Tampilkan postingan dengan label Arabic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arabic. Tampilkan semua postingan

Ihya' Ulumuddin al-Ghazali di Nusantara dan Dunia


Kitab Ihya' Ulumuddin atau Al-Ihya' (The Revival of the Religious Sciences) merupakan kitab yang membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa (Tazkiyah an-Nafs) yang membahas perihal penyakit hati, penentramnya atau pengobatannya, dan mendidik hati. Kitab ini merupakan karya yang paling terkenal dari Imam Al-Ghazali. Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.

Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. (?) Gelar dia al-Ghazali ath-Thusi, tempat kelahirannya di Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia (Iran). Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa dia bermazhab Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh.  Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah / 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.

Kitab Ihya' Ulumudin memiliki tema utama tentang kaidah dan prinsip dalam penyucian jiwa yakni menyeru kepada kebersihan jiwa dalam beragama, sifat takwa, konsep zuhud, rasa cinta yang hakiki, merawat hati serta jiwa dan sentiasa menanamkan sifat ikhlas di dalam beragama. Kandungan lain dari kitab ini berkenaan tentang wajibnya menuntut ilmu, keutamaan ilmu, bahaya tanpa ilmu, persoalan-persoalan dasar dalam ibadah seperti penjagaan thaharah (kesuciaan) dan shalat, adab-adab terhadap al-Qur'an, dzikir dan doa, penerapan adab akhlak seorang muslim di dalam pelbagai aspek kehidupan, hakikat persaudaraan (ukhuwah), obat hati, ketenangan jiwa, bimbingan memperbaiki akhlak, bagaimana mengendalikan syahwat, bahaya lisan, mencegah sifat dengki dan emosi, zuhud, mendidik rasa bersyukur dan sabar, menjauhi sifat sombong, ajakkan sentiasa bertaubat, pentingnya kedudukan tauhid, pentingnya niat dan kejujuran, konsep mendekatkan diri kepada Allah (muraqabah), tafakur, mengingati mati dan rahmat Allah, dan mencintai Rasulullah

Namun demikian, walaupun kitab ini fenomenal bukan berarti tidak memiliki kritikan terhadap isinya. Hal ini menunjukkan tidak ada manusia yang semurna, Imam Ghazali merupakan seorang ulama namun dia bukanlah seorang yang pakar dalam bidang hadits, sehingga ikut tercantumlah hadits-hadits tidak ditemukan sanadnya, berderajat lemah maupun maudhu. Hal ini menyebabkan banyak ulama dan para ahli hadits yang kemudian berupaya meneliti, memilah dan menyusun ulang terhadap takhrij hadits yang termuat di dalam Ihya Ulumuddin. Di antaranya  Imam Ibn al-Jauzi, Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Abu Bakr Muhammad bin al-Walid Ath-Thurthuusyi, Adz-Dzahabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Ibn Aqil al-Hanbali, dan lainnya. Bahkan Ibn al-Jauzi mengarang kitab mukhtasar untuk memperbaiki [melengkapi] kitab ini dengan Minhajul Qashidin wa Mufidush Shadiqin. (klik di sini untuk PDF) 

Akan tetapi, juga banyak ulama lainnya yang memuji kitab ini seperti Imam Nawawi, Imam Abdullah Al-‘Idrus dan anaknya Syeikh Abdul Qadir Al-‘Idrus, dan Syeikh Ismail bin Muhammad al-Hadrami. Bahkan kini memiliki organisasi dan website sendiri untuk eksistensi kitab dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalam kitab ini. Websitenya: http://www.ghazali.org

Bahkan beberapa kajian kitabnya sudah dicetak berkali-kali dan ditranslite dalam beragam bahasa, seperti Inggris, Perancis, Jerman, Turki, Bengali, Indonesia, Urdu, dan lainnya.
Untuk lihat naskah-naskah (kitab) dalam beragam bahasa klik di sini: http://www.maktabah.org/en/item/59-ihya-ulum-al-din-by-imam-ghazali



Referensi:
dari berbagai sumber.
http://www.ghazali.org
http://www.maktabah.org/en/item/59-ihya-ulum-al-din-by-imam-ghazali
http://www.wikipedia.org
https://generasisalaf.wordpress.com/2014/05/21/pembelaan-terhadap-kitab-ihya-ulumiddin-imam-ghazali/





4000 Manuskrip Penting di Al-Qarawiyyin University

Setelah 1157 tahun bersemanyam salah satu perpustakaan tertua di dunia dibuka untuk umum, terletak di Fez, Maroko, tepatnya di al-Qarawwiyin University. Perpustakaan kini terus mendapat renovasi dan mempercantik diri, kini tampilannya menunjukkan keangungan Islam di sana, terutama untuk memamerkan koleksi-koleksi baru untuk dunia, khususnya peneliti, pelajar dan masyarakat umum.

"Koleksi emas" yang dimiliki koleksi ini adalah, mushaf al-Qur'an abad ke-9 Masehi yang masih ditulis dengan khat Kufi (Kaufi), salah satu bentuk khat (tulisan) kaligrafi paling tua dan terawal yang digunakan periode pra-Islam dan pada masa Rasulullah.

Mushaf al-Quran tulisan khat Kufi pada abad ke-9 Masehi

Sepertinya, jika melihat lembaran yang ditampilkan di websitenya, mushaf ini merupakan kitab "salinan" terawal yang masih menggunakan titik satu dan titik dua di beberapa huruf hijaiyyah, tetapi belum digunakan titik tiga. Selain itu, ini merupakan bukti konkret tentang penjilidan dan penyebaran Islam di benua Afrika, termasuk penulisan-penulisan kitab suci dalam bentuk aslinya.

Selain itu, naskah asli "Muqaddimah" Ibnu Khaldun juga tersimpan di sini. Nama lengkapnya, Abu Zayd 'Abdurrahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (lahir 27 Mei 1332 - meninggal 19 Maret 1406), adalah seorang sejawran muslim dari Tunisia dan mendapat julukan bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. karya terkenalnya adalah "Muqaddimah".

Kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun, intelektual Muslim terkenal di dunia


Menurut beberapa sumber, mesjid dan universitas al-Qarawiyyin telah dijadikan sebagai "Muslim Heritage" karena masih menyimpan originalitas seni hias dan arsitektur Islam pada masa lampau. Selain itu, universitas ini juga menyimpan 4000 manuskrip dalam berbagai bidang keilmuan, baik karya-karya ulama atau intelektual Islam terkenal ataupun karya-karya lainnya yang tidak diketahui (anonim). Demikian juga menyimpan beberapa koleksi utama sebagai "warisan" Islam yang sangat berharga.

Setelah sebulan dibuka untuk umum, perpustakaan dan museum ini para pengunjungnya membludak.
Lihat beberapa tampilannya klik disini 




Reseources:
  http://www.techinsider.io
  - http://www.fez-guide.com
  - http://www.muslimheritage.com

Ithaf Ad-Dhaki dan al-Mawahib al-Mustarsilah untuk At-Tuhfah al-Mursalah (Bagian 2)

Tulisan bagian kedua ini sebagian besarnya saya kutip dari buku Itḥāf al-Dhakī, Oman Fathurahman. Walaupun ada perbedaan transliterasi dan tambahan di beberapa bagian dari saya, sesuai dengan konteks pembahasan yang dimaksud.

Kitab Itḥāf al-Dhakī (Ithaf ad-Dhaki bi Sharh at-Tuhf ah al-Mursalah ila an-Nabi SallaAllahu ‘Alayhi wa-Sallama) (artinya: Sebuah Persembahan kepada Jiwa yang Suci: Penjelasan atas Kitab yang dipersembahkan kepada Nabi saw.) Kitab tersebut merupakan salah satu karya keagamaan di bidang tasawuf dan kalam yang ditulis oleh Ibrahim ibn Hasan al-Kurani as-Shahrazuri as-Shahrani al-Kurdi al-Madani as-Shafi’i (1616-1690), lebih dikenal Ibrahim al-Kurani. 

Seperti dimaksud oleh pengarang kitab, dalam judulnya, Itḥāf al-Dhakī merupakan sebuah komentar (sharh) atas kitab lain berjudul At-Tuhfah al-Mursalah ila an-Nabi Salla Allahu ‘Alayhi wa-Sallama (selanjutnya disebut at-Tuhfah al-Mursalah). Kitab yang disebut terakhir ini ditulis oleh Fadlullah al-Hindi al-Burhanpuri (w. 1619), pada tahun 1590, berkaitan dengan doktrin martabat tujuh yang sempat sangat populer di kalangan masyarakat Muslim di dunia Melayu-Indonesia. 

Meskipun awalnya ditulis untuk memenuhi permintaan sebagian dari Jamaah al-Jawiyyin tersebut, akan tetapi nyatanya Ithaf ad-Dhaki telah ‘memikat hati’ kalangan pembaca dari kawasan dunia Islam lain (Johns 1978: 481), dan dikutip misalnya dalam sebuah teks tasawuf berpengaruh asal Afrika Barat berjudul Kitab Rimah Hizb ar-Rahim, karangan al-Hajj ‘Umar (Bruinessen 1998: 92). 

