Tampilkan postingan dengan label Belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belanda. Tampilkan semua postingan

Penggugat Uang Seribu Ajukan Sederet Bukti Ke Pengadilan

Pengadilan Jakarta Pusat, Kamis (24/8/2017) menggelar sidang lanjutan perkara gugatan Asrizal H Asnawi terhadap Bank Indonesia (BI) yang menerbitkan gambar pahlawan wanita asal Aceh, Cut Meutia tanpa penutup kepala di uang pecahan Rp 1.000.
Untuk diketahui, Asrizal H Asnawi yang menggugat gambar Cut Meutia pada uang kertas Rp 1.000, saat ini menjabat sebagai Anggota DPR Aceh, sekaligus Ketua Fraksi PAN DPRA.
Kuasa hukum penggugat, Safaruddin SH dalam pesan Whatapps kepada Serambinews.com mengatakan, sidang lanjutan dengan agenda pembuktian ini dimulai pada pukul 14.30 WIB. Dengan majelis hakim, Tafsir Sembiring Meliala SH MH (ketua), Abdul Kohar SH MH, dan Desbenneri Sinaga SH MH.
Safaruddin yang mendampingi Asrizal H Asnawi dalam persidangan tersebut mengatakan pihaknya mengajukan sejumlah bukti untuk memperkuat alasan menggugat.
1. Catatan Ahli Sejarah Aceh, Hermansyah dengan judul: Peuteupat (meluruskan) Sumber Sejarah Pahlawan, yang mengkaji tentang foto Cut Meutia yang digunakan oleh Bank Indonesia dalam uang pecahan Rp1000,-.
Foto perempuan Aceh, karya Christiaan Benjamin Nieuwenhuis (1901) yang diduga sebagai cikal bakal gambar Cut Meutia. (KITLV)
Dalam hal ini dapat merujuk kepada dua alternative/versi:
1. Foto versi lainnya Cut Mutia dalam buku resmi Belanda-Indonesia berjudul "Perang Kolonial Belanda di Aceh" (1977) (Gambar 113. Hal. 153) Pelukis: Gambiranom (antara tahun 1960-1970). Walaupun tidak wajah asli Cut Mutia, tetapi foto ini yang digunakan dalam buku tersebut resmi.
2. Versi kedua mereproduksi kembali sketsa Cut Mutia merujuk kepada foto cucu perempuannya.
Sketsa tersebut dapat dilakukan seperti gambar Pocut Meurah Biheue oleh Gambiranom di dalam buku yang sama (Gb. 107 hal. 147). Atau sketsa tokoh Tgk Chik Di Tiro atau Tgk Chik Abbas Kutakarang oleh Belanda.
Pihak penggugat juga mengajukan sederet bukti dokumen lainnya. Seperti, Bahagian Buku Aceh Bumi Srikandi yang diterbitkan oleh Pemerintah Aceh tahun 2008, yang menerangkan sosok Cut Meutia sebagai pahlawan Aceh.
Bahagian Buku: Aceh Tanah Rencong, yang diterbitkan oleh pemerintah Aceh tahun 2008, yang menerangkan sosok dan rekaan wajah Cut Meutia dengan memakai hijab.
Bahagian Buku: Ensiklopedi Aceh yang diterbitkan oleh Pemerintah Aceh tahun 2008, yang menerangkan tentang pakaian Cut Meutia pada masa itu. Serta referensi Gambar Cut Meutia dari berbagai sumber.
"Sidang akan dilanjutkan pada tanggal 7 September 2017 dengan agenda pemeriksaan saksi fakta dan saksi ahli dari penggugat," kata Safaruddin yang juga menjabat Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA).

