Tampilkan postingan dengan label Aceh News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh News. Tampilkan semua postingan

Umat Islam Aceh Baca Qunut Untuk Palestina di mesjid raya Baiturrahman


Ribuan jamaah shalat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh dengan khusyuk membaca kunut nazilah atas pembantaian terhadap rakyat Palestina yang dilakukan tentara Israel.

Doa khusus yang dipanjatkan sesudah iktidal pada rakaat terakhir shalat Jumat itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap keselamatan umat Islam di Palestina atas agresi tentara Isreal yang hingga kini telah menewaskan 300 orang lebih serta ribuan lainnya cedera.

Pada shalat Jumat dan doa khusus yang diimami Tengku H Ridwan Johan tersebut, sebagian jamaah di Masjid Baiturrahman tampak terharu.

Bahkan hingga shalat berjamaah itu selesai, mereka terus berdoa agar umat Islam di Palestina terbebaskan dari marabahaya.

Doa kunut nazilah sering dibaca umat Islam tidak hanya di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) atas berbagai bencana, tetapi juga termasuk agresi tentara Israel yang merupakan malapetaka yang banyak menelan korban anak-anak dan perempuan di Palestina.

Sebelum shalat Jumat, ratusan warga masyarakat terutama aktivis Islam di Banda Aceh juga mengadakan unjuk rasa menentang agresor Isreal atas Palestina, serta menyerukan kepada Pemerintah Indonesia dan Liga Arab segera mengambil langkah nyata.

Dalam sepekan terakhir unjuk rasa menentang Israel hampir setiap hari terjadi secara meluas di berbagai kota di Indonesia, yang juga menyerukan umat Islam bersatu melawan berbagai bentuk penindasan atas umat Islam di Palestina.

Sebagian ormas Islam di Indonesia, seperti di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia juga melakukan aksi massa menggalang dana untuk membantu umat Islam di Palestina, dan sebagian lainnya menawarkan dirinya untuk berjihad melawan Israel.

Sumber : http://www.republika.co.id

The Black Road: On the Front Line of Aceh's War

Merupakan judul sebuah film dokumenter yang dibuat oleh William Nessen. Secara umum, film ini menceritakan sebuah perjalan sejarah Aceh dari masa konflik hingga pasca tsunami. Film yang berdurasi selama 52 menit ini merupakan suatu film yang menggambarkan situasi konflik di Aceh dalam lini terdepan.

Film The Black Road ini di buat dalam rentang waktu yang sangat lama untuk sebuah produksi film dokumenter. Selama 3 tahun dalam rentang 2003 hingga 2005 film ini diselesaikan.

Jika anda melihat film ini, seakan anda berada dalam suatu kondisi peperangan yang nyata, seolah-olah anda berada di lokasi tersebut. Sang pembuat film ini memberanikan diri terjun ke garis depan konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Tentara Negara Indonesia (TNI). Tidak jarang, dia kerap terlibat dalam baku tembak antara Teuntra Neugara Acheh (TNA) dan TNI di hutan


Dengan kamera di tangannya, William yang di akrab di sapa Billy ini merekam detik-detik letupan bedil antara dua belah serdadu yang tengah berperang.

Pada awal durasi film ini, Billy menceritakan perjalanan panjang proses konflik di Aceh. Di buka dengan reruntuhan pasca tsunami, perlahan film ini membawa para penontonnya untuk mengikuti alur konflik di Aceh. Kisah ketika pertama kali dia meliput di daerah ini juga tidak lupa di edit dalam film ini, perkenalannya dengan Brigjen Bambang Dharmono (ketika itu) Panglima Koops Daerah Militer NAD, dan Mayjen Syafrie Sjamsoeddin (ketika itu) Kapuspen TNI pada saat itu mengawali kisah seorang wartawan freelance ini di belantara hutan gerilya Aceh.



