Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan

Hikayat Deteksi Lokasi Gempa Aceh 1964

Hikayat salah satu literatur dan "tradisi populer" di masayarkat Aceh. Sebagaimana diketahui kata "hikayat" diambil dari kata Arab yang konotasinya cerita, dongeng, atau cerita panjang. Kata kerjanya "haka" yaitu menceritakan kepada orang lain. Dalam pengertian sastra Indonesia dan Melayu, hikayat dimaksud dalam bentuk prosa.

Berbeda dengan terminologi Aceh, hikayat bukan hanya sebuah cerita pemanis tidur. Hikayat dalam sastra Aceh juga bukan dalam bentuk prosa, akan tetapi hikayat di Aceh dalam bentuk puisi atau sanjak. Hikayat Aceh diciptakan dalam bentuk puisi, awalnya masyhur dalam tradisi lisan yang didendangkan atau dilantunkan di depan publik, termasuk dalam kesultanan. Sejauh ini, belum banyak penelitian dalam bidang "eksistensi dan tradisi hikayat di Aceh", bahkan belum ada pakar hikayat Aceh dan perguruan tinggi di Aceh yang membuka jurusan "sastra Aceh". Akan tetapi, hikayat-hikayat dalam sastra Aceh sangat terkenal yang memiliki beragam kandungan, pesan, multiguna, multigender, mulai dari kisah masa lalu hingga kejadian realita.

Salah satu hikayat dalam bentuk real adalah "Hikayat Geumpa di Atjeh" karya Syekh Rih Krueng Raja (sekarang disebut Krueng Raya) yang disusun tahun 1964, atau pada saat gempa terjadi di Aceh, epicenternya di Aceh Besar. Buku ini dalam bahasa Aceh beraksara Latin dengan ejaan belum disempurnakan. Syukurnya buku ini dapat didownload gratis di website Acehbook.

Syair ini menceritakan kisah nyata terjadi gempa pada Kamis 2 April 1964 di Aceh, tepatnya terjadi di kaki gunung Seulawah, beberapa daerah yang berada di pesisir pantai Aceh Besar hingga perbatasan Pidie. Dalam syair karya Syehk Rih berasal dari Krueng Raya tidak disebut kekuatan gempa, akan tetapi melalui beberapa catatan sejarah gempa diketahui magnitude-nya 6.5 SR. Sama kekuatannya dengan gempa yang baru terjadi di Pidie Jaya (07 Desember 2016) dengan magnitude 6,5 SR (BMKG).

Dalam hikayat Geumpa di Atjeh, Syekh Rih membuka syairnya (transliterasi dalam EYD):


Cémpala meusu ditjöng u dara
Aneuk nggang dama yang panyang gatéh
Bacut lön suson gampoeng Krueng Raya
Bak uroe geumpa bak beungôh Haméh
        
 Nibak buleun peuet bak tanggai duwa
Poh lapan kira bak lön disidéh
Bak thon nam ploeh peuet ka jeut takira
Uroe nyan geumpa é dum na waréh (h. 4)
Artinya:
Burung Cempala bersuara di atas
Burung Flaminggo panjang tungkai kakinya
Kususun sedikit (syair) di gampong Krueng Raya
Di hari gempa di pagi hari Kamis

          Bulan empat, tanggal dua
Sekitar jam delapan, saya disana
Pada tahun Enam Puluh Empat sudah diketahui
Hari itu terjadi gempa wahai saudara

Hikayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa jam 8 pagi hari Kamis, 2 April 1964 gempa terjadi. Secara umum, sejauh ini gempa-gempa besar yang pernah terjadi di Aceh pada waktu pagi hari, akan tetapi bukan berarti tidak terjadi pada malam atau siang hari seperti gempa di Gayo 12 Juli 2013 dengan magnatude 6,1 SR.

Selanjutnya ia menyebutkan lokasi-lokasi gempa yang terjadi di seputaran gampong di wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh.