Rindu ke Ka'bah Baitullah


Setiap tahunnya, orang-orang Islam di seluruh penjuru dunia berkumpul di Arafah, menuju Mina, Muzdalifah dan kembali lagi ke Mekkah, tawaf di lingkaran Ka'bah memenuhi seluruh rangkaian haji. Haji merupakan salah satu rukun Islam dalam agama Islam. Pelaksanaan haji diperuntukkan bagi setiap muslim yang mampu. Kriteria "kemampuan" (manistata'a ilaihi sabila) tersebut tidak dapat distandarisasi bagi setiap negara (wilayah), status ataupun kategori tertentu. Akan tetapi, yang pasti, setiap muslim (laki-laki dan perempuan) selalu mendambakan panggilan Ilahi untuk haji.

Rindu (kembali) sujud langsung di depan Ka'bah, tawaf mengelilingi bangunan segi empat yang dimuliakan, minum air zam-zam,  shalat di dalam Ka'bah (Hijr Ismail), wukuf di Arafah, mabit di Mina, lembar Jumrah di Muzdalifah, dan kegiatan-ibadah ibadah lainnya merupakan hal yang selalu dirindukan oleh setiap jamaah haji.

Untuk mewujudkan itu, beberapa ulama seperti Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menyebutkan dalam Taisir Karim Ar-Rahman (h. 427), Fairuz Abadi dalam Tanwir al-Miqbas, (h. 214). Maka dianjurkan untuk selalu berdoa dan memohon kecenderungan hati untuk mendapat kesempatan dan kemampuan untuk memenuhi panggilan tersebut, sebagaimana doa dari nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang disebut dalam al-Quran:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Setiap muslim akan selalu merindukannya, baik yang belum ataupun sudah pernah sampai ke sana. Bahkan kerinduan tersebut akan lebih besar  bagi orang yang telah pernah ke sana daripada yang belum, walaupun rindu itu sama-sama memuncak,  sebab setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke Ka’bah maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya. Setiap muslim  yang menunjukkan mereka sangat ingin dan cenderung hati mereka untuk melihat dan menyentuh Ka’bah secara langsung dan menunaikan ibadah haji maka berdoalah untuk hati akan rindu ke sana.

Semoga suatu hari akan dapat memenuhi panggilan Ilahi dengan ucapan:

Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika laa syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka. 

(Ya Allah, aku datang karena panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu). 

Naskah-naskah Haji

Lembaran naskah ini koleksi Perpustakaan Leiden University, berasal dari Aceh (?). Di dalamnya menggambarkan do'a-do'a yang dibacakan saat mengelilingi Ka'bah. Di dalam area Masjidil Haram masih terlihat beberapa menara tempat shalat jamaah Mazhab, semuanya ada 4 (empat) mazhab. Para jamaah akan shalat sesuai dengan mazhabnya masing-masing.

Berikut sketsa dan posisi para jamaah seluruh dunia bertumpu sebelum direkonstruksi (Al-Fasi: 461)

Keterangan Gambar : 1. Ka'bah 2. Hijiril Ismail. 3. Makam Nabi Ibrahim a.s.4. Sumur Zamzam 5. Mimbar 6. Tempat shalat mazhab Syafi'i 7. Tempat Shalat mazhab Hanafi8. Tempat shalat mazhab Hambali. 9. Al-Mataf. 10. Tempat shalat mazhab Maliki. 


Pada tahun 1343 Hijriah (1925 M), ketika Dinasti Sa'udi di bawah pimpinan Raja 'Abd al-'Aziz bin 'Abd al-Rahman Al Sa'ud memperluas area Mesjidil Haram dan menghilangkan "kubu mazhab" atau  menggabung seluruh jamaah shalat fardhu di Masjid Haram menjadi satu jamaah dengan satu orang imam. Demikian juga berlaku untuk jamaah shalat Jum'at, shalat Terawih, dan shalat Hari Raya menjadi satu jamaah saja. Dua tahun setelah itu,  Rabiul Akhir tahun 1345 H dalam pertemuan ulama memperkuat kebijakan Raja 'Abd al-'Aziz Al-Sa'ud atas aturan yang baru tersebut untuk persatuan dan kesatuan ummat. Untuk itu mereka meminta dipilih tiga orang imam untuk mewakili empat mazhab sunni, sehingga semuanya berjumlah 12 orang. Mereka inilah yang secara bergantian menjadi imam shalat fardhu lima kali sehari, imam dan khatib Shalat Jum'at serta imam Shalat Tarawih. (Al-Zahrani, 84-98)

Hal ini menunjukkan ummat Islam tetap bersatu. Semoga kita dapat memenuhi panggilan Allah dengan sebaik-baiknya.