Sebagaimana terdapat dalam oxordium (pembukaan) teks naskah yang sekaligus merupakan penjelasan atas latar belakang ditulisnya Itḥāf al-Dhakī. Syukurnya, al-Kurani menyebutkan secara spesifik Jama'ah al-Jawiyin serta dinamika sosial-keagamaan yang terjadi di dunia Melayu-Indonesia sebagai konteks ditulisnya Ithaf ad-Dhaki, karena saat ini catatan tersebut menjadi salah satu informasi penting dan langka berkaitan dengan keberadaan, aktifitas keilmuan, serta saling-silang hubungan komunitas Muslim Nusantara dengan guru-gurunya di Haramayn pada abad ke-17.

MS Arab. 250. Collected at Houghton Library, Harvard University, Cambridge
Terjemahan bebas dari bahasa Arab sebagai berikut:
"Amma ba'du, kami telah menerima kabar dari sekelompok orang Jawi (Jama‘at al-Jawiyin) bahwa di kalangan masyarakat ‘Jawah’ telah tersebar sebagian kitab tentang ilmu hakikat dan ilmu tasawuf, yang dipelajari dan  diajarkan oleh para pencinta ilmu, tapi tanpa memahami terlebih dahulu syariat Nabi yang terpilih, (Muhammad), saw; bahkan tanpa memahami ilmu hakikat yang diberikan kepada orang-orang yang menempuh jalan Allah Taala… Hal inilah yang menyebabkan sebagian dari mereka tergelincir dari jalan yang benar, menyesatkan akidah, bahkan terjerumus ke dalam perbuatan kafir (zindiq) dan sesat (ilhad)…"

"…beberapa dari jama‘at al-jawiyin meminta kepada diriku yang tak berilmu ini untuk menulis sebuah komentar (sharh}) atas kitab tersebut, agar dapat menjelaskan kesesuaian masalah-masalah (yang dibahas) didalamnya dengan prinsip-prinsip dasar agama, yang diperkuat dengan dalil-dalil dari Kitab yang mulia serta Sunnah (tuntunan) pemimpin para nabi… Permintaan ini diajukan beberapa kali dalam beberapa tahun oleh lebih dari satu orang dari kalangan jama‘at al-jawiyin tersebut……dan aku namai kitab ini Itḥāf al-Dhakī bi-Sharh at-Tuhfah al-Mursalah ila an-Nabi saw."

Hingga saat ini, jumlah salinan naskah Ithaf ad-Dhaki yang telah diketahui keberadaannya di berbagai perpustakaan di seluruh dunia adalah sebanyak 30 buah. di antaranya tersimpan paling banyak di Istambul Turki (9 naskah), kemudian di King Faisal Ccenter for Islamic Manuscript di Saudi Arabia (5 naskah), Dar Kutub Library Kairo dan Maroko (masing-masing 2 naskah), Perpustakaan Berlin, Harvard, Damaskus, India, Leiden, Libya, London, Pakistan, Birmingham, Cologne dan Tokyo (masing-masing 1 naskah). 

Penanggalan paling tua berkaitan dengan penulisan naskah Ithaf ad-Dhaki ini terdapat dalam salah satu salinan naskah bernomor MS 820 koleksi Fazil Ahmed Pasa, Perpustakaan Köprülü Istanbul, yang menyebutkan bahwa Ithaf al-Dhaki mulai ditulis pada hari Ahad 30 Rabi‘ al-Awwal 1076 H/20 September 1665 M, dan selesai pada awal Jumada al-Akhir pada tahun yang sama. Kalaupun angka tersebut bukan merupakan tahun penulisan oleh al-Kurani, melainkan tahun penyalinan oleh seorang penyalin, setidaknya patut diduga bahwa MS 820 ini adalah salinan terdekat dari naskah aslinya yang mungkin ditulis beberapa tahun sebelumnya.

Perlu dicatat bahwa Abdurrauf As-Singkili sudah berada di Aceh pada tahun 1661 M/1072 H, ia berkiprah dan mengembangkan pendidikan agama di Zawiyah Menara, di Kuala Aceh, Banda Aceh sejak awal kepulangannya. Dan beberapa saat itu, ia telah mengemban banyak tugas seperti menulis kitab Fiqh Mir'atul Thullab atas permintaan Sultanah Safiyatuddin Syah Tajul Alam.   

Ithaf ad-Dhaki memang bukan satu-satunya sumber Arab tertulis yang mengisyaratkan pernah terjadinya kontak intelektual dalam bentuk ‘tanya jawab’ antara jama‘ah al-jawiyin dengan para ulama terkemuka di Haramayn. Ibrahim Al-Kurani sendiri diketahui pernah menulis karya lainnya berjudul al-Jawabat al-Garawiyah ‘an al-Masa’il al-Jawiyah al-Jahriyah. Judul karya ini mengisyaratkan bahwa di dalamnya terdapat jawaban-jawaban al-Kurani terhadap berbagai masalah keagamaan yang diduga kuat ditanyakan oleh jama‘ah al-jawiyin. Sayangnya, sejauh ini belum ada informasi yang menyebutkan di mana salinan naskah karya tersebut berada.

Kontak intelektual antara Muslim Melayu-Nusantara melalui tradisi tanya jawab masalah keagamaan ini tidak dimulai pada masa Ibrahim al-Kurani beserta kolega atau muridnya. Setidaknya kitab berjudul al-Mawahib ar-Rabbaniyyah ‘an as-As’ilah al-Jawiyah mengindikasikan tentang wilayah Jawi yang dibahas di atas. Kitab ini diduga kuat ditulis lebih awal beberapa tahun oleh Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Allan as-Siddiqi (1588-1647) sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ‘titipan’ dari penguasa Kesultanan Banten, yakni Pangeran Ratu yang bergelar Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdul Qadir (1626-1651). Pertanyaan-pertanyaan ini dibawa oleh delegasi khusus Muslim Banten yang datang ke Makkah pada tahun 1638 M. Dalam al-Mawahib al-Rabbaniyyah tergambar bahwa Sultan Abdul Qadir meminta penjelasan dari Ibn ‘Allan berkaitan dengan karya al-Ghazali yang berjudul Nasihat al-Muluk.

Judul Al-Mawahib ar-Rabbaniyyah tentu mengingatkan kita pada kitab karya Abdurrauf Al-Fansuri berjudul Al-Mawahib Al-Murtarsilah (bagian 1) yang membahas tentang ontologis ketuhanan dan alam dalam pandangan sufistik (tarekat) dan syariat. Akan tetapi, kitab Abdurrauf al-Fansuri menunjukkan jelas terhadap syarah kitab at-Tuhfah al-Mursalah, sebagaimana kitab gurunya Ibrahim al-Kurani yang sama-sama menguraikan kitab at-Tuhfah al-Mursalah karya Fadlullah al-Hindi al-Burhanpuri. Walaupun dalam kenyataannya, Ithaf al-Dhaki lebih dari sekedar komentar terhadap al-Tuhfah al-Mursalah, karena pengantarnya sendiri, yang mengandung penjelasan Ibrahim al-Kurani tentang konseptualisasi tasawuf dan pengalaman para Sufi. 

Tidak tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa kandungan karya Abdurrauf al-Fansuri merupakan transformasi pemikiran yang rekonsiliatif melalui pendekatan yang argumentatif terhadap berbagai isu utama dalam pemikiran teologis dan sufistis, yang dideskripsikan sesuai dengan konteks masyarakat setempat, oleh karena itu lahirnya kitab al-Mawahib al-Mustarsilah merupakan transformasi dari Ithaf ad-Dhaki untuk mendeskripsikan kitab at-Tuhfah al-Mursalah. Hal tersebut tampak pada kecenderungan Ibrahim al-Kurani untuk menampilkan gagasannya dengan tetap mendasarkan pada norma-norma keilmuan tradisional, pada gilirannya telah sangat membekas pada kecenderungan keilmuan sejumlah muridnya, termasuk Abdurrauf al-Fansuri.

Manhaj Imam Ibnu Majah Tartib Bab Dalam Sunannya (منهج ابن ماجه في ترتيب أحاديثه )

( منهج ابن ماجه في ترتيب أحاديثه )

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين ,
أما بعد:-
فهذا بحث أقدمه بين يديكم بعدما استقرأ مني وقتاً طويلاً , وجهداً بليغاً , وسهراً واستقراءً شاقاً, وذلك لأن سنن ابن ماجه لم تخدم كمال الخدمة كما سيذكر بعد قليل , ولقد جعلني استقرائي وبحثي أضيف في بحثي مما ليس منه ولعلي أوفر جهد غيري في بعضه رغبة في النفع والفائدة , ومع ذلك فإن جهدي قاصر أمام عيني , والله اسأل أن يزيدنا من فضله , ويبارك لنا في عملنا , إنه ولي ذلك والقادر عليه , ورحم الله كاتبه وقارئه وناشره.