William Nessen ialah seorang wartawan lepas berkewarganegaraan Amerika Serikat. Ia bekerja untuk memberikan kontribusinya untuk berbagai media cetak dan elektronik di Amerika Serikat, Kanada dan Australia. Ia bertugas melakukan Investigative Reporting di Aceh. Sesuai dengan kesepakatan antara Wiliam dengan TNI, TNI berjanji tidak akan menangkap dan menembaknya di lapangan.

Seperti halnya kebiasaan wartawan investigasi kebanyakan, penampilannya dibalut dengan rompi yang banyak saku. Wartawan yang memiliki nama lengkap William Arthur Nessen ini menjalani hari-hari tugasnya dengan cengegesan, selalu tersenyum, parasnya yang kurus, dengan pipinya yang menciut dihiasi dengan jambang tipis, Billy selalu semangat dalam melakukan peliputan.



Peliputan Billy bukan hanya dan ketika di Aceh saja. Sebelumnya, ia juga pernah meliput berbagai aksi, seperti aksi reformasi yang mengakibatkan lengsernya Soeharto dari tahta RI1. Ia juga meliput proses referendum di Timor Timur, serta konflik di Papua.

Dalam rentang tahun 2003, Aceh sedang diberlakukan Darurat Militer, hampir tidak mungkin melakukan reportase invetigasi di sana, selain pembatasan ruang gerak wartawan oleh serdadu Indonesia, juga kurangnya keberanian wartawan Indonesia untuk terjun ke garis terdepan peperangan di Aceh.

Terjun ke dalam kancah perperangan demi suatu peliputan investigative sangatlah beresiko. Billy melakukan itu karena ia mencoba untuk mendapatkan berita dari kedua belah pihak dalam liputannya. John Colson dalam tulisannya mengutip kata-kata Billy:

“I tried to get both sides of the story," he said, adding that "to really understand people is to live with them, and experience what they are experiencing." It was his way of pursuing "the elusive thing called truth."

“Aku mencoba untuk mendapatkan berita dari dua sisi,” ia menambahkan bahwa “untuk benar-benar mengerti tentang mereka adalah dengan cara hidup bersama mereka, dan menjalani apa yang sedang mereka jalani.” Itu adalah cara dia melakukan pendekatan “hal yang sangat sulit untuk mendapatkan kebenaran”


Atas dasar prinsip yang menjadi pegangannya itulah, Billy memberanikan diri terjun ke kancah perang antara serdadu GAM dan TNI.

Film yang dibuat oleh Billy ini banyak diambil di wilayah konsentrasi GAM pantai barat dan selatan. Dengan pasukan yang dipimpin Pang Dani, Billy bersama dengan pasukan-pasukan Pang Dani ikut dalam operasi penyergapan dan penyerangan pasukan TNI dan Polri.

Melalui film ini, kita tahu bahwa GAM di dukung oleh rakyat. GAM hidup bersama rakyat, dan juga rakyat sering kali membantu GAM dalam hal logistik dan perlengkapan.

Dalam pembuatan film ini, Billy dibantu oleh seorang wartawan dari Jakarta asal Aceh, Sya'diah Syeh Marhaban (Shadia) namanya, janda dengan dua anak ini adalah wartawati salah satu televisi swasta di Jakarta. Pertemuan mereka terjadi pada tahun 2001, sejak saat itu mereka meliput konflik Aceh bersama. Ternyata, perjalanan peliputan itu diwarnai dengan asmara antara Billy dan Shadia. Hingga pada 8 November 2002 mereka memutuskan untuk menikah dengan adat Aceh. Dalam film ini, Billy tidak menjelaskan status agamanya ketika menikahi Shadia.

Sekitar lima menit dari durasi film ini, Billy menampilkan profil singkatnya. Bagaimana hubungnnya dengan Musliadi, salah satu aktivis HAM di Aceh yang begitu dekat, hingga ia sangat sedih ketika Musliadi mati di aniaya.

