Tampilkan postingan dengan label Aceh Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh Baru. Tampilkan semua postingan

Jusuf Kalla Paparkan Rahasia Sukses Perdamaian Aceh Di Tuki

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memaparkan kisah perdamaian di Aceh di hadapan para peserta forum "Advancing humanitarian action; engaging with rising global actors to develop new strategi dialogue and partnerships" di Istanbul, Turki, Senin waktu setempat. Dalam forum tersebut, JK hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) dan berbicara di hadapan para aktivis kemanusiaan dari berbagai belahan dunia, di antaranya Jerman, Turki, Swiss, Kuwait, Afrika Selatan, Lebanon, Arab Saudi, Brazil, Rusia, serta badan badan PBB yang fokus pada masalah kemanusiaan seperti UNHCR.


JK memaparkan, program kemanusiaan yang kini banyak dilakukan di berbagai daerah bencana dan konflik, hendaknya dapat mendorong terciptanya perdamaian. Sebab, tanpa memanfaatkan cara tersebut, konflik dan bencana akan berkepanjangan dan membuat aksi kemanusiaan itu tanpa ujung.

Menurut JK, dirinya prihatin menyaksikan tayangan di jaringan televisi CNN ketika ribuan orang Syiria hidup di kamp kamp pengungsian. Padahal, terdapat banyak lembaga lembaga kemanusiaan yang bekerja di sana. Namun mereka tidak berupaya memparalelkan antara pelaksanaan program bantuan kemanusiaan dengan penegakan perdamaian.

"Hal yang semacam inilah yang membuat program bantuan tidak efektif dan para pengungsi akan terus terjebak dalam situasi konflik serta membutuhkan bantuan yang besar tanpa henti," kata JK, seperti termuat dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Selasa (22/10/2013).

JK lalu menceritakan pengalaman pemerintah Indonesia ketika menghadapi tsunami di Aceh yang menelan korban jiwa yang amat luar biasa, mencapai 200 ribu jiwa. Ketika itu, dibutuhkan peran dari sebuah organisasi pemerintahan yang kuat dan mampu mengkosolidasikan semua potensi, baik dari dalam maupun luar negeri, serta bekerja secara transparan dan akuntabel.

"Aceh membutuhkan bantuan kedaruratan, rehabilitasi dan rekonstruksi. Tetapi, rekonstruksi hanya bisa berjalan dengan baik, jika kondisi di Aceh aman atau stabil. Tanpa keamanan akan sulit bagi pemerintah Indonesia melakukan rekonstruksi," papar JK yang juga didampingi tokoh perdamaian Aceh Hamid Awaludin.

Dengan argumentasi tersebut, maka menurut JK, pemerintah meyakinkan semua pihak terutama kepada Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bahwa hanya dengan jalan perdamaian, tahapan pemulihan kondisi di Aceh, terutama rekonstruksi, dapat dicapai. Akhirnya semua pihak bisa menerima argumentasi tersebut sehingga dalam tempo enam bulan setelah proses bantuan kedaruratan dan rehabilitasi tsunami Aceh, yakni pada 15 Agustus 2005, berhasil dicapai kesepakatan Helsinki yang menandai penegakan perdamaian di Aceh.

"Program bantuan kemanusiaan dapat digunakan sebagai alat untuk menegakkan perdamaian. Dan terciptanya perdamaian secara efektif dapat menghentikan program bantuan kemanusiaan," tuturnya.

Tetapi, kata Jusuf Kalla, semua akan berjalan dengan baik dengan pengkajian yang tepat, terbuka, khususnya kepada media. Dan yang tidak kalah penting adalah bantuan terkelola secara akuntabel.

"Pengalaman kami di Aceh, selama dua hari setelah tsunami, dunia hanya mengetahui peristiwa yang terjadi di Thailand, karena sebelumnya Pemerintah RI membatasi kehadiran media, mengingat status Aceh yang masih dilanda konflik. Setelah kami terbuka kepada media, barulah CNN dan media media asing lainnya berdatangan memberitakan sehingga tsunami Aceh akhirnya mengundang perhatian internasional," pungkasnya.
(Lamtiur Kristin Natalia Malau)

Sumber : Okezone

Sepenggal Kisah Khadafi dan Aceh

Tertembaknya mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi meninggalkan duka bagi sebagian orang Aceh. Setidaknya, itulah yang dirasakan Ligadinsyah, mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pernah kuliah, sekaligus ikut pelatihan militer di kamp Tajura, Libya. Bagi Liga, tanpa Khadafi, tak pernah ada angkatan perang GAM. Bahkan, sebagian anggota GAM pernah jadi pengawal Khadafi.



Dua tahun di Libya, meninggalkan kenangan mendalam bagi Ligadinsyah. Liga yang ketika itu masih berusia 24 tahun terpilih sebagai salah satu dari lima pemuda Aceh yang mendapat beasiswa kuliah di Al Fatah University, Tripoli, tahun 1986. Dia mengambil jurusan bahasa Arab. "Kami kuliah di sana atas rekomendasi almarhum Teungku Hasan Tiro," kata Liga yang kini berusia 48 tahun kepada The Atjeh Post, Jumat (21/10).

Menurut Ligadinsyah, tak lama setelah dia ke Libya, barulah gelombang pemuda Aceh lainnya dikirim ke sana untuk ikut pelatihan militer. "Tahun 1987, saya dipercaya sebagai penerjemah untuk kawan-kawan dalam latihan militer. Saat libur kuliah, saya juga ikut bergabung dalam pelatihan militer," kenangnya.



Meski pemberontakan GAM dimulai tahun 1977, pendidikan militer secara besar-besaran memang baru dimulai pada 1986-1990. Maka tumpah ruahlah sekitar seribuan pemuda Aceh ke Libya. Mereka dikirim dalam tiga gelombang. Alumni Libya inilah yang kemudian menjadi tulang punggung pergerakan GAM. Bahkan, Muzakir Manaf, mantan Panglima GAM yang kini menjadi ketua Partai Aceh adalah mantan alumni Libya.

Terletak sekitar 10 kilometer dari pusat kota Tripoli dan berada di pinggir laut, kamp Tajura adalah salah satu kamp pelatihan yang diperuntukkan bagi kelompok 'bermasalah' dengan negaranya. Kata Lingga, Khadafi menyebutnya: pelatihan untuk orang-orang tertindas dan terzalimi di negaranya. "Setahu saya, dananya dari anggaran belanja resmi Libya. Khadafi bilang itu bantuan resmi untuk orang-orang yang terzalimi di negaranya," kata Liga.

Selain dari Aceh, kata Lingga, pelatihan militer itu diikuti 'pemberontak' dari Pattani (Thailand), Moro (Philipina), Amerika Latin dan Afrika.

Sejauhmana kedekatan Hasan Tiro dengan Khadafi? Menurut Ligadinsyah, hubungan keduanya cukup dekat. Bahkan, Hasan Tiro dipercaya sebagai ketua Makbatabah Al Alami, sebuah lembaga nonstruktural yang menjadi penasehat politik Khadafi. Selain itu, Tiro juga didaulat menjadi President COmmittee peserta pelatihan militer, membawahi peserta dari negara-negara lain. "Tingkat kepercayaannya kepada Teungku Hasan sangat tinggi. Teungku Hasan juga cukup populer di kalangan tangan kanan Khadafi," kata Ligadinsyah.



Ligadinsyah juga masih ingat benar, sejumlah lulusan terbaik GAM di Tanjura pernah menjadi pengawal pribadi di ring satu Khadafi. Baginya, Libya dan Khadafi adalah cikal bakal angkatan perang Aceh Merdeka."Kalau Indonesia standar militernya Amerika, angkatan perang GAM dulu kiblatnya ke Libya."

Sederet kenangan dan hubungan itulah yang membuat Ligadinsyah merasa terenyuh ketika di televisi, ia melihat Khadafi tewas dan diperlakukan tidak manusiawi pada Kamis (20/10) pagi. "Secara pribadi saya sedih juga dan tidak simpati kepada tindakan-tindakan kekerasan seprti itu. Apapun cerita, dia pemimpin yang pernah membebaskan Libya dari tirani Raja Idris itu dan pemimpin yang disegani di negara-negara Arab. Harusnya dia diperlakukan lebih manusiawi," ujarnya.

Kini, Khadafi dan Hasan Tiro telah tiada. Mereka pergi dengan meninggalkan jejak sejarah antara Aceh dan Libya.[]

Penulis : Yuswardi A Suud
Sumber : AtjehPost

Teungku Agam...Dia Bukan Lagi Teungku Agam

Saya ingin menulis. Tapi, tidak pernah bisa menulis seperti penulis lainnya. Saya memang bukan seorang penulis. Saya ingin berpolitik. Tapi, sungguh saya juga bukan politikus. Apalagi politikus ulung seperti teman-teman saya. Saya juga ingin berdiplomasi. Namun, saya juga bukan seorang diplomat. Akan tetapi hari ini saya harus menulis.inilah tulisan perdana saya.

Saya sedikit ingin berkisah. Lebih kurang sudah lima tahun saya menikmati damai yang telah dirajut dengan susah payah ini. Sering teman-teman aktivis, juga teman-teman eks kombatan mengajak untuk terlibat dalam aktifitas politik setelah 2006. Ajakan itu, selalu saya abaikan dengan alasan “Saya ingin menikmati damai ini”. Sebenarnya, dalam lubuk hati yang paling dalam saya mengingkari jawaban saya sendiri.

Sungguh, tidak bisa dipungkiri. Secara lahiriah Aceh sudah damai. Secara mayoritas pun DPRA sudah dikuasai oleh Partai Aceh (PA). Begitu juga dengan eksekutif. Sayangnya, damai ini hanya baru sebatas simbolisasi karena kebijakan yang dibuat oleh eksekutif dan legislative masih bisa diinterpensi, dan UUPA masih bisa diotak atik oleh Jakarta. Ini maknanya makna pemerintahan sendiri atau yang kerap disebut dengan self government belum diklaskan oleh Jakarta. Kalau sudah begini, bisa dikatakan damai di Aceh seumpama jiwa yang sedang kehilangan ruhnya.

Meski begitu, saya masih bisa bersyukur karna dentuman senjata tidak pernah terdengar lagi. Warung kopi sesak dengan cekikan para remaja dan serak parau bapak-bapak tua dan setengah baya. Kondisi ini jauh berbeda ketika tahun-tahun sebelum MOU Helsinki ditandatangani.

Alhamdulillah semua bisa menikmatinya dengan hati yang gembira. Sayangnya, kegembiraan yang luar biasa itu telah menjadikan kita lupa diri. Kita, lupa bahwa hari ini kita sedang dibuai sayang oleh mereka yang mengatasnamakan NKRI. Sepertinya, penyakit lupa diri ini tidak hanya di alami oleh rakyat dan sebagian eks kombatan. Ternyata, Gubernur Aceh juga mengalami hal yang sama, bahkan lebih kritis.

Saya masih ingat. Di tahun-tahun pertama rakyat masih bisa mendengar suara lantang Bapak Gubernur ketika meneriakkan agar butir-butir yang tertulis dalam MOU Helsinki di implementasikan dengan maksimal. Seiring berjalannya waktu ketegasan akan nasib MOU Helsinki yang dijabarkan dalam UUPA kian sepi diteriakkan. Hanya tersisa sosok pemimpin yang di mata saya terlihat bagai sosok yang hidupnya dipenuhi oleh tuntutan materil yang semakin hari semakin berlimpah.

Bagi saya, sekritis apapun penyakitnya, beliau tetap gubernur yang pernah menjadi sahabat saya. Banyak kenangan masa lalu yg terukir bersama beliau. Saya tidak tau apakah beliau masih mau mengingat masa–masa sulit itu atau tidak. Karena, selama beliau menjabat sebagai gubernur bisa dikatakan saya adalah sahabat yang paling jarang bertamu kerumah beliau. Sampai jari jemari ini saya paksakan menulis ini, saya belum juga kerumahnya serutin sahabat-sahabat beliau yang lain.

Seandainya saya memiliki kekuatan dan kemampuan untuk memediasi, mungkin hal seburuk ini tidak akan terjadi. Tapi sayang itu hanya andai-andai saya saja. Andai andai itupun baru muncul ketika saya sudah tidak mengenal beliau lagi. Sungguh, saya telah tidak mengenal sosok yang biasa saya sapa Teungku Agam.

Teungku Agam sekarang adalah sosok yang sudah mulai gemar memakai baret. Teungku Agam yang selalu menyisihkan waktunya untuk belajar menembak. Dia bukan lagi Teungku Agam. Dia hanya Irwandi. Gubernur Aceh.

Saya sadari itu. Kesadaran yang membuat saya menafikan persahabatan. Dengan berat hati, cukup saya simpan dalam kertas usang. Sungguh, saya tidak pernah memiliki sahabat yang gemar memakai baret. Gemar memegang senjata, kecuali dalam kondisi terjepit dan nyawa terancam. Tidak ada lagi suara lantangnya yang dulu dipergunakan untuk menggugat Jakarta. Kini, suara lantangnya itu telah dipergunakan untuk menggugat sahabatnya sendiri. Menggugat rekan-rekannya yang telah menggantarkan dirinya ke tampuk kekuasaan. Menggugat perdamaian yang sedang saya nikmati sekarang ini, dengan alasan sayang Aceh.

