Mengapa Parpol Islam (Selalu) Kalah?

Mengapa Parpol Islam (Selalu) Kalah? - Selamat datang di blog Sejarah Aceh, Info kali ini adalah tentang Mengapa Parpol Islam (Selalu) Kalah? !! Semoga tulisan singkat dengan kategori Politik !! ini bermanfaat bagi anda yang membutuhkan. Dan untuk anda yang baru berkunjung kenal dengan blog sederhana ini, Jangan lupa ikut menyebarluaskan postingan bertema Mengapa Parpol Islam (Selalu) Kalah? ini ke social media anda, Semoga rezeki berlimpah ikut di permudahkan sang khalik yang maha kuasa, Selengkapnya lansung lihat infonya dibawah -->



Pemilihan anggota legislative (pileg) maupun pemilihan presiden (pilpres) baru akan dilaksanakan tahun 2014 mendatang. Namun, perang opini dan perang psikologi telah dimulai. Dan, eskalasi peperangan itu semakin hari semakin melebar meluas saja. Di satu sisi, peperangan itu bisa berdampak positif jika dikaitkan dengan edukasi politik bagi masyarakat awam khususnya. Namun, di sisi lain dapat pula berdampak negative, bahkan destruktif, karena terlalu banyak energi bangsa ini terbuang percuma.
Kalah Selalu
Perang opini yang teranyar terjadi adalah hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dirilis pada Minggu (14/10/2012) menyatakan, lima besar perolehan suara didominasi partai nasionalis. Secara berturut-turut, Golkar (21,0 persen), PDIP (17,2 persen), Demokrat (14,0 persen), Gerindra (5,2 persen), dan Nasdem (5,0 persen) berada pada kisaran lima besar.
Sedangkan empat partai Islam yang bercokol di parlemen yakni PKS, PAN, PKB, dan PPP dalam hasil survei LSI diprediksi terlempar dari lima besar. Jika pileg (pemilihan legislatif) digelar hari ini, tidak ada satu pun parpol Islam yang masuk lima besar perolehan suara. Capaian ini adalah yang terburuk sejak pemilu pertama pada 1955 digelar.
Juni lalu (republika.co.id, 1/7/2012), kesimpulan dari hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) mengenai keterpilihan partai politik pada Pemilu 2014 menyatakan mayoritas responden memilih partai nasionalis daripada partai Islam. Melalui hasil Survei SSS yang dilakukan pada 14-24 Mei 2012 di 33 provinsi dengan jumlah responden 2.192 orang, ditengarai posisi partai Islam akan berada di rombongan  urutan buncit, maksimal partai papan tengah.
Pada survei kali ini, Golkar berjaya berada di posisi puncak dengan meraih dukungan suara 23 persen. Pada posisi kedua adalah PDIP 19,6 persen. Kemudian, Demokrat 10,7 persen dan Gerindra 10,5 persen. Sementara PKS meraih 6,9 persen, Nasdem 4,8 persen, PPP tiga persen, Hanura 2,7 persen, PAN 2,2 persen, PKB dua persen, dan lainnya 0,6 persen.
Mengapa (Selalu) Kalah?
Hasil survey-survei –terlepas dari dugaan penuh tendensi dan cenderung pejoratif- seperti yang dilakukan oleh LSI itu bisa menjadi cemeti bagi parpol islam untuk tidak melupakan sejarah yang banyak mencatat bahwa kalangan islam seringkali hanya dijadikan sebagai objek penderita, bukan subjek pelaku. Partai politik islam tak lebih dari sekedar pelengkap cerita dalam panggung sandiwara demokrasi dan perpolitikan Indonesia.
Penulis teringat dengan analisa Eep Saifullah Fatah, (2000; 106) mengutip Ruth McVey, yang menegaskan kalangan islam hanya terposisikan sebagai “palu” (hammer). Dijadikan perkakas oleh kekuatan di luar dirinya untuk memukul sesuatu yang didefinisikan sebagai “musuh bersama”. Tugas sang palu pun berakhir setelah sang musuh terpukul koma atau mati. Sang palu lalu ditaruh kembali di tempat perkakas dalam gudang sejarah.
Parpol-parpol di kalangan islam, lanjut Eep, terbagi ke dalam empat kategori. Pertama, parpol yang menjadikan komunitas muslim sebagai basis atau target massanya. Kedua, parpol yang memakai label islam sekalipun tidak berasas islam. Ketiga, parpol yang menjadikan islam sebagai asanya. Keempat, parpol yang agenda dan platform-nya secara tegas melayani kepentingan dan ideologi kalangan islam. Di antara keempat kategori itu, kategori keempat paling sulit diidentifikasi.
Ada kekhawatiran yang perlu diperhatikan; pelaku politik islam terjebak pada kekeliruan-kekeliruan lama. Di antara banyak kekeliruan politik kalangan islam yang bisa ditemukan di masa lalu, (Eep, 2000; 156-163), ada lima kekeliruan mononjol yang seyogianya diingat untuk tidak diulang kembali di masa berikutnya.
