Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (Final)

Selain manuskrip (naskah klasik) karya Nuruddin Ar-Raniry berjudul Shirat al-Mustaqim berkaitan dengan fiqih ibadah, seperti membahas persoalan thaharah (bersuci), shalat, puasa, zakat dan haji, dan segala persoalan yang terjadi di setiap bagian.

Karya lainnya -telah dikupas sebelumnya- adalah karya Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri berjudul Tarjuman al-Mustafid sebagai kitab tafsir berbahasa Melayu (Indonesia) pertama di Dunia. Karya dan sumber penafsirannya  merujuk kepada beberapa kitab ulama tafsir mu'tabarah, seperti Tafsir al-Bawdhawi.

Adalah manuskrip tentang Hadist yang juga disinggung oleh Ust. Abdus Somad. Hal tersebut begitu penting sebagaimana disebut dalam ceramahnya di Banda Aceh. Kitab Hadist Arba'in (Hadist Empat Puluh) sebuah naskah yang dicari-cari oleh beliau. Hadist Arba'in adalah kitab hadist yang memuat  40 pilihan Hadist Nabi Muhammad, berkaitan dalam beragam hal dan persoalan. Temanya juga beragam.

Banyak riwayat menyebutkan keutamaan menghafal dan mempelajari kitab Hadist Arba'in. Dalam catatan para ulama, beberapa Hadist Nabi mengisyaratkan akan keutamaan Hadist Arba'in, walaupun riwayat-riwayat tersebut dikategorikan Hadist Dhaif, dan ada juga yang Hasan.  Imam al-Nawawi dalam mukaddimah kitabnya al-Arba'in al-Nawawi menyebutkan bahwa setiap orang yang menghapal 40 Hadist dari perkara agamanya, maka dia akan dikelompokkan ke golongan para fuqaha (ahli fiqih) dan para ulama.

Baca juga; Manuskrip Incaran Ust Abdus Somad (1)

Ternyata, hasil penelusuran saya tentang Hadist Arba'in di Aceh-Nusantara cukup beragam. Beberapa teks tersebut menunjukkan perbedaan konten Hadist, isi bahasan dan pendahuluannya. Variasi kandungan tersebut menunjukkan keluasan pengetahuan dan keberagaman pemahaman dalam penyampaian ilmu Hadist oleh ulama-ulama dan Ahli Hadist terdahulu.

Varian konten tersebut dapat diasumsikan sebagai sumber rujukan hadist dari ulama yang berbeda, dan juga diakibatkan kondisi dan situasi saat penulisan ataupun penyalinan teks. Tentu ada beberapa faktor lainnya yang melatar belakangi lahirnya teks yang berbeda tersebut.

Akan tetapi, Hadist Arba'in di Aceh -dan kemungkinan di Nusantara- paling banyak merujuk pada versi berikut ini.

Salah satu Hadist Arba'in yang menjadi kajian ulama Aceh dan Nusantara adalah manuskrip Hadist Arba'in koleksi Museum Aceh nomor 07.0578, yang ditulis atau disalin dalam bentuk terjemahan berbaris. Matan teks dalam bahasa Arab dan terjemahan miring dalam aksara Jawi berbahasa Melayu/Indonesia.
Gb. 01 Halaman awal teks Hadist Arba'in. Ms. 07.578 Koleksi Museum Aceh
Teks naskah Ms. 07.0578 dimulai bahasan Hadist pertama dengan "Ash-Shalat 'imād ad-dīn..." dengan terjemahan dibawahnya "Sembahyang itu tiang agama..." Sebagaimana Gb. 02 di bawah ini

Gb. 02 Halaman dua teks Hadist Arba'in. Ms. 07.578 Koleksi Museum Aceh.

Baca juga: Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (2)

Hadist yang sama juga terdapat pada naskah lainnya koleksi masyarakat di Aceh Besar. Namun sayang, naskah ini telah dijual ke luar Aceh. Saya sempat mengabadikan beberapa halaman pada tahun 2016.

 Gb. 03. Halaman awal teks Hadist Arba'in. Ms Koleksi Pribadi Masyarakat.
Hadist Arba'in  ini juga koleksi Museum Aceh di Banda Aceh, nomor aktuil 07.1197. Sebagaimana teks di atas tentang sistem penulisan matan dan terjemahannya, maka pada teks ini juga ditemukan yang sama. Matan teks ditulis di baris atas dengan font lebih besar, sedangkan terjemahan ditulis di bawah teks mata dengan posisi miring.

Naskah lainnya di koleksi yang sama dengan nomor 07.1223 juga memiliki teks yang sama dengan versi  di atas. Walaupun teks ini disalin dengan kurang baik tetapi juga memiliki terjemahan berbaris.

Gb. 04. Halaman dua teks Hadist Arba'in. Ms. 07.1223 Koleksi Museum Aceh.

Masih banyak manuskrip Hadist Arba'in khususnya yang belum dikupas, di koleksi Museum Aceh saja tak kuran dari 10 naskah Hadist Arba'in. Hal tersebut tentu belum ditelusuri di koleksi masyarakat dan lembaga perseorangan, misalnya Yayasan Ali Hasjmy dan Zawiyah Tanoh Abee.

Sebalik itu, ilmu Hadist dan kajian Hadist masih kurang populer di Aceh bila dibandingkan dengan kajian ilmu fiqih dan tasawuf. Hal tersebut jelas terlihat dari jumlah kuantitas khazanah yang tersebar saat ini. Namun, hal tersebut bukan berarti kajian Hadist terabaikan, akan tetapi kadangkala terintegrasi dalam kajian-kajian lainnya. Sebab jika melihat tradisi terjemahan berbaris pada naskah-naskah di atas, maka tradisi penulisan (pengajaran) dan transmisi keilmuan Hadist pernah berkembang di Aceh. Wallahu a'lam.

Hewan Beristighfar untuk Manusia?


Ashabul Kahfi atau dikenal The Seven Sleepers atau cerita penghuni guha selama ratusan tahun, yang perna mati dan hidup kembali. Cerita ini mendunia, memiliki beberapa versi dan beragam aspek. Tidak hanya dalam Islam, sebelumnya agama damai ini datang, cerita penghuni guha tersebut juga telah disebut dalam Bible (Injil) yang asli. Kisah Ashabul Kahfi dengan seekor anjingnya dari Efesus in digolongkan ke dalam legenda mitologi Kristen. Versi yang paling terkenal dari cerita ini muncul dalam karya Jacobus de Voragine, Legenda Emas.

Pasca Nabi Isa diangkat ke langit ratusan tahun silam sebelum Islam, pengikut-pengikut Isa yang setia pada cerita AShabul Kahfi semakin berkembang, hingga datangnya nabi Muhammad membawa risalah Islam. Untuk menguji pengetahuan Umar (saat itu menjadi pemimpin), para pendeta kristen  menanyakan beberapa perihal histori masa lampau yang sangat terkenal di kalangan mereka, apabila bisa dijawab mereka akan masuk Islam. Umar dibantu Saydina Ali, mereka bertanya akan tentang perihal kebiasaan binatang dan cerita Ashabul Kahfi. Di sinilah perdebatan (tanya-jawab) terjadi yang membuat pendeta Yahudi tersebut mengakui kebenaran Islam.

Asal usul kronologi di atas berawal dari Hikayat Ashabul Kahfi (The Seven Sleepers), saat seorang pendeta bertemu dengan Ali dan menanyakan tentang sesuatu yang susah dijawab oleh masyarakat umumnya. Dalam sastra Aceh dikenal sebagai Hikayat Aulia Tujoh. Disebut demikian, karena mereka tujuh orang yang melarikan diri Raja zalim dan tinggal di guha. Dari tujuh orang tersebut; 6 orang adalah menteri kerajaan dulu, dan 1 orang adalah pengembala kambing. Si pengembala kambing akhirnya juga mengajak anjingnya ikut serta dalam pelarian tersebut. Hikayat Aulia Tujoh ini telah ditransliterasi untuk kesekian kalinya dan terakhir kali oleh Ramli Haron (1981).

Pada baris sebelumnya sang pendeta bertanya tentang suara kokok ayam dan suara kuda menyebut apa. Dalam Hikayat Ashabul Kahfi:
     Manok kuku' u' peu jipeugah?
     Meuhik-hik purih peukheun kuda?


Jawaban Saydina Ali  membuat pendeta tersebut masuk Islam:
         Manok kuku' u' teungoh malam
         Peu jikheun nyan hai maulana
         Udhkurullāh yā Ghāfilin
         Peuingat insan soe yang lupa

(Ayam berkokok tengah malam 
Apa yang disebutnya hai maulana
Berzikirlah wahai para pelupa
Pengingat bagi manusia yang lupa)

           Hik-hik kuda peu jikheun nyan 
           Jaweub janjongan neu calitra 
           Allahumma unshur ibādaka al-mu’minīn ‘alā
           al-Kāfirīn Doa keu mukmin barangjan masa

(Hik-hik kuda apa disebutnya
Jawab janjungan dengan cerita
Ya Allah bantulah hamba para Mukminin dari 
orang-orang kafir ∴ Doa ke mukmin sepanjang masa)

Dalam Hikayat Ashabul Kahfi, kisah penghuni gua selama 309 tahun bukan hanya sebuah cerita, tetapi juga pembelajaran dan manfaat dari hikayat tersebut yang disampaikan oleh penyair kepada pendengar. Cerita-cerita bermanfaat seperti ini, apalagi berdasarkan sumber al-Quran, yang kini jarang didengar dari oleh anak-anak kecil. [] 

            




Manuskrip Aceh di Sala Anak Ayam Thailand

Sekolah itu bernama Madrasah Ahmadiyah Islamiah. Tak perlu khawatir dengan kata “Ahmadiyah” yang tersemat pada nama sekolah ini. Sekolah tingkat rendah ini digagas oleh seorang ulama Melayu masa lalu, Ahmad bin Haji Usman. Itu sebab, sekolah ini diberi nama Ahmadiyah, yang diambil dari nama penggagasnya.