&ابن ماجه :-هو الإمام أبو عبد الله محمد بن يزيد بن ماجه الربعي القزويني الحافظ ، ولد سنة 209هـ , وتوفي سنة 273 هـ .
ابن ماجه كأصحاب السنن الثلاثة لم يشترط في كتابه أيراد الحديث الصحيح فقط , بل أدرج فيها الصحيح والحسن والضعيف , ووقعت له بضعة أحاديث موضوعة لا يصح نسبتها إلى النبي صلى الله عليه وسلم .
بدأ المؤلف في مقدمة كتابة ( باب إتباع السنة ) وأدرج معها 26 باباً تضمنت الكلام على اتباع السنة ونبذ البدع والتمسك بالآثار واطراح الرأي , كما تضمنت باباً كبيراً في فضائل الصحابة , فبدأ بالصديق ثم باقي الخلفاء الأربعة ثم باقي العشرة ثم باقي الصحابة , وقد أتت هذه الفضائل مرتبة تحت عناوين فرعية , فيقول : ( فضائل فلان ) , ثم ختم هذا الكتاب بعدة أبواب في فضائل العلم .
أول ما بدأ به , حديث :-
- (صحيححدثنا أبو بكر بن أبي شيبة قال حدثنا شريك عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( ما أمرتكم به فخذوه . وما نهيتكم عنه فانتهوا ) .
قال السيوطي في شرح سنن ابن ماجه : ((وهذا أحسن بالترتيب حيث بدأ بأبواب اتباع السنة إشارة الى ان التصنيف في جمع السنن أمر لا بد منه وتنبيها للطالب على أن الاخذ بهذه السنن من الواجبات الدينية ثم عقب هذه الأبواب أبواب العقائد من الإيمان والقدر لأنها أول الواجبات على المكلف ثم عقب بفضائل الصحابة لأنهم مبلغوا السنن إلينا فما لم يثبت عدالتم لا يتم لنا العلم بالسنن والاحكام ))

ثم شرع المؤلف بعد ذلك يسوق الكتب : كتاب الطهارة – وقد أفرد تحته أبوب التيمم – ثم كتاب الصلاة , ثم كتاب الأذان , ثم كتاب المساجد , .... , وختم بكتاب الزهد – وختم فيه باب صفة أهل الجنة – رجاء أن يدخله الله بعمله هذا الجنة – وآخره ذكر حديث:-
- ( صحيححدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وأحمد بن سنان قالا ثنا أبو معاوية عن الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( مامنكم من أحد إلا له منزلان منزل في الجنة ومنزل في النار . فإذا مات فدخل النار ورث أهل الجنة منزله . فذلك قوله تعالى أولئك هم الوارثون ) .
& السبب الرئيسي لإدخال سنن ابن ماجةفي الأصول هو دقة ترتيبه وكثرة أبوابهوعدم تكرار الأحاديث فيه ، فهو يشبه صحيح مسلمفي عدم تكرار أحاديثه .
ثلاثيات ابن ماجه-:
وعددها5، وكلها من طريق شيخه جبارة بن مغلس ، ولولا ضعف شيخه جبارةلارتفعت منزلة سننه بهذه الثلاثيات ، ولكنها كلها لا تصح لأنها جاءت من هذهالطريق الضعيفة ، وكلها جاءت بإسناد واحد من طريق جبارة بن مغلس عن كثيربن سليم عن أنس رضي الله عنه .
وهو يروي عن شيوخه بصيغة "حدثنا" ,كما في الأمثلة التي ستذكر .
كما يلاحظ أن ابن ماجة كان إذا كررالحديث فإنما يكرره في الباب نفسه لبيان اختلاف في السند أو المتن، ولتتقوىالأحاديث في الموضوع الواحد , مثال :-
باب التغليظ في تعمد الكذب على رسول الله صلى الله عليه و سلم
- (صحيححدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وسويد بن سعيد وعبد الله بن عامر بن زرارة وإسماعيل بن موسى قالوا حدثنا شريك عن سماك عن عبد الرحمن بن عبد الله بن مسعود عن أبيه قال
: - قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار) .
- (صحيح) حدثنا أبو خيثمة زهير بن حرب حدثنا هشيم عن أبي الزبير عن جابر قال
: - قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار) .
وأيضاً تميز ابن ماجه بفقهه, وترجم الباب بما استنبطه من الأحاديث , ولعله فاق غيره من أصحاب السنن في ذلك , ومن ذلك :-
في باب الرجل يستعين على وضوئه فيصب عليه :-
- ( صحيححدثنا هشام بن عمار . حدثنا عيسى بن يونس . حدثنا الأعمش عن مسلم بن صبيح عن مسروق عن المغيرة بن شعبة قال : - خرج النبي صلى الله عليه و سلم لبعض حاجته . فلما رجع تلقيته بالإداوة . فصببت عليه فغسل يديه ثم غسل وجهه ثم ذهب يغسل ذراعيه فضاقت الجبة فأخرجهما من تحت الجبة . فغسلها ومسح على خفيه ثم صلى بنا .
وقد يورد ترجمة الباب بصيغة السؤال, فيقول :-
باب الرجل يستيقظ من منامه هل يدخل يده في الإناء قبل أن يغسلها ؟
- ( صحيح ) حدثنا عبد الرحمن بن إبراهيم الدمشقي . حدثنا الوليد بن مسلم . حدثنا الأوزاعي . حدثني الزهري عن سعيد بن المسيب وأبي سلمة بن عبد الرحمن أنهما حدثاه أن أبا هريرة كان يقول
: - قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( إذا استيقظ أحدكم من الليل فلا يدخل يده في الإناء حتى يفرغ عليها مرتين أو ثلاثا فإن أحدكم لا يدري فيم باتت يده ) .

& وقد ذكر الدكتور عبد العزيز عزت في رسالته (الإمام ابن ماجة صاحب السننإعتناء ابن ماجةبتبيين الغرائب في كتابه :
وصنيع ابن ماجةفي هذا الموضع يشبه صنيع الترمذي، الذي حكم على أحاديثخرجها في جامعه ، بالغرابة والضعف ، ومن أبرز الأمثلة على ذلك :
¨ ما رواه ابن ماجة، في باب العفو عن القاتل ، من طريق أبي عمير عيسى بنمحمد بن النحاس ، وعيسى بن يونس والحسين بن أبي السرى العسقلاني ، قالوا : حدثنا ضمرة بن ربيعة عن ابن شوذب عن ثابت البنانيعن أنس رضي الله عنه قال : أتى رجل بقاتل وليه إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال النبي صلىالله عليه وسلم : اعف ، … الحديث ، فقد علق ابن ماجة، بقوله : هذا حديثالرمليين ليس إلا عندهم ، فهو ينبه على تفرد الرمليين بهذا الحديث ، وفيهذا إشعار بضعف الحديث ولا شك .
¨ ما رواه ابن ماجة، في باب كل مسكر حرام ، من حديث يونس بن عبد الأعلىعن ابن وهب عن خريج بن أيوب بن هاني عن مسروق عن ابن مسعود رضي الله عنهمرفوعا : كل مسكر حرام ، فقد علق ابن ماجةعلى هذا الحديث بقوله : هذاحديث المصريين ، في إشارة منه لتفرد المصريين بهذا الحديث ، بل إنه رواه منطريق علي بن ميمون الرقي عن خالد بن حيان عن سليمان بن عبد الله الزبرقانعن يعلى بن شداد بن أوس عن معاوية رضي الله عنه مرفوعا ، وأشار إلى غرابةهذا الطريق أيضا بقوله : هذا حديث الرقيين .

ورغم نزول سنن ابن ماجةعن بقية الكتب الستة ، من حيث درجة الصحة ، إلا أنهوجد بالإستقراء ، أحاديث في سنن ابن ماجه، في أعلى درجات الصحة ، بلإنها تفوق بعض أحاديث صحيح البخاري،
 ومن أبرز الأمثلة على ذلك :
¨ ما رواه ابن ماجة، في باب ما جاء إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلاالمكتوبة ، من طريق أبي مروان محمد بن عثمان العثماني عن إبراهيم عن سعد عنأبيه عن حفص بن عاصم عن عبد الله ابن مالك بن بحينة رضي الله عنه قال : مرالنبي صلى الله عليه وسلم برجل وقد أقيمت صلاة الصبح وهو يصلي فكلمه بشيءلا أدري ما هو ، فلما انصرف أحطنا به نقول : ماذا قال لك رسول الله صلىالله عليه وسلم ؟ ، قال : قال لي : يوشك أحدكم أن يصلي الفجر أربعا ، فهذاالحديث مروي في صحيح البخاريمن طريق عبد الرحمن عن بهز بن أسد عن شعبة عنسعد بن إبراهيم عن حفص بن عاصم قال : سمعت رجلا من الأزد يقال له مالك بنبحينة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : الحديث ، وإسناد البخاري،كما يقول الدكتور عبد العزيز عزت ، فيه خطآن :
§ الخطأ الأول : أن بحينة ، اسم والدة عبد الله وليست والدة مالك .
§ الخطأ الثاني : أن هذه الرواية عن عبد الله بن مالك رضي الله عنه الصحابيالمشهور ومالك ليس والده فإنه لم يتشرف بالإسلام ، ولا يعني هذا أن حديثالبخاري غير صحيح ، ولكنه ليس في أعلى درجات الصحة .
وأيضاً ما رواه البخاري، في باب مناقب عثمان رضي الله عنه ، في سلسلة إقامة حدالشرب على الوليد بن عقبة رضي الله عنه : ثم دعا عليا فأمره أن يجلد فجلدهثمانين جلدة ، والثابت من الروايات أن الوليد رضي الله عنه جلد أربعين وليسثمانين ، كما ذكر ذلك الحافظفي الفتح ، ولم يذكر ابن ماجةفي روايتهللحديث عدد الجلدات التي جلد بها الوليد رضي الله عنه وبذلك لم ترد علىروايته ما ورد على رواية البخاري .