Bah teuduek dilèe gampoeng Krueng Raya
Jino Lamteuba lön cuba kisah
Sidéh bak kawom keu lön troh haba
Sidéh syeedara pih lëe museunah (h. 13)
Artinya:
Saat dulu tinggal di gampong Krueng Raya
Sekarang saya ceritakan kisah di Lamteuba
Dari saudaraku kabar ini kuterima
Disana mereka pun jadi korban

Tutue Lamtamot pih get that rupa
Meunurot haba kiwing dum patah
Sampee geuritan han jeut jilata
Meunan keuh rupa haba gob peugah (h. 15)
Artinya:
Jembatan Lamtamot juga rusak parah
Menurut informasi bengkok dan patah
Sehingga kereta api tidak bisa berjalan
Begitulah kabarnya dari cerita orang

Di Padang Tiji wahee syeedara
Asrama teuntra dum habeh reubah
Reubah meupunjoot habeh roet rungka
Bukeuti nyata loen kalon leumah (h. 15)
Artinya:
Di Padang Tiji wahai saudara
Asrama tentara juga semua roboh
Roboh terjungkal semua kerangkanya
Itu bukti nyata saya lihat langsung

Di Darussalam kuta peulaja
Aneuk sikula bak jigrop patah
Patah bak jigrop tëuot ka rungga
Nyan dumkeuh bahla neubri lèe Allah (h. 16)
Artinya:
Di Darussalam kota pelajar
Anak sekolah patah saat lompat
Patah lututnya saat lompat
Begitulah bala yang Allah beri

Jalur atau daerah gempa yang disebut dalam Hikayat Geumpa di Atjeh, 1964

Setidaknya, dalam syair Syekh Rih diketahui beberapa daerah koordinat gempa atau wilayah yang berdampak gempa, mulai dari wilayah Darussalam (Banda Aceh), Lamteuba, Lamtamot hingga ke Padang Tiji (Pidie). Jalur ini yang kemudian disebut oleh BMKG "Sileumeum Fault" dan peneliti Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) dan beberapa penelitian lainnya terhadap gempa di Aceh. Dengan temuan ini juga dapat digunakan untuk penelitian arkeologis dan paleoklimatologi di masa mendatang.


Maka tulisan ringan ini hanya menginformasi sedikit perihal gempa yang telah menghancurkan rumah, sekolah, asrama TNI dan membuat masyarakat mengungsi. Merujuk dan mengutip dari Hikayat Geumpa di Atjeh Syekh Rih Krueng Raya menyebut beberapa lokasi dampak terjadinya gempa dan menyertakan laporan bantuan Pemerintah kepada para korban. 

Lebih dari itu, saya menyimpulkan ini adalah sebuah tradisi (cara) kearifan lokal "mitigasi bencana" di Aceh melalui oral tradition (tradisi lisan) sebagaimana diwariskan tradisi smong (gempa tsunami) di Simeulue dan beberapa daerah lainnya dalam bentuk tutur atau hikayat. Hikayat merupakan satu-satunya media menyebarkan informasi kepada publik secara massif, atraktif dan produktif untuk pendengar. Semoga tradisi ini tumbuh kembali di masyarakat Aceh dengan media terkini dalam menangani dan menimalisir korban bencana. 

Dan, atas dasar itulah menjadi bukti bahwa gempa tahun 1964 merupakan jalur “Sileumeum fault” (Bukan Seumeulum Fault sebagaimana beberapa tulisan). Dari data sejarah gempa diperoleh besar magnatude 6.5 SR, hikayat menyebutkan bahwa gempa tersebut dirasakan dan terjadi kepanikan, walaupun dampak gempa ini belum diketahui lebih jauh, baik kerugian ril materil yang terjadi, ataupun korban jiwa dan pengungsian. 