Mendengar gugatan seorang yang kini cukup ku panggil dengan Irwandi atas rekan-rekan seperjuangannya membuat jiwa saya terusik. Saya hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak bisa menulis tapi kini memaksakan diri untuk menulis. Seorang perempuan biasa yang tidak memiliki kemampuan berdiplomasi akhirnya mulai belajar berdiplomasi. Sungguh, jiwa pemberontak yang telah lama saya kuburkan seakan meraung bak srigala kelaparan. Sepertinya hari itu saya telah sembuh dari penyakit lupa diri.

Seketika itu pula dengan rasa sedih yang begitu mendalam saya sempatkan diri mampir di rumah kediaman Muallem. Berharap bisa berbincang dengan beliau. Tapi, sayang beliau tidak berada di tempat sore itu. Akibatnya, jiwa ini terus saja menelangsa. Mencari jawaban atas apa yang sedang terjadi.

Saya sangat percaya Muzakir (Muallem) sosok yang sangat arif. Suatu sore di Simpang Mesra, beliau pernah berucap, mundur dan diam lebih baik. Jika kita tetap majupun sebagai kandidat, yakinlah pertumpahan darah antar timses (tim sukses) Irwandi dan PA akan berlangsung. "Hana payah jioeh, bak merepah tempat ikat spanduk manteng ka pake. Ta cok hikmah mantong (ngak usah jauh-jauh waktu berebut tempat pemasangan spanduk saja pasti akan terjadi pertengkaran. Kita ambil hikmahnya saja." Sungguh kalimat bijak yang keluar dari mulut seorang Mualem.

Itulah kearifan yang keluar dari sosok panglima, yang kukenal 9 tahun silam. Beliau tetap Muallem yang selalu berlama-lama dalam sujud dan zikir.Muallem yang selalu menjadikan mesjid sebagai tempat transitnya. Berbanding terbalik dengan perilaku Gubernur Aceh saya yang setelah mengeluarkan statement kalau independent tidak boleh ada di Aceh, sekarang beliau yang mengingkarinya. Begitu juga, setelah mengeluarkan statement semua pejabat pemerintah Aceh harus memakai INOVA sebagai kenderaaannya, malah beliau yang memakai Cheep Robicon.

Bagi saya, Muallem sebagai representative PA telah menunjukkan karakternya sebagai negarawan dan politikus sejati. Jadi wajar saja jika dalam beberapa hari ini kalimat-kalimat yang bertendensi simpati terus saja bergulir.Namun sekali lagi saya ingatkan, selaku anak Aceh yang belum berpaling dari garis lurus perjuangan, jangan terhipnotis dengan pujaan-pujaan sesaat, diakui atau tidak, PA (Partai Aceh) termasuk saya sendiri merupakan calon penonton dari sebuah pesta yang akan digelar sebentar lagi. Saya ingin bertanya, Apa yang bisa dilakukan oleh seorang penonton selain tepuk tangan? Atau, akan ada riak yang akan merubuhkan panggung sehingga pesta gagal digelar?

Walaupun DPRA tidak mengakui bahwa pesta tersebut sah menurut hukum dan tidak bertanggung jawab atas penyelenggaraan Pilkada Aceh, baik menyangkut dana APBA hingga kemasalah ritual Gubernur telpilih (Aceh.tribunnews.com/2011/10/09)Pesta tetap akan digelar. Pertanyaan selanjutnya, setelah pesta usai akan kemanakah sang pengantin itu berlayar?

Saya yakin lagi-lagi Jakarta tempat berlabuh. Inilah Aceh. Sebagian rakyatnya tidak pernah malu melacurkan dirinya dengan Jakarta. Luka lama belum juga sembuh, kini luka baru mulai kita torehkan. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi Aceh kedepan, ketika disharmonisasi antara eksekutif dan legislatif telah terbangun jauh-jauh hari, otomatis pembangunan yang berkesinambungan, kesejahteraan bagi rakyat, pendidikan yang maksimal untuk generasi muda, kesehatan yang memadai akan mandek alias tidak akan berjalan maksimal seperti yang akan digaungkan oleh Jurkam dari setiap kandidat nantinya.

Dalam kondisi seperti inilah kita membutuhkan kecerdasan para pemilih dan kekritisan rakyat dalam mencerna apapun yang keluar dari mulut para kandidat.Apa yang sudah dilakukan oleh orang terdahulu seyogyanya bisa dijadikan bahan refleksi,pengalaman menjadi knowledge dari learning before,learning during,learning after berujung sebagai collective knowledge.Aceh milik Rakyat Aceh, sudah sepatutnya rakyat yang menentukan segalanya, bukan mereka-mereka!

Penulis : Cut Meutia (Farah)
Penulis adalah Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Limpoek, Aceh Besar
Sumber : AtjehPost

FILM DOKUMENTER ACEH " GARAMKU TAK ASIN LAGI " MASUK FINALIS EAGLE AWARD METRO TV 2011


" GARAMKU TAK ASIN LAGI " sebuah film dokumenter dari Aceh hasil karya Azhari ( Azha Ayi Megit ) dan Jamaluddin Phona ( Jams Al-Alfghani ) berhasil masuk finalis Eagle Award Metro TV 2011.Film tersebut mengangkat tema perjuangan sekelompok perempuan yang mempertahankan produksi garam ala tradisional di tengah gencarnya impor garam dari luar negeri.

VideoGARAMKU TAK ASIN LAGI



VideoGARAMKU TAK ASIN LAGI



Seperti yang saya kutip dari Serambi Indonesia Para finalis, termasuk Azhari dan Jamaluddin Phona akan memperebutkan tiga nominasi yaitu:
- Nominasi film dokumenter terbaik
- Nominasi film dokumenter rekomendasi juri
- Film dokumenter favorit pemirsa.
Para pemenang akan diumumkan pada Awards Night (malam penganugerahan) 28 Oktober 2011 mendatang di Metro TV.



Bagi anda yang tidak sempat menonton di bioskop Jakarta dan Bandung tidak perlu khawatir, karena mulai tanggal 3 sampai 23 Oktober 2011 film-film Eagle Award tahun ini akan ditayangkan Metro TV.

Yok kita dukung film dokumenter Aceh "Garamku Tak Asin Lagi", agar memenangkan nominasi film favorit pemirsa, silahkan :

ketik sms: Eagle(spasi)Garam, kirim ke 9899.

=========================
Jadwal Tayang "Garamku Tak Asin Lagi" di Metro TV

5 Oktober 2011 Pukul 20.05 WIB
12 dan 19 Oktober 2011 pukul 11.05 WIB (siaran ulang)

Karya finalis Eagle Awards 2011
1. "Adeus, Timor Lorosae"
Karya Kurnia Rahmad Dhani & M.Zulfi fani, Yogyakarta
2. "Garamku Tak Asin Lagi"
Karya Azhari & Jamaluddin Phonna, Aceh
3. "Mutiara Pesisir Pantai"
Karya Belo, Papua
4. "Presiden Republik Abu-abu"
Karya Mutiara Paramita Andika & Afief Riyadi, Jakarta
5. "Hutanku Sekolahku"
Karya David Suryadi & Roberto Satyady, Padang

PLTA Peusangan Dapat Kucuran Dana Rp 3,5 Triliun

Untuk menyelamatkan krisis listrik yang terjadi di Aceh, sekaligus merangsang investor masuk, pemerintah Aceh sudah mendapat ketegasan dari pemerintah pusat atas proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan yang mendapat komitmen kucuran dana sebesar Rp 3,5 triliun. Diharapkan pada 2012 proyek itu tuntas dikerjakan.

“Krisis listrik di Aceh akan segera teratasi dengan dibangunnya proyek PLTA Peusangan. Di samping itu, Aceh butuh investor secara besar-besaran, salah satu regulasi yang kita lakukan adalah pengadaan tenaga listrik. Saat ini kekhawatiran itu sudah terjawab, yakni pemerintah pusat telah siap mengucurkan dana sebesar Rp 3,5 triliun untuk proyek PLTA Peusangan dan tahun 2012 proyek itu telah tuntas,” kata Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar kepada MedanBisnis usai menjadi panelis International Conference and Seminar Malikussaleh, di Gedung ACC Unimal, Selasa (12/7).

Dia mengatakan, investor tidak perlu takut berinvestasi di Aceh. “Silakan investor masuk, pemerintah Aceh akan memberikan stimulus kepada setiap investor. Aceh masih sangat potensial, baik dari sumber daya alam maupun yang lainnya,” jelasnya.

Di samping itu, Nazar juga menjelaskan, untuk membangun Aceh masyarakat jangan terjebak dengan romantisme sejarah. “Dulu Aceh hebat, ekonominya kuat, masyarakat juga sejahtera, tapi itu dulu. Sekarang perlu ada perubahan, makanya kita jangan terjebak oleh romantisme sejarah, tapi ternyata tidak mampu mentransformasikan sejarah itu menjadi bermanfaat, sehingga Aceh kuat dan maju,” paparnya.

Satu hal, tambahnya, iklim ilmu pengetahuan tidak kondusif, sehingga profesor jebolan luar negeri sekalipun tidak akan mampu mewujudkan impian Aceh yang kuat dan kondusif.

“Oleh karena itu, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih kuat, butuh situasi dan suasana yang kondusif, sehingga tidak hanya iklim ilmu pengetahuan yang bergairah, tapi iklim investasi juga bagus,” ujarnya. [mbd]

Sumber : Seputar Aceh - 14 Juli 2011

Irwandi Yusuf : Muhammad Nazar Minta Saya Jangan Maju

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf memastikan “cerai” dengan Wakil Gubernur Muhammad Nazar. Ia memutuskan menggandeng pasangan baru untuk maju kembali sebagai calon gubernur untuk periode kedua lewat jalur independen.



“Nazar pernah minta saya jangan maju lagi dan memberikan dukungan kepadanya untuk naik sebagai Gubernur. Saya bilang, boleh-boleh saja. Tapi kalau saya tidak naik, kamu (Nazar – red) juga akan kalah. Jadi lebih baik saya maju dan hubungan kita tetap dekat,” ujar Irwandi saat ditemui atjehpost.com di Banda Aceh, Kamis (24/2/2011).

Keputusan “cerai” pasangan Irwandi-Nazar bukan tanpa sebab. Isu pecah kongsi pasangan ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan elit politik Aceh. Ketika ditanya kenapa tidak lagi menggandeng Nazar sebagai wakil gubernur, Irwandi mengatakan,”Kami sama-sama memilih untuk maju dalam dua paket, tidak lagi satu paket,” jawabnya sambil tertawa.

Soal pasangan barunya Irwandi mengatakan akan memilih pasangan yang berasal dari daerah pantai Barat dan Selatan Aceh. Alasannya, untuk memenuhi prinsip keadilan. Sebab, selama ini sangat jarang figur dari daerah itu muncul di level pimpinan daerah. “Ini saatnya kita naikkan mereka. Kalau sekarang jadi wakil, ke depan mungkin bisa jadi orang nomor satu di Aceh,” ujarnya.

Sejumlah nama yang disebut-sebut bakal menjadi pasangan baru Irwandi antara lain T Machsalmina (mantan Bupati Aceh Selatan yang kini Kadis Mobilitas Penduduk), Muhyan Yunan (Kadis BMCK Aceh), Ruslan Abdul Gani (Kepala BPKS), Aminullah Usman (mantan Dirut Bank BPD Aceh), Said Mustafa (tokoh masyarakat Aceh Selatan) dan mantan juru bicara Partai Aceh Linggadinsyah.

Ditanya soal nama-nama itu Irwandi mengatakan semua nama masih berpeluang untuk menjadi pasangannya. Namun, kata dia, kepastian nama pendampingnya akan diumumkan dua hari lagi. “Sengaja saya buat begitu supaya filmnya jadi menarik,” ujar Irwandi sambil tertawa.

Sumber : Yuswardi A. Suud 24022011 - The Atjeh Post

Ini Alasan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf Tolak Rancangan qanun Pemilukada Aceh

Tiga Rancangan Qanun (Raqan) yang telah diparipurnakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Selasa, (28/6) ternyata salah satu Raqan tersebut ditolak Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dengan berbagai alasan. Sedangkan dua Raqan lain, yaitu Raqan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Raqan Retribusi dan Pelayanan Rumah Sakit Ibu dan Anak Aceh diterima untuk ditetapkan menjadi Qanun Aceh.



Alasan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf tidak menerima Raqan Pemilukada Aceh tertuang dalam sambutannya ketika menutup sidang paripurna, Selasa (28/6) pukul 09.30 WIB di Gedung DPRA. Gubernur Aceh menyatakan Raqan tersebut belum disetujui bersama antara legislatif dan eksekutif, khususnya pasal yang mengatur tentang calon perseorangan dan kewenangan lembaga yang mengadili hasil Pemilukada.

Karena belum adanya persetujuan bersama itu, sebagaimana disampaikan oleh Irwandi yaitu pada saat pembahasan dengan pansus III DPRA, pada penyampaian Raqan tersebut pada paripurna I, pada jawaban dan tanggapan terhadap laporan Pansus XII Komisi F dan pemandangan umum DPRA pada paripurna IV masa persidangan kedua serta pada saat rapat Badan Musyawarah (Banmus).