نموذج من شدة تحري ابن ماجه-:
في باب وقت صلاة المغرب ، روى ابن ماجةمن طريق عياد بن العوام عن عمر بنابراهيم عن قتادة عن الحسن عن الأحنف بن قيس عن العباس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (لا تزال أمتي على الفطرة …) الحديث ،وكتب بعده يقول : إنني سمعت هذا الحديث من محمد بن يحيى ، وكان أهل بغدادفي قلق إزاء هذا الحديث ، ولهذا ذهبت ومعي محمد بن يحيى عند ابن عياد بنالعوام فأخرج لنا أصل النسخة الموجودة عند والده فوجدنا فيها هذا الحديث ،وجدير بالذكر أن الأحنف بن قيسلم يثبت له سماع من العباس رضي الله عنه ،كما ذكر ذلك البخاري .
& قال الشيخ عبدالعزيز الراجحي في شرح سنن ابن ماجه : ((لقد كتبابن ماجةرحمه الله هذه المقدمة العظيمة، وقد اشتملت على مائتين وستة وستين حديثاً،وقد بدأ بأصول الدين، ثم بعد ذلك دخل في الفروع، فبدَأَ -على عادةالمؤلفين في العبادات- بالصلاة والزكاة والصوم والحج، ثم بعد ذلك دخل فيالمعاملات، لكنه بدأ بما يتعلق بالإيمان والتوحيد على طريقة المتقدمين كـالبخاريومسلموغيرهما، فهم يذكرون أولاً ما يتعلق بالتوحيد والعقيدة والإيمان والعلم،ثم بعد ذلك يدخلون في الفروع، ويبدءون بالصلاة، والصلاة أعظم الواجبات،وأعظم الفرائض بعد الإيمان والتوحيد، وبدأ بالطهارة لأن الطهارة شرط لصحةالصلاةأما المتأخرون فإنهم اصطلحوا على أن تبدأ مؤلفاتهم بالطهارة، ويجعلونللتوحيد والإيمان كتباً خاصة، ولكن صنيع المتقدمين أحسن وأولى، كما فعلابن ماجة، حيث بدأ بالإيمان والتوحيد وأصول الدين، وبدأالبخاريبالوحي ثم الإيمان ثم العلم، ومسلمبدأ بكتاب الإيمان .. وهكذاولهذا قال الشيخمحمد بن عبد الوهابرحمة الله عليه: إن طريقة المتأخرين حصل فيها ضرر لكثير من الناس، فإنكثيراً من الناس يدرسون الفروع، وأحكام الفروع، ويبدءون بالطهارة والصلاةوالزكاة والصوم والحج، ثم المعاملات، وينسون ما يتعلق بالتوحيد والإيمان؛ولهذا ضعف كثير من الناس، فهم لا يعرفون التوحيد، وليس عندهم تحقيق، ولايعرف أحدهم الفرق بين توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية والأسماء والصفات؛بسبب أنه يقرأ كتب المتأخرين، والمتأخرون يبدءون كتبهم بكتاب الطهارةوالصلاة ولا يتكلمون عن التوحيد، اكتفاء بأن التوحيد والإيمان له كتب خاصة،وهذا حصل فيه ضرر لكثير من الناس، فطريقة المتقدمين أحسن، حيث يبدأ القارئوالمتعلم بما يتعلق بأصول الدين والتوحيد والإيمان، وإثبات الصفات لله عزوجل، والعلم، ثم بعد ذلك يدخل في أبواب الفروع، في الطهارة والصلاة ونحوذلك )) .
وقال أيضاً: ((وهذا الكتاب يمتاز عن غيره بميزتينالميزة الأولى: المقدمة العظيمة التي ذكرها في أصول الدين والتوحيد وتعظيمالسنة، وذكر فيها ما يقارب من مائتين وسبعة وثلاثين حديثاً، وهذه المقدمةالعظيمة امتاز بها عن بقية أصحاب السنن، فإن سننأبي داودوسننالنسائيوسننالترمذيابتدأها أصحابها بذكر أحكام الطهارة، أماابن ماجهرحمه الله فإنه بدأ سننه بهذه المقدمة العظيمة كما فعل صاحبا الصحيحينالبخاريومسلمرحمهما الله؛ فإنالبخاريبدأ كتابه الجامع الصحيح بكتاب بدء الوحي، ثم بكتاب الإيمان، والإماممسلمافتتح كتابه بكتاب الإيمان، وابن ماجهافتتح بهذه المقدمة العظيمة، وهذه ميزة تميز بها، وهي مقدمة عظيمة تتعلقبالتوحيد وتعظيم السنةالميزة الثانيةالأحاديث الضعيفة الكثيرة، وإذا علمها طالب العلم فإن هذايعتبر بالنسبة له علماً جماً يستفيده، فطالب العلم مستفيد من معرفةالأحاديث الموضوعة والضعيفة، فالأحاديث الضعيفة إذا كان الضعف فيها شديداًفلا يعتبر بها، ولا تقويها المتابعات والشواهد كما إذا كان في سنده متهمبالكذب. أما إذا لم يشتد الضعف فإن طالب العلم يبحث عنه، وإذا وجد للحديثمتابعاً أو شاهداً فإنه يتقوى ويرتقي إلى درجة الحسن لغيره ويعمل به.
يتبع:-والغالب أن الحديث الذي ينفرد بهابن ماجهرحمه الله عن بقية أصحاب السنن يكون ضعيفاً، وهو بين أمرين: إما أن يكونشديد الضعف، وهذا لا يعتد به، وإما أن يكون خفيف الضعف كأن يكون في سندهانقطاع أو مجهول أو راو مدلس، فإذا وجد له متابع أو شاهد يتقوى ويرتقي إلىدرجة الحسن لغيره فيعمل به )) .

& قال ابن طاهر: ولعمري إن كتاب أبي عبد الله ابن ماجه من نظر فيه علم مزية الرجل من حسنالترتيب، وغزارة الأبواب، وقلة الأحاديث، وترك التكرار، ولا يوجد فيه منالنوازل والمقاطيع والمراسيل والرواية عن المجروحين إلا قدر ما أشار إليهأبو زرعة، وهذا الكتاب وإن لم يشتهر عند أكثر الفقهاء، فإن له بالري وماوالاها شأن عظيم، عليه اعتمادهم، وله عندهم طرق كثيرة.

ومن خلال استقراء وتتبع السن يتبين أن ما انفرد به ابن ماجه 1213 حديثاً بالمكرر , منها 98 حديثاً مما صح إسناده , ومنها 113 حديثاً صحيحة بالمتابعات , ومنها 219 تصح بالشواهد , ومنها 58 أسانيدها حسنة , ومنها 42 هي حسنة بالمتابعات , ومنها 65 حسنة بالشواهد , ومنها 6 محتملة للتحسين , ومنها 7 أوردها مرفوعة وصححت موقوفة , ومنها 4 مراسيل , ومنها 348 حديثاً كلها ضعاف , ومنها 148 حديثاً ضعيفة جداً , ومنها حديث واحد شاذ باللفظ الذي ساقه المصنف , ومنها 21 منكراً وموضوعاً , ومنها 11 لم نجزم بالحكم عليها .
-ويظهر من هذا الإحصاء أن مجموع الأحاديث الصحيحة والحسنة , لذاتها ولغيرها , التي انفرد بها ابن ماجه عن الكتب الخمسة بلغت 600 حديث , وهي تساوي نصف ما انفرد به تقريباً .
وهذه النتيجة من خلال الدراسة الدقيقة ترد على قول من قال أن كل ما انفرد به ابن ماجه عن الكتب الخمسة فهو ضعيف .

& قال ابن كثير : (( صاحب السنن المشهورة , وهي دالة على علمه وعمله , وتبحره وإطلاعه , وإتباعه للسنة في الأصول والفروع , ويشتمل على 32 كتاباً , وعلى 1500 باب , وعلى 4000 حديث كلها جياد سوى اليسيرة )) . البداية والنهاية
وقال: (( وهو كتاب مفيد قوي التبويب في الفقه )) . اختصار علوم الحديث

وقال ابن حجر : (( وكتابه السنن جامع جيد كثير الأبواب والغرائب )) .
وقال ابن حجر في النكت : (( كتاب ابن ماجه تفرد فيه بإخراج أحاديث عن رجال متهمين بالكذب وسرقة الأحاديث وبعض تلك الأحاديث لا تعرف إلا من جهتهم مثل : حبيب بن أبي حبيب كاتب مالك , والعلاء بن زيدل , وداود بن المحبر , وعبد الوهاب بن الضحاك , وإسماعيل بن زياد السكوني , وعبد السلام بن أبي الجنوب , وغيرهم ))
قال محمد مطر الزهراني في تدوين السنة : (( سنن ابن ماجه انحطت رتبته عن الخمسة لتساهله في أحاديث قوم من المجاهيل والمتهمين، بل وفيهم بعض الكذابين )) .

& قال الشيخ عبدالكريم الخضير في مقارنته بين الكتب الستة : ((يقول ابن الأثير: "كتابه كتاب مفيد قوي النفع في الفقه؛ لكن فيه أحاديث ضعيفة جداًبل منكرة"، فيه حديث موضوع في فضل قزوين، يقول: "حتى نقل عن الحافظ المزي أن الغالبفيما تفرد به الضعف، ولذا لم يضفه غير واحدٍ إلى الخمسة، بل جعلوا السادس الموطأ" وفي الكتاب من حسن الترتيب وسرد الأحاديث بالاختصار من غير تكرار، ليس في أحدٍ منالكتب )) .
- وقال أيضاً: ((وعلى كل حال فالكتاب ما زال بحاجة إلى خدمة، كتاب ابن ماجه لا زال بحاجةٍ إلى خدمة،تتجه أولاً إلى الأسانيد ودراستها دراسةً وافية لتمييز الثابت من غيره، ثم تشرحالأحاديث شرحاً وافياً مبسوطاً؛ لأن الكتاب كما تقدم ذكره جيد في السبك، حسنالترتيب، عالي الأسانيد )) .