Oleh karena itu, kata “Ahmadiyah” pada sekolah ini sama sekali tak ada sangkut paut dengan kelompok Mirza Ghulam Ahmad. Letak sekolah ini di sebuah kampung bernama Yingo—ada juga yang menyebutnya Jeringo–Provinsi Narathiwat, selatan Thailand. Orang-orang selatan Thailand mengenal sekolah ini dengan nama Sala Anak Ayam.

Tidak ada ciri khusus yang membedakan sekolah ini dengan sekolah-sekolah umumnya di Indonesia. Ruang belajar hanya berupa bilik-bilik sederhana dari papan. Hanya saja, di sini ada asrama bagi murid-murid sekolah. Kesannya, seperti pondok pesantren. Mungkin karena itu, mereka menyebutnya dengan madrasah.

“Sekolah ini dulunya memang pondok (bahasa Aceh: dayah). Baru resmi menjadi sekolah dan mendapat pengakuan kerajaan Thailand sekitar 60 tahun lalu,” ujar Ustaz Lutfee H. Samae, pimpinan Madrasah Ahmadiyah Islamiah Salam Anak Ayam.

Hal yang sangat menarik, di sekolah ini tersimpan ratusan manuskrip kuno peninggalan masa lalu. Manuskrip-manuskrip itu sebagian besar masih berupa tulisan tangan. Naskah tempoe doeloe ini berasal dari berbagai negara. Ada dari Yaman, Arab Saudi, Turky, Mesir, Mindanao (Filipina), dan sebagian besar dari Indonesia.

Usia naskah-naskah itu berkisar 250-470 tahun. Pengakuan Lutfee, dari semua manuskrip yang ada, tiga puluh persen berasal dari Aceh. Selebihnya dari berbagai daerah lain.

Sontak saja saya terkejut sekaligus takjub. Pena di tangan kanan yang saya gunakan untuk mencatat hasil interview bersama Ustaz Lutfee sempat jatuh, begitu mendengar 30 persen naskah kuno di sekolah ini berasal dari Aceh. Selama ini, saya hanya mengetahui bahwa manuskrip tentang Aceh hanyak banyak terdapat di perpustakaan Belanda.

Nyatanya, “sejarah Aceh” juga banyak tersimpan di selatan Thailand ini. Tentu saja pikiran saya langsung melayang pada sejarah masa silam, tentang sesosok ulama dari Pasai. Syeh Said, begitu orang-orang Patani menyebut namanya. Syeh asal Pasai, Aceh, itu dianggap sebagai pembawa Islam ke selatan Thailand. Hal ini termaktub dalam buku sejarah Patani.

Kembali pada manuskrip kuno di Sala Anak Ayam. Bukan hanya naskah dari Aceh, beberapa manuskrip Jawa juga masih tersimpan di sekolah ini. Naskah-naskah itu masih ditulis dalam bahasa Melayu Jawi langgam lama. Beberapa di antaranya ada yang dilengkapi corak wayang golek. Ada juga kesan motif pinto Aceh.

Lutfee sendiri mengaku tidak semua isi naskah ia pahami. Apalagi, kata dia, ada yang masih aksara palawi, ada yang kentara dialek Jawa, dialek Aceh, dan mungkin dialek bahasa lain di Nusantara. Sebagai orang yang dipercaya memimpin sekolah tersebut, Lutfee hanya berusaha menjaga semua manuskrip itu dengan rapi dan aman.

“Sudah lama naskah ini tersimpan di gudang tanpa disentuh. Alhamdulilah Januari 2014 sekolah kami dapat membuat Pameran Kesenian Islam (PKI). Untuk pertama kalinya, naskah-naskah ini kami keluarkan dalam pameran,” tuturnya.

Sejak pameran sederhana Januari 2014 itu, rencananya, sekolah ini akan melakukan kegiatan yang sama setiap tahun. Tujuannya, agar naskah tempoe doeloe ini dikenal oleh setiap generasi. Lutfee merasa tidak berkepentingan apa pun terhadap naskah itu, kecuali menjaganya sebagai bentuk warisan terdahulu.


“Ini Pameran Kesenian Islam I (pertama) kami adakan. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini akan berlanjut tiap tahun sehingga generasi penerus tahu bahwa naskah-naskah ini punya nilai sejarah yang tinggi,” ujar Lutfee


Melusuri naskah-naskah yang diletakkan di lemari kaca itu. Beberapa kitab tertulis dalam aksara Jawi dengan ejaan Melayu. Namun, ada juga kitab-kitab yang saya tak kuasa membacanya, karena aksara “Arab-Jawi” yang belum dibubuhi baris dan mungkin saja bukan ejaan Melayu.

Di antara naskah-naskah yang dipamerankan oleh Madrasah Ahmadiyah itu, terdapat kitab al-shirat al-mustaqim (shirathalmustaqim). Menurut sebagian ulama, ini adalah kitab fiqh berbahasa Melayu yang pertama sekali dikarang di Nusantara. Kitab ini merupakan hasil goresan tangan Nuruddin ar-Raniry, ulama asal India yang lama menetap di Aceh.

Selain shirathalmustaqim, terdapat pula manuskrip tentang sejarah penulisan Alquran, yang juga karangan Nuruddin. Selain itu, di sekolah ini juga tersimpan sejumlah karangan Hamzah Fansuri, sastrawan Aceh yang menjadi ikon sastra tulis Melayu.

Seperti saya jelaskan sebelumnya, kitab-kitab yang terdapat di sekolah ini sebagian besar memang dari Aceh. “30 persen manuskrip di sini berasal dari Aceh, selebihnya dari berbagai daerah lain di dunia,” kata pimpinan Madrasah Ahmadiyah Islamiah, Ustaz Lutfee H. Samae.

Selain dalam bahasa Jawi (Jawoe), naskah-naskah kuno di sana juga ditulis dalam bahasa Arab. Ejaan yang digunakan masih ejaan lama. Terkait kertas dan alat tulis, kebanyakan kertas dari Eropa. Alat tulis yang digunakan untuk menulis Alquran dan manuskrip kuno itu masih memanfaatkan alam sekitar. Tintanya diambil dari campuran teras kayu leban, haram kayu, getah damar (tusam) dan getah terea, lalu dicampur sedikit dengan dawat India atau Cina. Adapun penanya diambil dari pohon kabung, buluh (bambu), bulu burung merak, dan lidi landak. Warna hiasan tintanya dari buah-buahan dan bunga-bunga, itu sebab beberapa isi dalam naskah kuno ini ada yang berwarna cerah.

Lutfee kemudian mengajak saya keliling arena pameran sederhana itu. Didamingi beberapa mahasiswa Fatoni University, saya mengamati kitab-kitab lama itu. Saya sempat tertegun dan terkesima pada mushaf Surat al-Kahfi yang mempunyai lima cahaya lukisan air emas. Sampul Alquran ini dari kulit hewan. Berdasarkan keterangan tertulis di bawahnya, usianya mushaf ini sekitar 300 tahun lebih.

Saya pindah ke sebuah kitab yang terdapat dalam lemari kaca. Manuskrip itu diletakkan di atas kulit kayu, dibalut dengan kain putih. Di sana tertera keterangan, “Alquran tulis tangan asal Aceh,” yang usianya hampir 300 tahun silam.

“Zaman dulu, banyak orang Aceh yang sampai ke Patani. Ada yang datang belajar, ada juga yang datang mengajar. Boleh jadi, kitab-kitab ini hasil peninggalan mereka yang dulu datang kemari,” tutur Lutfee.

Lebih lanjut, Lutfee mengatakan ada orang Aceh yang bukan sekadar mengajar dan mendirikan pondok pesantren di sini, tapi juga mendirikan masjid yang kemudian dianggap sebagai masjid bersejarah.

“Saya pernah dengar ada Wan Husen Sadawi yang pernah ke Aceh lalu sampai ke sini. Ia mendirikan sebuah masjid yang seluruh bahannya dari kayu. Masjid itu dinamakan Masjid Teluk Manok. Itu salah satu masjid bersejarah di selatan Thailand ini, selain Masjid Kersik,” paparnya.

Upaya Penyelamatan

Menindaklanjuti penyelematan manuskrip kuno itu yang perlahan tampak usang, pihak Madrasah Ahmadiyah Islamiah sudah berencana akan menyalin seluruh naskah tersebut dalam bentuk digital. Kata pimpinan sekolah itu, niat seperti ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa tahun lalu, tapi terkendala dana.