Namun demikian, gempa yang kembali terjadi baru-baru ini (7 Desember 2016) meninggalkan banyak duka dan "tanda tanya" bagi para peneliti gempa dan Badan Kebencanaan di Aceh dan Indonesia untuk selalu siap menginput data, mengulas informasi, dan memberikan informasi sekaligus pengertian lebih banyak kepada masyarakat, sebab bagian-bagian Aceh berada di atas patahan "ring of fire" gempa. Dan gempa 7 Desember 2016, sampai saat ini belum terungkap jelas jalurnya, apakah ini jalur "Sileumeun Fault" atau "Samalanga-Sipopok Fault" oleh para pakar.


Sumber:
-  Syekh Rih Krueng Raya, Hikayat Geumpa di Atjeh. Banda Aceh. Anzib Lamnyong, 1964
- Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
- Media online (Serambi Indonesia, Republika, Kompas, Harian Aceh, dll)

Manuskrip dan Memaknai Gempa Pijay


“Bermula jika pada bulan Rabiul Awwal gempa pada waktu Subuh alamatnya rahmat Allah akan datang kepada negeri itu. Jika pada waktu Dhuha alamatnya beroleh anugerah Allah Ta’ala akan dia isi negeri itu. Jika pada waktu Zuhur alamatnya orang jauh akan datang bahagialah kita berbuat ibadah akan Allah Ta’ala. 
(Museum Aceh. Inv. 07.1676)

Itulah sepenggal catatan gempa dalam manuskrip  koleksi Museum Aceh di Banda Aceh. Versi yang sama dan yang berbeda juga terdapat beberapa manuskrip lainnya seperti koleksi lainnya di Museum Aceh sebanyak 4 teks, Yayasan Museum Ali Hasjmy 1 teks, koleksi pribadi Tarmizi A Hamid dan bang Rijal, masing-masing 1 teks dan keduanya di Banda Aceh.

Di luar Aceh, naskah tabir gempa juga didapati di daerah-daerah rawan dan sering bencana gempa seperti di Padang, tepatnya di Surau Lubuk Ipuh, Surau Pakandangan, Surau Pondok Koto Panjang Ulakan. Koleksi teks rekaman gempa juga dikoleksi di Perpustakaan Negeri RI (PNRI) Jakarta dan koleksi Pepustakaan Leiden sebanyak 3 teks (Or. 1695, Or. 1977, Or. 1978). Sejauh ini, saya telah  inventarisir sebanyak 21 manuskrip teks tab'ir gempa dengan struktur yang sama.

Salah satu kandungan teks Tabir Gempa lainnya menyebutkan bahwa: 
"Bab pada bulan Rabiul Awwal gempa pada waktu Subuh alamat lapar isi negeri itu. Dan jika pada waktu Dhuha alamat orang dari jauh akan datang. Dan jika pada waktu Zuhur gempa alamat dari jauh akan datang bagi kita berbuat baik".


Jika dibandingkan kedua teks tersebut merupakan rekaman “Tabir Gempa” yang ditulis oleh pendahulu, beberapa bagian memiliki kesamaan, dan disebagian lain lainnya tidak sama. Naskah yang mencatat gempa tidak semua terdapat penanggalan, tahun, tempat penyalinan, bahkan si penyalin itu sendiri. Namun yang pasti catatan-catatan itu telah berada "selamat dihadapan kita" yang berisikan gempa dan dampak pasca gempa, di dalamnya diinterpretasi akan berakibat baik atau buruk, seperti dalam tafsiran kedua teks di atas dapat dimaknai beragam, khususnya gempa pada Subuh hari. Itu belum lagi dibandingkan 21 manuskrip lainnya.

Tentunya, dalam teologi agama, manusia dianjurkan untuk “melebihkan timbangan" berpikir yang baik (positif thingking) kepada Sang Pencipta karena semua ada hikmahnya.