Bambang Darmono, seakan tidak percaya ketika Billy menanyakan kasus ini padanya. Bambang seperti disudutkan oleh Billy atas pertanyaan-pertanyaan terkait kematian Musliadi.
Juni 2003, tersiar kabar di telinga TNI bahwa GAM menyandera seorang wartawan asing. Wartawan tersebut tidak lain ialah William Nessen yang sedang melakukan reportase. TNI segera melakukan operasi pembebasan sandera, operasi tersebut berhasil. GAM meninggalkan Billy dalam kontak senjata antara GAM dan TNI. Hingga pada tanggal 24 Juni 2003 William Nessen di deportasi ke negara asalnya setelah ditahan selama 20 hari dalam proses interogasi.
Sekitar setengah durasi film, kita dibawa kesuatu gambaran Aceh pasca tsunami. William Nessen ternyata secara diam-diam masuk ke Aceh dan meliput tragedi tsunami di daerah ini.

Ketika Indonesia kebanjiran bule, Billy ikut meramaikan pasar bule di Aceh, untuk meliput tragedy tsunami. Bukan hanya itu, ia sempat melakukan reuni bersama Pang Dani di kantong pertahanan GAM wilayah pantai barat selatan.

Pasca tsunami, konflik Aceh masih berlanjut hingga akhirnya 25 Agustus 2005. Pemerintah Indonesia sepakat untuk berdamai dengan Gerakan Aceh Merdeka. Istri Billy, Shadia, ikut dalam perundingan yang diselenggarakan di Helsinki, Finlandia. Ia bertindak selaku anggota tim perunding GAM.

Juli 2006, Billy masuk ke Aceh bersama rombongan petinggi GAM yang pulang ke kampung halaman. Kali ini Billy di deportasi lagi, pejabat imigrasi beralasan bahwa itu perintah dari Badan Inteligen Nasional (BIN). Dalam komentarnya di The Jakarta Post, Billy mengatakan:

"They're afraid of me. Why, because I was helping GAM for Helsinki,"

“Mereka takut sama saya. Kenapa, karena saya telah membantu GAM di Helsinki,”


Padahal tujuan Nessen ke Aceh bukan untuk reportase atau tugas peliputan, tetapi ia hanya ingin mengunjungi istrinya.

Film yang dinarasikan sendiri oleh Billy ini telah memenangkan beberapa penghargaan film dokumenter. Diantaranya The Best Documentary dalam Festival film dokumenter terbesar di Asia The 2006 Mumbai International Film Festival.

Edward Aspinall, Peneliti dari Australian National University dan editor Inside Indonesia, memberikan komentar terhadap The Black Road:,

"By showing conflict from the perspective of ordinary villagers and insurgents, William Nessen's film presents a perspective of war that is not only unique in reportage of Aceh, but which is rare in the media's coverage of any of the 'small wars' which take so many lives around the globe. So often, we see only the view of governments and their troops. Here, the lens is reversed, and the effect is remarkable."

“Dengan menampilkan konflik dari sudut pandang para penduduk dan pemberontok, film William Nessen memperlihatkan bahwa reportase perang di Aceh bukan saja unik, tetapi sangat jarang media memberikan ulasan terhadap “perang kecil” yang mana mengambil perhatian dari seluruh dunia. Biasanya, kita hanya melihat pemerintah dan para serdadunya. Di sini, lensa berbalik, dan menimbulkan efek yang sangat luar biasa”.


Film ini saya pikir harus dimiliki oleh semua rakyat Aceh, ini merupakan asset bangsa ini untuk melihat kembali sejarah yang pernah terjadi di sini. Memaafkan bukan berarti melupakan.

Tetapi anehnya, film ini dilarang di putar di Indonesia dalam Jakarta Film Festival (JiFFest) 2006. Festival ini diselenggarakan pada 8-17 Desember 2006 lalu. Sebenarnya ada empat film yang dilarang diputar di acara tahunan ini, yaitu The Black Road yang menceritakan konflik di Aceh, serta Tales of Crocodiles, Passabe, dan Timor Loro Sae menceritakan tentang Timor Timur (Timtim).