Sumber:
Abdullah Sa`id Al-Zahrani, A’immat al-Masjid al-Haram wa Mu’adzdzinuh, Mathba`ah Bahadur, Makkah, cet. 1, 1998
Al-Fasi al-Makki al-Maliki, Taqiyuddin Muhammad bin Ahmad bin `Ali (775-832 H) , Syifa’ al-Gharam bi Akhbar al-Balad al-Haram, (dengan tahqiq Mushthafa Muhammad al-Dzahabi), jilid 2, Maktabah al-Nahdhah al-Haditsah, Mekkah, cet. 2, 1999
http://alyasaabubakar.com/2014/02/ulama-wahabi-dan-penguasa-saudi-tentang-pelaksanaan-ibadat-di-masjid-haram/
http://www.artikelsiana.com/2014/10/sejarah-masjidil-haram-sejarah-kabah-mekah.html

Bendera Aceh (2) di Denmark


Bendera Aceh bukanlah sebuah polemik besar bagi setiap orang yang mengetahui sejarah Aceh. Sebab, sejak era Kesultanan Aceh sudah memiliki bendera, hal tersebut dapat ditelusuri dari berbagai sumber sejarah Aceh di luar negeri. Bendera-bendera di atas, misalnya, adalah hasil sketsa seorang Belanda yang bertugas di Aceh era perang Belanda dengan Aceh antara 1873-1945 yang menunjukkan bendera tersebut telah digunakan, bahkan untuk kerajaan-kerajaan kecil.

Selain bendera sketsa Belanda itu, hasil penelusuran leinnya juga ditemui oleh KMPD (Komite Monitoring Perdamaian dan Demokrasi) perwakilan Eropa dan ASF di Denmark yang menemukan ratusan khazanah kejayaan masa lalu Aceh (Atjeh) yang tersimpan di Museum Nasional Denmark (Nationalmusset) di København. Peninggalan Aceh zaman dahulu tersimpan di dalam gedung istana lama yang sangat besar.

Hasil usaha KMPD dan ASF sangat membanggakan dan memberikan informasi yang lebih, bahwa terdapat selembar Bendera Kedaulatan (Kesultanan) Atjeh di antara tahun 1850-1900. Bendera berlatar warna merah, dihiasi dua peudeung (pedang), tiga titik di antaranya, dan bulan bintang bercahaya delapan, bintang dan dua pedang.

Bendera Aceh koleksi Museum Nasional Denmark

Jika dilihat lebih lanjut, bendera versi Belanda dengan koleksi museum Denmark hampir memiliki kesamaan pada gambar Belanda paling bawah kanan. Kemiripan pada latar belakang warna bendera dan dua pedang saling berhadapan dengan ujung mengarah keluar.

Sejauh ini, bendera Aceh dengan motif pedang biasanya digunakan pada saat perang di kapal-kapal perang Aceh. Jika demikian, bendera itu sudah digunakan pada era kolonial Belanda (1873) atau sebelumnya saat-saat genting Aceh sebagai sinyal diplomasi politik dengan negara-negara berdaulat khususnya di Eropa.