Dalam pandangan keilmuan sosial, ini merupakan “kolektif memori” masyarakat Aceh (dan Nusantara) terhadap kolektif di tengah masyarakat, atau komunitas yang mengalami bencana. Ingatan dan kenangan bersama dimaknai oleh orang-orang arif terhadap dampak akibat gempa, dengan kata lain ini bentuk rekaman masyarakat Aceh dan umumnya Melayu-Nusantara, bukan ramalan gempa sekarang dan dampak yang akan terjadi ke depan, atau pada saat ini.

Perbedaan catatan kedua teks tabir gempa di atas bukan tidak beralasan. Pastinya, catatan tersebut terjadi pada periode berbeda, di wilayah geografis berbeda, situasi berbeda, dan oleh orang-orang yang berbeda pula. Selain itu, penting sebagai catatan bahwa, ini menunjukkan telah terjadi transmisi penyalinan teks dan (tradisi) keilmuan di Aceh (Melayu Nusantara) dari zaman ke zaman terhadap mitigasi bencana. Lantas bagaimana masyarakat sekarang?

Pelajaran yang penting harus dipetik adalah, masyarakat dulu telah berusaha merawat rekaman gempa dan dampak ikutannya, semestinya kita belajar lebih jauh dalam menangani bencana, khususnya gempa, misalnya infrastruktur bangunan yang anti gempa, jalur evakuasi, sistem penanganan dini terhadap gempa, catatan-catatan penting terhadap gempa dan sebagainya.


Sebagai informasi catatan-catatan gempa tersebut, kita tidak banyak tahu, bahkan harus berterima kasih kepada Syekh Rih Krueng Raya atas bukunya “Hikayat Geumpa di Atjeh” tahun 1964. Akhirnya kita tahu bahwa gempa di Aceh pernah melanda Aceh Besar, Pidie dan Banda Aceh pada tanggal 2 April 1964. Bahkan pemerintah mengulurkan bantuan ke epicentrum gempa di Krueng Raya, Lamteuba, dan Lamtamot, sebesar Rp. 2.360.000,- (angka  yang cukup besar pada periode tersebut) disertai barang-barang bantuan lainnya.

Melihat gempa Pidie dan Pidie Jaya, maka ini adalah jalur baru mengikuti jalur gempa di kaki gunung Seulawah Aceh Besar. Jalur baru ini tidak banyak tercatat dalam sejarah catatan gempa. Merujuk kepada BMKG berdasarkan peta tataan tektonik Aceh tampak bahwa di zona gempa bumi memang terdapat struktur sesar mendatar. Ini sesuai dengan hasil analisis BMKG yang menunjukkan bahwa gempa bumi Pidie Jaya dibangkitkan oleh aktivitas sesar mendatar (strike-slip fault). Dugaan kuat sesar aktif yang menjadi pembangkit gempa bumi ini adalah Sesar Samalanga-Sipopok Fault yang jalur sesarnya berarah barat daya-timur laut.

Akhirnya, belajar dari bencana gempa dan dampaknya, pemerintah dan seluruh masyarakat Aceh harus serius belajar “mitigasi bencana” dan “rukun dengan alam” sesuai kearifannya. Semoga diberi ketabahan terhadap korban bencana alam ini 7 Desember 2016, menjelang peringatan akbar gempa tsunami 26 Desember 2004.

Foto-foto bencana gempa Pidie Jaya, 7 Desember 2016. (Mag. 6.4 SR. Pukul 05.05)












Sumber:
- Teks manuskrip koleksi Museum Aceh. Nomor 07.1676
- Teks Manuskrip dan gambar dari berbagai koleksi medsos (FB)
- Syekh Rih Krueng Raya, Hikayat Geumpa di Atjeh. Banda Aceh. Anzib Lamnyong, 1964
- www.okezone.zom

Gempa dalam Perspektif Agama dan Sains


Teks Naskah Gempa yang disalin di Aceh Besar 1906
 yang menunjukkan gempa di pantai Barat Aceh
berdampak hingga Aceh Besar
Banda Aceh – International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) kembali mengadakan diskusi publik dengan tema menarik, “Gempa: Dialog Sains dan Agama” di Ruang seminar ICAIOS Darussalam, Kamis (27/6/2013).