“Sekarang sudah ada pihak yang membantu sekolah kami. InsyaAllah kami akan bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Thailand dan Negara Turky untuk menyalin naskah-naskah ini ke dalam bentuk digital,” ucapnya.

Jika sudah ada dalam bentuk digital, Lutfee mengatakan, semua orang di penjuru dunia tidak perlu repot-repot sampai ke Thailand untuk mencari naskah-naskah lama ini. Menurutnya, hal ini mereka lakukan demi menjaga keberlangsungan keselamatan manuskrip-manuskrip tersebut.

Lutfee kemudian memperlihatkan deluwang, salah satu kertas yang digunakan oleh ulama Melayu masa lalu untuk menulis manuskrip dan mushaf Alquran. Menurut sejarah, deluwang muncul sekitar tahun 1400 Masehi. Di Indonesia, deluwang diolah dari kulit pohon waru yang memiliki serat kuat pada kulitnya. Ulama tempoe doeloe menulis di atas deluwang karena kerta tersebut dianggap awet.

Sesaat langkah kaki saya terhenti pada sebuah almari kecil. Dalam almari itu terdapat sebuah mushaf mungil ukuran 17 x 12 sentimeter. Tebalnya 2 sentimeter. Diberi keterangan bahwa mushaf ini ditulis pada tahun 987 Hijriyah oleh Al-Marfu Maula Muhamamd al-Bassari. Artinya, usia mushaf ini nyaris empat setengah abad. Namun, mushaf tersebut masih tampak awet.

Jika ditilik dari usia naskah-naskah di sini, agaknya benar yang diutarakan Lutfee, madrasah ini sudah ada sejak zaman dahulu kala, sejak sekolah ini masih berupa pondok pesantren tradisional. Pondok ini berubah menjadi sebuah sekolah yang diakui oleh Kerjaan Thailand sekitar 60-an tahun lalu.

Di sekolah inilah banyak disimpan berbagai manuskrip kuno yang sebagian besar dari Aceh. Kiranya, Pemerintah Indonesia penting mengambil peranan di sekolah ini, menyelamatkan sebagian naskah dari Indonesia. Demikian halnya pihak Pemerintah Aceh, harus ada itikad penelusuran dan penyelamatan naskah-naskah asal Aceh.

Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Aceh yang memiliki bidang pengarsipan mestinya sampai ke sekolah ini, di Jeringa, Provinsi Narathiwat, selatan Thailand. Bukankah Badan Arsip punya bidang yang khusus ganti rugi naskah? Ini kesempatan, sebelum didigitalkan oleh Pemerintah Turki.


Tulisan ini dari Herman. RN (pernah mengajar di Fatoni University)
dipublis di
- http://pikiranmerdeka.co/2015/10/09/menelusuri-manuskrip-kuno-aceh-di-thailand-bag-1-2/
- http://pikiranmerdeka.co/2015/10/10/menelusuri-manuskrip-kuno-aceh-di-thailand-bag-2tamat/



Lihat, Bulan Sudah Terbelah


Tanggal 20 Juli 1969 bertepatan pada 5 Jumadil Awal 1389 H, pertama kalinya NASA terbang ke bulan dan berhasil menginjak kakinya di sana yang masyhur dengan tokoh Neil Amstrong dan timnya.
Salah satu laporan yang mengejutkan bahwa lapisan luar bulan terdapat garis lurus besar yang mengitari bulan menunjukkan bahwa bulan yang berbentuk bulat seperti bola seakan-akan dilem dua sisinya. NASA-pun mengkonfirmasi bahwa bulan pernah terbelah dengan melihat permukaan kedua sisinya.

Adalah Tom Watters peneliti dan pakar dari Smithsonian National Air and Space Museum NASA mengakui bahwa ada tanda lekatan hasil tabrakan keras material kedua sisi bulan sehingga meninggal bekas dengan permukaan yang berbeda.

Hasil wawancaranya kemudian dipublikasi di media online dan dapat diakses di Youtube. Pasca hasil penemuan sensasional tersebut, banyak para ilmuwan mengkaji lebih jauh fenomena langka yang pernah terjadi dan tidak banyak diketahui orang.

Memang, empat belas ribu abad silam, bulan yang menghiasi malam kita pernah terbelah dua, bagaikan belahan dua sisi bola.

Demikian fakta tersebut disinggung dalam manuskrip Hikayat Nur Muhammad dan Hikayat Nabi Meucukoe dalam bahasa Aceh, dan di naskah Nur Yaqin berbahasa Jawi (Malay), sebuah karya ulama Aceh-Nusantara yang begitu melekat pada masyarakat Aceh tempo dulu, yang kini beralih pada bacaan dongeng fiktif produk luar.

Peristiwa bulan terbelah terjadi pada masa Rasulullah masih di Makkah, saat para kaum Quraysh Mekkah meminta Nabi membuktikan kerasulannya dan utusan terakhir.

maka mereka akan masuk Islam dan mereka percaya atas kenabiannya.
Sebaliknya, jika tidak mampu maka Nabi Muhammad dianggap pembohong dan siap menerima hukuman. Permintaan tersebut tentu tidak masuk akal manusia pada zaman tersebut dan zaman sekarang, akan tetapi Nabi menyanggupinya walaupun para sahabat yang sudah Islam resah atas peristiwa tersebut.

Dalam Hikayat Nur Muhammad menyebutkan;
Lom talakee bak Muhammad bulen musyahadah dengo suara
Teuma neuyu bak Muhammad tayu ek u langet pinta sigra
Troeh u langet lom tahilah tayu neuplah bulen purnama
Siblah u masyriq siblah u magrib dumna rakyat leumah nyata.

(Lagi-lagi kamu pinta pada Muhammad untuk memanggil bulan.
Kamu pinta Muhammad naik ke langit untuk memintanya segera.
Sampai di langit kamu minta belah bulan purnama
sebelah ke barat, sebelahnya ke timur, dan semua orang melihatnya nyata)

Allah menunjukkan kekuasaannya melalui Rasul akhir zaman untuk membelah bulan. Dalam surat al-Qamar : 1-2 terekam "Telah dekat datangnya kiamat itu, dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka melihat sesuatu tanda (ayat/mukjizat), mereka berpaling dan berkata ini adalah sihir yang terus-menerus".

Bulan pun terbelah dua, jarak bulan antar kedua sisi sejauh renggangan tangan Rasulullah. Maka dalam riwayat literatur Islam terkenal dengan bulan keluar dari kedua tangan Rasulullah.

Sebutan tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah bukan sihir yang mengelabui sekejap mata manusia, tetapi ia benar-benar melakukannya secara nyata sebagai tanda mukjizat diberikan Allah kepadanya.
Sedangkan sebagian para ulama menafsirkan bahwa ayat tersebut menjelaskan bahwa kejadian bulan terbelah sudah disebutkan dalam kitab-kitab agama Samawi sebelum Islam, bahwa salah satu mukjizat nabi terakhir (Muhammad) dapat membelah bulan.

Ketika itu, dari Hadist Atsar para sahabat-sahabat Nabi yang masuk Islam pertama menjadi saksi dan membenarkan kejadian tersebut. Alhasil, sebagian kaum Mekkah beriman, tetapi tidak sedikit yang mengingkarinya.

Pasca wafatnya Rasulullah banyak orang-orang mendeklarasi dirinya nabi, baik pada masa sahabat hingga zaman sekarang.

Tetapi semua orang dan agama tidak ada yang percaya, sebab salah satu mukjizat nabi terakhir yang disebut dalam kitab adalah membelah bulan, lalu nabi palsu manakah yang mampu melakukannya?
Di era modern nan serba canggih, hasil penelitian dan pengakuan NASA tahun 1969 selaras dengan Hikayat Aceh dua ratus tahun lalu, bahwa 14 abad silam bulan terbelah sebagai bukti kenabian Muhammad dan rasul terakhir.

Maka kini, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.


Dipublish di Serambi Indonesia http://aceh.tribunnews.com/2016/05/29/lihat-bulan-sudah-terbelah

Manuskrip Isra Mikraj: Tour Teristimewa Rasulullah

RAJAB merupakan bulan mulia di sisi Allah. Di dalam bulan ini terjadi peristiwa penting pada masa hidup Rasulullah, yaitu Isra dan Mi’raj. Isra dan Mi’raj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad dalam waktu satu malam saja.

Isra merupakan peristiwa “diberangkatkan” Nabi Muhammad oleh Allah dari Masjidil Haram Mekkah ke Masjidil Aqsa Jarussalem Palestina. Sedangkan Mi’raj peristiwa Rasulullah dinaikkan ke langit dari Masjid Al-Aqsa.

Jumhur ulama dan sebagian sejarawan Muslim menyebutkan bahwa peristiwa penting tersebut terjadi pada bulan Rajab setahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Menurut riwayat perjalanan beliau menggunakan kendaraan buraq, ditemani oleh Jibrail dan para malaikat lainnya.
Dari tempat kiblat pertama ini nabi dinaikkan ke langit, sebagian rawi menyebut batu pijakan Nabi saat naik seakan juga ingin ikut terbang bersamanya, dan kini ia menjadi saksi kehadiran manusia paling mulia di tanah para Anbiya.

