. Itu sama dengan otopsi. namun karena penyebab kematian sudah jelas, maka bilapun tidak dilakukan visum tidak menjadi masalah," terang Kapolres Bireuen.

Sumber : The Globe Journal

Mantan Panglima III Batee Ilik Tewas Ditembak

Saiful alias Pon Cage yang juga mantan Panglima III Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Batee Ilik tewas ditembak, Jumat (22/7) sekitar pukul 23.00 WIB. Penembakan itu terjadi depan warung kopi Gurkha milik korban yang terletak di jalan Medan-Banda Aceh Matangglumpangdua Bireuen.



Kejadian penembakan yang menewaskan mantan kombatan sontak mengundang perhatian warga. Sehingga sesaat setelah penembakan, warga langsung berhamburan ke tempat kejadian perkara (TKP).

Salah seorang saksi mata yang namanya enggan disebutkan mengatakan bahwa kejadian tersebut terjadi begitu cepat sekali. Saat itu, Pon Cage keluar dari warung kopi Gurkha hendak pulang, tiba-tiba sebuah Toyota Avanza berhenti di depan warung tersebut. Seorang pelaku turun dari mobil dan langsung mengacungkan senjata laras panjang ke arah sang panglima.

Kemudian sebutir peluru meledak, Saiful rubuh. Saat berusaha bangkit kembali tiga suara ledakan senjata laras panjang kembali terdengar. Setelah itu, si penembak langsung naik ke mobil dan tancap gas ke arah timur. Kemudian saksi mata yang saat kejadian berada di sekitar TKP langsung berlari kearah Cage yang sudah rubuh ketanah.

Saksi mata melihat dua buah lubang dikepala, namun belum sempat memastikan dimana lagi ada peluru menembus badan sang mantan panglima, orang-orang sudah ramai berdatangan.

"Saat itu saya melihat bang Pon Cage keluar dari warung kopi Gurkha. Sejenak kemudian sebuah Avanza berhenti dan seseorang keluar dan langsung mengarahkan senjata laras panjang kearahnya. Saya mendengar empat kali letusan senjata dan setelah menembak pelaku langsung melarikan diri ke arah timur," kata saksi mata.

Saat The Globe Journal sampai ke lokasi kejadian, jenazah Cage sudah dievakuasi kerumah sakit. Pihak aparat kepolisian memasang police line di lokasi. Pihak penegak keamanan menemukan bekas selongsong peluru dan satu proyektil. Perkirakan sementara senjata yang digunakan adalah AK-46.

Sampai berita ini diturunkan, Kapolres Bireuen AKBP. HR. Dadik J belum berhasil dikonfirmasi.Saat ini jenazah sudah dibawa pulang kerumah duka di kawasan Peusangan Selatan.

Sumber : The Globe Journal