Diskusi ini menghadirkan Hermansyah MTh MA Hum, filolog muda dan dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry beserta Dr Jamie Mc Caughey dari Earth Observatory Singapore (EOS)-Nanyang Technology University (NTU) Singapura. EOS merupakan lembaga riset yang fokus pada bencana dan perubahan iklim dan dampak keduanya terhadap kehidupan sosial, budaya, dan politik di Asia Tenggara.

Dalam paparannya, Hermansyah menjelaskan, tidak kurang dari 20 teks naskah tabir gempa yang telah teridentifikasi di seluruh koleksi, baik yang ada di Aceh maupun di luar negeri. Ada persamaan dan perbedaan di antara varian teks,” terangnya seperti dalam rilis yang diterima WartAceh.com.

Hermansyah menambahkan bahwa kesamaan struktur teks yang disalin dalam rentang waktu yang berbeda, antara abad ke-17 hingga ke-21 masehi merupakan salah satu ciri tradisi transfer knowledge di masyarakat setiap generasi. Pengalaman masyarakat Aceh tentang gempa sejak dahulu menciptakan sebuah persepsi dan keyakinan tertentu tentang fenomena alam tersebut.

Dari sudut pandang teologis, gempa dipandang sebagai sebuah cobaan bahkan teguran dari Maha Pemberi Peringatan. “Gempa 9.2 Skala Richter pada tahun 2004 memberikan gambaran yang jelas dimana masyarakat memandangannya sebagai sebuah teguran terhadap sikap umat muslim Aceh yang semakin menjauh dari ajaran agama,” kata Hermansyah.



Sedangkan dari persepktif sains, Dr Jamie menjelaskan bahwa sains modern terus berusaha memberikan penjelasan dari sudut pandangnya sendiri, gempa adalah gejala bumi yang normal yang hingga kini tidak dapat diprediksi. Ilmuwan lokal, nasional dan internasioanal terus berupaya menjelaskan dari sudut pandang logis bagaimana gempa dapat terjadi sehingga dampaknya dapat diminimalisir.

Menurut Jamie, Provinsi Aceh, seperti halnya daerah lain di Indonesia, berada di atas pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

“Gesekan lempeng-lempeng tersebut menghasilkan gempa dengan kekuatan yang beragam; tergantung pada jenis gesekan dan kekuatan gesekan lempeng, kedalaman, episentrum gempa dan populasi manusia di atasnya. Gempa pada tahun 2004 adalah salah satu gempa terdasyat pada kurun waktu 50 tahun terakhir. Selain langsung mengakibatkan kerusakan, gempa tersebut juga memicu terjadinya gelompang Tsunami, yang juga merupakan salah satu gelombang terdasyat dalam kurun waktu lebih dari 90 tahun terakhir,” ujar Jamie.

Kedua pandangan, baik teologis dan sains, telah turut menciptakan model persiapan dan sikap yang berbeda terhadap gempa dan dampaknya.

Dalam diskusi yang dihadiri 17 peserta ini semakin menarik saat masuk pada sesi tanya jawab. Kegiatan ini merupakan bagian dari serial Young Scholars Discussion Series (YSDS) yang diprakarsai oleh ICAIOS bekerjasama dengan Bappeda Provinsi Aceh.[]


source: http://wartaaceh.com/soal-gempa-pakar-kaji-dalam-perspektif-agama-dan-sains/
see too: http://www.theglobejournal.com/Lingkungan/pakar-lokal-dan-asing-kaji-gempa-dalam-perspektif-agama-dan-sains/index.php