& قال أبو زرعة لإبن ماجه:- (( لعله لايكون فيه تمام ثلاثين حديثاً مما في إسناده ضعف )) ,
- قال الذهبي معلقاً , في السير : (( قولأبي زرعة إن صح فإنما عنى بالثلاثين الأحاديث المطروحة الساقطة، وأما الأحاديث التيلا تقوم بها حجة فكثيرة، لعلها نحو الألف )) .

& قال الشيخ عبدالكريم الخضير: ((ابن ماجه -رحمه الله تعالى- كتابه سنن، يعني يُعنى بأحاديث الأحكام، لكنه قدم للكتاب بمقدمة شاملة وافية في بيان السنة، وأهمية السنة، والرد على المبتدعة )) وقال : ((وتراجمه مفيدة تدل على قوةٍ في فقهه )) .



قال د. سعد بن ناصر الشثري : ((وتراجم الإمام ابن ماجه على أنواع :
النوع الأول: ما ليس له علاقة مباشرة بالأحكام الشرعية ، ومن أمثلة ذلك : (باب في بدء الإيمان) ، و (باب في القدر).
النوع الثاني: التراجم التي تساق على جهة الاستفهام والسؤال ، مثل قوله : (باب الرجل يستيقظ من منامه هل يدخل يده في الإناء قبل أن يغسلها ؟) ، و (باب الأرض يصيبها البول كيـف تغسـل؟) ، و (بـاب فـي الحـائـض كيـف تغتسل ؟) ، و (باب أين يجوز بناء المساجد ؟).
النوع الثالث : التراجم التي يفهم الحكم منها عند قرنها بما وضع تحتها مثل : (باب من سن سنة حسنة) ، و (باب تغطية الإناء) ، و(باب الاستنجاء بالحجارة) ، و (باب ما يقول الرجل إذا دخل الخلاء) ، و(باب الوضوء بالنبيذ).
النوع الرابع: التراجم التي صرحت بالحكم منسوبا لقائل ، سواء كان هذا القائل معروفا أو ليس بمعروف ، مثل قوله : (باب من كره أن يوطأ عقباه) ، و (باب من دلك يده بالأرض بعد الاستنجاء) ، و (باب من كان لا يرفع يديه في القنوت) )) أ.هـ رسالة في آراء ابن ماجه الأصولية.
وكتم منهجه في كتابه أنه رتبه على كتب وأبواب , حيث يشتمل على مقدمة وعلى 37 كتابا , وعلى 1500 باب , تضم 4341 حديثاً , ومنها 3002 اشترك معه في تخريجها أصحاب الكتب الخمسة , وانفرد بتخريج 1329 حديثاً وهي الزوائد منها 428 حديث صحيح الإسناد , 119 حديث حسن الإسناد , وهذا ما أشار إليه ابن حجر بقوله (( أنه انفرد بأحاديث كثيرة صحيحة )) .
وقد أحسن ابن ماجه وأجاد حينما بدأ بباب أتباع سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم , وساق فيه أدلة حجية السنة , ووجوب اتباعها والعمل بها . أ.هـ
قال الذهبي : (( سنن أبي عبدالله كتاب حسن لولا ما كدره بأحاديث واهية ليست بالكثيرة )) .
وقال ابن حجر : (( كتابه في السنن جامع جيد , كثير الأبواب والغرائب , وفيه أحاديث ضعيفة جداً حتى بلغني أن السري كان يقول : مهما انفرد بخبر فيه هو ضعيف غالباً . وليس الأمر على إطلاقه باستقرائي , وفي الجملة ففيه أحاديث منكرة , والله تعالى المستعان , ثم وجدت بخط الحافظ شمس الدين محمد بن علي الحسيني ما لفظه سمعت شيخنا الحافظ أبا الحجاج المزي يقول كل ما انفرد به ابن ماجة فهو ضعيف يعني بذلك ما انفرد به من الحديث عن الائمة الخمسة انتهى ما وجدته بخطه ولهو القائل يعني وكلامه هو ظاهر كلام شيخه لكن حمله على الرجال أولى وأما حمله على احاديث فلا يصح)) أ.هـ في التهذيب .
وقال ابن كثير: ((وقد حكى عن أبي زرعة الرازي أنه انتقد منها بضعة عشر حديثا ربما يقال إنها موضوعة أو منكرة جدا )) أ.هـ البداية والنهاية .

هذا الكتاب من مميزاته التي ذكرت وحمدت له أنه حسن الترتيب ، وسرد الأحاديث فيه باختصار من غير تكرار .
قدموا سنن ابن ماجه ؛ لأنها متضمنة للحديث المرفوع ولجودة ترتيبها ولجودة سياقه للأحاديث واختصاره للمتون ، ولبعض الجوانب قدمت سنن ابن ماجه مع ما فيه من الأحاديث الضعيفة ، بل حتى الموضوعة ، ويذكر الحافظ الذهبي أن هذا هو الذي حطّ قيمة سنن ابن ماجه عن بقية الكتب الستة ، وإلا ففيها جوانب يمكن أن تفضل بها هذه السنن على غيرها.
& القول بأن كل ما انفرد به ابن ماجه رحمه الله فهو ضعيف من الخطأ الشائع في أوساط طلبة العلم وسبب ذلك عدم التحرير والتحليل العلمي لأقوال أهل العلم وعرضها على ميزان الواقع وسبب هذا الخطأ اعتماد بعض أهل العلم على قول المزي رحمه الله وغيره : ((كل ما انفرد به عن الخمسة[البخاري،مسلم،أبوداود،الترمذي،النسائي] فهو ضعيف ))
وقد فهموا من عبارة المزي أنه يريد ما انفرد به من الحديث وهو خطأ لا يمكن أن يقع فيه المزي وهو الخبير بسنن ابن ماجه حينما سبر أطرافها وضمنها في كتابه القيم (تحفة الأشراف بمعرفة الأطراف) الذي رتب فيه أطراف الكتب الستة على أسماء الصحابة.
وقد نبه الحافظ المحقق ابن حجر العسقلاني على ذلك الخطأ في فهم مراد المزي رحمه الله فقال في كتابه(تهذيب التهذيب9/531_532) : حمله على الرجال أولى وأما حمله على الأحاديث فلا يصحانتهى

وأيضاً هذه دراسة أخرى غير دراسة شعيب الأرنؤؤط السابقة , وإليك أخي هذه الدراسة التي قام بها الشيخ محمد فؤاد عبد الباقي الذي قام بتحقيق كتاب ابن ماجه والحكم على أحاديثه فقد ذكر في آخر الجزء الثاني من تحقيقه ذاك في ص1519_1520:
- أن ابن ماجه رحمه الله تعالى قد انفرد بـ1339حديثاً
- الصحيح منها 428حديثاً
- والحسن 199حديثاً
- أما الضعيف فبلغ 613حديثاً
- والواهي والمنكر والموضوع 99حديثاً
تنبيه :-
ومن الأمور التي يحسن التنبيه عليها بالنسبة لسنن ابن ماجه أن بعض الناس يظن أن جميع الأحاديث المروية قي هذا الكتاب المطبوع المتداول بأيدي الناس من رواية ابن ماجه ، والحقيقة أن هناك بعض الزيادات التي زادها أبو الحسن القطان الذي هو الراوي للسنن عن ابن ماجه ، فقد زاد على كتاب ابن ماجه .


Bilangan Mazhab Fiqh Yang Pernah Wujud_تعداد لمذاهب أئمة الإسلام الفقهية



فهذا تعداد لمذاهب أئمة الإسلام الفقهية، ذكره عبد الوهاب بن أحمد الشعراني (ت 973 هـ) في 
كتابه " الميزان الشعرانية المدخلة لجميع أقوال الأئمة المجتهدين ومقلّديهم في الشريعة المحمديّة " (1/52)، حيث أورد مثالاً للشريعة المحمديّة ومذاهبها الفقهية قال فيه " مثال عين الشريعة المطهّرة التي يتفرّع منها كل قول من أقوال المجتهدين ومقلّديهم إلى يوم القيامة، ومثال مذاهب جميع المجتهدين المندرسة والمستعملة مثال الخطوط الشارعة إلى العين الوسطى في سائر الجوانب "، وقال الشعراني : " فمن تأمّل في ذلك عرف ما أردناه بقولنا إنه ليس مذهب أولى بالشريعة من مذهب لرجوعها كلّها إلى عين واحدة " .
وها هي مذاهب المجتهدين التي ذكرها