Pertimbangan menurut Gubernur Aceh berdasarkan ketentuan Pasal Undang-Undang No 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan ditegaskan bahwa Raqan yang telah disetujui bersama disampaikan oleh Pimpinan DPRA ke gubernur untuk ditetapkan menjadi Qanun Aceh.

Pasal 23 ayat 1a. UU PA yang berbunyi DPRA bertugas membentuk Qanun Aceh yang dibahas bersama-sama dengan Gubernur Aceh untuk mendapat persetujuan bersama. Pasal 232 ayat 1, UU PA juga berbunyi Qanun Aceh disahkan oleh gubernur setelah mendapat persetujuan bersama dengan DPRA.

Kemudian Pasal 129 Peraturan DPRA Nomor 1 Tahun 2009 tentang tata tertib DPRA bahwa Raqan yang telah memperoleh persetujuan bersama antara DPRA dan Pemerintah Aceh disampaikan kepada Kepala Pemerintah Aceh dalam jangka waktu paling lambat tujuh hari terhitung sejak tanggal disetujui untuk ditanda tangani oleh Kepala Pemerintah Aceh dan diundangkan dalam lembaran daerah.

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa apabila suatu Raqan yang belum disetujui bersama maka qanun sepihak itu belum dapat diundangkan dalam lembaran daerah Aceh. Raqan Pemilukada Aceh yang belum disetujui ini tidak dapat di implementasikan dan harus mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.[theglobejournal.com]

Sumber :Tabrak Aceh

Dahniar Dali Satu-satunya Calon Gubernur Wanita Aceh dari Independen

DAHNIAR DALI. SH.MH adalah satu-satunya perempuan dan pertama kali dlm sejarah di Aceh yang berani maju menjadi Calon Gubernur Aceh 2011-2016 melalui Jalur Independen.
Dahniar Dali, lahir di Banda Aceh, 28 Juli 1976, Lulusan S1 Fakultas Hukum Universitas Abulyatama Banda Aceh, Lulusan Pasca Sarjana S2 Program Study Ilmu Hukum, Bidang Kajian Hukum Internasional di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, dan kini sedang menyelesaikan Program Doktor (S3) Bidang Kajian Utama Hukum Internasional Konsentrasi Hak Asasi Manusia di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

Dahniar Dali yang sedang menyelesaikan Program Doktor (S3) Bidang Kajian Utama Hukum Internasional Konsentrasi Hak Asasi Manusia di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, merupakan salah satu perempuan yang memberanikan diri maju menjadi Calon Gubernur Aceh 2011-2017.

Dahniar Dali kepada The Globe Journal, Jumat (18/2) melalui FB mengakui, dirinya memberanikan diri maju melalui jalur indenpenden kerena amanah rakyat Aceh," Dengan keiklasan dan niat baik saya mencalonkan diri," katanya.

Dia memilih jalur independen karena keyanikannya. "Saya mencalonkan diri melalui jalur indenpendent, alhamdullilah Allah mengabulkan permintaan saya selama lima tahun untuk
jalur indenpenden melalui putusan MK," ungkapnya.

calon independen ini sudah mempersiapkan program, selain itu sebutnya lagi , rencananya masyarakat Aceh juga telah mempersiapkan 2.000 becak untuk kampanye," saya sudah dikoodinasi oleh abang becek di Aceh,"pungkasnya. [003]

Sumber : Koran Fesbuk Ureung Aceh - The Globe Journal

GAM vs GAM dalam Pemilukada Aceh 2011-2016

Lima tahun setelah masyakarat Aceh memilih mantan pemberontak sebagai gubernur dan bupati dalam pemilukada pertama setelah konflik berakhir, pemilukada berikutnya sudah menjadi persaingan antara dua kubu GAM.



Dalam laporan terbaru, Indonesia: GAM vs GAM dalam Pemilukada Aceh, International Crisis Group melihat bagaimana proses menuju pemilukada yang dijadwalkan untuk tanggal 14 November 2011 sedang mempertajam persaingan lama antara Gubernur Irwandi Yusuf dan kubu mantan “Perdana Menteri” GAM, Malik Mahmud, yang mengendalikan Partai Aceh. Irwandi ingin maju sebagai calon independen sedangkan Partai Aceh sudah mencalonkan mantan “menteri luar negeri” GAM, Zaini Abdullah, sebagai calon gubernur dengan mantan panglima GAM, Muzakkir Manaf, sebagai wakilnya.

“Persaingan di tubuh GAM cukup baik untuk demokrasi di Aceh, apalagi dengan Partai Aceh menunjukkan kecendurungan ke arah otoriter,” kata Sidney Jones, penasihat senior Crisis Group. “Yang penting, persaingan tersebut tidak menuju ke kekerasan.” Pertaruhan sampai sekarang terfokus kepada apakah calon indepen boleh maju apa tidak. Kalau bisa, Irwandi ada peluang menang. Kalau tidak, calon Partai Aceh kemungkinan besar unggul.

Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA) 2006, yang telah memberikan sebuah basis hukum bagi perjanjian damai Helsinki, mengatur bahwa calon independen bisa maju dalam Pemilu Kepala Daerah Aceh yang pertama pasca konflik, tapi setelah itu para kandidat seharusnya berasal dari partai-partai lokal atau partai nasional. Pada Desember 2010, Mahkamah Konstitusi menggugurkan ketentuan ini.

Partai Aceh berargumen ketentuan MK tersebut telah melanggar otonomi Aceh, dan merusak prinsip pemerintahan sendiri seperti yang ditetapkan perjanjian Helsinki. Dengan demikian, isu ini dijadikan wewenang pusat versus propinsi. Tapi dengan kendali mereka atas DPR Aceh, Partai Aceh punya kartu lain untuk dimainkan. Pemilukada mengharuskan DPR setempat untuk mengeluarkan qanun (perda) untuk menyusun prosedur pemilu. Awalnya Partai Aceh mengatakan berencana menetapkan sebuah qanun yang melarang calon independen, meskipun putusan MK menetapkan sebaliknya. Tapi mungkin karena tahu bahwa peraturan semacam itu akan dicabut Mendagri, mereka memilih untuk menunda-nunda; anggota DPR Partai Aceh selalu punya kegiatan yang kelihatannya lebih penting daripada menyelesaikan penyusunan qanun pemilu.

Ada yg menduga Partai Aceh punya strategi menunda penetapan qanun hingga masa jabatan gubernur saat ini berakhir. Apabila ini terjadi, Jakarta kemudian harus menunjuk seorang caretaker sampai pemilu bisa dilaksanakan, dan karena incumben tidak boleh ditunjuk, hal ini akan menghalangi Irwandi memanfaatkan jabatannya untuk kampanye. Namun pemerintah pusat telah mengatakan apabila qanun yang baru tidak segera dihasilkan, proses pemilu akan terus diselenggarakan dibawah qanun yang digunakan pada 2006. Hasilnya akan tergantung antara lain pada dukungan dari anggota Komite Peralihan Aceh (KPA), organisasi yg terdiri dari mantan panglima dan pejuang GAM. Ada yg setia kepada Irwandi, ada juga yg merasa harus ikut perintah dari atasan mereka, yaitu Malik Mahmud.

“Tantangan untuk GAM ke depan adalah bagaimana persaingan ini bisa diarahkan untuk memperbaiki kebijakan pemerintah dan pelayanan sosial, tanpa melupakan bagaimana menghidupkan kepakatan Helsinki,” kata Jim Della-Giacoma, direktur ICG untuk Asia Tenggara.

Sumber : Jakarta/Brussels, 15 June 2011 -International Crisis Group

Partai Aceh Usung Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf

Partai Aceh (PA) mulai memainkan jurus-jurus mautnya. Sebelumnya PA cukup berhati-hati mengeluarkan pernyataan resmi terkait siapa yang diusungnya dalam Pilkada pada Oktober 2011 nanti. Namun, kali ini PA seperti cukup percaya diri dan mengumumkan kandidat yang diusungnya nanti.



Bertempat di kediaman Perdana Menteri GAM, Malek Mahmud, di kawasan Geucue Kaye Jatoe, Banda Aceh, Minggu (6/2) sore, Partai bentukan mantan GAM ini melansir sebuah pernyataan penting: mengusung Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf, masing-masing sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur dari PA.

Tak ada lagi teka-teki siapa kandidat yang didukung pemenang Pemilu 2009 di Aceh ini. Padahal, sebelumnya, pernah muncul wacana, PA mengusung Zaini Abdullah berpasangan dengan Aminullah Usman (mantan Dirut BPD-sekarang Bank Aceh). Informasi ini muncul dari kawasan Lamteumen. Saat itu, pihak PA tak membantahnya. Bisa saja, pasangan ini bubar karena tak ada kesepakatan antara kedua belah pihak.

Sementara dalam salah satu pernyataan, politisi Adnan Beuransah, pernah mengeluarkan statemen bahwa PA tidak akan mendukung Irwandi Yusuf (Gubernur sekarang) sebagai kandidat dari PA. Irwandi sendiri dalam sebuah kesempatan kepada wartawan pernah menyatakan dirinya berharap didukung oleh PA. "Tahap pertama tentu melalui Partai yang saya besarkan dan saya biayai, yaitu Partai Aceh. Kalau Partai Aceh tidak berkenan mencalonkan saya 'kan ada jalur independen dan ada partai lain," kata Irwandi saat itu. Dengan keputusan PA tersebut yang mengusung Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf, harapan Irwandi pun pupus.

Irwandi pun pantas kecewa. Sebab, dalam konferensi pers itu, Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat Muzakkir Manaf juga meminta dirinya mengurungkan niat mencalonkan diri sebagai Gubernur dan memilih ikut keputusan PA.

“Sebaiknya kita satu suara saja, dan mendukung pasangan yang sudah ditetapkan ini,” kata Muzakir Manaf. Namun, Muzakkir tak mempersoalkan jika Irwandi tetap memilih maju. “Itu terserah Bang Irwandi, tapi saya harap dia mundur dan satukan suara dengan Partai Aceh,” lanjut mantan Panglima GAM ini.

Muzakkir Manaf sudah memprediksi Irwandi tak akan bisa mendulang suara dari Partai Aceh. Memang, diakuinya, ada beberapa anggota GAM dan PA yang mendukung Irwandi, tapi persentasenya kecil sekali (tak signifikan).

Selain nama-nama tersebut, juga sudah muncul sejumlah kandidat yang dipastikan maju sebagai calon Gubernur, baik melalui jalur partai maupun independen, seperti Muhammad Nazar (Wakil Gubernur sekarang), Prof Darni Daud, Tarmizi A Karim, dan Otto Syamsuddin Ishak. Tapi Pilkada masih lama, Oktober 2011. Nama-nama ini bisa saja bertambah atau berkurang. Kita tunggu saja.

"Saya membaca, masuknya nama Muzakkir Manaf (Ketua KPA) sebagai calon Wakil Gubernur menunjukkan petinggi GAM tidak yakin bisa mendulang suara jika hanya mengandalkan nama Zaini Abdullah yang tidak cukup populer di Aceh (di bawah bayang-bayang Meuntro Malek Mahmud). Partai Aceh banyak belajar dari kegagalan pasangan Humam-Hamid (H20) dalam Pilkada 2006 lalu setelah dikalahkan oleh Irwandi-Nazar (Irna)"----komentar pribadi.


Ini versi lengkap surat keputusan Partai Aceh:

Siaran Pers
Komite Peralihan Aceh (KPA)
Tentang
Rapat Pimpinan KPA Seluruh Aceh

Rapat bersama pimpinan KPA yang berlangsung di Banda Aceh, Minggu 6 Februari 2011 menghasilkan beberapa keputusan :

1. Rapat pimpinan ini adalah sebuah forum yang sengaja dibuat untuk mengevaluasi keadaan terakhir Aceh menyangkut dengan situasi perdamaian, keamanan, pembangunan dan kondisi politik nasional dan daerah menjelang Pilkada 2011.

2. Forum menilai/bersepakat bahwa keadaan perdamaian dan keamanan di Aceh –Alhamdulillah- cukup kondusif walaupun ada catatan kecil disana sini.

3. Dalam hal pelaksanaan pembangunan di Aceh, forum menilai tidak ada kemajuan yang signifikan bila dilihat dari kewenangan dan sumberdaya keuangan yang tersedia.

4. Dalam hal kesiapan Pilkada 2011, KPA saat ini telah dan sedang melakukan evaluasi terhadap calon-calon kepala daerah baik di propinsi mahupun di kabupaten/kota terutama yang berasosiasi dengan Partai Aceh. Kami juga sepakat untuk melakukan evaluasi tentang kemungkinan kerjasama dengan partai-partai yang lain.

5. Dalam hal koalisi dengan partai lain kami telah bersepakat bahwa untuk posisi Gubernur dan Wakil Gubernur Partai Aceh tidak akan berkoalisi dengan partai yang lain. Sedangkan di sejumlah kabupaten kota -yang akan kami sampaikan kemudian- kemungkinan koalisi sangat mungkin terbuka.