Film-film tersebut dilarang oleh Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia.
Alasan yang dikemukakan oleh Titi Said selaku Ketua LSF yang dikutip Kompas dalam Asociated Press (AP) mengatakan bahwa:

"Dokudrama ini secara ekstrem membela satu pihak. Nasionalisme dipertaruhkan." Ia menambahkan lagi bahwa “jadwal pemutaran Black Road di JiFFest 2006 merupakan waktu yang tidak tepat, karena hanya beberapa hari sebelum pemilihan pertama secara langsung gubernur NAD, yang akan diadakan pada 11 Desember mendatang. "Itu dapat meruntuhkan situasi kondusif di Aceh yang telah dibangun dengan usaha yang begitu besar,"

Di Indonesia, Film ini dilarang beredar. Hanya kalangan aktivis dan para jurnalis terbatas yang memiliki film ini

http://kanvasbiroe.blogspot.com

HASAN TIRO-RETURN OF THE ACEH LEADERS



Mr Di Tiro told Indonesian television earlier this week that he supported the peaceagreement and just wanted to see his homeland again. -- AGENCE FRANCE-PRESSE


News about Hasan Tiro return to Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam = NAD) leader highest ASNLF (Atjeh Sumatra National Liberation Font), which has lived in Sweden has a page of various newspapers overseas. Here I show some papers and news related to the return of the desired by the people of Aceh to become a leader in Aceh.
Return of an Aceh rebel leader

BANDA ACEH (Indonesia) - TENS of thousands of people packed the capital of Indonesia's war-torn Aceh province on Saturday for the emotional homecoming of the founding father of its separatist rebel movement.

Police said up to 100,000 people were set to pack the historic Grand Mosque in Banda Aceh, still bearing the scars of the 2004 tsunami, to greet Free Aceh Movement (GAM) founder Hasan di Tiro, returning after almost 30 years in exile. ........Continue reading in Straits Times


Exiled Aceh leader returns to Indonesia



Hasan di Tiro, founder of the Free Aceh Movement (GAM), waves as he arrives at the Banda Aceh airport yesterday. Reuters

BANDA ACEH, Indonesia, Oct 11, 2008 (AFP) - The founder of Aceh's separatist rebel movement made an emotional homecoming today after nearly 30 years in exile and a war that killed thousands of people........Continue reading The Sunday Times

Thousands welcome exiled rebel in Indonesia's Aceh ...
Reuters,Published: October 11, 2008

BANDA ACEH, Indonesia: Hasan di Tiro, founder of the former rebel group GAM in Indonesia's Aceh, returned to the once restive province on Saturday after 30 years in exile, calling for everyone to help keep the peace.

His return to the island of Sumatra came a day after Finland's former president Martti Ahtisaari won the Nobel Peace Prize for his role in global peaemaking including in Aceh...........Continue reading in International HERALD TRIBUNE

Aceh rebel leader returns from exile to Indonesia for visit www.chinaview.cn 2008-10-11 16:24:41

JAKARTA, Oct. 11 (Xinhua) -- Tengku Muhammad Hassan di Tiro, top leader of the former separatist organization Free Aceh Movement (GAM), arrived in Aceh Saturday from his exile, police said.

He was greeted by enthusiastic people in Aceh as he and entourages passed the street, said Tengku Adnan Brangsa, an aide of Tiro and the spokesman of the local party the Partai Aceh. ........Continue reading in Xinhua

Exiled rebel leader returns to Indonesia

By Jakarta correspondent Geoff Thompson and wires
Posted Sat Oct 11, 2008 5:04pm AEDT

The 83-year-old founder of Aceh's rebel movement has returned to the tsunami-scarred Indonesian province for the first time in almost 30 years.