مذهب عبد الله بن مسعود   ( ت 32 هـ
مذهب عائشة رضي الله عنها ( ت 57 هـ
مذهب عبد الله بن عمر   ( ت 73 هـ
مذهب عمر بن عبد العزيز بن مروان بن الحكم ( ت 101 هـ
مذهب مجاهد ( ابن جبر، توفي بعد المئة هجرية بقليل
مذهب الشعبي ( عامر بن شراحيل، توفي بعد المئة هجرية بقليل
مذهب عطاء ( ابن أبي رباح، ت 114 هـ
مذهب الأعمش ( سليمان بن مهران، ت 147 أو 148 هـ
مذهب الإمام أبي حنيفة ( النعمان بن ثابت، ت 150 هـ
مذهب سفيان الثوري ( ت 161 هـ
مذهب الإمام الليث ( ابن سعد، ت 175 هـ
مذهب الإمام مالك ( ابن أنس، ت 179 هـ
مذهب سفيان بن عيينة ( ت 198 هـ
مذهب الإمام الشافعي ( محمد بن إدريس، ت 204 هـ
مذهب إسحاق ( ابن إبراهيم بن راهويه، ت 238 هـ
مذهب الإمام أحمد ( ابن حنبل، ت 241 هـ
مذهب الإمام داود ( ابن علي الظاهري، ت 270 هـ
مذهب محمد بن جرير ( الطبري، ت 310 هـ

انتهى

قال أبو معاوية البيروتي- عفا الله عنه - : فات الشعراني ذكر مذهب الإمام عبد الرحمن بن عمرو الأوزاعي ( ت 157 هـ )، قال الذهبي في سير أعلام النبلاء (7/117) : " كان للأوزاعي مذهب مستقل عمل به فقهاء الشام مدّة، وفقهاء الأندلس مدّة، ثم فني "، وقال عبد الباسط الفاخوري في " تحفة الأنام مختصر تاريخ الإسلام " (ص 82) : " وقد بقي أهل الشام وما يليها وأهل الأندلس يتعبّدون على مذهبه نحو مئتين وعشرين سنة "

قال الذهبي في سير أعلام النبلاء ( 8/91 ) - بعد أن ذكر أئمة التابعين ومن أتى بعدهم، وذكر أصحاب المذاهب الفقهيّة السابق ذكرهم - :

ثم من بعد هذا النمط تناقص الاجتهاد، ووُضِعَت المختصرات، وأخلد الفقهاء إلى التقليد من غير نظر في الأعلم، بل بحسب الاتفاق، والتشهّي، والتعظيم، والعادة، والبلد، فلو أراد الطالب اليوم أن يتمذهب في المغرب لأبي حنيفة لَعَسُرَ عليه، كما لو أراد أن يتمذهب لابن حنبل ببخارى وسمرقند لَصَعُبَ عليه، فلا يجيء منه حنبلي، ولا من المغربي حنفي، ولا من الهندي حنفي .....

وكذلك اشتهر مذهب الأوزاعي مدّة، وتلاشى أصحابه، وتفانوا،

وكذلك مذهب سفيان وغيره ممّن سمّينا،

ولم يبقَ اليوم إلاّ هذه المذاهب الأربعة، وقلّ من ينهض لمعرفتها كما ينبغي فضلاً عن أن يكون مجتهداً،

وانقطع أتباع أبي ثوربعد الثلاث مئة،

وأصحاب داود إلا القليل،

وبقي مذهب جرير إلى ما بعد الأربع مئة،

وللزيدية مذهب في الفروع بالحجاز وباليمن، لكنه معدود في أقوال أهل البدع؛ كالإمامية،

ولا بأس بمذهب داود، وفيه أقوال حسنة، ومتابعة للنصوص، مع أن جماعة من العلماء لا يعتدّون بخلافه، وله شذوذ في مسائل شانت مذهبه .

والله أعلم




Menelusuri Manuskrip Aceh di Belahan Dunia


Iluminasi Khas Mushaf  Aceh 

Sejak masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam abad ke-16 M hingga abad ke-20 masehi, tidak diragukan lagi Aceh menjadi salah satu negara yang memiliki peradaban tinggi sehingga menjadi kiblat Islam di Asia Tenggara.
Aceh ketika itu menjadi pusat intelektual dan keagamaan, yang kemudian melahirkan karya-karya spektakuler berupa naskah-naskah tulisan tangan (manuscripts) atau dikenal sebagai naskah kuno. Keberadaan naskah kuno Aceh di berbagai museum dalam maupun luar negeri, yang ditulis oleh para ulama dan intelektual Aceh pada masa kesultanan dan setelahnya, menjadi bukti kemajuan ilmu pengetahuan di Aceh di masa lampau.
Sejauh menyangkut naskah Aceh ini, persentuhan tradisi tulis dengan proses islamisasi yang terjadi pada masa yang sangat awal di Aceh juga telah membentuk karakteristik dan kekhasannya, sehingga menempatkan Aceh pada level teratas  di Asia Tenggara untuk beberapa abad. Ada ribuan salinan naskah, dari ratusan judul hasil karya puluhan ulama Aceh yang aktif menulis. Sebagiannya kini dapat dijumpai di wilayah asalnya, baik yang tersimpan di lembaga-lembaga kebudayaan maupun di masyarakat, dan sebagian lagi telah tersebar ke sejumlah tempat di luar Aceh, baik di dalam maupun di luar negeri
Manuskrip menjadi sangat penting karena menunjukkan peradaban suatu bangsa, sekaligus mengabadikan tapak tilas identitas masyarakatnya. Karena itu, negara yang maju dan beradab akan menelusuri karya-karya intelektualnya yang terdahulu.
Status naskah-naskah kuno di Aceh-Nusantara telah terjadi proses penyalinan besar-besaran pada awal akhir abad ke-18 akibat politik uang Eropa yang membeli (transaksi) naskah-naskah nusantara. Namun, berbeda kasus penyalinan naskah di Aceh periode tersebut, pada era yang sama kitab-kitab tersebut disalin ulang untuk disebarkan ke seluruh Aceh, dengan tujuan tertentu, khususnya naskah-naskah yang berkaitan dengan Prang Sabi dan identitas ke-Aceh-an.
Secara umum, keberadaan naskah Aceh di luar negeri diakibatkan oleh dua faktor, pertama perampasan pada masa kolonialisme dan kedua faktor bisnis (jual beli) naskah antara oknum masyarakat (kolektor) dengan pihak asing. Fenomena faktor kedua tersebut sampai sekarang masih merajalela, di mana naskah-naskah Aceh begitu mudah terbang ke luar negeri diakibatkan faktor ekonomi.