6. Forum dengan penuh pertimbangan telah bersepakat mencalonkan pasangan Dr. Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur Aceh untuk periode 2012-2017 dari Partai Aceh. Keputusan ini kami ambil karena kami yakin bahwa pasangan ini memiliki pengetahuan, pengalaman dan dedikasi untuk memenuhi cita-cita perjuangan seperti yang telah termaktub dalam MoU Helsinki. Perlu juga kami tegaskan kami menerima berbagai dukungan untuk pasangan calon ini baik dari pendukung Partai Aceh mahupun dari masyarakat luas sampai dengan hari ini yang terus mengalir.

Demikianlah kesimpulan pertemuan pada hari ini, bersamaan ini pula kami memohon dukungan dan doa restu dari seluruh komponen masyarakat Aceh.

Banda Aceh, 6 Februari 2011
Komite Peralihan Aceh

Muzakir Manaf
Ketua

Sumber : Taufik Almubarak

Tarmizi Abdul Hamid Selamatkan Secarik Kebesaran Aceh

Nama : Tarmizi Abdul Hamid,
Lahir: Pidie, 31 Desember 1964
Pekerjaan: PNS di Balai Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP) Banda Aceh Pendidikan terakhir: Fakultas Pertanian Universitas Abul Yatama, Banda Aceh (1997) • Istri: Nurul Husna (39)
Anak: 1. Salsabila Humaira (12) 2. M Rafi Halis (5)



Kekaguman memang layak ditujukan teruntuk Tarmizi Abdul Hamid. Beliau merupakan warga Lampineung, Banda Aceh, Provinsi Aceh, yang sejak 16 tahun silam giat mengumpulkan lembar demi lembar manuskrip kuno yang masih tersisa. Menyelamatkan secarik kebesaran masa lalu Aceh adalah tujuannya. Apa yang sudah dilakukan oleh beliau seharusnya dilakukan oleh pemerintah daerah Aceh atau mungkin pemerintah pusat.

Sangat ironis memang, pemerintah yang sudah diberikan anggaran untuk mengelola dan mengamankan naskah-naskah kuno justru kurang peduli terkait masalah yang sangat penting ini.

Tahun 1995, Tarmizi mendapat tugas dinas ke Brunei. Di Brunei, dia berkesempatan mengunjungi perpustakaan nasional. Di situ dia mendapati ribuan manuskrip kuno Aceh bernilai sejarah tinggi terpajang. ”Saya sangat prihatin. Naskah-naskah kuno itu tak pernah saya lihat di Aceh. Di Aceh juga tak ada perpustakaan yang mempunyai koleksi sejarah Aceh selengkap itu,” tuturnya sebagaimana dikutip DuniaPerpustakaaN.Com dari kompas.com (19/6/2011).

Abad ke-17 hingga ke-19 adalah masa kegemilangan tradisi literasi di Aceh. Puluhan ribu manuskrip berupa mushaf kitab suci, tasawuf, tauhid, fikih, astronomi, sejarah, seni, sastra, hingga ilmu pengobatan ditulis oleh intelektual dan ulama besar masa itu. Sayangnya, keberadaan warisan luhur masa lalu itu kini terancam punah. Sebagian musnah oleh waktu, ribuan terpampang di negeri seberang, sisanya tercecer tidak dipedulikan.

Adalah Tarmizi Abdul Hamid, warga Lampineung, Banda Aceh, Provinsi Aceh, yang sejak 16 tahun silam giat mengumpulkan lembar demi lembar manuskrip kuno yang masih tersisa. Menyelamatkan secarik kebesaran masa lalu Aceh adalah tujuannya.

Dia bukanlah akademisi, sejarawan, ataupun kolektor benda antik bermodal besar. Keseharian Tarmizi hanyalah seorang pegawai negeri level menengah di Badan Pengembangan Teknologi Pertanian Banda Aceh.

Tidak kurang dari 500 manuskrip kuno Aceh kini tersimpan di sudut rumahnya. Ada mushaf Alquran kuno, buku tasawuf, tauhid, hukum Islam, falak, hingga ilmu pengobatan. Lembaran-lembaran naskah kuno tersebut sudah berwarna kecoklatan. Sebagian tidak utuh lagi karena rusak atau hilang. Beberapa lembar tampak berlubang dimakan rayap dan ngengat.

Manuskrip tersebut umumnya dibuat pada abad ke-16 hingga abad ke-19. Dengan demikian, usia buku-buku koleksi Tarmizi rata-rata sudah 3-5 lima abad.

Sore itu, Tarmizi dengan bangga menunjukkan kitab Luffat al Tullab, salah satu koleksinya. Kitab ini karangan Syeikh Zakaria Ansari yang ditulis tangan pada abad ke-16. Bagian luarnya sobek, bekas gigitan rayap menghias pinggir buku. Manuskrip ini bertutur bermacam topik, mulai dari hukum Islam, cara berjihad, seni dan sastra, sejarah, hingga pengobatan.

Dari tuturan mengenai pengobatan di kitab itu, Tarmizi beberapa kali mencoba mempraktikkannya dengan meramu obat. Ramuan itu sangat jelas disebutkan di buku tersebut. Hasilnya tak mengecewakan. Penyakit batuk dapat disembuhkan dengan ramuan tradisional itu.

Kitab Luffat al Thulab dibuat pada masa akhir Kerajaan Samudera Pasai. Saat itu kertas adalah barang yang sangat langka di Aceh. Media tulisan sebagian besar berupa kulit kayu. Kertas didatangkan dari Eropa dan China oleh kerajaan. Itu pun sangat jarang karena membutuhkan waktu pesan 10-20 tahun.

Koleksi Tarmizi yang terbanyak berasal dari masa abad ke-17 hingga ke-19. Menurut Annabell Gallop, peneliti sejarah Asia Tenggara dari British Library, London, yang sore itu ikut berkunjung ke rumah Tarmizi, banyaknya temuan manuskrip dari abad ke-17 hingga ke-19 karena pada masa itu tradisi tulis-menulis memuncak di Aceh. Hal ini tak lepas dari kehadiran para penjajah dari Eropa yang memungkinkan kertas dapat didatangkan ke Aceh.

Kitab-kitab tersebut ditulis dalam aksara Arab-Jawi. Sebagian besar dituturkan dengan bahasa Melayu. Bahasa ini digunakan karena menjadi bahasa serantau atau lingua franca masa itu.

Di Perpustakaan Nasional Inggris di London tersimpan sekitar 10 manuskrip kuno asal Aceh. Dibandingkan dengan manuskrip kuno dari Jawa dan Malaysia, manuskrip kuno Aceh memang tidak banyak yang dikoleksi di Inggris. Hal tersebut karena Inggris tidak pernah masuk ke Aceh, kecuali saat Thomas S Raffles pesiar ke daerah ini pada pertengahan 1800-an.

Manuskrip kuno Aceh mempunyai keunikan dan bercitarasa seni tinggi. Setidaknya ini terlihat dari ornamen pada setiap bagian penanda halaman kitab koleksi Tarmizi. ”Walau, memang tak sebagus ornamen manuskrip dari Pattani dan Trengganu,” kata Gallop yang mengaku heran dengan minimnya kepedulian pemerintah terhadap koleksi Tarmizi.

Keprihatinan

Tahun 1995, Tarmizi mendapat tugas dinas ke Brunei. Di Brunei, dia berkesempatan mengunjungi perpustakaan nasional. Di situ dia mendapati ribuan manuskrip kuno Aceh bernilai sejarah tinggi terpajang. ”Saya sangat prihatin. Naskah-naskah kuno itu tak pernah saya lihat di Aceh. Di Aceh juga tak ada perpustakaan yang mempunyai koleksi sejarah Aceh selengkap itu,” tuturnya.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Tarmizi bertekad mencari dan mengumpulkan manuskrip kuno Aceh. Itu tidak mudah. Manuskrip tersebar di seluruh wilayah Aceh, bahkan di provinsi-provinsi sekitarnya. Banyak orang yang masih menyimpan manuskrip tersebut, tetapi tidak menyadari betapa pentingnya itu sehingga tak dipelihara dengan baik.

Tidak hanya di Aceh, Tarmizi bahkan berburu manuskrip kuno Aceh hingga ke pelosok-pelosok Sumatera Utara dan Riau. Kadang dia menukar kitab kuno itu dengan Alquran baru, beras, atau padi.

”Kalau semuanya diganti dengan uang, saya jelas tidak mampu. Apalagi, tak ada standar harga pasti atas kitab-kitab itu,” ujarnya.

Ratusan juta rupiah sudah dia keluarkan untuk mendapatkan manuskrip-manuskrip tersebut. Enam petak sawah warisan orangtuanya di Kabupaten Pidie sudah habis demi upaya tersebut.

Karena ketiadaan biaya, Tarmizi pun hanya bisa merawat koleksinya dengan cara tradisional. Kitab-kitab berusia ratusan tahun itu dibungkus kain putih, diberi kapur barus, lada hitam, lada putih, dan cengkih. ”Yang penting tak dimakan rayap,” katanya.

Tak sekalipun dia mendapat bantuan dari pemerintah untuk pemeliharaan. Bantuan restorasi manuskrip kuno justru pernah datang dari Pemerintah Jepang usai tsunami 2004 lalu. Dari sekitar 500 koleksi Tarmizi, sebanyak 56 naskah kuno berhasil direstorasi. Sayangnya, Tarmizi kesulitan merestorasi naskah-naskah lain karena ketiadaan biaya.

Tarmizi tidak menyerah. Dia pun mendigitalisasi naskah-naskahnya ke komputer. Sebanyak 23 naskah kuno berhasil didigitalisasi. Namun, biaya lagi-lagi menjadi kendala. Dia juga kesulitan mendapatkan orang yang mampu membaca teks kuno.

Dia kemudian mengajak kawannya yang peduli pada naskah kuno untuk mengalihaksarakan naskah koleksinya dari Arab-Jawi ke latin. Tak sia-sia, dua kitab rampung, yaitu Nazam Aceh (Syair Perempuan Tasawuf Aceh) karangan Pocut di Beutong dan Hujjah Baliqha Ala Jama Mukhashamah karya Jalaluddin bin Syekh Jamaluddin Ibnu Al Qadhi.

Saat ini, Tarmizi dan kawannya sedang menyelesaikan alih aksara kitab lainnya.

Ia tak pernah menjual atau mengomersialkan koleksinya. Jerih payah dan uang ratusan juta rupiah yang digunakan untuk mendapatkan dan memelihara manuskrip-manuskrip kuno itu didedikasikannya untuk pengetahuan generasi masa kini dan mendatang.

”Saya sangat senang dan bangga jika ada orang yang mau belajar dan meneliti manuskrip-manuskrip kuno ini,” katanya.

Sumber :Dunia Perpustakaan 19 Juni 2011

Otto Syamsuddin Ishak Calonkan Diri Jadi Gubernur Aceh

Sosiolog Aceh, Otto Syamsuddin Ishak yang juga salah seorang dosen di Universitas Syiah Kuala, berniat mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh atau istilah kerennya Aceh 1. Untuk itu Otto telah menyiapkan tim sukses (timses) yang diketuai oleh Iqbal Faraby. Hal ini disampaikan oleh Iskandar, salah seorang anggota timses Otto, Sabtu (24/6)



Kepada The Globe Journal Iskandar mengatakan bahwa Otto sekarang sudah menyebarkan timses ke berbagai daerah di Aceh untuk mengumpulkan dukungan dari masyarakat dalam bentuk KTP dan tanda tangan dukungan. "Sekarang semua jaringan tim sukses di daerah sudah terbentuk, dan sedang bekerja mengumpulkan dukungan masyarakat di berbagai kabupaten/kota yang ada di Aceh,"kata Iskandar.

Iskandar juga menambahkan bahwa untuk calon wakil gubernur pihak Otto sedang melakukan penjajakan dengan berbagai pihak yang dinilai berkompeten. Namun untuk saat ini nama-nama tersebut belum bisa dipublikasi karena belum menemukan kata sepakat.

Saat ditanyai apakah Otto akan menghambur-hamburkan dana saat pengumpulan KTP seperti yang dilakukan oleh beberapa kandidat lain, Iskandar mengatakan tidak. Sebab target Otto maju sebagai Aceh 1 adalah untuk melakukan perubahan bagi Aceh. Untuk itu dia tidak akan menghambur-hamburkan uang yang nantinya akan menjadi bumerang bagi dirinya.

Untuk saat ini timses Otto sudah mulai bergerilya mencari dukungan di beberapa kabupaten/kota seperti Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pijay, Bireuen, dan beberapa daerah lainnya baik di pantai Timur, maupun Barat dan Selatan.

Sumber : Muhajir Juli - The Globe Journal - Jum`at, 24 Juni 2011

Otto Syamsuddin Ishak - Pria yang Rela Jadi Investigator Kasus-Kasus HAM

Rela Bertahun-tahun Tak Disapa Anak-anaknya

Selama puluhan tahun Otto Syamsuddin Ishak akrab dengan tubuh terluka, diintimidasi, diculik, bahkan hampir mati. Tapi, itu sama sekali tak menggoyahkan tekadnya untuk menjadi seorang investigator untuk kasus-kasus hak asasi manusia (HAM). Apa yang membuat dirinya kuat?