Hassan di Tiro was greeted by thousands of cheering supporters in Banda Aceh..........Continue reading in ABC News

Ex-Aceh rebel leader returns home after 30 years in Saturday 11th October, 11:34 PM JST

JAKARTA —
Hasan di Tiro, the founder of a former rebel group that fought for almost three decades for Aceh’s independence, was greeted by thousands of people on Saturday when he arrived back in the once-restive Indonesian province after almost 30 years in exile in Sweden........Continue reading in Japan Today


Aceh guerrilla leader flies home Page last updated at 04:46 GMT, Saturday, 11 October 2008 05:46 UK



Supporters flocked to Banda Aceh ahead of Mr di Toro's arrival

The founder of the separatist rebel movement in the Indonesian province of Aceh, Hasan di Tiro, has flown home after 30 years in exile.

Thousands of former rebels have flocked to Banda Aceh to welcome him home.........Continue reading in BBC News

Indonesia's exiled Aceh rebel leader returns home

The founder of Aceh's separatist rebel movement has returned to Indonesia after nearly 30 years in exile in Sweden.

Tens of thousands of people are gathering in the Grand Mosque in the provincial capital Banda Aceh, to meet Hasan di Tiro founder of the Free Aceh Movement or GAM. ...........Continue reading in australia NETWORK

Exiled rebel leader returns to Indonesia's Aceh
Tajikistan News.Net
Saturday 11th October, 2008 (IANS)

Greeted by thousands of cheering supporters, the 83-year-old founder of Aceh's rebel movement returned to the tsunami-wracked Indonesian province of Aceh Saturday for the first time in almost 30 years.

Hassan di Tiro fled to Sweden in late 1970s after declaring Aceh independent in 1976, a move triggered that a long-running conflict in the northwestern Indonesian province.........Continue reading in Tajikistan News


AFP
Saturday, October 11, 2008 11:48:43 AM Oman Time

BANDA ACEH: The founder of Aceh's separatist rebel movement made an emotional homecoming Saturday after nearly 30 years in exile and a war that killed thousands of people.

Free Aceh Movement (GAM) founder Hassan di Tiro was greeted by thousands of cheering supporters and former guerrillas as he flew into the capital of the war-torn and tsunami-scarred Indonesian province........Continue reading in Time of Oman

Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia
Sat Oct 11, 12:57 AM ET



AFP Photo: Supporters of exiled Aceh leader Hasan di Tiro in Banda Aceh on October 10. Tens...

BANDA ACEH, Indonesia (AFP) - The founder of Aceh's separatist rebel movement returned to Indonesia Saturday after nearly 30 years in exile and after a war that killed thousands of people.......Continue reading in Yahoo ! News


Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia
Sat, Oct 11, 2008 AFP

BANDA ACEH, Indonesia, Oct 11, 2008 (AFP) - The founder of Aceh's separatist rebel movement made an emotional homecoming Saturday after nearly 30 years in exile and a war that killed thousands of people.

Free Aceh Movement (GAM) founder Hassan di Tiro was greeted by thousands of cheering supporters and former guerrillas as he flew into the capital of the war-torn and tsunami-scarred Indonesian province..........Continue reading in Asian One News


Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia
The Daily Star, Bangladesh

Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia
Zee News, India

Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia
Today Online

Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia
Channel News Asia

Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia
Daily Time, Pakistan

Exiled rebel leader returns to Indonesia's Aceh
Trend Newws

Indonesia's exiled Aceh rebel leader returns home
Radio Australia

Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia by Stephen Coates
France 24

Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia
MSN Arabia

Exiled Aceh leader returns
Aljazeera

Exiled rebel leader returns to Indonesia's Aceh
AOL News , India

Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia
Lycos News

Thousands welcome exiled rebel in Indonesia's Aceh
AOL News

Thousands welcome exiled rebel in Indonesia's Aceh
News STV TV

Thousands welcome exiled Aceh's insurgent
World Bulletin

Free Aceh's founder returns from exile
Radio Netherlands

Happy Blogging