Menurut Bente Wolff, kepala bagian India, Asia Tenggara dan Oceania di koleksi etnografis, Museum Nasional di København tersebut tidak kurang 140 barang antik bersejarah yang sangat bernilai berasal dari Aceh. Selain bendera di atas, terdapat juga selendang dan celana berbenang emas, perisai, kain kepala, topi dan kalung, anting-anting dan rem dari perak, batang rokok dan bungkusnya,tembakau dan gunting, tikar yang berdesain indah dan penutup makanan dibuat dari daun pisang dan kertas berwarna cerah, lampu berhiasan burung kecil, serta pisau perak. Koleksi barang-barang etnografis itu dikumpul oleh penjelajah, pedagang, antropolog atau pelayar yang membawa barang-barang dari Aceh.

Peninggalan tersebut merupakan kekayaan warisan sejarah dan peradaban Aceh. Tentu, pemerintah Aceh harus memiliki "hati" untuk membuka matanya menidaklajuti kajian-kajian pada warisan yang telah disimpan oleh Museum Denmark dengan baik hati.

Harapan itu juga tersirat dari Bente Wolff yang menaruh harapan "akan lebih baik kalau pribumi dari negara asal barang di koleksi etnografis melihatnya dengan mata sendiri". Tentu harapan tersebut sebagaimana dilakukan negara-negara yang terus meneliti dan mengkaji berbagai warisan di dunia dan menjadikan negeranya sebagai sentral ilmu pengetahuan. Kini, Pemerintah Aceh harus berbenah dari "kolotnya pola pikir" terhadap warisan indatu, tidak hanya slogan pemanis mulut apabila ingin memajukan Aceh ke arah yang lebih baik [].

Dikutip dari berbagai sumber:
- Tarmizi Age (Mukarram)
National Museum of Denmark
- Bendera Aceh di Museum Nasional Copenhagen Denmark
- 10 Negara Eropa yang menyimpan peninggalan Indonesia (I)

Fungsi Bendera Aceh (1)


Bendera-bendera Aceh tersebut memiliki fungsi masing-masing dan digunakan pada saat-saat tertentu. Hal ini dapat dipahami bahwa komunikasi dan informasi tanda-tanda tersebut harus digunakan semaksimal mungkin dan sejelas-jelasnya untuk tidak terjadi salah paham. Maka bendera menjadi salah satu "simbol" untuk memudahkan dalam komunikasi dalam jangka jarak jauh.

Bendera Kesultanan Aceh (Gambar Sketsa Belanda)

Maka, jika melihat bendera-bendera tersebut, dapat dipahami setidaknya ada tiga situasi yang dialami Aceh saat itu. Bendera Aceh pada situasi aman, bendera Aceh pada kondisi genting atau perang, dan bendera perdagangan (Handel) Aceh yang digunakan di kapal-kapal Aceh.
Menurut dokumen, bendera ini digunakan secara kontinyu oleh Kerajaaan Aceh sebelum Belanda merebut keraton Aceh. Bendera Aceh mirip (duplikat) dari bendera Kerajaan Turki (Ottoman), selain warnanya merah juga memakai simbol bulan bintang. Bintang lima yang digunakan Turki tidak begitu kental dengan gambar disini. Tentu ini merupakan "sketsa" dari penggambar dari Belanda, atau sebaliknya bentuk bintang enam sebagaimana demikian untuk sedikit membedakan dari bendera Turki.

Bendera Perang Aceh (Gambar Sketsa Belanda)

Bendera di atas itu merupakan bendera Aceh yang dikibarkan saat perang (Atjeh Oorlog) oleh kerajaan Aceh. Bendera ini digunakan di kapal-kapal perang Aceh atau diperbukitan yang menghadap langsung ke laut yang dapat dilihat dari jarak jauh.

Bendera Perdagangan Aceh (Gambar Sketsa Belanda)

 Bendera di atas digunakan Aceh (kerajaan Aceh) untuk kapal-kapal perdagangan (Handel), atau dikibarkan di pelabuhan-pelabuhan persinggahan yang digunakan kapal-kapal luar berlabuh di Aceh. Bendera itu menjadi simbol kapal perdagangan, bukan kapal perang. Bendera tersebut juga menunjukkan pelabuhan-pelabuhan yang dapat disinggahi untuk perdagangan secara resmi, tentu dengan "pajak" yang telah ditentukan setiap kapal.