Peristiwa tersebut selalu diingat Otto. Waktu itu sekitar akhir September 1991. Dia sedang berjalan sendiri di tepi hutan Geumpang, Aceh (kini Nanggroe Aceh Darussalam). Tiba-tiba, tiga orang bersenjata tajam muncul dari kanan dan kiri bukit. Tanpa basa-basi, parang-parang itu hampir terayun ke tubuhnya.

Otto mundur setapak sembari mengamati tiga lelaki berwajah garang itu. "Lho, Otto... Kau Otto kan?" tiba-tiba seorang di antara mereka berseru. "Dia ternyata teman saya bermain layang-layang waktu kecil. Kami lantas berpelukan, lalu tertawa bersama," ujar Otto mengisahkan pertemuan mengesankan yang masih segar di memorinya itu.

Kejadian tersebut hanyalah salah satu di antara belasan insiden yang kenyang dinikmati Otto. Putra asli Aceh yang lahir pada 14 Oktober 1959 tersebut selama bertahun-tahun memang aktif keluar-masuk hutan Aceh selama berlakunya daerah operasi militer (DOM) di sana pada era Orba sampai masa damai 2005. "Mereka memang ditugaskan oleh seseorang untuk menghabisi saya. Alhamdulillah masih selamat," katanya.

Jumat pekan lalu (17/6), Otto yang kini mengampu mata kuliah sosiologi di Universitas Syiah Kuala, NAD (Nanggroe Aceh Darussalam), tersebut sedang berada di Jakarta. Pria berkumis melintang dengan sorot mata tajam itu menjadi salah seorang instruktur pelatihan investigasi yang diprakarsai Yayasan Pantau. Jawa Pos menjadi salah satu peserta.

Otto tampil santai dengan celana jins dan baju lengan pendek tanpa dimasukkan ke pinggang. Dengan cekatan dia menulis bagan-bagan grafis di whiteboard soal tip dan trik investigasi. "Menekuni ilmu investigasi itu harus total. Agar lancar, kita harus berkawan dengan semua pihak. Saat itu dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) saya baik, dengan intel tentara juga baik," jelasnya.

Ayah lima anak dari pernikahannya dengan Dyah Rahmani Purnomowati itu terjun ke Aceh dengan LSM yang didirikannya, Cordova, pada 1990. Otto juga ikut mendirikan Imparsial bersama almarhum Munir, pejuang HAM. Karena kedekatannya dengan GAM, termasuk sempat mendirikan Komite Independen Pemilu, dirinya dipetakan sebagai "musuh" oleh TNI. "Saya tahu itu, tapi tetap jalan saja," katanya.

Prinsip Otto sederhana. Ketika melakukan pendampingan atau investigasi, dia berharap akan ada satu nyawa yang bisa diselamatkan. "Kalau saya lima menit berkunjung di satu kampung, lima menit itu pula korban yang saya dampingi merasa nyaman. Itu saja yang bisa saya lakukan," ungkapnya.

Pendidikan Otto awalnya adalah ilmu geografi regional. Dia menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta pada 1977. Pulang ke Aceh pada 1989, dia menjadi aktivis dan sesekali mengajar di Universitas Syiah Kuala. Baru pada 1995 dia bisa menamatkan S-2 sosiologi, juga di UGM.

Sejak menjadi aktivis di pedalaman hutan-hutan Aceh, Otto tak memberitahukan profesinya itu kepada keluarga. Terutama anak-anaknya. Dia tak ingin aktivitasnya tersebut membahayakan nyawa keluarga. "Kalau ditanya teman sekolah atau teman bermain di rumah soal pekerjaan saya, anak-anak saya tak tahu hendak menjawab apa," kata Otto.

Tentu saja hal itu berdampak terhadap psikologis anak-anak Otto. "Bayangkan, ketika yang lain bisa bangga bilang ayahku dokter, ayahku polisi, atau apa, anak saya bingung saya ini kerja apa sebenarnya," tuturnya.

Salah seorang anaknya sampai ngambek dan enggan berbicara dengan Otto. Hal itu terjadi bertahun-tahun. "Pokoknya, setiap saya hendak berangkat, istri hanya pesan hati-hati Bang tanpa tahu tujuan saya ke mana," ungkapnya.

Keluarga besar Otto juga cemas. Sebab, kakek Otto pernah meninggal dalam perjuangan melawan Belanda. "Apa kau mau bernasib macam kakekmu?" kata Otto menirukan nasihat pamannya.

Tapi, berbekal tekad, langkah Otto tak surut. Caranya bertahan dan masuk ke komunitas-komunitas asli Aceh juga unik. Misalnya, dia tak pernah mau berfoto bersama. Baik dengan TNI maupun dengan warga Aceh. "Coba cari foto saya saat itu, sama sekali tak ada. Orang tahu nama saya, tapi tak tahu yang mana wajahnya," tegasnya.

Dia juga melarang sumber-sumbernya memberi tahu kekuatan militer masing-masing. "Kalau misalnya pasukan GAM memberi tahu jumlah senjatanya, saya langsung pergi. Saya tak ingin itu membahayakan mereka karena siapa jamin saya tak buka rahasia kalau ditangkap," ujarnya.

Saat DOM pada zaman Orde Baru diterapkan, tercatat 8.344 korban sipil tak berdosa berjatuhan di Aceh. "Kami berusaha mendampingi mereka dan mengadvokasi hak-hak sipilnya," ungkapnya.Aktivitas Otto sampai ke dunia internasional saat diundang Sub-Komisi Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa pada 1999.

Dia juga pernah diculik aktivis GAM. Dirinya dipertemukan dengan panglima GAM saat itu, Teungku Abdullah Syafei atau yang populer disebut Teungku Lah. Pertemuan tersebut berlangsung akrab dan hangat. "Beliau mengundang saya kapan saja main ke kediamannya. Kami bertukar cerita soal HAM dan hak-hak sipil," jelasnya.

Berkat kedekatannya dengan Teungku Lah itu, Bondan Gunawan, menteri sekretaris negara era Presiden Abdurrahman Wahid, meminta bantuan Otto sebagai mediator. Diantar Otto, Bondan bertemu Teungku Lah. Itulah cikal bakal jeda kemanusiaan pertama untuk konflik Aceh.

Setelah Teungku Lah wafat dalam kontak tembak, Otto pernah nyaris ditangkap TNI. Saat itu, secara kebetulan dirinya mendapat kesempatan untuk kursus tentang hak asasi manusia di Amerika Serikat. "Saya jadi saksi mata tragedi WTC karena saya sedang berada dua blok dari gedung itu saat runtuh," ungkapnya.

Pulang ke Indonesia, Otto terus aktif mengadvokasi hak-hak sipil. Dia sangat bahagia ketika suatu hari anaknya menelepon dan meminta maaf sambil menangis. "Tampaknya, dia iseng-iseng ketik nama Otto di Google, lalu pahamlah dia apa profesi bapaknya," tuturnya. Aktivitas terbaru Otto saat ini adalah mendampingi aktivis di Papua. "Sampai sekarang saya masih hilir mudik di Bumi Cenderawasih," katanya.

Dia kerap bertemu aktivis-aktivis Organisasi Papua Merdeka (OPM) di gunung-gunung, lengkap dengan persenjataan mereka. "Yang ini belum bisa dhttp://www.blogger.com/img/blank.gificeritakan secara detail dulu," ujarnya.

Secara khusus, Otto mengkritik jurnalis yang enggan melakukan prinsip investigasi. Media, kata dia, lebih cenderung tak mau bersusah payah menembus narasumber untuk menggali informasi secara utuh.

"Misalnya, dalam kasus terorisme, media hanya mengutip polisi. Tidak ada yang mengadvokasi korban. Misalnya, setelah seseorang ditembak Densus, apa yang terjadi di keluarga itu," tegasnya.Hal itu membuat masyarakat jenuh. "Jurnalisme yang hanya bersumber katanya orang dengan sendirinya akan ditinggalkan warga. Masyarakat sekarang sudah cerdas," ujarnya. (c5/kum)

Sumber : RIDLWAN-THOMAS AQUINO, Jakarta - JPNN

Gubernur Aceh Tandatangan Surat Tolak Qanun Pemilukada

# Anggota DPRA Minta Irwandi Mundur

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menandatangani surat pengembalian Qanun Pemilukada 2011 ke DPRA. Penolakan itu karena belum ada kata sepakat antara eksekutif dan legislatif. Menanggapi persoalan tersebut, kalangan DPRA meminta Irwandi mundur saja dari Gubernur Aceh karena dinilai sudah tidak mampu bekerja untuk Aceh.



Gubernur Aceh Irwandi Yusuf meneken surat pengantar pengembalian Raqan Pilkada 2011 ke DPRA. Surat itu diteken Irwandi sambil berdiri dengan memanfaatkan bagian depan mobil sebagai alas, beberapa saat usai dia mendarat dengan Helikopter milik TNI AU di Lapangan KP3, Lhokseumawe, Rabu (6/7) sore.(Harian Aceh/Irman Sjah)



Gubernur Irwandi Yusuf menegaskan, dirinya secara resmi menjatuhkan ’talak tiga’ terhadap Rancangan Qanun Pemilukada 2011. Surat pengantar pengembalian atau penolakan terhadap rancangan qanun tersebut ditandatanganinya di Lhokseumawe, Rabu (6/7). Surat itu dilayangkan kembali DPRA dengan tembusan Menteri Dalam Negeri RI dan Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh.

”Yang diantarkan DPRA itu bukan qanun, tetapi masih sebatas rancangan qanun. Kenapa disebut rancangan, sebab belum mendapatkan kesepakatan dengan eksekutif. Untuk syarat menjadi sebuah qanun harus mendapat persetujuan dari kedua belah pihak tentang substansinya, ” tegas Irwandi didampingi mantan Jubir GAM Sofyan Dawood usai mendarat di Lapangan KP3 Lhokseumawe, Rabu (6/7).

Selaku Kepala Pemerintah Aceh, kata Irwandi, dirinya tidak akan pernah menandatangani raqan tersebut dikarenakan belum ada kesepakatan antara eksekutif dan legislatif. ”Saya selalu berpikir tenang dalam mengambil segala keputusan, tidak membutuhkan banyak waktu. Saya dapat memutuskan suatu perkara dalam hitungan detik,” tandasnya.

Mengenai pihak legislatif yang menunggu hingga batas waktu 30 hari penyerahan rancangan qanun, Irwandi mengatakan hal itu dimaksudkan bagi qanun yang telah disepakati. “Tapi kalau belum ada kesepakatan tentu haram sampai ke meja karja saya. Sedangkan dua qanun lagi sudah beres, yaitu Qanun Rumah Sakit Ibu dan Anak serta Qanun Lingkungan Hidup, ” katanya.

Gubernur menambahkan, kesepakatan yang selama ini belum tercapai antara legislatif dengan eksekutif hanya terkait keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membolehkan jalur calon perseorangan dalam Pemilukada. ”Saya kira Mendagri pun takkan silap tentang hal ini, ” tandasnya.

Minta Irwandi Mundur

Penolakan terhadap Qanun Pemilukada dinilai sebagai bentuk ketidakmampuan Irwandi memimpin Aceh. “Selama ini Irwandi gagal menjalankan tugasnya sebagai Gubernur Aceh. Dia juga tidak maksimal memimpin Aceh, jadi lebih baik dia mundur saja dari jabatan gubernur,” sebut anggota Komisi A DPRA Abdullah Saleh, Rabu (6/7).

Abdullah Saleh menyebutkan, Irwandi Yusuf yang naik melalui jalur independen pada Pilkada 2006 itu sudah tidak cocok memimpin Aceh karena dirinya sudah tidak bisa membangun komunikasi dengan DPRA. “Saat ini hubungan antara Gubernur Aceh dan DPRA tidak harmonis setelah Irwandi menolak menandatangani Qanun Pilkada. Dia tidak melihat bahwa qanun yang dibuat oleh DPRA tersebut didukung oleh masyarakat,” kata politisi Partai Aceh (PA) ini.

Dikatakannya, sejak memimpin Aceh, Irwandi telah menolak menandatangani tiga qanun, yakni Qanun Jinayah, Qanun Wali Nanggroe, dan Qanun Pilkada. “Kalau seperti ini, lebih baik dia mundur saja dari Gubernur Aceh,” ulang Abdullah Saleh.(win/jun)

Sumber : Harian Aceh

Muhammad Nazar Calon Gubernur Aceh Paling Disukai

MENJELANG Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang akan berlangsung 14 November 2011 nanti, Wakil Gubernur Muhammad Nazar semakin disukai untuk menjadi Gubernur. Setidaknya sudah ada dua lembaga survei yang membuktikan hal itu yaitu Lembaga Peneliti Nusantara (LPN) dan Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis).

LPN menempatkan Nazar sebagai bakal calon gubernur yang paling disukai dengan memperoleh 38,84 persen dari total 345 pemberi informasi (responden), sementara itu hasil survei Puskaptis juga menempatkan Nazar sebagai bakal calon yang paling disukai dengan memperoleh 42 persen suara dari 1.800 responden.

“Nazar adalah figur yang berpengalaman, dia punya kemampuan dalam menjalankan pemerintahan, selain itu dia juga seorang figur organisatoris yang mampu menggerakkan simpul berbagai stakeholder,” kata Direktur Eksekutif Puskaptis Husin Yazid kepada matanews.com di Sahid Hotel Jakarta, Kamis, 23 Juni 2011.