Kisah Bencana Dalam Al-Qur'an dan Manuskrip


Artikel ini berisi tentang penjelasan Tgk H Mulyadi Nurdin Lc dan Syech H Zul Anshary Lc dalam pengajian Balee Beuet di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke, tentang kisah-kisah bencana dalam Alquran dan hadits Rasulullah SAW.
Materi ini dibahas panjang lebar dalam pengajian rutin di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (18/04/2012). Pengajian kali ini lebih ramai dari biasanya. Selain peserta rutin, di antaranya pemilik Warung Kopi Luwak Rumoh Aceh, Muhammad Nur, Kolektor Naskah Kuno Aceh Tarmizi A Hamid, hadir juga dosen IAIN Ar-Raniry Drs Hasan Basri M Nur MAg dan Hermansyah M.Hum serta kalangan jurnalis, mahasiswa, dan para pekerja lepas.

Dari sisi ilmu alam, gempa adalah fenomena alam. Tapi bagi kita seorang muslim dan mukmin, peristiwa semacam ini adalah peringatan dan pelajaran bagi manusia.
Bahwa manusia tidak berarti apa-apa di depan Allah, Sang Pencipta Alam Semesta.

“Bagaimana pun tingginya ilmu pengetahuan dan canggihnya teknologi yang dihasilkan manusia, tidak ada yang mampu menghentikan bencana yang telah ditakdirkan oleh Allah. Belum pernah ada dalam sejarah, manusia mampu menghentikan goyangan bumi akibat gempa. Bahkan, jangankan mengantisipasi gempa, memprediksikan kapan dan di mana gempa terjadi saja, banyak yang tidak akurat,” kata Mulyadi Nurdin.

Selebihnya, kedua
alumnus Al-Azhar Mesir ini bercerita panjang lebar tentang kisah peristiwa bencana alam yang menimpa kaum (umat nabi) terdahulu. Salah satu surat dalam Alquran yang paling banyak mengisahkan tentang bencana adalah di surat Az-Zariyat, khususnya mulai ayat 31 sampai ayat 46, yang menceritakan secara runut tentang bencana yang menimpa kaum lima nabi terdahulu.

  1. Umat Nabi Nuh ditenggalamkan dengan air bah
  2. Umat Nabi Luth (Kaum Sodom) dibinasakan dengan batu ‘api neraka’ dan buminya dibalik (bagian atas ke bawah)
  3. Umat Nabi Musa (Fir’aun dan pengikutnya) dibinasakan dalam laut
  4. Umat Nabi Hud (Kaum ‘Ad)  dibinasakan dengan angin topan
  5. Umat Nabi Shaleh (Kaum Tsamud) dibinasakan dengan petir

“Seluruh kaum itu punah tak bersisa. Jika tidak ada kisah dalam Alquran, kita tentu tidak akan tahu bahwa bencana besar itu pernah terjadi, karena tidak ada catatan lain selain dalam Kitab Allah, terutama yang paling lengkap di dalam Alquran,” kata Mulyadi.

 ***

Sesi diskusi berlangsung hangat, karena kedua dosen IAIN Ar-Raniry, Hasan Basri dan Hermansyah, ikut berbicara dan melontarkan bahan diskusi, terutama seputar letak geografis Aceh yang sangat rentan dengan bencana gempa dan tsunami.

Peneliti naskah kuno (Filolog) Aceh, Hermansyah yang ditanyai tentang “catatan peristiwa bencana di Aceh dalam kitab kuno” menjelaskan, tidak selamanya gempa itu membawa dampak buruk kepada penduduk negeri.

Berdasarkan literatur kuno, kata Hermansyah, bencana-bencana besar seperti gempa bumi dan tsunami yang menghantam Aceh dan puluhan negara pada 26 Desember 2004 lalu, sudah pernah terjadi di Aceh.