Ini merupakan paket “tour” teristimewa yang diterima Rasulullah, dan dapat menyaksikan langsung tentang surga dan neraka serta segala kehidupan di luar naluri dan pikiran manusia. Keistimewaan tersebut hanya diberikan kepada nabi terakhir di saat hatinya berduka paska meninggal Abu Thalib dan istrinya Khadijah, dua tokoh yang membantu nabi dari rongrongan kaum Qurays selama di Mekkah.
Dalam masyarakat Aceh dan Nusantara, peristiwa Isra dan Mi’raj merupakan cerita umum dan menjadi santapan wajib bagi para pelajar. Ia memiliki banyak hikmah dan pelajaran di dalamnya, mulai dari perjuangan Rasulullah hingga kasih sayangnya kepada ummat Islam.

Dalam kehidupan masyarakat Aceh, kisah Hikayat Isra dan Mi’raj menjadi bacaan penting pada bulan Rajab oleh para tengku dan da’i di Aceh. Hal tersebut diungkapkan dalam pendahuluan teks manuskrip Hikayat Mi’raj koleksi Museum Aceh “barang siapa membaca dan mendengar Hikayat Mi’raj Nabi maka ia berpahala dan akan diampuni dosanya”. Sebaliknya, “barang siapa tiada percaya akan peri bagi Mi’raj ini bahwasanya orang itu menjadi kafir”.

Naskah Hikayat Mi’raj ini bukan sebuah dongeng kepada anak-anak, tetapi hikayat tersebut ditulis dalam bahasa Jawi (Melayu) disertai dalil-dalil kuat dari al-Qur’an dan Hadits. Tidak ketinggalan disertakan atsar para sahabat akan peristiwa tersebut.

source: http://aceh.tribunnews.com/2016/05/05/manuskrip-isra-miraj-tour-teristimewa-rasulullah?page=2

Baca juga: Manuskrip Isra Mikraj: Abu Bakar vs Abu Lahab

Bagaimana Bendera Aceh Tempo Dulu


Kerajaan Aceh yang gemilang dalam lintas sejarah Melayu Nusantara sejak abad ke-16 hingga bergulir ke pertengahan abad ke-20 masehi, dan meninggalkan banyak tanda tanya, salah satunya bendera Aceh. Saban hari, isu bendera menjadi polemik dan bergelinding semakin membesar. Tidak hanya membesar karena digelinding dalam ranah politik Aceh sekarang, tetapi juga dalam prioritas kepentingan "kesejahteraan" pasca damai Aceh, dan tentu juga dalam lingkaran sejarah Aceh.

Hasan Tiro mengakui beberapa tambahan dalam bendera versinya, tujuannya bendera yang dibuatnya untuk "Aceh Merdeka", dan itu artinya ia salah seorang yang tahu sejarah tentang bentuk bendera Aceh pada awal Kesultanan dan era kolonial Belanda.

Bendera secara filolofis merupakan hal penting yang tidak terlepas dari simbol kedaulatan, geografis dan patriotisme. Namun, tentu bendera tidak serta mensejahterakan masyarakatnya, bahkan untuk sebuah negara yang merdeka sekalipun atau negara yang kaya bukan tergantung pada bendera. Namun, bendera juga dapat membuat makhluk yang diberi pikiran tidak mampu berpikir, dan juga tidak sedikit yang terharu dan menangis saat kain selembar itu berkibar.
Museum voor Volkenkunde, Leiden

Dalam riwayat sejarah Kesultanan Aceh memiliki bendera tersendiri, beberapa riwayat bendera sesuai dengan situasi dan kondisi negara (kesultanan) ketika itu. Bahkan beberapa kerajaan kecil di bawah otoritas Aceh memiliki bendera sendiri, seperti Kerajaan Samalanga, Kerajaan Tapak Tuan dan Kerajaan Trumon. Bahkan terdapat juga bendera perdagangan (handel) Nalaboe. Kata Nalaboe merupakan nama awal yang kini berubah menjadi Na Laboeh, dan Meulaboh.

Baca lainnya:

Mi‘rāj al-Sālikīn: Survivalitas Ajaran Tarekat Syatariyah di Aceh Periode Kolonial

This article discusses the development of Syattariyah Sufi order as one of religious traditions in Aceh in the colonial era based on the manuscript of Muhammad Khatib Langien’s Mi‘rāj al-Sālikīn ilá Martabat al-Wāsilīn bi-Jāh Sayyid al-Mursalīn. The Syattariyah teachings in Mi‘rāj al-Sālikīn have proved the existence of Muhammad Khatib Langien in the Malay-archipelago world. In applying his teachings, Muhammad Khatib Langien has the different procedures than that one of  ‘Abd al-Raūf al-Fansuri. In addition to practical teachings, Muhammad Khatib Langien employs local symbols such as wearing skullcaps and turbans in the swear oath (bay‘ah) process. This tradition is meant to respond the foreign culture as well as to show the identity of each members of Syattariyah sufi order. It is proved that Muhammad Khatib Langien’s teachings that can be accepted by all people and groups even without having support from the local authorities at the time.

Di Aceh, jalur ‘Abd al-Raūf al-Fansuri (Abdurrauf Syiah Kuala) bukanlah satu-satunya penghubung tarekat Syatariyah dari dunia Islam (Mekah dan Madinah) ke dunia Melayu-Nusantara, khususnya Aceh. Beberapa naskah koleksi Tanoh Abee menyebutkan terhubungnya murid-murid tarekat Syatariyah di sana tanpa melalui jalur Abdurrauf al-Fansuri di era yang sama. Demikian juga jaringan silsilah Syatariyah di Pidie dari tokoh utama adalah Muhammad bin Ahmad Khatib Langien di Pidie. Berada di Gampong (desa) Langien di wilayah kemukiman berada di Pidie (Kabupaten) yang jauh dari sentral Kesultanan Aceh (Banda Aceh).
Hubungan silsilah tarekat Syatariyah terjalin kuat antara ulama Nusantara, Arab dan India secara langsung ataupun tidak. Konsep ajaran yang disebarkan di Nusantara –khususnya Aceh- tidak berbeda jauh dengan konsep di tempat lahir dan berkembangnya tarekat ini. Walaupun belum didapatkan tokoh Arab atau India dalam tarekat ini yang langsung berkiprah di Aceh, seperti peran Nūr al-Dīn al-Ranirī periode Iskandar Tsani (w. 1641) dan pamannya, Hamīd al-Rānirī di masa Iskandar Muda (w. 1630), yang mengembangkan tarekat Qadiriyah di Aceh.
Tarekat Syatariyah masuk dan berkembang di Aceh hampir bersamaan dengan atau setelah tarekat Qadiriyah. Sejauh ini, ‘Abd al-Raūf al-Fansuri memiliki jaringan terluas di Nusantara, dan dapat dipastikan yang pertama. Dengan pengalamannya selama 19 tahun di Jazirah Arab dan “berguru Syatariyah” kepada Ahmad al-Qushāshī dan Ibrāhim al-Kurānī hingga dipercayakan untuk mengembangkan ajaran tarekat di Nusantara. Ia mampu mengorbitkan ulama-ulama dalam tarekat Syatariyah di seluruh wilayah Melayu-Nusantara, diantaranya Burhanuddin Ulakan, (w. 1699 M) dari Pariaman, Sumatra Barat, Abdul Muhyi (w. 1738 M) dari Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat, Yusuf al-Makassari (w. 1999 M) dari Sulawesi, dan Syaikh Abdul Malik bin Abdullah atau Tok Pulau Manis (1678-1736) dari Terengganu.

Salah satu kemudahan yang dimiliki oleh ‘Abd al-Raūf al-Fansuri dalam penyebaran tarekat Syatariyah adalah ia sebagai “orang dalam” di Kesultanan. Posisi penting yang diamanahkan tersebut telah menjadikan tarekat Syatariyah sebagai ajaran resmi di Kesultanan Aceh. Jika kita menilik kembali ke India, hal tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh ‘Abdullah al-Syaṭṭār dan Muhammad Ghauts saat di India yang mendapat tempat di hati penguasa Sultan Moghuls, sehingga tarekat tersebut dapat bertahan sekian lama. Demikian juga kekuatan karakter tarekat Syatariyah di Aceh yang dibangun oleh para pemimpinnya dapat eksis di Kesultanan, serta mendapat tempat istimewa sebagai ajaran resmi keagamaan.
Di dalam ajaran tarekat Syatariyah sendiri, juga terdapat beberapa perbedaan –atau pergeseran- yang terjadi diakibatkan oleh berbagai faktor dan zaman yang berubah. Muhammad Khatib Langien –menurut Mi‘rāj al-Sālikīn- memiliki perbedaan di beberapa tata cara (praktik) amaliyah tarekat dengan tata cara ‘Abd al-Raūf al-Fansuri.
Proses pembaiatan dan talqīn yang disebutkan oleh Muhammad Khatib Langien dan Teungku Di Pulo satu tahap saja untuk memudahkan dan memberi kelonggaran dalam proses ritual. Namun, bagi ‘Abd al-Raūf al-Fansuri proses talqīn dan baiat dua hal yang berbeda, dan keduanya memiliki tata cara masing-masing secara terperinci dan berurutan. Perbedaan juga terjadi tata baiat perempuan, satu harus melalui media air, seperti bejana diisi air. Sedangkan lainnya cukup berjabat tangan tanpa bersentuhan.
Selain itu, perubahan juga diwariskan dari ritual talqīn dan baiat yang telah dilakukan oleh guru Muhammad Khatib Langien sebelumnya, Muhammad ‘Alī dan Muhammad As’ad, yang tercantum dalam Mi‘rāj al-Sālikīn disebutkan sebagai berikut:
Bermula kelakuan talqīn dan bai’at pada tarekat ini, itu hendak ada shaykh dan muridnya itu berair sembahyang, maka menyuruh shaykh akan muridnya itu taubat daripada sekalian dosa, kemudian maka menjabat shaykh itu akan tangan muridnya dan mengata shaykh itu “A‘ūdhu billāh min al-shayṭān al-rajīm {Inna al-ladhīna yubāyi‘ūnaka innamā yubā‘ūna Allāh…}