Di sisi lain, faktor situasi politik Aceh selama orde lama mengakibatkan Pemerintah Aceh mengabaikan kewajibannya untuk merawat naskah. Tanpa perhatian dan melupakan khazanah karya-karya spektakuler ulama-ulama Aceh terdahulu. Pengabaian tersebut tidak hanya dalam konservasi naskah itu sendiri, tapi juga hal-hal lain yang berkaitan dengan  manuskrip, seperti restorasi, digitalisasi, katalogisasi dan juga kajian naskah.
Perlakuan naskah-naskah Aceh di luar negeri berbeda jauh dengan manuskrip di tempat asalnya. Di luar negeri, naskah tersebut mendapat perlakuan istimewa dengan perawatan yang baik, suhu cuaca, ruang penempatan hingga anti dari bencana besar seperti gempa, banjir dan tsunami. Fenomena terbalik terjadi di Aceh, di mana naskah-naskah indatu belum mendapat perhatian yang cukup dan masih tercecer di berbagai tempat tidak lazim.
Khazanah kekayaan intelektual Aceh ini kini dapat ditemui di luar negeri, dalam bentuk manuskrip, Mushaf al-Qur’an dan sarakata Aceh yang ditulis atau disalin oleh ulama dan arif (intelektual) Aceh. Kini, naskah-naskah tersebut telah menyebar di berbagai lembaga di di luar negeri.
Seorang filolog Aceh yang aktif meneliti tentang manuskrip Aceh, Hermansyah, menguraikan tentang keberadaan naskah Aceh yang tersimpan di berbagai tempat. Sepanjang penelitiannya, ia menemukan hingga saat ini ada beberapa lembaga di dalam dan luar negeri yang menyimpan manuskrip –termasuk mushaf al-Qur’an- Aceh.
Hermansyah menemukan data bahwa Belanda, selaku penghancur Kesultanan Aceh Darussalam, banyak mengoleksi naskah Aceh. Ini ditemukan di Universititeit van Amsterdam, Koninklijk Instituut vood de Tropen, keduanya di kota Amsterdam, Museum Bronbeek di Arhnem, Koninklijke Landmacht di Den Haag, Koninklijk Instituut voor Taal, Rijksmuseum voor Volkenkunde dan Universiteitsbibliotheek di Leiden.
Nama lembaga terakhir memiliki koleksi terbanyak karena menampung naskah-naskah yang pernah dikumpulkan oleh C Snouck Hurgronje dan H.T. Damste. Masih di negara yang sama, beberapa lembaga menyimpan naskah Aceh walaupun dalam skala kecil seperti di Breda, Rotterdam dan Utrecht.
Selain Belanda, negara yang kepincut dengan naskah Aceh adalah Malaysia, Brunei Darussalam, Portugis dan Inggris. Di negeri jiran, menurut Hermansyah, koleksi paling banyak di Perpustakaan Negeri Malaysia (PNM), selanjutnya Dewan Bahasa dan Pustaka, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Perpustakaan Universitas Malaya (UM) dan Perpustakaan Tun Seri Lanang (PTSL). Ribuan naskah tersimpan bersama dengan karya ulama nusantara di negeri jiran ini.
British Library dan School of Oriental and African Studies di London Inggris juga mengoleksi ratusan manuskrip Aceh-Nusantara. Tentunya, jumlah tersebut tidak kalah dengan Brunei Darussalam yang mengabadikan naskah Aceh di Museum Negeri Brunai. Selain itu, Perancis, Belgia juga tercatat pernah menyimpan naskah Aceh. sedangkan di Leipzig Jerman, lembaga tersebut menyimpan naskah digital museum negeri Aceh hasil proyek  pasca gempa dan tsunami di Aceh.
Selaku peneliti naskah-naskah kuno Aceh dan Melayu di IAIN Ar-Raniry, Hermansyah menemukan data terbaru selain yang tersebut tadi sebagaimana banyak diketahui orang. Ternyata ada beberapa negara yang selama ini menyimpan naskah Aceh-Nusantara sejak dahulu, di antaranya Turki, Mesir, Phatani (Thailand) dan Mindanao (Fhilipina), walaupun belum dapat diperikan seluruhnya. Kabar ini memperkuat jaringan intelektual dan hubungan bilateral Kesultanan Aceh Darussalam masa lampau.
Hermansyah memberikan contoh, karya-karya ulama Aceh Abdurrauf al-Fansuri, Nuruddin ar-Raniry, Faqih Jalaluddin, Syaikh Daud Baba dan ulama Aceh lainnya  masih dibaca dan dipelajari di kepulauan Mindanao dan Phatani (Thailand Selatan) pada abad ke-19 masehi.
Di dalam negeri, karya ulama Aceh hampir seluruh provinsi mengoleksinya. Dan koleksi terbanyak di Perpustakaan Nasional di Jakarta, yang menyimpan ratusan naskah Aceh, termasuk beberapa sarakata dan mushaf Aceh. Sedangkan beberapa badan penelitian dan lembaga keagamaan di Jakarta pada dasarnya mengoleksi naskah Aceh, namun sejauh ini belum dipublikasi.
Di wilayah Padang, Sumatera Barat dan Riau banyak tersebar naskah karya ulama Aceh, baik itu disalin di Aceh maupun di Sumatera Barat sendiri. Hubungan intelektual keduanya sangat erat terjalin pada periode kesultanan hingga kemerdekaan.
Di Aceh sendiri, dari data Hermansyah, Museum Negeri Aceh (MNA) menyimpan sekitar 1.800 judul teks naskah, menyusul Zawiyah Tanoh Abee (ZTA) menyimpan lebih dari 600 naskah, seluruhnya belum didigitalisasi. Sedangkan di Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy (YPAH) ada 232 judul teks, dan satu lembaga lagi yang seharusnya mengoleksi naskah, akan tetapi musnah akibat gempa-tsunami 2004, yaitu Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA). Sayangnya, PDIA sama sekali belum mengkatalog dan mendigitalisasi naskah sebagai arsip dan dokumentasi. Hingga kini tidak akan ditemui naskah-naskah berharga tersebut.
Sedangkan kolektor pribadi di Aceh pun banyak mengoleksi naskah, walau belum terdata dengan baik. Terutama beberapa tempat pusat skriptorium naskah seperti Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Utara. Padahal di tangan mereka jumlah naskah mencapai ratusan buah. Sayangnya dana perawatan yang minim dan pengetahuan konservasi naskah yang nihil berakibat pada fisik naskah semakin hancur oleh serangga kertas ataupun keasaman tinta.
Harapan Hermansyah, supaya pemerintah memberikan perhatian serius terhadap konservasi, restorasi hingga digitalisasi naskah di tangan masyarakat, sehingga dapat diwariskan ke generasi selanjutnya.
Saat ditanyai tentang upaya pemerintah untuk menyelamatkan naskah-naskah Aceh, Hermansyah mengatakan sampai saat ini pemerintah belum menginventarisir keberadaan naskah-naskah Aceh dan tidak objektif dalam memperhatikan naskah. Hal ini juga dipersulit dengan kondisi masyarakat yang kurang percaya dengan pemerintah sendiri untuk merawat naskah-naskah tulisan ulama Aceh tempo dulu. Di samping itu, masyarakat yang masih menyimpan naskah-naskah Aceh lebih memilih untuk dijual kepada pihak asing karena harganya lebih mahal.
Lebih lanjut, Hermansyah menambahkan, beberapa provinsi di Indonesia kini pemerintah daerahnya telah bekerja sama dengan pemilik, pewaris dan kolektor pribadi naskah dengan menjadikan status mereka sebagai pegawai negeri untuk pelestarian manuskrip. Alasannya, posisi mereka tidak berbeda dengan staf museum, badan arsip ataupun perpustakaan yang mengurusi dokumen-dokumen lama. Bagi yang telah pegawai, maka diberikan beasiswa kepada anaknya kuliah di bidang kajian naskah (filologi) sehingga ke depan ia mampu meneliti warisan leluhurnya. Dengan demikian, secara tidak langsung pemerintah telah menghentikan jual-beli naskah ke luar negeri dengan alasan perekonomian.
Hermansyah berharap agar pemerintah Aceh untuk menyosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya naskah-naskah kuno Aceh agar masyarakat dapat merawat dan tidak dijual kepada pihak asing walaupun dibeli dengan harga yang sangat mahal. Langkah lainnya yang harus ditempuh pemerintah adalah dapat meyakinkan masyarakat Aceh dengan menunjukkan kinerja dan kesungguhan dalam mengurus naskah indatu, sehingga tidak muncul antipati terhadap pemerintah. Dengan demikian, pemerintah dinilai sudah “baligh” dan mampu mengurusi diri dan warisannya sendiri.

Source: http://www.acehindependent.com/2012/10/07/memburu-naskah-kuno-di-mana-manuskrip-aceh-tersimpan/ (Memburu Naskah Kuno; Di Mana Manuskrip Aceh Tersimpan?)

Naskah Ramadhan dan Toleransi Perbedaan Itsbat

Naskah Puasa Ramadhan

Naskah puasa Ramadhan "Syahdan, Apabila kelihatanlah bulan pada suatu negeri, maka lazimlah puasa isi negeri itu dan isi negeri yang muwafaqah [=mufakat] tempat terbit matahari mereka itu, dengan terbit matahari dari karena melihat bulan itu berlainan, sebab berlain-lainan tempat yang melihat dan kedudukan negeri. Dan jika tiada muwafakat tempat terbit matahari dua negeri itu maka tiadalah wajib isi negeri yang kedua"
Semenanjung Arab adalah bentang daratan beralam kejam di siang hari. Tandus dan kering. Namun di malam hari. Arab adalah "surga" bagi para astronom. Langit Arab di malam hari, selalu indah.
Seperti China, sebagai bangsa dan peradaban tua, sastrawan Arab banyak menyanjung langit di malam hari. Malam adalah inspirasi keindahan, sedangkan siang diibaratkan "kekerasan."
Tak mengherankan jika khasanah intelektual dunia soal astronomi banyak lahir di tanah Arab. Gugusan bintang-bintang banyak lahir dari istilah Arab awal. Rasi bintang Orion awalnya dikenal dengan Al-Jabbar, Taurus (Ath-Thawr), Canis Major (Al-Kalb Al-Akbar), Canis Minor (Al-Kalb Al-Asghar), Leo (Al-Asad), Gemini (At-Tawa'man), Scorpius (Al-'Aqrab), dan beberapa lainnya.
Inilah yang menjelaskan, kenapa di banyak negara-negara Islam di Semenanjung Arab, seperti Mesir, Syira, atau Yaman dalam memutuskan 1 Ramadan, selalu merujuk ke Arab. Ke Tanah Haram, Mekkah.
Bahkan Malaysia dan Jepang, yang jauh di tenggara Asia, pun senantiasa berkiblat pada penentuan 1 Ramadan atau Syawal di Mekkah. Langit Mekkah dan Jeddah, selalu lebih terang. Rasi bintang di malam hari selalu terlihat lebih jelas.