Baca lainnya:


Kesultanan Melaka di Pahang - Tinjauan dan Ringkasan

Serangan Ligor@ Maharaja Dewa Sura - 1

1.       Dr W.Linehan menyatakan penduduk Ligor sewaktu zaman Raja Chanderabhanu terdiri daripada pelbagai bangsa yang diperintah oleh raja Melayu (bukan Islam) namun kira-kira tahun 1292 Raja Sukothai iaitu Rama Khamheng telah menakluk Ligor dan menamakan Ligor sebagai Nakhon Si Tammarat.

2.       Menurut Eredia Raja-raja Pahang merupakan keturunan Raja Melayu Ligor sebelum ditakluk Melaka berasal dari Tembeling? (Tan Ma Ling).

3.       (Pada pendapat Buyong Adil) .. namun secara umumnya dipersetujui Tan Ma Ling merujuk kepada Tambralingga setelah merujuk kepada kajian O.W Walters.

4.       Pada 1454 angkatan laut Melaka telah menyerang Pura (Inderapura kemudian menjadi nama Pekan) dengan mengalahkan rajanya bernama Maharaja Dewa Sura. Raja Pahang lari ke Jerai Kwai (kawasan Hulu Pahang) namun akhirnya ditangkap oleh Seri Bija Diraja.

5.       Setelah dikalahkan Tun Hamzah Datuk Bongkok dititahkan pergi diam di Pahang dengan
dilengkapi nobat selengkapnya kecuali Nagara (gendang tabal) dan Payung Iram Berapit.

6.       Puteri Wanang dikahwin kan dengan Sultan Mansur dan di Islamkan kemudian diberi nama Puteri Lela Wangsa.

7.       Melaka kemudiannya menghantar Tun Telanai anak Bendahara Tun Perak untuk membincangkan perdamaian.Tidak berapa lama selepas itu Melaka-Thai pun bedamailah.

8.       Puteri Wanang mendapat 2 anak iaitu Raja Ahmad dan Raja Muhammad

Sultan Pahang (Melaka) Pertama

9.       Raja Muhammad kemudiannya dirajakan di Pahang selepas kes pembunuhan Tun Besar anak Tun Perak. Tun Hamzah Datuk Bongkok dititahkan pulang ke Melaka.

10.   Tun Hamzah diangkat menjadi Bendahara Pahang.

11.   Sultan Muhammad bersemayam di Tanjong Langgar (Pekan) di tepi Sg Pahang.

12.   Baginda beristerikan puteri Kelantan bernama Puteri Mengindera dan mendapat 3 orang anak iaitu Raja Ahmad,Raja Abdul Jamil dan Raja Mahmud.

Sultan Pahang (Melaka) ke 2

13.   Raja Ahmad menjadi Sultan Pahang ke 2 (juga disebutsebagai Sultan Mahmud@ Muhammad)

14.   Sultan Ahmad Syah turun takhta dan kemudiannya mengasingkan diri ke Lubuk Pelang juga dikenali sebagai  Marhum Shaikh (Syeikh)

Sultan Pahang (Melaka) ke 3

15.   Sultan Pahang ketiga ialah Sultan Abdul Jamil Syah, baginda diraja dan dinobatkan oleh Sultan Mahmud Melaka dan memperisterikan kakak Sultan Mahmud bernama Raja Fatimah.

16.   Baginda dikenali dengan nama Marhum Ziarat dan makamnya berada di Pekan,Pahang

17.   Baginda memerintah Pahang bersama Sultan Mansur Syah (anak saudaranya iaitu anak kepada Marhum Syaikh)

Serangan Ligor@ Maharaja Dewa Sura – 2

18.   1494 angkatan Ligor (Ayuthaya)  yang dipimpin Maharaja Dewa Sura telah menyerang Pahang melalui jalan darat semasa zaman Sultan Muzaffar.