Muhammad Khatib Langien telah memberikan semacam reorientasi terhadap tarekat Syattariyah dan memperbaharuinya menjadi sebuah tarekat ortodoks yang dapat diterima oleh semua kalangan dan golongan, tanpa harus didukung oleh penguasa. Ortodoksi tersebut bukanlah konsep yang mutlak dan abadi, namun relatif dan dinamis, sesuai perkembangan atau pergeseran yang tidak terlepas dari situasi politik dan komunitas masyarakat. Hal tersebut menjadikan tarekat Syatariyah eksis dan berhasil memodifikasi serta mereformulasi posisinya dalam masyarakat Aceh yang terus berubah. Munculnya pemakaian simbol-simbol khas daerah (lokal) dari karya ulama Syatariyah untuk tampil di panggung internasional, merupakan salah satu cara menjadikannya sebuah perekat dengan kelompok-kelompok muda dan tua dalam menumbuhkan nasionalisme dan anti kolonialisme. Tokoh-tokoh Syatariyah periode ke-19 mampu menjembatani antara spiritualitas dengan patriotisme untuk menjawab tantangan di wilayah dan periode mereka.

Download Artikel Hermansyah di Jurnal Studia Islamika
atau
http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/studia-islamika/article/view/515

Melacak "Nasib" Naskah Tajus Salatin di Aceh

Naskah Tajus Salatin tba-tiba menjadi perhatian saya, yang sebelumnya sudah sejak lama saya mengincar untuk membacanya. Kabarnya naskah tersebut merupakan asas manajemen pemerintahan Kesultanan Aceh sejak periode Sultan Alaidddin Riayat Syah (997-1011 H (1589-1604) karya dari Bukhari al-Jauhari. Sosok tokoh ini juga belum terungkap, dan akhirnya melahirkan tanda tanya dan beberapa asumsi asal usul tokoh tersebut, apakah ia berasal dari Bukhara, ataukah ia dari Johor dengan gelar "al-Jauhari" atau al-Johori. (lihat link: http://www.iranicaonline.org/articles/taj-al-salatin). Semua dapat dilakukan penelitian lebih mendalam untuk perkembangan keilmuan dan intelektual di alam Melayu Nusantara secara umum, dan Aceh khususnya.
Mengapa khusus Aceh, sebab naskah ini dianugerahkan kepada kepada Sultan Aceh. Terlepas dari euforia kejayaannya, tapi warisan ini cukup sulit ditemui di Aceh pada zaman modern ini, padahal isinya mungkin cukup relevan untuk dijadikan cerminan dengan sekarang, (lihat: http://hermankhan.blogspot.com/2011/07/asas-pemimpin-dalam-tajus-salatin.html), setidaknya "belajar" mempertahankan tradisi dan mengembangkan visi. 
Prof. Iskandar menyebutkan bahwa proses transliterasi ke aksara Jawi sekitar tahun 1603 M di Aceh pada masa Sultan Alaiddin Riayat Syah. Pedoman sistem kenegaraan tersebut merujuk kepada karya Persia, mungkin disusun di India, karena bukti internal menunjukkan bahwa penulis memiliki pengetahuan puisi Persia.
Hal tersebut dapat dilihat pada sosok Nuruddin al-Raniry yang mengabdikan dirinya kepada Sultan Aceh di wilayah Kerajaan Aceh. Padahal tokoh tersebut -dalam beberapa penelitian- pernah eksis Pahang dan Haramain, demikian juga asal negerinya di India, akan tetapi kemudian karyanya belum ditemui bahwa ia menulis di Pahang dan atau di Haramain. Kecuali beberapa kitab (3 kitab) yang ditulis di India pasca kepulangannya dari Aceh.
Karena itulah, Bukhari al-Jauhari -dan banyak ulama Aceh-Melayu lainnya- juga meninggalkan banyak tanda tanya tentang dirinya, walaupun harus diakui tradisi penulis di tanah Aceh-Melayu selalu tak ingin dikenal, sebuah sifat tasawuf (sufisme) dalam karya mereka tanpa mengharap apresiasi dari manusia.
Halaman Awal Naskah Tajus Salatin koleksi Malaysia disalin tahun 1967

Sejak Prof. Farish Noor dari Singapura menanyankan tentang keberadaan naskah Tajus Salatin dari negeri asalnya, Aceh, di beberapa media jejaring sosial, yang akhirnya juga mendarat ke inbok elektronik saya. Saya bertambah penasaran dan tanda tanya, salah satunya adalah naskah manuskrip yang dianggap sebagai pedoman tatanegara Kesultanan Aceh yang dipakai beberapa periode lamanya, tak pernah (atau lebih bijak -belum-) ditemukan di Aceh.
Sebut saja, pedoman yang dirujuk dalam naskah Tajus Salatin kemudian masih diaplikasi setengah abad berikutnya, periode Safiyatuddin Syah Tajul Alam terpilih sebagai Sultanah Kerajaan Aceh, tokoh perempuan yang memiliki kontropersi ideologi di dunia Muslim Nusantara, termasuk Jazirah TImur Tengah. 
Sebenarnya hal ini bukan hal yang baru bagi saya, sebab naskah-naskah fenomenal lainnya di Aceh juga bernasib sama, sebut saja Bustanus Salatin karya Nuruddin Ar-Raniry juga tak pernah muncul di koleksi negara atau swasta. Benar atau tidak, memang kita -pemerintah dan masyarakat- sama-sama sepakat tidak menghiraukan karya-karya indatu (leluhur), atau turut bekerjasama "menjajah" karya sendiri bersama dengan penjajah intelektual.
Nasib naskah Tajus Salatin memiliki nasib yang hampir serupa, sepertinya harus diperoleh naskah-naskah lebih tua dan autoritatif untuk mendapatkan informasi lebih kongkret dan detail atas keberadaan naskah itu sendiri, termasuk sosok penulisnya yang kian terlupakan. Tapi sepertinya jalan masih panjang, semoga masih ada harapan naskah itu terselip di rak lemari rumah masyarakat Aceh, wallahu'alam...

Punahnya Sastra Aceh

Naskah Hikayat Prang Sabi
"Bangsa disayang, bahasa dibuang" mungkin tepat untuk menggambarkan Aceh saat ini. Di atas pusaran politik dan status Aceh yang berusaha membangkitkan nasionalisme keacehan dengan menjadi bangsa yang mendapat "keistimewaan" dan "otonomi" dari RI. Namun sayang, identitasnya musnah dari sisi sastra dan bahasa.

Realitanya tidak semua orang yang status KTP Aceh mampu berbahasa Ibu, ataupun lokal. Dalam konteks ini seluruh bahasa khas kedaerahan yang ada di wilayah Aceh. Dalam beberapa diskusi juga terungkap bahwa, sebagian generasi muda dan tingkat pemula sudah enggan menggunakan bahasa Aceh sebagai komunikasi dua arah, apalagi dalam diskusi publik.

Tentunya, tidak terlalu ekstrim jika disebut "punahnya sastra Aceh", sebab begitulah realita saat ini. Selama kemerdekaan, belum hadir satupun karya dalam bahasa dan kesusasteraan Aceh untuk dapat dibaca dan dikagumi. Walaupun semangat "pan-acehnisme" (meminjam istilah pan-Islamisme) pernah muncul di bidang karya sastra pasca rehab-rekon gempa-tsunami, tapi redup kembali oleh isu-isu politik, pemerintahan dan kepentingan "sekterian" alias kelompok.

Beranjak dari kasus-kasus tersebut pasca perdamaian dan kebencanaan di Aceh, sepatutnya pemerintah dan pemangku kebijakan di bidang ini untuk merumuskan kembali membangun pondasi sastra Aceh sebagaimana dahulunya. Dahulu yang dimaksud adalah periode kesusasteraan pernah mencapai puncak keselarasan.