Husin melanjutkan, Nazar dalam pandangan masyarakat Aceh adalah figur yang memahami berbagai persoalan di Aceh dan juga seorang problem solver dalam berbagai kasus yang terjadi di Aceh. “Contohnya menurut pandangan masyarakat Aceh, Nazar berhasil menyelesaikan kasus Semen Andalas dan juga bertindak sebagai pelobi dalam menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang pelabuhan bebas Sabang,” kata Husin.

Husin yang memaparkan hasil surveinya terhadap persepsi dan perilaku masyarakat NAD terhadap pemilihan gubernur 2011, mengungkapkan alasan lain masyarakat Aceh menyukai Nazar adalah karena dia seorang tokoh yang dianggap sangat menguasai bidang agama, ekonomi, politik dan budaya. Hal lain yang juga tidak dapat dilupakan adalah Nazar tokoh inspiratif dan programmer yang banyak ide dalam pembangunan di NAD.

Sementara itu pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli berpendapat masyarakat Aceh memahami bahwa Aceh masa lalu sudah berlalu, sementara itu ada harapan untuk membangun Aceh di masa depan dengan pemimpin yang mereka harapkan.

“Harapan masyarakat Aceh adalah pemilihan gubernur menghasilkan kesejahteraan bagi mereka,” kata Lili. (war/mut)

Sumber : Mata News

Muhammad Nazar, S.Ag. - Wakil Gubernur ( 2007-2012 )

Muhammad Nazar, S.Ag. (lahir di Ulim-Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, 1 Juli 1973; umur 38 tahun) adalah Wakil Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam saat ini. Ia terpilih lewat Pilkada NAD 2006 dari calon independen (non-partai) yang berpasangan dengan Irwandi Yusuf. Periode jabatannya pada 2007-2012.



Muhammad Nazar menempuh pendidikan di IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh (1997) dan Program non-gelar Sarjana Purna Ulama IAIN Ar-Raniry (1998). Periode 1997-1999, ia tampil sebagai Staf Pengajar dan Staf Keuangan Lembaga Bahasa dan Pengembangan Tenaga Pengajar IAIN Ar-Raniry. Pada 1998-1999, ia mendirhttp://www.blogger.com/img/blank.gifikan dan mengurus Angkatan Intelektual Muda Darussalam. Pada tahun 1998, ia menjabat Ketua I Dewan Pimpinan Wilayah Aceh Pemuda Bulan Bintang dan Pengurus Dewan Presidium Fokus Gampi (1999-2000). Ia juga menjabat Ketua Dewan Presidium Sentral Informasi Referendum Aceh (1999).

Ia masuk penjara gara-gara memobilisasi ratusan ribu orang Aceh menuntut referendum pada 8 November 1999. Dia bebas pada 2002 ketika darurat militer Aceh digelar. Sebagai tahanan politik, pada 31 Agustus 2005, ia bebas. Ini merupakan buah dari implementasi perjanjian Helsinki. Bersama pasangan calon gubernur, ia memperoleh nomor urut 6. Nomor ini kemudian menghiasi poster-poster bergambar wajah kedua calon yang independen ini.

Sumber : Wikipedia.org

Udin Pelor : Sepotong Hikayat Penjual Obat

Foto-foto lama masih tersimpan di album lusuh. Tergeletak begitu saja di atas meja kerjanya, berbaur dengan buku-buku dan kertas-kertas. Selalu dibawa kemana-mana, puluhan potret dirinya dulu terekam di sana, saat Mahyuddin masih muda dan melakoni penjual obat keliling.



Meja kerjanya hanya seperti meja siswa di sekolah, mengisi sudut ruangan sebuah rumah yang dikontraknya di kawasan Peuniti, Banda Aceh. Di situ dia tinggal sendiri, tidur beralaskan kasur kapuk yang ditaruh begitu saja di lantai. Baju-baju bergantung tak teratur, tripleks sekat kamar dipenuhi poster-poster pameran budaya, juga foto bersama istri lagi-lagi fotonya di masa muda. “Istri saya tinggal di kampung, di Bireuen,” sebutnya.



Mahyuddin mengaku kerap pulang kampung, saat ini aktivitasnya di Banda Aceh adalah untuk budaya, bersama seniman yang lain dia tergabung dalam pengurus Dewan Kesenian Aceh (DKA) yang bermarkas di Taman Budaya, Banda Aceh.



Nama Mahyuddin mungkin tak banyak dikenal orang. Tapi kalau menyebut nama gelarnya, ‘Udin Pelor’ semua di Aceh pernah tahu. Orang akan langsung terbayang kepada rambutnya yang panjang, tubuh tinggi kurus dan vokalnya yang khas. Sanggup berbicara berjam-jam dan muncul dimana saja dia suka untuk menjajakan obat. Tentunya, saat dia masih muda.



Kini, tubuh lelaki kelahiran 6 Juni 1945 itu makin ringkih. Kulitnya tak seketat dulu lagi, sepertinya lemak tak ada lagi yang menyembunyikan tulangnya. Tapi, tenaganya masih kuat, semangatnya tinggi, bicaranya keras, kerap dengan canda-canda. Udin tak pernah memilih lawan bicaranya, semuanya dilayani dengan akrab.



Kehidupan Udin Pelor tak bisa dipisahkan dengan aktivitas penjual obat keliling, kendati sudah berbilang belasan tahun tak dilakoninya lagi. “Saya berhenti pada tahun 1990, memilih menjadi seniman murni,” sebutnya tersenyum memperlihatkan gusinya yang tak bergigi.



Kenangannya memutar jauh ke tahun 1970. saat Udin Pelor muda mulai berprofesi sebagai penjual obat, berkeliling dari satu daerah ke daerah yang lain. Obat yang biasa dijualnya empat macam, bedak kecantikan, obat batu ginjal, obat cacing dan obat saraf.



Metodenya menjual obat terbilang baru kala itu. Menggunakan hikayat-hikayat lama sambil melucu dengan memasukkan idiom-idiom baru, untuk menarik pengujung memenuhi lapaknya. Obatnya laku berlimpah, kendati si pembali sadar hanya membeli obat untuk menghargai lelucon-leluconnya. “Saya tahu, orang kadang membeli hanya karena omongan saya, bukan karena obatnya,” sebut Udin.



Jarang Udin Pelor memasukkan unsur sulap dalam aksinya. Hanya melakonkan cerita-cerita seru yang beredar menghampiri zaman. Kadang dia berperan sebagai koboy dengan menirukan suara kuda dan senapan, kadang suara kakek tua yang menasehati cucunya. Seringkali juga hikayat kancil dan hikayat manusia bodoh, yang dimodifikasi dari manuskrip lama.



Hampir seluruh pelosok Aceh pernah disinggahi, bahkan sampai sebagian Sumatera Utara. Nama Udin Pelor kian berkibar sebagai penjual obat. Terbukti dengan caranya menghibur, usahanya laku keras dimanapun.



Seiring namanya berkibar, pekerjaan baru pun kerap menghampiri. Tak jarang, dia mendapat undangan sebagai pembawa acara pada sebuah sandiwara atau teater budaya di kota-kota. Perlahan-lahan berjualan obat kian ditinggalkan.



Suatu hari, Ahmad CB, seniman teater di Aceh menasehatinya. “Kau ini seniman atau penjual obat,” sebut Udin mengenang nasehat itu.



Asal bunyi, Udin menjawab, “seniman penjual obat”. Nasehat pun meluncur dari Ahmad yang disegani Udin, memintanya harus melakoni salah satu profesi. Sejak saat itu, penghujung tahun 1990, Udin Pelor resmi meninggalkan aktivitas jual obat.



Kehidupannya kemudian menjelma sebagai seniman murni, mengarang cerita teater, bermain teater, menulis lagu, sampai bernyanyi mengeluarkan album. Tapi, hanya satu album yang baru berhasil ditetaskan, sepanjang hidupnya.



Udin Pelor juga pernah menjadi pemain film Tjut Nyak Dhien karya Eros Djarot pada tahun 1994. Perannya adalah pengkhianat terhadap Tjut Nyak Dhien yang diperankan dengan baik oleh Cristine Hakim. “Saya sampai dibenci orang karena peran itu,” Udin tertawa.



***

Udin Pelor adalah karib (alm) Adnan PMTOH. Pengakuan Udin, mereka pernah sama-sama menjalankan aktivistas berjualan obat dulunya. Pola yang diperagakan juga sama, mensyairkan hikayat-hikayat lama dengan memainkan alat-alat apapun, dari kaleng, tong, sapu, topi sampai kursi.



Perbedaannya, Adnan selalu menjajakan minyak cengkeh. Udin menjual obat cacing dan obat batu ginjal. “Kadang, jika kami bertemu di suatu daerah selalu menjual bersama,” sebutnya.



Kalau mereka sudah bertemu dan bersekutu, orang akan lupa beranjak dari lapak mereka. Tanpa sulap, mereka penghibur yang ulung, penguasa hikayat-hikayat lama, memadu kata untuk menjadi syair yang santun.



Sering juga mereka bertemu di sebuah teater. Kisah Malem Diwa pernah diangkat cerita oleh mereka berdua dan mementaskannya. Saat Adnan melakoni pemain tunggal PMTOH –penutur hikayat- secara utuh, Udin juga kerap mendampingi sebagai pembawa acara.



Tahun berbilang tahun, Adnan dan Udin terus beranjak tua. Hanya saja itu tak pernah disadari mereka saat bertemu. “Kalau kami jumpa, kami adalah anak muda, bukan orang tua. Kami selalu bersemangat,” sebut Udin Pelor.



Pertemuan terakhir dengan Adnan masih diingatnya sampai kini. Saat itu, Udin Pelor keliling Aceh mendampingi Rafli, penyanyi Aceh, sebagai pembawa acara dalam konser Aceh Damai ke-2. Pada 18 Maret 2006, mereka mendapat jatah menghibur warga Blang Pidie, Aceh Barat Daya, tempat Adnan tinggal bersama istri keduannya.



Sore hari, Udin Pelor bersama Muda Belia, seniman PMTOH Aceh yang lain, mengunjungi rumah sang teman. Adnan sudah banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur. “Dia sudah sakit-sakitan, dan hanya berbaring,” kisah Udin.



Begitu tahu tamu yang datang adalah Udin, jiwa Adnan langsung melecut seperti muda kembali. Adnan memaksa tubuh lemahnya untuk bangkit menyapa tamu. Tertatih-tatih, lalu tawa dan tawa hiasi rumah itu, lelucon mengalir segar seperti dulunya. “Saya sudah tahu, kalau saya sudah tua,” Udin menirukan pengakuan Adnan saat itu.



Beberapa bulan kemudian, Adnan meninggal dunia. Udin Pelor sedih, lebih menyedihkan lagi jika memikirkan siapa yang akan menggantikan Adnan dalam memelihara tradisi tutur PMTOH di Aceh. Dia khawatir suatu saat hikayat-hikayat Aceh tak ada lagi yang membacanya.



Dalam pantauan Udin, ada beberapa calon pengganti beliau yang sudah teruji dan sempat berguru kepada Adnan; Agus Nuramal dan Muda Belia. “Kalau banyak yang peduli, pasti banyak orang yang bisa menggantikan Adnan. Dia Aceh Selatan masih banyak yang mewariskan keahlian bertutur, budaya itu masih kuat di sana,” jelasnya.



Saat ini, Udin Pelor yang aktif di DKA mengakui sedang berusaha sekuat tenaga mengembalikan kejayaan budaya Aceh, khususnya hikayat-hikayat lama. Caranya, terus mengumpulkan syair-syair dari manuskrip lama. Selain itu, juga menciptakan syair-syair baru, yang mewakili kisah-kisah lama.



***

Kini, Aceh kian sepi dari penjual obat seperti Udin Pelor. Tempo mengamatinya selama sepekan di Banda Aceh, tak ada lagi hikayat yang dilantunkan dengan syair indah, atau seniman penjual obat. “Tak ada lagi yang seperti Udin Pelor dulu,” sebut Effendi, warga Banda Aceh.



Dia menyebutkan, penjual obat saat ini hanya melakukan metode sulap murahan. Bukan menghibur pembeli dengan syair-syair Aceh dan lelucon. Ya... hanya sulap murahan dengan memakai tong besar dan mengikat anak-anak, yang katanya akan menjadi harimau atau binatang lainnya.http://www.blogger.com/img/blank.gif



Udin Pelor bukan tidak tahu. “Ingin rasanya saya turun gunung, menyamar kembali sebagai penjual obat,” sebutnya, sambil membuka kembali album-album di masa jayanya sebagai penjual obat keliling. Saat menggelitik pembeli dengan syair-syair yang hampir punah.