Dan, memang perbedaan 1 Syawal dan 1 Ramadan hanya soal cara sistem penghitungan belaka, dan kondisi langit atau ufuk saat rukyah hilal.
Ingatkah kita, di Indonesia, hampir 3 dekade di masa pemerintah Soeharto begitu kuat perbedaan "cara" itu nyaris tak pernah ada. Itu karena pemerintah kuat, dan masih punya otoritas dan kepercayaan.
Sementara Indonesia umumnya menentukan sendiri, melalui pertemuan antara pemeritah dan ormas-ormas Islam.
Dalam perhitungan 1 Ramadan dan 1 Syawal, ada yang memakai Hisab dengan perhitungan astronomi yang rumit, ada pula yang memakai Ru'yah atau melihat bulan/hilal.
Ada pun yang memakai sistem Hisab berpendapat mereka melihat bulan dengan memakai ilmu kalendering. Inilah yang selama ini jadi rujukan ormas Muhammadiyah.
Dengan rujukan ini, 1 Ramadan 1455, atau di 22 tahun akan datang (tahun 2034) mendatang, sudah bisa diketahui, atau disesuaikan dengan kalender masehi.
Yang kedua, dengan rukyah, jika bulan terlihat, itulah saat mulai berpuasa atau berbuka puasa (Idulfitri). Inilah yang dipakai oleh pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemenag dan Ormas Nahdlatul Ulama (NU).
Pada Ru'yah lokal, tiap penduduk melihat bulan sendiri-sendiri, sehingga tiap kota atau tiap negara merayakan hari Idulfitri sendiri-sendiri bisa berbeda satu negara dengan negara yang lain bahkan satu kota dengan kota yang lain.
Ada pun yang memakai Ru'yah Global begitu ada minimal 2 orang saksi yang dipercaya melihat bulan, maka itulah awal Ramadan atau awal Syawal. Rujukan yang terakhir ini biasanya http://moonsighting.com/
Umumnya Tim Ru'yah di Indonesia gagal melihat hilal (bulan muda) bukan karena mereka "bodoh" atau minimnya peralatan. Ini lebih disebabkan karena memang langit lagi berawan, atau banyak partikel cahaya dari bumi. Inilah yang menyebabkan bulan muda sering tertutup awan.
Selain itu, Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia begitu terang oleh cahaya lampu-lampu gedung dan rumah-rumah sehingga langit juga terlihat lebih terang termasuk di Boscha.
Akibatnya sinar-sinar bintang dan bulan terganggu dan terlihat kecil dan redup. Di Arab sebaliknya. Langit tidak berawan. Dengan luas darat yang lebih besar daripada Indonesia (2,4 juta km2) sementara jumlah penduduk cuma 1/5 pulau Jawa, banyak daerah tak bertuan yang tidak berlampu.
Galap gulita. Itulah, kenapa langit dan rasi bintang di Arab pada malam hari selalu lebih indah.
Sehingga langit begitu hitam kelam, sementara bintang-bintang dan bulan jadi tampak lebih besar (sekitar 4-6x lipat daripada di Indonesia) dan lebih terang. Oleh karena itu, Hilal lebih mudah terlihat di sana.
Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengungkapkan setelah mengamati posisi bulan menyimpulkan jika nantinya akan ada potensi perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan.
Dari perjalanan bulan, diketahui bahwa pada maghrib akhir Sya'ban atau 19 Juli 2012 nanti bulan telah wujud atau tampak di Indonesia. Akan tetapi ketinggiannya kurang dari imkan rukyat. Ketentuan Imkan rukyat menggunakan kriteria yang disepakati ketinggian bulan minimal 2 derajat.
Nah, karena pada 19 Juli 2012 bulan sudah wujud tetapi kurang dari 2 derajat, maka pengguna hisab wujudul hilal akan menetapkan awal Ramadan jatuh pada 20 Juli. Pengguna hisab wujudul hilal ini di antaranya adalah Muhammadiyah.
Sedangkan ormas yang menggunakan hisab imkan rukyat akan menetapkan 1 Ramadan pada 21 Juli. Sementara itu, posisi hilal yang rendah tadi (antara 0-2 derajat) tidak mungkin akan berhasil di-rukyat pada 19 Juli.
Maka pengguna rukyat kemungkinan besar menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 21 Juli. Pengguna rukyat ini di antaranya adalah pemerintah dan ormas-ormas umumnya lainnya.

source: http://id.berita.yahoo.com

Buku "Aliran Sesat di Aceh; Dulu dan Sekarang"


Syukur Alhamdulillah kepada Allah Yang Maha Esa, dengan berkah dan karunia-Nya, buku ini hadir di tangan masyarakat. Penerbitan buku-buku bersumber agama memang harus terus digalakkan di Aceh, terutama dalam penguatan syariat Islam dan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pengetahuan, keyakinan dan pengamalannya.

Syari’at Islam sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh bersosial dan berbudaya. Ini terkait dengan sejarah Islamisasi dan tradisi (adat istiadat) yang meresap ke dalam masyarakat Aceh. Walaupun sejarah dan kebudayaan Aceh berlandaskan Islam, pasang surut dalam implementasi menerapkan nilai-nilali Islam dalam kesehariannya, ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh ekonomi, politik dan kenegaraan.

Termasuk di antaranya paham, ajaran dan aliran sesat yang mewabah di Aceh. Bahkan terjadi berulang-ulang pada saat penegakan syariat Islam digalakkan, terutama pasca reintegrasi dan rekonstruksi gempa tsunami. Hal tersebut memunculkan berbagai pertanyaan, apakah tradisi keilmuan dan pengetahuan Islam di Aceh mengalami stagnasi, bagaimana paham atau aliran merasuk dalam segelintir masyarakat Aceh, bagaimana perkembangan kelompok-kelompok sesat bertahan di negeri Syari’at.


Buku yang ditampilkan ini merangkum semua golongan paham agama di Aceh, baik klasik maupun modern, dari sudut pandang obyektif-komprehensif. Untuk itu, buku ini berusaha memaparkan pemikiran sekterian tersebut sebagaimana disebutkan dalam beberapa referensi utama, baik teks maupun konteks sesuai dengan pemahaman secara ilmiah. Akan tetapi, jika ada sebagian ajaran kelompok lain terkadang hanya dikemukakan terbatas, ini disebabkan sedikitnya tulisan tentang hal tersebut dan jarang dilakukan pengkajian. Oleh karena itu, perlu digaris bawahi, buku ini bukan untuk menfatwa suatu golongan, sekte, aliran ataupun tarekat.

Buku ini juga bukan hanya tentang sejarah, melainkan tentang pemikiran (ideologi) yang merangkum berbagai pemikiran seseorang atau kelompok, golongan, sekte, aliran maupun tarekat tertentu. Karenanya, buku ini mencoba memilah hitam dan putih, mengutamakan intropeksi dalam sebuah bingkai kehidupan keragaman etnis, ras dan keyakinan (akidah). Dimana bingkai tersebut dibungkus dalam sebuah euforia sejarah Kesultanan dan kini mendaulat dirinya sebagai negeri yang menerapkan syariat Islam.

Semoga bermanfaat untuk semuanya. Amin.

Mimpi Museum Manuskrip Aceh Bak Perpustakaan Alexandria


Di kawasan Asia, Aceh punya sejarah tersendiri tentang manuskrip kuno. Sebagai daerah "gudang naskah" sangat wajar jika kemudian Aceh sebagai daerah primadona penelusuran naskah periode kolonial dan kemerdekaan. Hingga naskah Aceh ada dimana-mana, menjadi barang berharga dan mendapat pengawalan esktra di berbagai museum negara.

Berbalik fakta dengan di Aceh, karya ulama dan indatu tidak mendapat perhatian serius hingga saat ini, walaupun naskah Aceh pernah ditelan konflik, dan dihantam tsunami. Ia (manuskrip) tetap tersimpan di kandang ayam atau jerjak meunasah (balai pengajian). Tidak ada museum manuskrip yang khusus menyimpan  naskah-naskah yang berharga. Aceh semestinya belajar ke berbagai museum di luar negeri, salah satunya Alexandrina Bibliotheca (Perpustakaan Alexandria).

Perpustakaan Alexandria adalah reinkarnasi indah perpustakaan kuno yang terkenal dari Alexandria, Mesir. Perpustakaan asli memegang manuskrip koleksi terbesar di dunia dan merupakan pusat belajar selama 600 tahun sampai terbakar pada abad ke-3. Meskipun pernah terbakar, perpustakaan ini mempunyai bentuk yang mengagumkan, menyerupai sebuah diskus miring atau matahari besar. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Norwegia dengan biaya sekitar US$200 juta.


Adapun koleksi penting lainnya adalah manuskrip keagamaan termasuk salinan langka dari Al Qur'an. Koleksi buku di seluruh ruang baca merupakan sumbangan dari seluruh dunia dan mencakup berbagai subjek dan bahasa.

Pameran lainnya adalah koleksi ukiran asli, litograf, foto awal, peta Alexandria oleh seniman dari abad ke-15 dan ke-19, serta sebuah pameran permanen yang didedikasikan untuk karya sastra sinematik dan lukisan dari director, desainer produksi dan pembuat film Mesir, Shadi Abdel Salam.


Berada di perpustakaan, Anda bisa mengagumi rrsitektur yang modern dan mencolok dengan atap panel kaca berdiameter 160 meter yang miring ke arah laut seperti sebuah jam matahari.
Dinding luar, yang terbuat dari granit Aswan abu-abu diukir dengan simbol dari 120 skrip yang berbeda.

Salah satu bagian spektakuler dari perpustakaan adalah ruang baca utama yang meliputi lahan seluas 70.000 meter persegi dan dapat menampung 2.000 pembaca pada satu waktu. Selain itu, ada juga 200 ruang belajar untuk sarjana dan peneliti.

Untuk melihat naskah dan pameran galeri buku langka, Anda bisa menuju jantung perpustakaan dimana terdapat ruangan seluas 344 meter persegi. Ini terdiri dari 12 kotak pameran yang disumbangkan oleh Italia dan 20 kotak pameran buatan Mesir. Sekitar 120 manuskrip dan buku langka ditampilkan pada kotak ini.

Di dalam perpustakaan juga ada Museum Antiquities yang menampilkan artefak yang ditemukan di lokasi pembangunan perpustakaan modern. Koleksi ini terdiri dari sekitar 1.100 dokumen dari berbagai zaman peradaban Mesir mulai dari era Firaun sampai dengan periode Islam, termasuk peradaban Yunani, Romawi dan Koptik.

Bangunan Alexandrina Biblioteca juga terdiri dari laboratorium restorasi naskah, planetarium (kubah besar di atap) dan pusat konferensi besar.

Bila ingin berkunjung, perpustakaan Alexandria buka dari Sabtu-Kamis mulai pukul 11.00-19.00 waktu setempat sedangkan Jumat mulai pukul 15.00-19.00 waktu setempat. Tiket masuk perpustakaan EGP10 (sekitar Rp16 ribu) sedangkan untuk melihat pemeran lainnya Anda dikenakan biaya tambahan.(MI/*)

sebagian data diambil dari http://metrotvnews.com/read/news/2010/10/25/32376/Koleksi-Manuskrip-Kuno-di-Perpustakaan-Alexandria