Karya sastra berbahasa Aceh, meskipun telah muncul sejak abad XVII M, namun perkembangannya baru menemukan momentumnya pada abad XVIII. Perkembangan tersebut semakin pesat pada abad XIX seiring dengan semakin surutnya peranan Aceh sebagai pusat kebudayaan Melayu.  Hal tersebut ditandai dengan banyaknya karya sastra, umumnya berbentuk puisi dan ditulis dalam bahasa Aceh Jawoe (Aceh bertulisan Arab),  yang muncul dalam periode ini, baik lisan maupun tulisan. Sementara penulisan prosa dalam bahasa Aceh tidak berkembang sebagaimana perkembangan bahasa Melayu, bahkan hingga sekarang.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa karya sastra Aceh tertua yang dapat ditelusuri adalah: Hikayat Seuma’un,  tanpa diketahui identitas pengarang (anonim), sekitar tahun 1069 H/1658 M. Hikayat ini bercerita tentang kepahlawanan Seuma’un, anak Khalid ibn Walid (pejuang Islam), yang lahir dan besar di Mekah. Kemudian muncul Hikayat Tujoh Kisah (Hikayat Tujuh Kisah) tahun 1074 H/1663 M. Karya tersebut merujuk kepada sebuah karya Nuruddin al-Raniri, Akhbar al-Akhirah,  yang ditulis tahun 1052 H/1642 M.

Karya berbahasa Aceh lainnya, yang muncul dalam abad XVIII dan XIX, di antaranya:


  1. Hikayat Gumbak Meuih (Hikayat Si Rambut Emas), pengarangnya anonim. Karya ini ditulis atas permintaan Tengku Bandasah, sahabat penulis, dari Gampong Barat, Pidie, tahun 1220 H/1805 M.
  2. Khabar Insan Kamil,  pengarangnya anonim, ditulis dalam bahasa Aceh Jawoe (bahasa Aceh dengan tulisan Arab). Karya ini, yang ditulis tahun 1221 H/1806 M, berisi tentang insan kamil dan cara memperolehnya. Setiap baitnya dimulai dengan kata La ilaha illa Allah. 
  3. Hikayat Tanbih al-’Ashi, pengarangnya Anonim, ditulis tanggal 27 Jumadil Akhir 1234 H/1818 M dalam bahasa Aceh Jawoe (Aceh-Jawi).  Hikayat ini berbicara tentang tauhid dan akhlak yang harus dimiliki seseorang untuk kebersihan jiwanya. 
  4. Kitab Tanbihoy Rapilin  (Tanbih al-Ghafilin: Peringatan bagi Orang Lalai), karangan Faqih Jalaluddin (Teungku di Lam Gut). 
  5. Hikayat Balukia ngon Affan (Hikayat Balukia dan Affan). Hikayat ini selesai dikarang 24 Safar 1262 H (+ 1845 M),  sedangkan penulisnya tidak dikenal (anonim). 
  6. Menhajoy Abidin merupakan terjemahan versi bahasa Aceh dari kitab Minhaj al-’Abidin karya Imam al-Ghazali (w. 1111 M). Terjemahan versi bahasa Aceh, yang jauh lebih singkat, dilakukan oleh Syeh Marhaban.  
  7. Hikayat Pocut Muhammad, karya Teungku Lam Rukam (nama aslinya tidak diketahui). 
  8. Hikayat Maleem Dagang, karangan Ismail ibn Ya’kub (terkenal Teungku Chik Pantee Geulima).
  9. Sipheuet Dua Ploh, salah satunya dikarang (mungkin juga disalin) oleh Teungku Lam Bhu’, seorang wanita yang berasal dari Lam Bhu’ Banda Aceh. Banyak varian dan versi kitab Sifat 20.
  10. Nazham Jawoe, karangan Syeh Marhaban. Karya ini khusus membahas tentang komponen-komponen sembahyang. Meskipun judulnya Nalam Jawoe, yang artinya ”pantun didaktik Melayu”, tetapi sebagian besar karya ini ditulis dalam bahasa Aceh, di samping bahasa Arab dan Melayu. 
  11. Hikayat Meunajat, karangan Syeh Marhaban. 
  12. Hikayat Akeubaro Karim (Akhbar al-Karim),  karangan Teungku Chik Seumatang (nama asli tidak diketahui). Karyanya juga dikenal Aqidat al-Jawahir al-Mubarakah, Teks ini menjelaskan tentang shalat, khauf, khitbah, faraidh, wakaf dan hari kiamat. 
  13. Hikayat Akeubaro Naim (Akhbar al-Na’im),  karangan (mungkin juga salinan)  Teungku Muhammad Yusuf Reubee. 
  14. Tanbeh Tujoh Blah  (Peringatan Tujuh Belas), karangan Teungku Muda Teureubue. Teks ini ditulis pertama kali oleh pengarang pada awal abad 13 Hijriah (awal abad 19 Masehi). 
  15. Abda’u atau dikenal juga Nazham Syeh Marduki. Karya tersebut merupakan versi bahasa Aceh dalam bentuk syair dari ’Aqidah al-‘Awwam (Akidah untuk Orang Awam)

Bidang sastra epos (perang), naskah-naskah primer dan sumber utama pejuang adalah:

  1. Kitab Tadzkirat al-Rakidin dikarang oleh Syeikh Abbas ibn Muhammad (Teungku Kuta Karang) tahun 1307 H/1889 M. Penulisan kitab Tadzkirat al-Rakidin merujuk kepada kisah Malem Dagang sebagai peristiwa perang melawan kafir di masa lalu. 
  2. Nazham Prang Sabi, karangan Teungku Abdul Wahab ibn Muhammad Saleh (Teungku Chik Tanoh Abee, w. 1314 H/1893). 
  3. Nasihat Ureueng Muprang (Nasehat bagi Orang Yang Terlibat Perang), karya Nya’ Ahmad, nama lengkapnya Uri ibn Mahmud ibn Jalaluddin ibn Abdussalam, berasal dari Cot Paleue, Pidie (1894)
  4. Hikayat Perang Sabi, karya Muhammad Pantekulu (terkenal Teungku Chik Pantekulu). 


Sebagian naskah tersebut jelas kepengarangannya dan kepemilikan (hak cipta), akan tetapi harus diakui, kita sangat minim mengetahui sosok mereka, biorgrafi dan peran mereka di masyarakat. Apalagi naskah-naskah yang tidak diketahui nama pengarangnya atau penulis (anonim), seperti Hikayat Diu Plinggam. Hikayat Nubuet Nabi  (Hikayat Nubuah Nabi), Hikayat Meudeuhak,  Hikayat Soydina Husen,  Hikayat Nun Farisi,  Hikayat Keumala Alam,  Hikayat Malem Diwa,  Hikayat Bustaman,  Bahaya Sireubee (Bahaya Seribu), Hikayat Nur Muhammad, Hikayat Cut Fadhlun, Hikayat Siti Khizanah, dan lainnya.

Kini, yang tersisa hanya "kalkulasi karya" berapa yang dapat dijadikan sumber bacaan dan kajian dari naskah-naskah berbahasa Aceh dalam satu tahun, atau kita akan setuju menyebut ini zaman kepunahan kesusasteraan Aceh. []

Strategi Preservasi Manuskrip

Saat restorasi naskah di rumah Tarmizi A Hamid
Bersama tim PKPM, 2012
Pasca gempa-tsunami Aceh 2004 telah menghancurkan banyak cagar budaya Aceh, termasuk manuskrip (naskah kuno). Manuskrip adalah dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis dengan tangan yang telah berumur 50 tahun lebih (UU Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992, Bab I Pasal 2). Pada saat bencana itu datang, ratusan naskah dan ribuan teks tulisan musnah di Aceh dilahap oleh ombak air laut. Beberapa di antara kolektor, seperti Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Tarmizi A Hamid (kolektor pribadi) belum sempat melakukan preservasi, salinan ulang, digitalisasi, ataupun backup manuskrip yang bernilai tinggi dan memiliki informasi penting lainnya.
Belajar dari kejadian tersebut, kemudian banyak lembaga terjun ke Aceh, dari luar dan dalam negeri, untuk melakukan preservasi naskah. Sebagian programnya, ada yang tuntas, setengah jalan, mungkin ada yang gagal total. Tapi kini, melihat semua hasil tersebut belum mencapai sasaran (dalam beberapa bidang) misalnya, pemahaman masyarakat dalam melestarikan warisannya, pengetahuan untuk pelestarian dan perawatan naskah, ataupun pengembangan kajian manuskrip.
Karenanya, perlu ada pendidikan dan informasi umum untuk masyarakat, supaya manuskrip tidak hanya disimpan, disakralkan, atau sebaliknya, dibakar, dimusnahkan, dan diabaikan. Setidaknya ada pengetahuan masyarakat bagaimana mereka menjadi bagian dalam penyelematan warisan indatunya.
Dalam dunia pernaskahan, dan melihat konstektual pernaskahan di Aceh. Ada dua pendekatan dalam mengkaji warisan kebudayaan sastra yang tertuang dalam naskah pertama Filologi kedua kodikologi.