Bersama zaman, seni tutur hikayat Aceh kian jarang dijumpai bersama penjual obat. Yang ada hanya sulap murahan. ***

Sumber : Adi Warsidi

UDIN PELOR - Sang Maestro Penebar Pesona

Dengan berperawakan Ala Coboy, Udin Pelor menyerigai penonton dengan suara-suara desing peluru dan dentuman bom begitulah aksi Udin Pelor setiap kali dia menjadi Master Ceremony (MC) di berbagai acara. Lelaki gaek yang lahir di Matang Geulumpang Dua, 6 Juni 1945 masih saja berpenampilan perlente dengan rambut dikuncir ke belakang dan celana jeans belel, namun inilah Sang Maestro penebar pesona, yang lahir sebagai bagian dari alam Aceh yang di naungi budaya yang serba specifik, dia adalah karakter yang sulit di cari ganti.



Mengenalnya bagaikan mengenal angin yang berlalu, datang dan pergi sesuai suara hati. Pengembara yang satu ini terlihat tak pernah kenal henti untuk berkiprah di dunia kesenian, meski umurnya sudah terbilang tidak muda lagi, udin tetap menjalankan aktifitasnya sebagai insan seni yang konsisten.

Udin pelor tidak pernah merasakan bagaimana nikmatnya hidup di gaji pemerintah, biaya hidupnya hanya tertumpu pada berbagai usaha mandiri yang dilakukannya sejak berusia 16 tahun, dari mulai bisnis durian, buku bacaan pengarang-pengarang zaman Balai Pustaka, hingga berkesenian semua dijajakinya.

Dalam berkesenian Udin Pelor adalah pendobrak komposisi musik Aceh untuk pertama kali, di mengubah tone dan ritmik musik Aceh. Keberaniannya meletakkan pondamen dasar musik berbahasa Aceh yang lain dari yang pernah ada, merupakan sumbangan besar bagi perkembangan musik Aceh pada saat ini.

Coboy Aceh yang satu ini memiliki mental yang terasah oleh pengalaman berpuluh-puluh tahun menjadi tukang obat. Pengembaraannya dari kota ke kota, dari kampung ke kampung sebagai Gypsi Aceh menjadikannya maestro yang belum bisa dicari gantinya, sikapnya yang tenang mencerminkan kedalaman pengetahuan yang tidak bisa dinilai dengan materi. Vigur ini sudah sepantasnya di beri penghargaan setinggi-tingginya atas jasa-jasanya menghidupkan kesenian tradisional baik itu Susastra Aceh maupun Teater Tradisi Aceh, Geulanggang Labu atau dapat juga disebut Teater Arena di zaman sekarang.

Menurut pengakuannya, Nama Udin Pelor diberikan oleh kepala pabean yang bernama Ramli, saat gawat-gawatnya DI/TII. Udin Pelor yang bernama asli Mahyuddin Ismail memiliki perahu bot yang cukup memadai untuk menelusuri kuala langsa. Dalam situasi sedemikian Udin bersikukuh untuk ikut dalam pencarian meski sudah di larang oleh salah satu tentara yang saat itu ikut patroli. “saya katakan pada mereka saat itu kalau takut mati, di tempat tidurpun kita bisa mati, Kalau Allah berkehendak apapun bisa terjadi, termasuk mati di tembak.” ujarnya

“Saat kami di serang, cuma saya yang tidak mati, mungkin orang-orang DI/TII tahu bot saya dan saya ada di dalam bot itu, makanya saya selamat. Lantas saya membawa pulang mereka yang sudah tidak bernyawa lagi menuju pangkalan, nah dari situlah Ramli memberikan julukan saya Udin Tse Pelor, yang artinya Udin sisa pelor, namun belakangan saya di panggil oleh kawan-kawan Udin Pelor, karena mereka tidak dengar perkataan Tse yang di lontarkan pertama kali oleh Ramli.” Kenangnya.

Mulai saat itulah Udin memiliki prinsip seperti pelor, jika ada pekerjaan harus tepat sasaran, dan menghasilkan. Istilah Udin memanfaatkan satu pelor untuk menembak sekaligus dua objek, paling tidak salah satunya pasti kena.

Kariernya dalam kesenian di mulai dari Gelanggang Labu, yaitu sandiwara rakyat yang formatnya sederhana dan sering pentas keliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Semula Udin Pelor berniat untuk menjadi anak buah kapal, namun salah pemilik kelompok Geulanggang Labu memanggilnya untuk ikut bergabung dan menjadi pelatih tari dalam sandiwara. Sejak itu Udin terus ikut kemanapun rombongan sandiwara Geulanggang Labu ini tampil.

Berada dalam kelompok Sandiwara ini, memberikan motifasi baru bagi Udin disaat remajanya, banyak hal yang dilewatinya bersama kelompok ini, baik susah maupun senang. Masyarakat yang menyaksikan setiap pertunjukannya juga sangat antusias, sebab di dalam sandiwara ini banyak disampaikan petuah adat, nasehat orang tua, hukum-hukum Islam hingga berbagai kontek sosial kemasyarakatan yang positif dilahirkan lewat sandiwara Geulanggang labu ini dan Udin menjadi salah satu tokoh yang sangat mentukan berhasil tidaknya pertunjukan Geulanggang Labu pada saat itu

Sandiwara Geulanggang Labu ibarat para pendakwah yang tidak kenal lelah, mereka terus saja menarik simpati masyarakat sebanyak-banyaknya kala itu, tentunya semakin banyak yang menonton makin banyak pula rezeki yang di dapat. Udin Pelor bersaksi untuk itu.

Kehidupan menjadi “Gypsi” bukanlah paksaan yang senantiasa harus berkeluh kesah, persoalan kesenian dan hidup kadang-kadang menjadi satu dan tidak ada ujung pangkalnya. Dari 30 orang anggota kelompok, kadang-kadang hasil yang didapatkan tidak dapat di bagi sama, bahkan ada beberapa anggota yang tidak kebagian jatah uang saat itu, hal ini menurut Udin Pelor sering terjadi dan ini sangat lumrah. Namun saat itu honor bukanlah tujuan, tetapi pertunjukanlah yang paling utama, masyarakat terhibur dan misi tersampaikan.

Dengan kondisi inilah Udin Pelor harus memutar otak dengan keras, sampai suatu ketika datanglah seseorang yang mengajaknya untuk berjualan obat. “Waktu itu saya tidak mengerti bagaimana berjualan obat, kata teman saya, tugas saya cuma mengumpulkan banyak orang sebelum jualan obat dimulai, saya pun faham maksud teman saya itu langsung saja saya mulai beryanyi dan melawak, sesekali saya bercerita mengenai kasiat obat yang akan kami jual pada penonton yang mengerubungi kami, kalau kata-kata sekarang petunjuk penggunaan obat, saudara-saudara, kalau anda terkena penyakit cacing maka pakailah ramuan kami ini, yang paling top dan ampuh membasmi cacing yang bersarang di perut anda, ingat saudara-saudara, cacing yang ada pada tubuh kita dan paling berbahaya bukanlah cacing gelang, tapi cacing yang kecil-kecil, alias cacing keremi, maka untuk membasminya minumlah ramuan ini secara teratur, di jamin sembuh seratus persen, kalau tidak uang kembali,” kenangnya

Menurutnya semua ini terjadi ketika gelanggang labunya tampil di Bireun, tepatnya Krukuh Aceh Utara,

Hiburan penjual obat menjadi trand pada masa itu, dan Udin Pelor adalah ujung tombak yang kerap dipakai sebelum jualan obat berlangsung, hiburan Udin Pelor yang semakin akrab di berbagai tempat membuat obatnya laku terjual padahal obat yang dijual Udin Pelor hanya obat cacing dan obat penyakit batu karang serta ramuan untuk kecantikan.

Jika di telisik lebih jauh, Udin Pelor bukanlah seorang penjual obat jalanan yang tulen, tetapi dia adalah seniman yang ikut dalam proses penjualan obat. Banyak orang salah tanggap dengan keberadaan seniman gaek yang satu ini, Udin memang benar meracik obat cacing, obat batu karang dan ramuan kecantikan, tetapi perfomancenya tidak layak dikatagorikan sebagai penjual obat yang benar-benar serius, seperti teman-temannya karena vorsi yang di tampakan Udin pelor lebih banyak berkesenian dari pada menjual obat yang meski diraciknya sendiri. Hal ini senada dengan pengakuannya, “Sebenarnya orang-orang membeli obat saya bukan gara-gara obat itu manjur, tetapi karena mereka menghargai kesenian yang saya tampilkan,” ungkapnya

Kakek dua cucu ini juga mengakui, selama berjualan obat dia banyak ruginya, karena komposisi berjualan obat dengan hiburan lebih banyak hiburannya, masyarakat kita waktu itu sangat haus akan hiburan, mereka maunya dihibur terus hingga kadang-kadang lupa beli obat, padahal maksud Udin, kesenian adalah alat untuk menggiriring masyarakat yang ada di tempat itu agar membeli obatnya. Melihat kondisi ini teman-teman Udin memberikan nasehat, agar Udin lebih memfokuskan kesenian dari pada berjualan obat, sebab akan terus mengalami kerugian jika udin terus berjualan obat.

Aksi tebar pesona Udin terikut saat dia menjadi MC di berbagai acara. Udin Pelor acap kali mengeluarkan jurus-jurus andalannya sebagai bumbu pengikat agar audiens tidak beranjak dan tidak riuh dalam acara yang sedang berlangsung, dia juga sangat ahli membuat perhatian penonton sebuah acara jadi terfokus, sehingga Acara yang sedang berlangsung sukses tanpa cela.

Udin Pelor yang kini seumur dengan Republik Indonesia; 64 tahun, memiliki keluarga yang sangat sederhana, dia dikarunia satu orang anak dari seorang istri bernama Halimah dan kini sudah memiliki dua orang cucu.

Perjalanan sang maestro ternyata belum semua tercatat, terutama kisah cintanya dengan sang istri yang di boyongnya darai Lueng Putu Pidie 1972, dalam mencari jodoh Udin sangat selektif, dan banyak berguru pada orang tua. Dia juga sempat disarankan agar mencari gadis yang bernama Siti Hawa, “ Coba bayangkan nama Siti hawa itu sangat jarang ada di Aceh, saya sampai bingung mencarinya, namun saya terus mencoba mencarinya. Untuk mendapatkan jodoh saya menjual tanah di paya maneng, uangnya saya sewa satu kelompok drama dari Medan untuk berkeliling bermain sandiwara di Aceh. Di dalam kelompok sandiwara ini ada tiga orang gadis yang lumayan cantik, lantas saya mengetesnya, ternyata ketiganya tidak memenuhi syarat bagi saya, alasannya cuma sepele, dia tidak bisa masak. Akhirnya ini pun gagal. Tapi saat saya berada di Pidie, saya tertarik dengan seorang gadis yang kini menjadi Istri saya. Satu yang cuma saya langgar saat saya memperistrikan Halimah, dinamanya tidak ada kata yang berbunyi wa tapi yang dapat akhiran mah” ujarnya sambil tertawa.

Dari sisi penciptaan lagu, Udin Pelor sempat menelurkan satu buah album Trio bersama Istri dan anaknya, lagu ini berformat musik gaya baru berbau country dan India, kekhasan tone yang di pilih Udin dalam Album ini menjadi penomenal saat itu, namun nama besar Udin Pelor mengalahkan segalanya. Inilah yang dikatakan pembaharu dalam musik Aceh, mulanya selalu di cerca kemudian generasi berikutnya mengambilnya sebagai bahan rujukan terhadap musik yang dimainkan saat ini.

Salah satu syair Udin Pelor yang sempat di berikanya beberapa waktu yang lalu pada Sipil berjudul Taba Peusuna; “Ingat-ingat wahe rakan droe/ Bak tatiek duro bak jalan raya/ Han binasa ta jak binasa ta wo/ Peunyakit tablo utang tapeuna//Tameututo bek leupah-leupah/ Peukara lidah yoe cok binasa/ Seubab lidah juwah ban rimoung/ Keumeunan neukheun le ureung tuha//Taba peusuna keugob tapeugah/ Narit fitnah asai bak gata/Di yaumil masya kateusuet lidah/ Panyang meuleumpah meuribe deupa//Gunteng neuraka meu yue koh lidah/Teumpat keuneubah dalam neuraka.”

“Saat ini di umur saya yang sudah tidak muda lagi ini, karya yang saya buat semakin banyak. Inilah kekayaan saya yang sesungguhnya. Dulunya saya pernah mengecap bagaiman rasanya kaya materi dan tinggal di hotel selama bertahun-tahun, dan saya berhenti menginap di hotel itupun gara-gara hotelnya harus di gusur, kalaulah hotel itu masih ada saya mungkin masih menikmati kemewahan tersebut. Tapi yang lebih penting bagi saya saat ini, adalah semangat untuk terus berkiprah di dunia kesenian dan saya tidak akan hentikan itu hingga saya tidak lagi punya umur, dan kepada istri saya juga saya sudah katakan, cuma syair-syair inilah harta paling berharga saya, biasanya kalau penciptanya sudah tidak ada, syair-syair ini akan di cari orang,” kelakarnya

Seperti yang dikatakan Udin Pelor memang terjadi di Aceh, ketika PMTOH, Toet masih ada, tidak pernah sekalipun ada penghargaan berharga bagi mereka, padahal mereka yang hidupnya hanya berkesenian adalah penjaga budaya dan identitas daerah ini. Terbukti ketika kedua tokoh seni dan budaya ini tiada, ratusan karyanya sama sekali tidak terdokumentasi dengan baik, sementara bangsa asing sudah lebih dahulu memajangnya sebagai aset berharga miliknya.