Pertama, kalangan islam kerap kali gampang atau lebih suka marah ketimbang melakukan politisasi. Kemarahan adalah luapan emosional spontan yang tidak memiliki target, agenda dan platform. Kemarahan adalah sesuatu yang ad hoc, tidak berdimensi jangka panjang apalagi permanen. Kemarahan kerap kali tak banyak berarti dan tidak banyak mempengaruhi perkembangan politik yang berjalan di sekitarnya. Sementara melakukan politisasi berarti membangun aksi atau gerakan yang memiliki target, agenda, platform serta berjangka panjang bahkan permanen. Pengaruh dari politisasi terhadap perkembangan politik di sekitarnya bisa jadi signifikan.
Kedua, kalangan islam kerap lebih senang mengurus kulit, bukan isi. Soal-soal substantif kerap kali justru luput dari perhatian. Sementara pada saat yang sama sosal-soal artifisial justeru diurusi.
Ketiga, politik kalangan islam kerap lebih terpesona pada keaktoran (figur, pelaku), bukan pada isme atau wacana yang diproduksinya. Sejarah politik islam di masa orde baru menunjukkan betapa kalangan islam kerap kali terjebak untuk mendefinisikan kawan dan lawan berdasarkan figure atau keaktoran, bukan isme atau wacana.
Keempat, politik kalangan islam kerap kali dilakukan sebagai reaksi dan bukan proaksi. Agenda dan opini publik biasanya diciptakan oleh kalangan lain dan kalangan islam sibuk bereaksi atas agenda atau opini publik yang telah terbentuk itu. Kalangan islam sangat jarang mengambil inisiatif menciptakan agenda dan opini publik lebih dulu (proaktif). Ibarat pemain silat, kalangan islam pun lebih banyak sibuk menangkis dan bukan mempersiapkan serangan-serangan.
Kelima, kalangan Islam sangat kerap dan senang membuat kerumunan dan bukan barisan. Sebuah kerumunan bisa saja terdiri dari banyak orang, namun sangat rentan lantaran tidak memiliki agenda,platform, program, kepemimpinan, jaringan dan rencana-rencana aksi yang dikonsensuskan di antara mereka. Sebaliknya, sebuah barisan sekalipun beranggotakan sedikit merupakan sebuah kekuatan yang tangguh lantaran memiliki platform, program, kepemimpinan, jaringan dan rencana-rencana aksi yang dikonsensuskan di antara mereka.
Kekeliruan-kekeliruan politik itulah yang menjadi sebab terpenting dari kekalahan politik kalangan islam selama ini. Dengan kata lain, kekalahan itu merupakan proses “bunuh diri” lantraran tidak terkelolanya fragmentasi, disintegrasi dan lemahnya jaringan politik di antara mereka.
Kekeliruan-kekeliruan politik itu juga menjadi penegasan bagi “fenomena gigantisme”; sesuatu yang secara fisik terlihat besar, namun sebetulnya penuh dengan masalah atau penyakit. Pada akhirnya kalangan islam memang berhasil menjadi mayoritas statistik, namun gagal menjadi mayoritas politik.
Lihat AKP Turki
Sapto Waluyo (2012; xiii) menegaskan, “Ijtihad dan inovasi politik memang perlu, tapi jika pikiran dan platform yang telah dinyatakan kepada public tidak Anda jalankan dengan sepenuh hati, maka Anda hanya akan menjual murah syiar agama demi kepentingan duniawi palsu. Kegagalan misi dan kehancuran eksistensi akan dialami oleh politikus dan partai politik yang inkonsisten dalam mengembangkan jati dirinya, apapun ideologi yang melatari kemunculannya”.
Seyogianya saat ini parpol islam mencermatilah dengan seksama proses –bukan hasil- yang dilakukan oleh AKP (Adalet ve Kalkinma Partisi; Partai Keadilan dan Pembangunan) di Turki. Perolehan suara AKP terus naik dari 34,43% pada pemilu 2002, menjadi 46,47% pada pemilu 2007, lalu 49,85% pada pemilu 2011. Yang luar biasa, kemenangan AKP pada tahun 2011 lalu ternyata melampaui jajak pendapat menjelang pemilu yang memprediksi AKP memperoleh 47% suara.
Didukung 21.441.303 suara, AKP berhasil mendapatkan 326 kursi parlemen. Dengan 59,3% kursi yang dimiliki AKP ini, AKP bisa kembali membangun pemerintahan tanpa perlu koalisi. Namun demikian, Erdogan –sang arsitek yang menjadi Perdana Menteri untuk kali kedua- tetap membuka kesempatan untuk berkoalisi dengan partai lainnya. Wallahu a’lam.


Demikianlah Artikel Mengapa Parpol Islam (Selalu) Kalah?, Semoga dengan adanya artikel singkat seperti Informasi postingan Mengapa Parpol Islam (Selalu) Kalah? ini, Anda benar benar sudah menemukan artikel yang sedang anda butuhkan Sekarang. Jangan lupa untuk menyebarluaskan informasi Mengapa Parpol Islam (Selalu) Kalah? ini untuk orang orang terdekat anda, Bagikan infonya melalui fasilitas layanan Share Facebook maupun Twitter yang tersedia di situs ini.