Filologi dapat dimaknai cinta teks, atau kata. Sebab, kata “philos” dalam bahasa Yunani yang berarti “cinta” dan logos ” yang diartikan kata. Pada kata “filologi” kedua kata itu membentuk arti “cinta kata” atau “senang bertutur”. Arti ini kemudian berkembang menjadi “senang belajar” atau “senang kebudayaan”. Pengkajian filologi pun selanjutnya membatasi diri pada penelitian hasil kebudayaan masyarakat lama yang berupa tulisan dalam naskah (teks).
Secara Khusus filologi dapat diartikan secara khusus Ilmu yang mempelajari naskah naskah lama untuk menetapkan keasliannya, bentuknya semula, makna isinya, serta konteks penulisannya; Sejalan dengan penelitian filologi, berkembang pulalah yang namanya kritik teks, bertujuan menemukan naskah yang paling baik, paling bagus, dan paling bersih dari kesalahan. Kegiatan kritik teks ini muncul akibat fakta di lapangan yang menemukan begitu banyak naskah yang sudah rusak, dan begitu banyak juga naskah yang bervarian (maksudnya sama), tapi ternyata isinya memiliki sedikit perbedaan, atau bahkan banyak sama sekali.
Kedua, kodikologi berasal dari kata Latin ‘codex’ (bentuk tunggal; bentuk jamak ‘codies’) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘naskah’–bukan menjadi ‘kodeks’. Sri Wulan Rujiati Mulyadi mengatakan kata ’caudex’ atau ‘codex’ dalam bahasa Latin menunjukkan hubungan pemanfaatan kayu sebagai alas tulis yang pada dasarnya kata itu berarti ‘teras batang pohon’. Kata ‘codex’ kemudian di berbagai bahasa dipakai untuk Kodikologi, atau biasa disebut ilmu pernaskahan bertujuan mengetahui segala aspek naskah yang diteliti. Aspek-aspek tersebut adalah aspek di luar isi kandungan naskah tentunya.
Kodikologi adalah satu bidang ilmu yang biasanya bekerja bareng dengan bidang ilmu ini. Kalau filologi mengkhususkan pada pemahaman isi teks/kandungan teks, kodikologi khusus membahas seluk-beluk dan segala aspek sejarah naskah. Dari bahan naskah, tempat penulisan, perkiraan penulis naskah, jenis dan asal kertas, bentuk dan asal cap kertas, jenis tulisan, gambar/ilustrasi, hiasan/illuminasi, dan lain-lain. Nah, tugas kodikologi selanjutnya adalah mengetahui sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, meneliti tempat2 naskah sebenarnya, menyusun katalog, nyusun daftar katalog naskah, menyusuri perdagangan naskah, sampai pada penggunaan naskah-naskah itu (Dain dalam Sri Wulan Rujiati Mulyadi, 1994: 2–3).
Preservasi naskah atau pemeliharaan naskah bias berupa pemeliharaan fisik maupun pemeliharaan teks dalam naskah
1. Pelestarian Fisik Naskah
Pelestarian fisik naskah lebih di tujukan pada Pemeliharaan agar bentuk fisik suatu naskah tetap utuh dan tidak rusak, cara yang bias dilakukan yaitu:
a. Konservasi : merupakan upaya perpanjangan usia naskah, dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya,
- Difumigasi (pengendalian hama dalam naskah) minimal satu tahun sekali
- Disimpan dalam ruang khusus dengan suhu ±16o C (24 Jam) Kelembaban Udara antara 50-55%

b. Restorasi
Restorasi yaitu merawat dan mengembalikan keutuhan kertas dan jilidannya sehingga diharapkan bisa bertahan lebih lama.

Naskah Mir'atul Tullab yang direstorasi secara tradisionil menggunakan kertas semen

2. Pelestarian Teks Dalam Naskah
Pelestarian teks dalam naskah merupakan suatu upaya melestarikan teks-teks yang terkandung di dalamnya melalui pembuatan salinan (backup) dalam media lain, sehingga paling tidak kandungan isi khazanah naskah itu tetap dapat dilestarikan meskipun seandainya fisik naskahnya musnah akibat rusak atau bencana. Beberapa cara yang dapat dialakukan, yaitu:
a. Digitalisasi naskah atau manuskrip dapat menggunakan dua jenis alat kamera dan mesin scanner. berikut ini penjelasan digitalisasi menggunakan camera:
b. Disalin Ulang Merupakan suatu upaya yang dilakukan agar isi informasi dalam suatu informasi dapat diselamatkan dan informasi yang terkandung dapat di akses walaupun keadaan fisiknya telah rusak atau telah hilang.
c. Dialih aksarakan : metode transliterasi dan transkripsi naskah diharapkan orang yang tidak bias membaca naskah dalam aksara arab atau jawa masih dapat mengakses dan membaca suatu naskah.
d. Diterjemahkan ; Penerjemahan suatu naskah diperlukan agar orang atau pencari informs bisa mempelajari suatu naskah walau tidak dapat membaca aksara dan sastra yang tertulis pada suatu naskah.
e. Pengkajian dan atau penelitian merupakan langkah yang sering diagunakan para akademisi atau peneliti (research) dalam melakukan berbagai kajian, sebab manuskrip dapat dijadikan sebaga bahan rujukan untuk kajian-kajian ilmu sosial, humaniora, kedokteran, falak, dan sebagainya.

"Yang terpenting adalah pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya manuskrip dan naskah kuno untuk dirawat dan ditelaah, bukan berarti hanya sekedear proyek, masyarakat menjadi objeknya. Mengajari masyarakat dan memberdayakan sumber daya mereka akan kepemilikan naskah lebih penting, daripada kita menghisap madu, dan membunuh lebahnya".

Ribuan Manuskrip Islam Kuno Tersimpan di Perpustakaan Universitas AS



Departemen Perpustakaan untuk buku-buku langka di Universitas Princeton, AS ternyata menyimpan ribuan manuskrip Islam yang ditulis dalam bahasa Arab, Persia, Turki Ustmani dan bahasa-bahasa lainnya dari berbagai negara Muslim di dunia.

Saat ini ada sekitar 9.500 manuskrip Islam yang tersimpan di Library’s Departemen of Rare Books and Special Collection, Universitas Princeton. Dari jumlah tersebut, 200 manuskrip pilihan di sediakan dalam bentuk online sehingga mudah diakses bagi siapa saja yang ingin melakukan penelitian.

Don Skemer, kurator manuksrip kuno mengatakan, Universitas Princeton adalah salah satu lembaga yang memiliki banyak koleksi manuskrip penting dan terbaik di dunia. Akses online terhadap 200 manuskrip Islam pilihan itu, kata Skemer, adalah bagian dari proyek digitalisasi katalog manuskrip-manuskrip Islam yang sudah dimulai sejak tahun 2005. Nantinya, seluruh manuskrip akan dikatalogkan secara online dilengkapi dengan informasi tentang penulis dan isi manuskrip untuk membantu para peneliti apakah akan memesan salinan dalam bentuk mikro film atau hanya perlu datang sendiri ke perpustakaan.



"Digitalisasi katalog manuskrip-manuskrip Islam secara khusus dilakukan agar perpustakaan bisa meningkatkan aksesnya terhadap koleksi-koleksi manuskrip yang sangat penting dan memberikan kesempatan bagi dunia untuk ikut membacanya lewat teknologi digital," jelas Skemer.

Michael Cook, seorang profesor bidang studi Timur Jauh dan pakar Islam di Amerika menyambut proyek digitalisasi katalog manuskrip-manuskrip Islam di Universitas Princeton. "Perpustakaan online menandai kemajuan dalam hal layanan informasi tentang perkembangan manuskrip, di mana setiap orang bisa mengaksesnya lewat intenet," ujarnya.

Manuskrip-manuskrip Islam yang tersimpan di Universitas Princeton adalah manuskrip-manuskrip bersejarah yang dari masa awal perkembangan Islam sampai jatuhnya dinasti Turki Ustmani yang menandai berakhirnya kekhilafahan Islam. Manuskrip-manuskrip itu berupa ensiklopedi, sejarah, biografi, literatur, buku-buku seni, ilustrasi, tentang hal-hal ghaib, astrologi, astronomy, matematika, kedokteran dan berbagai tulisan ilmiah serta spiritual dari berbagai belahan dunia Islam, mulai dari Spanyol, Afrika, Timur Tengah, India dan Indonesia.

Perpustakaan itu juga menyimpan manuskrip-manuskrip pilihan yang ditulis dalam bahasa Persia serta gambar-gambar miniatur jaman Mughal dan kaligrafi dari abad ke-18. (ln/isc/PU) (eramuslim.com)

Naskah Ramadhan dan Toleransi Perbedaan Itsbat

Naskah Puasa Ramadhan

Naskah puasa Ramadhan "Syahdan, Apabila kelihatanlah bulan pada suatu negeri, maka lazimlah puasa isi negeri itu dan isi negeri yang muwafaqah [=mufakat] tempat terbit matahari mereka itu, dengan terbit matahari dari karena melihat bulan itu berlainan, sebab berlain-lainan tempat yang melihat dan kedudukan negeri. Dan jika tiada muwafakat tempat terbit matahari dua negeri itu maka tiadalah wajib isi negeri yang kedua"
Semenanjung Arab adalah bentang daratan beralam kejam di siang hari. Tandus dan kering. Namun di malam hari. Arab adalah "surga" bagi para astronom. Langit Arab di malam hari, selalu indah.
Seperti China, sebagai bangsa dan peradaban tua, sastrawan Arab banyak menyanjung langit di malam hari. Malam adalah inspirasi keindahan, sedangkan siang diibaratkan "kekerasan."
Tak mengherankan jika khasanah intelektual dunia soal astronomi banyak lahir di tanah Arab. Gugusan bintang-bintang banyak lahir dari istilah Arab awal. Rasi bintang Orion awalnya dikenal dengan Al-Jabbar, Taurus (Ath-Thawr), Canis Major (Al-Kalb Al-Akbar), Canis Minor (Al-Kalb Al-Asghar), Leo (Al-Asad), Gemini (At-Tawa'man), Scorpius (Al-'Aqrab), dan beberapa lainnya.
Inilah yang menjelaskan, kenapa di banyak negara-negara Islam di Semenanjung Arab, seperti Mesir, Syira, atau Yaman dalam memutuskan 1 Ramadan, selalu merujuk ke Arab. Ke Tanah Haram, Mekkah.
Bahkan Malaysia dan Jepang, yang jauh di tenggara Asia, pun senantiasa berkiblat pada penentuan 1 Ramadan atau Syawal di Mekkah. Langit Mekkah dan Jeddah, selalu lebih terang. Rasi bintang di malam hari selalu terlihat lebih jelas.