Catatan tersebut mulai terekam dengan catatan gempa kuat pernah mnggoyang Aceh pada tahun 1797. Sementara pada tahun 1833 pernah terjadi gempa dan tsunami di Aceh. Dari enam versi naskah takbir gempa yang masih tersisa di sejumlah wilayah di Aceh, disebut “air laut bersalahan (keras) padanya di negeri itu.”

Sebelumnya tahun 1832 Masehi, Zawiyah Tanoh Abee mencatat gempa terbesar yang kedua kali, tepatnya pada hari Kamis 9 Jumadil Akhir 1248 H. “Ini catatan resmi karena ditulis di sampul naskah fikih Fath al Wahhab bi Syarh Manhaj Attullab, karangan Abu Yahya Zakaria As-Syafii,” kata Hermansyah, alumnus Aligarh Muslim University India.

Selain dari naskah kitab kuno, Hermansyah juga mendapati catatan tentang bencana besar tercatat dalam dokumen Belanda yang dikoleksi oleh Van De Tuuk, menyebutkan pada tahun 1861 masehi, gempa tektonik menghancurkan kota Singkil.

Sementara pada tahun 1906 terjadi gempa dan tsunami di wilayah Simeulue, yang oleh masyarakat setempat disebut “Smong”. Peristiwa ini tercatat dalam kolofon naskah kuno takbir gempa.

“Berdasarkan catatan manuskrip, di beberapa lokasi gempa membawa berkah bagi penduduknya, sesuai dengan geografis. Catatan ulama terdahulu misalnya menyebutkan pada tahun terjadi gempa besar, ternyata hasil pertanian jauh lebih baik, dan lain sebagainya. Tapi di belahan negeri lain, banyak yang meninggal dalam bencana tersebut. Pada dasarnya, inti dari Tabir Gempa adalah transfer knowledge kepada generasi penerus,” ujar Hermansyah.


Ramalan atau Rekaman?

Terkait dengan catatan bencana dalam beberapa naskah kuno yang kerap mengait-ngaitkan bencana alam dengan bencana susulan, Tgk Mulyadi Nurdin mengatakan, jangan pernah meramal peristiwa yang akan terjadi setelah terjadinya bencana. “Karena Rasulullah sudah tegas menyatakan bahwa ahli nujum itu pendusta, meski yang dia katakan benar,” katanya mengutip hadits Rasulullah.

Bagaimana dengan takwil gempa yang banyak tercatat dalam naskah kuno? “Kita harus pelajari dengan seksama, apakah itu adalah ramalan? Atau sekadar catatan dari teori pengulangan. Misalnya, sang pengarang kitab mencatat suatu bencana gempa terjadi lalu diikuti oleh kejadian-kejadian lainnya, ini kan berbeda dengan ramalan. Jadi sebaiknya kita membaca kitab secara utuh, jangan sepenggal-penggal,” kata Tgk Mulyadi.

Syech Zul Anshary menambahkan, teori pengulangan bisa menjadi pelajaran bagi umat manusia sekarang untuk selalu berhati-hati dan meningkatkan keimanan kepada Allah Swt. “Yang tidak boleh adalah, kita mengklaim bahwa jika terjadi gempa pada waktu tertentu, maka negeri itu akan ditimpa musibah atau perang dan sebagainya. Itu tidak boleh, karena ini masuk dalam katagori ramalan,” ujarnya.

Hasan Basri berpendapat, bencana adalah contoh kecil tentang kiamat, bahwa kiamat yang sebenarnya akan terjadi. Manusia, terutama umat Islam, harus menjadikan bencana ini sebagai peringatan bahwa manusia tidak berarti apa-apa di hadapan Allah.

“Baru kiamat (bencana) kecil saja, kita sudah tidak bisa menyelamatkan diri, lalu apakah kita siap untuk menghadapi kiamat yang sesungguhnya? Maka di balik semua bencana yang diberikan Allah, apakah itu peringatan atau bala, semua itu harus menjadi sarana bagi kita untuk meningkatkan keimanan terhadap Allah Subhanahuwata’ala,” ujarnya.