19.   Namun kalah setelah Pahang mendapat bantuan dari Melaka yang dipimpin oleh Tun Mutahir (bapa kepada Tun Fatimah)

20.   Pada tahun 1511 Melaka alah kepada Portugis dan Sultan Mahmud melarikan diri ke Pagoh kemudian ke Pahang semasa zaman Sultan Abdul Jamil ini.

21.   Seorang anak Sultan Mahmud dikahwinkan dengan Sultan Mansur.

Sultan Pahang (Melaka) ke 4

22.   Sultan Mansur Syah menjadi Sultan Pahang ke 4 dan mempunyai 2 orang puteri iaitu Raja Puspa Dewi dan Raja Kesuma Dewi

23.   Mengikut Sejarah Melayu Sultan Mansur ini dihukum bunuh oleh ayah baginda (Sultan Ahmad, Sultan Pahang ke 2) kerana dituduh berzina dengan ibu tirinya.

Rumah Adat Indragiri
24.    Isteri baginda iaitu puteri kepada Sultan Mahmud (Melaka) telah dipanggil pulang dan dikahwinkan dengan Raja Nara Singa dari Inderagiri

Sultan Pahang (Melaka) ke  5

25.   Sultan Mahmud Syah adalah Sultan Pahang ke 5 adalah anak kepada Sultan Muhammad (Sultan Pahang Pertama) dan beristerikan sepupunya Raja Olah ( Raja Wati) iaitu puteri Sultan Ahmad Syah (Sultan Ke 2 Pahang).



26.   Dikurniakan 2 orang anak iaitu Raja Muzaffar dan Raja Zainal.

27.   Beristerikan pula Raja Khadijah iaitu puteri Sultan Mahmud Syah Melaka yang pada ketika itu memerintah Johor dan bersemayam di Bentan.

28.   Semasa era baginda, Pahang banyak terlibat dengan pertempuran menentang Portugis yang menakluk Melaka.

29.   Baginda mangkat dan digelar Marhum di Hilir.

Sultan Pahang (Melaka) ke 6

30.   Sultan Muzaffar Syah ditabal oleh Sultan Alaudin Riayat Syah II.

31.    Baginda di kenali sebagai Marhum di Tengah setelah dibunuh oleh  Khoja Zainal iaitu Duta
Brunai kerana bermukah dengan isteri beliau.

Sultan Pahang (Melaka) ke 7

32.   Sultan Zainal Abidin ditabal menjadi Sultan Pahang ke 7 merupakan anak kepada Sultan Pahang ke 5.

33.   Beristerikan Raja Dewi Sultan Mahmud Syah (Melaka)(Marhum Kampar), Puteri Onang Kening dari Kelantan dan anak Bendahara Pahang. (Isterinya 3 orang).

34.   Bersama Raja Dewi dikurniakan  4 orang anak iaitu Raja Mansur, Raja Jamal, Puteri Khalijah dan Puteri Bongsu.

35.   Bersama Puteri Onang Kening tiada anak

36.   Bersama anak Bendahara dikurniakan  Raja Abdul Kadir.

37.   Baginda membantu Johor menyerang Portugis di Melaka bersama-sama angkatan Perak namun pulang setelah mendengar khabar angkatan Poertugis yang lebih besar datang dari Goa.

38.   Baginda mangkat di Makam Nibong (dikenal orang sebagai Makam Tembuni), Pekan Lama dan digelar sebagai Marhum Bukit.

Sultan Pahang (Melaka) ke 8

39.   Raja Mansur kemudiannya di tabal menjadi Sultan Pahang Ke 8 dengan bergelar Sultan Mansur Syah II.

40.   Beristerikan Raja Fatimah anak Sultan Alaudin Syah II dan dikurniakan Raja Putih dan Raja Subuh. Baginda beristerikan pula Puteri Bakal dari Terengganu dan dikurniakan Raja Jalal,Raja Jalil, Puteri Tengah dan Puteri Dewi.