Udin Pelor juga sangat menyesalkan ketidak pedulian daerah ini kepada kesenian dan pelaku-pelaku seni lainnya, seolah-olah seniman adalah beban yang memberatkan bagi Aceh.

“ Saya tidak memiliki muka untuk mengemis pada mereka yang punya banyak dana, apalagi pemda. Bagi saya adanya kesadaran berbudaya saja sudah cukup bagi kita para seniman. Tidak perlu bantu saya, saya Cuma minta mereka-mereka itu menyadari akan adanya budaya di sekitar dia dan pelakunya adalah seniman, ini kadang-kadang salah cerna, seniman yang punya karya kenapa pejabat yang punya nama. Tidak jauh lah, kita diundang ke luar negeri aja pejabat yang dapat nama sementara seniman hanya pelengkap pelaku saja.” Kelunya.

Sipil juga merncatat, Udin Pelor belum pernah dianggap sebagai bagian dari kesenian Aceh, hal ini terbukti dengan tidak adanya respon pemerintah daerah Aceh terhadap seniman, generasi Udin Pelor sebagai aktor Geulanggang Labu atau Seniman si Tukang obat sudah berakhir, namun namanya sangat populer di berbagai tempat dan masyarakat kita mengklimnya sebagai seniman yang multi telent.

Banyak seniman muda yang saat ini tenar namanya lewat lawakan yang belajar kepadanya, kemampuannya mengartifisialkan pengalaman individunya kepada generasi saat ini sungguh tidak dapat diukur dengan anugerah seni yang hanya berjumlah 10 juta, tetapi dia wajar di beri anugerah yang setimpal dengan hasil kerja kerasnya untuk membangun seni budaya hingga saat ini.

“Di negeri jiran, para penyair itu di biayai hidupnya oleh negara, mereka memiliki gaji tiap bulannya, selain itu negara mereka juga menghormati seniman sebagai satu kelompok tempat berdiskusi persoalan negara, sebab senimanlah yang paling cepat tahu bagaimana kondisi masyarakat beserta pemecahan persoalannya, dapat anda bayangkan betapa berharganya seniman di mata para pejabat negara di Malaysia, sementara di Aceh apa yang kita dapat, paling cuma menambah-nambah jumlah pengangguran, padahal syair dan nasehatnya lewat karya yang di buatnya dapat menterjemahkan daerah ini secara menyeluruh, ini cuma harapan saya bagi setiap yang berkuasa, baik hari ini, esok dan masa mendatang.” Urainya.

Yang Pasti Udin Pelor yang kini bukan bertopi Koboy lagi menginginkan perubahan penanganan seni dan budaya secara baik dan bermutu, kesenian yang mampu melangutkan perasaan sebab menurutnya ada dua bagian dalam hati manusia jika di belah, yang sebelah kanan adalah keimanan dan sebelah kiri adalah kesenian dan budaya, jika keduanya terisi dengan sempurna kita akan tahu siapa diri kita, untuk apa kita dan bagaimana kita akan menyongsong kehidupan yang lebih baik sebagai persiapan mati nanti, tambah Udin Pelor.

Udin Pelor yang masih saja menebar pesona di setiap acara-acara serimonial merupakan pelaku seni yang tidak pernah usai memikirkan seni dan budaya, semangat ini perlu di teladani bagi generasi muda saat ini, karena seni budaya Aceh juga terbentuk dari keseriusan dan pandangan yang jauh ke depan, tidak mengada-ada dan sangat memiliki prosfek cerah di masa yang akan datang. Maestro itu masih tersenyum meski dalam gamang berlangitkan tanda tanya tentang kesenian kita.

Sumber : Rahmad Sanjaya

Pernyataan Gubernur Aceh Petunjuk Baru Pengungkapan Kematian Safwan Idris’

Pos Bantuan Hukum dan Pengaduan Pelanggaran Hak Asasi Manusia (PB-HAM) Aceh Utara menilai pernyataan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf bahwa banyak tokoh Aceh yang diperintahkan untuk ‘dihilangkan’ di massa konflik, bisa menjadi petunjuk baru bagi aparat penegak hukum untuk mengungkap kasus pembunuhan Rektor IAIN Ar-Raniry Prof Dr Safwan Idris.

“Pernyataan Irwandi Yusuf itu harus dilihat sebagai petunjuk baru bagi proses hukum dalam rangka pengungkapan kasus pembunuhan Safwan Idris. Kami yakin bahwa pernyataan Irwandi bukan sekadar ‘isapan jempol’ yang tanpa dasar,” kata Direktur Eksekutif PB-HAM Aceh Utara Zulfikar Muhammad melalui siaran persnya kepada Harian Aceh, Minggu (3/7).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, saat berbicara dalam Raker Partai Rakyat Aceh (PRA) di Hotel Hermes Palace, Kamis (30/6), Irwandi Yusuf menyebutkan, tugas yang diberikan pada anggota GAM dilaksanakan 120 persen. “Tapi apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku pemimpin-pemimpin GAM di luar negeri, tak mencapai 50 persen,” bebernya. “Itulah sebabnya, menjadi sia-sia banyak tokoh masyarakat Aceh yang diperintahkan untuk ‘dihilangkan’ di massa konflik, jika pada akhirnya seperti ini.”

Dia mencontohkan, Muhammad Jafar Sidiq adalah korban yang dihilangkan secara sia-sia. Kemudian, Tengku Muhammad Nazrudin Daud, Ismail Saputra. “Ini pun dilenyapkan,” katanya. Lalu ada nama Profesor Safwan Idris, Profesor Dayan Dawood, Teuku Johan (mantan Pangdam). “Ini juga dikorbankan karena perintah pimpinan,” kata Irwandi.

Zulfikar Muhammad menyatakan pihaknya terus melakukan monitoring khususnya terhadap pengungkapan kasus pembunuhan Safwan Idris sejak tahun 2000. “Maka pernyataan Irwandi Yusuf yang notabene adalah kalangan internal aktif Gerakan Aceh Merdeka, sangat penting menjadi petunjuk baru bagi polisi untuk menemukan ‘singa’ yang telah ‘memangsa’ nyawa Safwan Idris,” katanya.

Proses Pengungkapan

Menurut Zulfikar Muhammad, upaya pengungkapan kasus pembunuhan Safwan Idris telah dilakukan polisi sejak tahun 2000 mulai dari olah TKP sampai uji balistik terhadap proyektil yang menembus tubuh Rektor IAIN Ar-Raniry itu. Kepada media massa pada saat itu, kata Zulfikar, Kapolda Aceh Brigjen Pol Drs Dody Sumantyawan usai melantik tiga Kadit baru di lingkungan Polda Aceh tanggal 28 September 2000, mengatakan, dari uji balistik yang dilakukan pusat laboratorium Mabes Polri, diketahui jenis senjata yang digunakan menembak Prof Safwan adalah pistol kaliber 380 buatan Amerika.

Kutipan pernyataan Kapolda Dody Sumantyawan pada saat itu, kata Zulfikar, antara lain, “Itu bukan senjata standard TNI dan Polri. Sedangkan visum korban juga sudah ada”. Menurut Kapolda Dody lagi, kata Zulfikar, senjata pistol kaliber 380 buatan Amerika tersebut, setelah diteliti tidak pernah terdaftar di Polda Aceh maupun pada Perbakin. Di samping itu, kata Zulfikar, Polda Aceh mengeluarkan sketsa wajah pembunuh Safwan Idris berdasarkan keterangan para saksi mata termasuk keterangan istri korban.

Menurut catatan Zulfikar, usaha menemukan pembunuh Safwan Idris tidak hanya dilakukan oleh polisi saja pada saat itu, tapi GAM juga melakukan hal yang sama. Panglima GAM wilayah Aceh Besar Ayah Muni kepada media berbahasa Inggris pada saat itu, kata Zulfikar, menyatakan telah memerintahkan seluruh intelijen GAM untuk mencari pembunuh Safwan Idris. Sampai Ayah Muni meninggal, kata Zulfikar, tidak ada informasi sudah sejauh mana perkembangan upaya yang dilakukan GAM. Ketika itu, lanjut Zulfikar, pernyataan belasungkawa dan rasa kehilangan yang sangat dalam hanya disampaikan oleh dua Panglima Wilayah GAM, yaitu Ayah Muni (Panglima Aceh Rayek) dan Darwis Jeunib (Panglima Prang Wilayah Batee Iliek), yang waktu itu baru saja diangkat sebagai panglima wilayah.

Selain itu, kata Zulfikar lagi, gelombang demonstrasi ulama, cendekiawan serta mahasiswa yang meminta polisi segera menemukan pembunuh Safwan Idris terus bergulir, sampai lahirnya Ikrar Darussalam pada tanggal 12 Oktober 2000, dengan deklaratornya antara lain Ketua MUI Aceh Dr Tgk H Muslim Ibrahim MA, Tgk Imam Syuja’, Drs Tgk Djailani Idris (abang kandung Safwan Idris), Dr Daniel Djuned MA, H Badruzzaman Ismail, kalangan aktivis, dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya.

Berita tentang ‘dugaan’ kelompok pelaku pembunuhan Safwan Idris, lanjut Zulfikar, kembali tersiar pada tahun 2003, tepatnya Minggu tanggal 22 Juni 2003 dalam acara ikrar kesetiaan NKRI di Abdya dengan Inspektur Upacara Pj Bupati Abdya Baharuddin, yang diikuti 23 ribu peserta upacara.

“Kini, pada Juni 2011, Irwandi Yusuf yang merupakan Gubernur Aceh kembali membuka tabir tragedi pembunuhan Safwan Idris. Dengan demikian lengkap sudah bagi PB-HAM dalam mengumpulkan berbagai pernyataan terkait dugaan konspirasi pembunuhan Safwan Idris. Kelompok-kelompok yang bertikai di Aceh pada saat itu semua sudah angkat bicara, jadi tidak ada alasan bagi pihak kepolisian untuk tidak memerintahkan seluruh jajarannya segera mengejar pelaku pembunuh Rektor IAIN Ar-Raniry,” kata Zulfikar.

Desak Polisi

PB-HAM Aceh Utara meminta Kapolda Aceh segera memanggil Irwandi Yusuf untuk dimintai keterangan terkait pernyataannya di muka publik tentang pelaku pembunuhan Safwan Idris. Ini penting, kata Zulfikar, agar tidak terjadi fitnah dan saling tuduh. PB-HAM juga minta Kapolda memanggil pimpinan GAM pada tahun 2000 yang hingga saat ini masih hidup. Hal ini, kata Zulfikar, guna mengkonfrontir argumen dan keterangan terkait kasus pembunuhan Safwan Idris sebagaimana pernyataan Irwandi Yusuf.

“Kapolda Aceh kami harapkan juga segera memanggil Baharuddin (Pj Bupati Abdy tahun 2003) untuk dimintai keterangan terkait penyataannya pada tahun 2003 tentang ‘dugaan’ kelompok pembunuhan Safwan Idris. Dan, Kapolda perlu memanggil perwakilan mantan kombatan GAM Aceh Rayek untuk dimintai keterangan terkait hasil dari upaya intelijen GAM sebagaimana yang diperintahkan (alm) Ayah Muni tentang pembunuhan Safwan Idris,” kata Zulfikar.

Sedangkan kepada Komnas HAM, lanjut Zulfikar, PB-HAM Aceh Utara minta segera membentuk Tim Investigasi khusus untuk melakukan penelusuran tentang pelaku penghilangan paksa tokoh-tokoh Aceh sebagaimana pernyataan Irwandi Yusuf. “Dan, memasukkan Irwandi Yusuf serta Baharuddin dalam daftar perlindungan saksi bersama 11 saksi lainnya yang telah diperiksa Polda Aceh pada tahun 2000,” kata Zulfikar.

Di sisi lain, Zulfikar mendesak seluruh deklarator Ikrar Darussalam untuk menyurati Presiden RI dan seluruh pihak terkait untuk kembali melakukan kerja-kerja pengungkapan kebenaran terhadap kasus pembunuhan Safwan Idris. Meminta Kolisi NGO HAM Aceh sebagai pemilik data terbaik untuk kasus-kasus penghilangan tokoh Aceh, kata dia, untuk serius mendampingi terkait pernyataan Irwandi Yusuf. “Kami juga menghimbau masyarakat Aceh tetap tenang dan membiarkan proses hukum berjalan dengan baik demi terungkapnya fakta tragedi pembunuhan Safwan Idris,” katanya.

Kronologis Pembunuhan

Menurut catatan Zulfikar, penembakan yang menewaskan Safwan Idris terjadi pada Sabtu tanggal 16 September 2000, sekitar pukul 06.00 WIB di kediamannya, Jalan Al-Kindi atau persisnya di samping Pustaka IAIN Ar-Raniry. Rektor IAIN Ar-Raniry itu, kata Zulfikar, ditembak oleh orang tidak dikenal, dan korban menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Zainal Abidin. “Meninggalnya Prof Dr Safwan Idris bertepatan dengan tanggal lahir cucu pertamanya dari putrinya Kausari,” demikian Zulfikar.(nsy)

Sumber : Harian Aceh