Dan, memang perbedaan 1 Syawal dan 1 Ramadan hanya soal cara sistem penghitungan belaka, dan kondisi langit atau ufuk saat rukyah hilal.
Ingatkah kita, di Indonesia, hampir 3 dekade di masa pemerintah Soeharto begitu kuat perbedaan "cara" itu nyaris tak pernah ada. Itu karena pemerintah kuat, dan masih punya otoritas dan kepercayaan.
Sementara Indonesia umumnya menentukan sendiri, melalui pertemuan antara pemeritah dan ormas-ormas Islam.
Dalam perhitungan 1 Ramadan dan 1 Syawal, ada yang memakai Hisab dengan perhitungan astronomi yang rumit, ada pula yang memakai Ru'yah atau melihat bulan/hilal.
Ada pun yang memakai sistem Hisab berpendapat mereka melihat bulan dengan memakai ilmu kalendering. Inilah yang selama ini jadi rujukan ormas Muhammadiyah.
Dengan rujukan ini, 1 Ramadan 1455, atau di 22 tahun akan datang (tahun 2034) mendatang, sudah bisa diketahui, atau disesuaikan dengan kalender masehi.
Yang kedua, dengan rukyah, jika bulan terlihat, itulah saat mulai berpuasa atau berbuka puasa (Idulfitri). Inilah yang dipakai oleh pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemenag dan Ormas Nahdlatul Ulama (NU).
Pada Ru'yah lokal, tiap penduduk melihat bulan sendiri-sendiri, sehingga tiap kota atau tiap negara merayakan hari Idulfitri sendiri-sendiri bisa berbeda satu negara dengan negara yang lain bahkan satu kota dengan kota yang lain.
Ada pun yang memakai Ru'yah Global begitu ada minimal 2 orang saksi yang dipercaya melihat bulan, maka itulah awal Ramadan atau awal Syawal. Rujukan yang terakhir ini biasanya http://moonsighting.com/
Umumnya Tim Ru'yah di Indonesia gagal melihat hilal (bulan muda) bukan karena mereka "bodoh" atau minimnya peralatan. Ini lebih disebabkan karena memang langit lagi berawan, atau banyak partikel cahaya dari bumi. Inilah yang menyebabkan bulan muda sering tertutup awan.
Selain itu, Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia begitu terang oleh cahaya lampu-lampu gedung dan rumah-rumah sehingga langit juga terlihat lebih terang termasuk di Boscha.
Akibatnya sinar-sinar bintang dan bulan terganggu dan terlihat kecil dan redup. Di Arab sebaliknya. Langit tidak berawan. Dengan luas darat yang lebih besar daripada Indonesia (2,4 juta km2) sementara jumlah penduduk cuma 1/5 pulau Jawa, banyak daerah tak bertuan yang tidak berlampu.
Galap gulita. Itulah, kenapa langit dan rasi bintang di Arab pada malam hari selalu lebih indah.
Sehingga langit begitu hitam kelam, sementara bintang-bintang dan bulan jadi tampak lebih besar (sekitar 4-6x lipat daripada di Indonesia) dan lebih terang. Oleh karena itu, Hilal lebih mudah terlihat di sana.
Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengungkapkan setelah mengamati posisi bulan menyimpulkan jika nantinya akan ada potensi perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan.
Dari perjalanan bulan, diketahui bahwa pada maghrib akhir Sya'ban atau 19 Juli 2012 nanti bulan telah wujud atau tampak di Indonesia. Akan tetapi ketinggiannya kurang dari imkan rukyat. Ketentuan Imkan rukyat menggunakan kriteria yang disepakati ketinggian bulan minimal 2 derajat.
Nah, karena pada 19 Juli 2012 bulan sudah wujud tetapi kurang dari 2 derajat, maka pengguna hisab wujudul hilal akan menetapkan awal Ramadan jatuh pada 20 Juli. Pengguna hisab wujudul hilal ini di antaranya adalah Muhammadiyah.
Sedangkan ormas yang menggunakan hisab imkan rukyat akan menetapkan 1 Ramadan pada 21 Juli. Sementara itu, posisi hilal yang rendah tadi (antara 0-2 derajat) tidak mungkin akan berhasil di-rukyat pada 19 Juli.
Maka pengguna rukyat kemungkinan besar menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 21 Juli. Pengguna rukyat ini di antaranya adalah pemerintah dan ormas-ormas umumnya lainnya.

source: http://id.berita.yahoo.com

Mimpi Museum Manuskrip Aceh Bak Perpustakaan Alexandria


Di kawasan Asia, Aceh punya sejarah tersendiri tentang manuskrip kuno. Sebagai daerah "gudang naskah" sangat wajar jika kemudian Aceh sebagai daerah primadona penelusuran naskah periode kolonial dan kemerdekaan. Hingga naskah Aceh ada dimana-mana, menjadi barang berharga dan mendapat pengawalan esktra di berbagai museum negara.

Berbalik fakta dengan di Aceh, karya ulama dan indatu tidak mendapat perhatian serius hingga saat ini, walaupun naskah Aceh pernah ditelan konflik, dan dihantam tsunami. Ia (manuskrip) tetap tersimpan di kandang ayam atau jerjak meunasah (balai pengajian). Tidak ada museum manuskrip yang khusus menyimpan  naskah-naskah yang berharga. Aceh semestinya belajar ke berbagai museum di luar negeri, salah satunya Alexandrina Bibliotheca (Perpustakaan Alexandria).

Perpustakaan Alexandria adalah reinkarnasi indah perpustakaan kuno yang terkenal dari Alexandria, Mesir. Perpustakaan asli memegang manuskrip koleksi terbesar di dunia dan merupakan pusat belajar selama 600 tahun sampai terbakar pada abad ke-3. Meskipun pernah terbakar, perpustakaan ini mempunyai bentuk yang mengagumkan, menyerupai sebuah diskus miring atau matahari besar. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Norwegia dengan biaya sekitar US$200 juta.


Adapun koleksi penting lainnya adalah manuskrip keagamaan termasuk salinan langka dari Al Qur'an. Koleksi buku di seluruh ruang baca merupakan sumbangan dari seluruh dunia dan mencakup berbagai subjek dan bahasa.

Pameran lainnya adalah koleksi ukiran asli, litograf, foto awal, peta Alexandria oleh seniman dari abad ke-15 dan ke-19, serta sebuah pameran permanen yang didedikasikan untuk karya sastra sinematik dan lukisan dari director, desainer produksi dan pembuat film Mesir, Shadi Abdel Salam.


Berada di perpustakaan, Anda bisa mengagumi rrsitektur yang modern dan mencolok dengan atap panel kaca berdiameter 160 meter yang miring ke arah laut seperti sebuah jam matahari.
Dinding luar, yang terbuat dari granit Aswan abu-abu diukir dengan simbol dari 120 skrip yang berbeda.

Salah satu bagian spektakuler dari perpustakaan adalah ruang baca utama yang meliputi lahan seluas 70.000 meter persegi dan dapat menampung 2.000 pembaca pada satu waktu. Selain itu, ada juga 200 ruang belajar untuk sarjana dan peneliti.

Untuk melihat naskah dan pameran galeri buku langka, Anda bisa menuju jantung perpustakaan dimana terdapat ruangan seluas 344 meter persegi. Ini terdiri dari 12 kotak pameran yang disumbangkan oleh Italia dan 20 kotak pameran buatan Mesir. Sekitar 120 manuskrip dan buku langka ditampilkan pada kotak ini.

Di dalam perpustakaan juga ada Museum Antiquities yang menampilkan artefak yang ditemukan di lokasi pembangunan perpustakaan modern. Koleksi ini terdiri dari sekitar 1.100 dokumen dari berbagai zaman peradaban Mesir mulai dari era Firaun sampai dengan periode Islam, termasuk peradaban Yunani, Romawi dan Koptik.

Bangunan Alexandrina Biblioteca juga terdiri dari laboratorium restorasi naskah, planetarium (kubah besar di atap) dan pusat konferensi besar.

Bila ingin berkunjung, perpustakaan Alexandria buka dari Sabtu-Kamis mulai pukul 11.00-19.00 waktu setempat sedangkan Jumat mulai pukul 15.00-19.00 waktu setempat. Tiket masuk perpustakaan EGP10 (sekitar Rp16 ribu) sedangkan untuk melihat pemeran lainnya Anda dikenakan biaya tambahan.(MI/*)

sebagian data diambil dari http://metrotvnews.com/read/news/2010/10/25/32376/Koleksi-Manuskrip-Kuno-di-Perpustakaan-Alexandria