41.   Baginda mangkat setelah berperang dengan Jawa Kafir dan digelar Marhum Syahid.

42.   Isteri Baginda Raja Fatimah kemudiannya bernikah dengan Raja Umar anak kepada Sultan Pahang ke 2.

Sultan Pahang (Melaka) ke 9

43.   Raja Jamal kemudiannya dilantik sebagai Sultan Pahang ke 9 dengan bergelar Sultan Abdul Jamal Syah (merupakan anak Sultan Pahang ke 7 adik kepada Sultan Pahang ke 8)

44.   Baginda juga mangkat terbunuh (tidak dinyatakan gelaran dan peristiwa kemangkatan)

Sultan Pahang (Melaka) ke 10

45.   Sultan Abdul Kadir Alaudin Shah dilantik sebagai Sultan Pahang ke 10 merupakan anak kepada Sultan Pahang ke 7 dan adik kepada Sultan Pahang ke 8 & Sultan Pahang ke 9.

46.   Dikurniakan 3 orang anak iaitu  Raja Abdul Ghafur, Raja Yamir dan Raja Ahmad.

47.   Baginda telah bersahabat dengan Portugis.

48.   Negeri Pahang pada waktu ini menghasilkan emas dan baginda pernah menghadiahkan emas sepanjang 2 ½ ela kepada Gabenor Portugis di Melaka.

49.   Mangkat  tahun 1590 (tiada bergelar)

Sultan Pahang (Melaka) ke 11

50.   Raja Ahmad dilantik sebagai Sultan Pahang ke 11 namun diturunkan kerana masih kecil.

Sultan Pahang (Melaka) ke 12

51.   Raja Abdul Ghafur menjadi Raja Melaka ke 12 dengan bergelar Sultan Abdul Ghafur Muhiyuddin Syah.

52.   Mempunyai 2 isteri iaitu Puteri Patani dan Puteri Brunei.

53.   Raja Abdullah anak kepada baginda telah dikahwinkan dengan Puteri dari kerabat Perak dan perkahwinan dilansungkan di Kuala Tembeling.

54.    Daerah Hulu Pahang iaitu Kuala Tembeling hingga ke he Hulu Sungai Sat dikurniakan kepada Raja Abdullah dan kekal memerintah disana.

55.    Pada tahun 1607, wakil Portugis telah berjaya membebaskan 80 orang Portugis yang ditawan oleh Pahang.

56.    Tahun 1607, Belanda (Abraham Van Den Broek)berjaya mengikat perjanjian dagang dengan kerajaan Pahang.

57.   Orang Besar Pahang bergelar Seri Maharaja Lela telah menyambut Admiral Matelief (Cornelis
Matelief de Jonge) diiringi pengawal yang bersenjatakan senapang pemuras pada 7/11/1607.

58.   Kedatangan admiral tersebut jug sebagai mengajak negeri Pahang menentang Portugis di Melaka dan Pahang menyediakan tentera seramai 2000 orang .Admiral tersebut juga diminta untuk menguji Meriam Pahang yang dibuat untuk Raja Seberang (Johor). Orang-orang Pahang telah membuat meriam yang pelurunya daripada batu dan lebih baik dari meriam Jawa namun rendah mutunya berbanding meriam Portugis.

59.   Sultan Abdul Ghafur dan Raja Abdullah mangkat diracun oleh anak kedua baginda Sultan Abdul Ghafur dan kemudiannya menjadi Sultan Pahang (tidak dinyatakan nama). Baginda dikenali sebagai Marhum Pahang dan Raja Abdullah dikenali sebagai Marhum Muda Pahang. Raja Abdullah dimakamkan di Makam Chondong, Pekan Lama yang juga dikenali sebagai Makam Tujuh Beradik.

60.    Isteri dan anak Raja Abdullah dibawa balik ke Perak pada tahun 1614.

61.   Tidak dinyatakan pula siapakah anak-anak Sultan Abdul Ghafur bersama kedua isterinya selain dari Raja Abdullah.