Di akhir Syech Zul Anshary dan Tgk Mulyadi Nurdin, berharap kepada para anggota majelis pengajian agar senantiasa berpegang teguh kepada Alquran dan hadits Rasulullah Saw. dalam menyikapi bencana yang terjadi.

“Kita perdalam ilmu pengetahuan, khususnya ilmu Alquran dan hadits, karena di kedua warisan Rasulullah itu banyak terkandung doa-doa dalam menyikapi dan menghadapi bencana,” kata Tgk Mulyadi.

source: http://www.zainalarifin.tk/2012/04/kisah-bencana-dalam-alquran/

Gempa Tengah Malam berkekuatan 6,7 SR guncang seluruh Aceh dan sumut

Gempa berkekuatan 6,7 SR menggoyang seluruh Aceh. Gempa ini sangat terasa di seluruh wilayah Aceh, saya yang berdomisili di wilayah Langsa yang lagi online juga kerasa banget, serasa berayun-ayun dalam rumah beton,tanpa nunggu lebih lama saya bangunkan ibu saya yang lagi tidur,lalu kami keluar rumah, nyusul warga kampung saya yang udah duluan berhamburan keluar rumah dan masing-masing duduk di jalan didepan rumah mereka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,Gempa ini juga terasa hingga ke Medan, Sumatera Utara.

Berdasarkan informasi dari Situs Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pukul 00.55 WIB, Selasa (6/9/2011). Koordinat gempa berada di 2.81 LU - 97.85 BT

Pusat gempa berada 59 Km Timur laut Singkilbaru-Aceh. Atau 78 km Barat Daya Kabanjahe, Sumut.

Pusat gempa berada di kedalaman 78 Km. BMKG mencatat gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Seperti saya kutip dari AntarNews Menurut Kepala BMKG Meulaboh Kabupaten Nagan Raya, Edi Darlupti, yang dihubunggi dari Meulaboh, menyebutkan, gempa tersebut tidak berpotensi tsunami yang kerap meresahkan masyarakat Aceh, karena gempa itu benar berpusat di wilayah Barat Daya Aceh, tepatnya di Kabupaten Aceh Singkil.

"Gempa dengan kekuatan seperti ini biasanya tidak berpotensi tsunami, meski demikian masyarakat diminta tetap waspada karena prediksi bisa saja berubah karena itu adalah bencana alam," kata Edi.

Kendati demikian masyarakat di Meulaboh terlihat berhamburan keluar rumah karena kaget, seperti terpantau di seputaran kota Meulaboh,Kecamatan Johan Pahlawan, dimana sebagian masyarakat yang tinggal di rumah gedung terpantau keluar rumah.

Afrizal, salah seorang warga yang ditemui di halaman rumahnya mengaku kaget dan spontan keluar rumah karena melihat bola lampu di rumahnya berayun.

"Gimana ngak keluar rumah, mau mati, meskipun tidak berpotensi tsunami, siapa berani jamin rumah besar itu tidak roboh," katanya.

Pantauan seputar Kota Meulaboh, belum ditemukan adanya korban jiwa dan bangunan yang runtuh karena guncangan gempa sekitar 15 detik tersebut.

Informasi soal gempa ini juga disampaikan Fuad, seorang pembaca detikcom. Warga Medan merasakan goncangan yang cukup keras.

"Medan diguncang gempa pukul 1 dinihari," tulis Fuad lewat infoanda detikcom

Gempa yang terjadi tengah malam tadi juga menjadi perbincangan hangat Facebooker Aceh dan sumut seperti terlihat distatus-status facebook. Belum diketahui adanya korban jiwa maupun kerugian materi akibat gempa tersebut,semoga tidak ada korban jiwa maupun material juga semoga tidak ada gempa susulan.